Pelarian Al

1059 Kata
Hari itu Hasbie pun turut datang membawa semua data dan berkas yang dibutuhkan untuk menguatkan pernyataan Aliana yang mengakui sebagai anak bungsu Yaksa. Habsie turun mengakui bahwa ia adalah adik laki-laki dari Zura istri sah Yasa Yaksami. “Saya adalah adik kandung dari Zura, istri sah dari pengecara Yasa Yaksami. Dan saya jugalah yang menyembunyikan Angel yang saat ini sudah berganti nama dengan nama Aliana Awari. Semua ini…” terang Hasbie pada penyidik dan ia menyorkan berkas berisi data-data kelahiran Aliana dan catatan asli yang menyatakan Aliana benar putri satu-satunya keluarga Yaksa. “Ini semua adalah bukti dan catatan asli bahwa Aliana adalah Angelina Yaksami, kalian harus menerima permintaannya untuk membuka kembali kasus pembantaian keluarganya dan seluruh asset yang pernah ditarik oleh pemerintah harus dikembalikan pada pemegang yang asli,” papar Hasbie pada penyidik untuk mengambil keputusan sesuai dengan harapan mereka yang datang saat itu. Saat itu kepolisian dan penyidik tidak bisa berkata banyak karena kuatnya bukti milik Aliana. Mereka pun mendiskusikan dan mengangkat kembali kasus tersebut dihadapan media. Dan saat itu seluruh media heboh menberitakan bahwa kasus pembantaian yang terjadi pada keluarga pengacara terkenal yaitu Yasa Yaksami kembali dibuka karena kembalinya anak terakhir sekaligus anak satu-satunya yang tertinggal dari keluarga Yaksa, otomatis dia juga adalah pewaris seluruh harta kekayaan keluarga Yaksa. Kasus sah disetujui untuk kembali dibuka karena tekanan dari berbagai media dan bukti yang sudah tidak bisa dibantah. Alasan dari Aliana membuka kembali kasus pun karena ia tidak percaya bahwa pelaku pembantaian itu hanya dilakukan oleh dua orang saja. Sedangkan Brian ia merelakan kedua orang taunya untuk masuk penjara karena perbuatan mereka di masa lalu, mereka berdua adalah kaki tangan dari dalang asli pembataian yang terencana tersebut. Fikra dan Billa pulalah yang menjadi mata-mata untuk sang dalang yang saat ini menggigil tertawa seperti orang gila. Semua kekuatannya melayang dan lenyap tertiup angin panas dan menyebabkan angin hitam tak mampu bertahan lebih lama lagi. Hari itu juga kepolisian menjemput Fikra dan Billa di kediaman mereka. Brian ikut serta dalam penjemputan kedua orang tuanya. Saat kepolisian sampai di kediaman Fikra dan Billa mereka menyerahkan surat penangkapan. Fikra dan Billa tidak membantah atau tidak memberikan komentar sedikit pun. Mereka menyerahkan diri mereka untuk dibawa saat itu juga. “Maafkan aku… aku tidak bisa melindungi kalian, karena kesalahan kalian membuat seseorang tidak dapat merasakan kasih sayang orang tua kandungnya, dan saat ini biarkan aku meluruskan seluruh dosa ini menjadi terang dan terampuni,” tutur Brian pada Fikra dan Billa. Fikra tersenyum bangga karena anaknya sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang jujur dan berjalan di jalan yang benar dan kuat. Billa tersenyum sambil menangis Pasangan suami istri itu sudah lama ingin menyerahkan diri tetapi mereka tidak bisa karena ancaman dari Juan yang akan menghancurkan keluarganya sedangkan mereka ingat mereka memiliki tiga anak yang harus dilindungi. Mereka pun bersabar sampai salah satu anak mereka sendirilah yang membantu anak yang mereka intai untuk melaporkan mereka, karena sampai saat itu terjadi mereka percaya keadaan seluruh anaknya sudah benar-benar kuat dan Juan tidak dapat menyentuh mereka sedikit pun karena mereka sangat percaya bahwa anak bungsu keluarga Yaksa tidak akan menyakiti anak-anak mereka apalagi Juan, Juan tidak akan dapat menyentuh apalagi ingin melukai anak-anak mereka, karena Aliana tidak akan membiarkan itu sampai terjadi. Mereka memang menyembunyikan fakta tentang Aliana, dan mereka tahu tentang Aliana yang memiliki dua sisi kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ingatkan orang-orang bahwa mereka adalah pembunuh kelas kakap yang sangat pintar, mereka sudah lebih dulu mengetahui apa yang Hasbie sembunyikan dan itu pula mereka pun membantu menyembunyikannya agar Juan tidak cepat sadar bahwa Alianalah yang sedang ia cari untuk mencairkan nama yang sedang ia unting, palau yang sangat ingin ia miliki. Mereka pun tahu tentang anak keduanya yang menyelidiki mereka secara diam-diam dan menjadi pelindung Aliana di dalam bayangan. “Kami tau tentang kamu yang sudah lama menyelidiki Papa dan Mama,” ungkap Fikra sambil tersenyum pada anak keduanya itu. “Kau sudah tumbuh menjadi orang hebat dan dapat melindungi anak yang kini sudah tumbuh menjadi wanita kuat itu,” tutur Billa sambil tersenyum. Ia sangat ingin rasanya memeluk tubuh putra mereka dan mendekatnya sambil meminta maaf. Tapi mereka tidak bisa tangan mereka kini sudah diborgol dan di kawal oleh 4 polisi. Ren dan Salsa yang baru saja tiba kaget melihat banyak mobil polisi di depan rumahnya, polisi pun berkeliaran berjaga di sekitar rumahnya. Mereka berdua dicegat saat ingin melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu tembok yang menuju ke rumah mereka. “Kalian tidak bisa masuk, area sedang dibersihkan,” tegur polisi yang mencegat mereka masuk ke dalam. “Kami pemilik rumah ini, kenapa kami tidak bisa masuk,” ucap Ren tidak terima karena ia tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Sesaat Salsa akan menimpali ucapan adiknya ia melihat dari tempat ia berdiri di atas sana tepatnya di halaman rumah mereka ada Aliana. Salsa bingung karena Aliana bisa berada di dalam sedangkan mereka tidak bisa masuk. “Pak dia Aliana-kan? Nah dia itu tetangga kami kenapa dia bisa masuk dan berada di sana?” tanya Salsa pada akhirnya. “Bu-/” ucapan polisi itu tersela oleh teriakan Ren yang memanggil Aliana yang berada di dalam pekarangan rumah mereka. “ALIANA‼” teriak Ren dengan keras memanggil nama Aliana, Ren pun melambai-lambaikan tangannya agar Aliana sadar kebaradaannya. Ternyata usaha Ren tidak sia-sia, nyatanya Aliana menyadari kebeadaannya hanya dengan satu teriakan tadi. Aliana kini mengarahkan pandangannya pada Ren dan Salsa yang dicegah masuk di pintu pintu masuk ke pekarangan rumah mereka sendiri. Aliana pun melangkan kakinya untuk menghampiri kakak berading yang terjebak di tepi jalan kompleks perumahan mereka. Aliana menuruni satu persatu anak tangga untuk sampai ke pintu tembok yang dijaga ketat oleh polisi. “Maaf Pak, biarkan mereka masuk. Mereka adalah anak dari Fikra dan Billa sekaligus pemilik rumah ini,” ungkap Aliana pada polisi yang menjaga dan mencegah kakak beradik itu untuk masuk. “Baiklah Nona Angel,” jawab polisi yang mencegat Salsa dan Ren. Sedangkan Salsa dan Ren tercengang karena polisi tadi menyebut nama asing ditelinga mereka. Mereka mengetahui bahwa di depan mereka itu adalah Aliana bukan Angel dan bahkan polisi tadi memanggil Aliana dengan sebutan nona. “Kau benar Aliana-kan? Aliana yang kami kenal?” tanya Salsa sambil menyelidik Aliana dari atas hingga ke bawah dan tidak ada yang berubah. “Kau tidak sedang memerankan sebuah perankan Al? Jangan bercanda dengan polisi,” tutur Ren memandang curiga Aliana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN