Persinggahan

1120 Kata
“Aku Aliana yang kalian kenal, tetapi juga Angel yang kalian masih belum kenal. Ayo masuk mereka sebentar lagi akan dibawa ke kantor polisi,” seru Aliana sambil berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Salsa dan Ren di belakangnya. Mereka bingung dengan ucapan Aliana dan semua kebingungan mereka terjawab saat mereka sudah sampai di tangga paling atas dan terlihat kedua orang tuanya dengan tangan diborgol dan dikawal oleh 4 orang polisi dan polisi lainnya pun ada yang berjaga di halaman rumah mereka dengan senjata laras panjang. Mereka kaget langsung saja berlari menghampiri kedua orang tuanya serta Brian yang tidak melakukan apapun saat melihat orang tau mereka diborgol begitu. “Apa-apaan ini?! Kenapa Papa dan Mama kami diborgol?!” bentak Salsa dengan langkah besarnya menghampiri kedua orang tuanya. Sedangkan Ren melihat Aliana yang kini berjalan di belakangnya, tatapan Aliana yang datar dan dingin itu menandakan sesuatu yang tidak baik telah terjadi. “Kau apakan orang tuaku Al?” tanya Ren dingin saat itu juga ia menghentikan langkahnya mengejar sang kakak dan kini menatap tajam Aliana yang jaga menatapnya dengan tatapan datar. “Aku tidak melakukan apapun yang salah di sini, aku hanya melalukan apa yang seharusnya sudah seseorang lakukan dari dulu,” jelas Aliana tetapi tidak memberikan penjelasan yang dapat memuaskan Ren yang sedang marah itu. “Apa yang kau lakukan?!” bentak Ren dengan keras, suara bentakan Ren pada Aliana membuat perhatian orang-orang yang ada di sana teralihkan dan kini melihat kearah Ren dan Aliana yang saling tatap berhadapan dengan jarak 2 meter. “Aku hanya menanggih pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka lakukan atas hidupku,” jawab Aliana tegas, lalu tanpa menghiraukan tatapan marah Ren, Aliana melangkahkan kakinya melewati Ren dan mendekat pada Brian. Ren yang melihat kakaknya hanya diam dengan apa yang dilakukan oleh Aliana pun marah dan dengan langkah tegapnya ia menghampiri sang kakak dan mendorongnya dengan keras. “APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! KAU HANYA DIAM MELIHAT PAPA DAN MAMA DI BORGOL BEGINI?!” bentak Ren dengan teriakan yang keras sambil mendorong-dorong tubuh Brian ke belakang. “Sudah Ren!” bentak Fikra dengan keras untuk menyadarkan anak bungsunya itu agar tidak menyakiti sang kakak. “Apa? Kenapa? Papa kenapa begitu? Kenapa Papa diam saja? Wanita ular ini menuduh Papa dan Mama melakukan apa?” tanya Ren dengan beruntun. Sedangkan Salsa menangis memeluk sang mama yang tidak dapat membalas pelukannya. Ren menatap bengis Aliana yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Kau! Aku menyesal telah menyelamatkanmu waktu itu! Jika tau ini yang akan kau lakukan aku lebih baik membiarkanmu dibunuh oleh orang itu!” bentak Ren sambil mengungkit kejadian dimana ia menolong Aliana dari penguntit yang ingin membius Aliana dengan peluru bius. “REN! Jangan membuat masalah juga nak… apa yang sudah kau lakukan dulu itu adalah hal yang benar…” tutur Fikra dengan senyum senduh melihat anaknya. “Kau sepertinya dalam kesalah pahaman Nak,” ungkap polisi yang berdiri di samping Brian pada akhirnya. “Fikra dan Billa sudah mengakui sendiri bahwa mereka adalah pelaku pembantaian keluarga Yaksa yang dimana keluarga itu adalah keluarga Angelina Yaksami atau Aliana Awari,” papar polisi itu. Mereka belum berangkat karena di dalam polisi sedang menggeledah dan mengumpulkan bukti awal jika mereka masih menyimpan sesuatu yang dapat dijadikan bukti otentik. Kini Salsa apalagi Ren tercengang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut polisi itu, ingin mereka tidak percaya dan beranggapan itu hanyalah sebuah kebohongan tetapi yang mengatakannya adalah anggota polisi yang memang sedang ditugaskan untuk menangani kasus yang baru saja dibuka itu. “Tidak mungkin! Kalian salah pasti salah! Papa dan Mama tidak mungkin tega melenyapkan nyawa orang lain!” bentak Ren tidak terima. Lalu ia menatap kearah Brian yang dari tadi diam saja dengan wajah datarnya. “Bri! Bebas Papa dan Mama mereka tidak bersalah!” bentak Ren lagi tetap tidak terima. Sedangkan Salsa yang juga terkejut ia memegang kepala yang terasa berdenyut membuat pusing kepalanya, ia tahu tentang kasus itu karena saat itu ia sudah berumur 7 tahun walau tidak memikirkannya dan ia pernah membaca koran tentang ia dipagi hari bersama Papanya karena kebiasaannya yang akan ikut membaca koran bersama sang Papa dengan s**u coklat panas. Salsa tidak menyangka pada pagi itu yang Papanya bahas tentang pembantaian satu keluarga kaya raya adalah ulah Papa dan Mamanya sendiri, mereka membahas apa yang telah mereka lakukan sendiri yang saat itu menjadi berita perbincangan yang sangat panas. “Kau boleh tidak percaya, tetapi jika kau yang berada di posisi Aliana, apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan yang tiba-tiba datang dari seorang Erisa saat Erisa baru saja datang ke tempat itu bersama Hasbie dan Annie. Sedangkan Aliana sendiri tetap diam tak bergeming, menatap datar keluarga yang sedang dirundung kesedihan itu. “Aliana, maafkan tante… kami menyesal jauh sebelum ini,” ungkap Billa dengan menunduk, wanita tua itu sudah merasakan rasa bersalah jauh sebelumnya, tetapi kondisinya tidak dapat ia kendalikan dan ia pun tidak berani untuk mengambil resiko. “Al, maafkan om dan om harap kau bisa menangkap dia, dia yang sudah memerintah kami untuk melakukan semua itu, dan kami mengakui semua yang telah kami lakukan pada masa lalu itu. Kamilah pelaku pembantai keluarga Yaksa,” ungkap Fikra berbicara terus terang pada Aliana dan yang lain. Ren yang mendengar pengakuan yang langsung dari Fikra dan Billa tentu saja sangat terkejut dan terluka. “Sebuah fakta yang terkubur tetap akan menyisakan sesuatu yang berharga di masa depan, itulah yang terjadi padaku saat ini,” ucap Aliana dengan nada bicara yang sangat datar. “Untuk orang itu, aku sudah mengamankannya jadi kalian tenang untuk anak-anak yang kalian tinggalkan. Dia tidak akan dapat menyentuh mereka barang secuil saja, karena dia tidak lagi punya kesempatan untuk melakukan itu,” ungkap Aliana dengan senyum miring di bibirnya sedangkan matanya menampakkan keinginan membunuh. Fikra dan Billa mengerti dengan ucapan Aliana, berarti mereka tenang untuk meninggalkan anak-anak mereka. Dari dalam rumah para polisi yang sedang mengeledah dan menyelidiki data-data sebagai bukti otentik yang mereka butuhkan dan beruntung mereka mendapatkannya bukti-bukti yang ternyata memang sudah tersimpan rapi dan disiapkan oleh Fikra dan Billa. “Pak! Kami mendapatkan data berbentuk dokumen, dan bukti transaksi yang dikirim oleh seseorang pada tanggal yang sama saat pembantaian,” ungkap polisi itu. Mereka membawa bukti-bukti yang juga mereka temukan dengan hati-hati. “Baik karena sudah ditemukan, sekarang kita pergi,” perintah ketua penyidik tersebut memerintahkan anggotanya untuk membawa dua tersangka ke dalam mobil. Mereka membawa Fikra dan Billa keluar dan ternyata di luar sudah banyak wartawan yang menantikan mereka keluar dan meminta penjelasan. Tentu saja mereka semua sudah dihalang-halangi oleh anggota kepolisian yang membuat barisan agar kedua tersangka, anggota keluarga dan pelapor dapat lewat dengan mudah dan masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat dari kediaman tersangka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN