Pemberian Tugas Berikutnya

1106 Kata
“Kau memang gila Tuan Besar,” sindir Billa. Mulut Billa yang sebenarnya adalah seperti itu, tidak ada rasa segan sedikitpun dalam berucap “Terserah apapun yang ingin kamu katakan Bill.” Juan tersenyum menggoda menatap Billa dengan matanya. Sedangkan Billa memutar matanya jengah dengan sikap Juan yang bertambah tidak bisa dikatakn manusia yang baik, sudah dari dulunya. “Sudah jangan banyak bicara, apa yang membuatmu memanggil kami datang ke sini?” tanya Fikra sekaligus mengalihkan pembicaraan Billa dan Juan yang bisa saja akan semakin panjang dan meluas, karena mereka adalah dua manusia saling pendendam yang sulit untuk memaafkan. Juan tersenyum memperhatikan dua orang tamunya itu, sedangkan tangannya yang bebas menarik tubuh wanita di sampingnya untuk lebih dekat jadilah wanita itu dibalik meja kerja Juan lalu tangan Juan dengan santainya meremas d**a wanita itu dengan kenjang seperti dia sedang meremas squishy yang membuatnya gemas. Tanpa dua orang tamu itu apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu dibalik meja tersebut. Juan melirik sebentar wanitanya dengan lirikan menggoda. Wajah wanita itu sudah sangat merah dan keringat bercucuran. Dia menahan pekikan dan desahan lolos dari mulutnya dengan menggigit bibirnya sendiri. Tanpa perintah lebih lanjut wanita itu melepaskan pengaitan bra penutup dadanya sendiri membiarkan tuannya itu meremas dadanya dengan leluasa. Hal seperti itu sudah menjadi resiko berkerja pada Juan yang merupakan seorang gubernur terkenal. Dia tidak mengeluh ataupun protes karena imbalan yang dia dapatkan sangatlah sulit untuk ditolak olehnya. Yang dia perlukan dan dia persiapkan adalah dirinya sendiri. “Sayang…. Adikku sakit, bagaimana ini?” Juan berulah memandang wanitanya dengan memelas sambil menggiring tanggan lentik putih wanitanya menyentuh miliknya yang menegang dan membuat sesak celana yang dia kenakan. “Ak-akuh akan meng-ngobatinyah.” Wanita itu pun berjongkok sehingga dia benar-benar tidak terlihat di balik meja. Wanita itu tengah melakukan pekerjaannya sebagai perawat dan asisten untuk Juan di balik meja. Wajah Juan memerah menikmati sentuhan dan perawatan khusus yang dilakukan nursenya. “Dasar jalang.” Billa mendecih jijik melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Seorang lanjut usia yang dapat dibilang berusia setengah abad sedang melecehkan seorang wanita dihadapan tamunya. Billa beranjak dari keterdiamannya berdiri setelah memasuki ruangan itu menuju sopa yang ada di sisi kiri ruangan tersebut tepat membelakangi dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota. “Apa kami dipanggil hanya untuk menonton kau bermain dengan jalangmu?” Fikra akhirnya buka suara sebab melihat dengan ekor matanya istrinya sedang menahan emosi agar tidak meledak seketika. Jika Billa yang meledak maka akan sulit untuknya menenangkan kembali istri cantiknya itu. Maka dari itu dia pun mengikuti gerak istrinya tadi untuk ikut duduk di sopa. Lelah juga dia yang sudah tua itu berdiri cukup lama menyaksikan tuan besar ruangan itu sedang bermain dengan wanitanya. “Oh tentu tidak, tapi melihat godaan seperti ini,” ucapnya seraya memainkan buah d**a wanita dibawahnya. “Sulit untukku lewatkan, jadi kalian sekalian kuberi tontonan gratis. Dan ya tentang anak itu, kapan aku bisa menjemputnya? Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu langsung dengannya, dan kabarnya tubuhnya pun sangat menarik,” ujar Juan sudah mulai masuk ke dalam pembahasan inti dari pertemuannya. “Jika ingin membahas itu sebaiknya kau singkirkan jalang itu, aku risih melihatnya. Jangan sampai aku memotong-motong bagian tubuhnya dihadapanmu,” titah Billa yang dari tadi menahan kegeramannya. Dia adalah wanita yang tangguh, yang sangat anti melihat wanita membudak pada seorang laki-laki seperti yang dilakukan oleh wanita dihadapannya itu. Dia bahkan pernah membunuh beberapa wanita jalang karena geram melihat jalang-jalang itu menjadi b***k s*x untuk laki-laki, yang terpikir oleh Billa saat itu adalah, “aku membantu mereka agar mereka tidak merendahkan harga diri mereka, mereka bebas sekarang.” Dan bagi Fikra tindakan istrinya itu adalah, “dia sedang memerdekakan budak.” Terdengar desahan kecewa dari Juan, dia kecewa mainannya harus pergi karena dia pun tidak bisa mengambil resiko, walau dia bosnya tetap saja yang ada dihadapannya saat ini adalah para pembunuh professional, yang tidak memiliki rasa kasihan. Dengan gesture memerintah keluar setelah melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu Juan memilih menurut pada perintah Billa untuk kali ini agar urusan kemarahan Billa tidak bertambah panjang. Merasa dilepaskan wanita itu pun pergi menjauh dari tuannya dan keluar dari ruangan melewati Billa dan Fikra, sedangkan pakaiannya belum dibenarkan dia lebih memilih buru-buru keluar dari ruangan yang memiliki aura menyeramkan semenjak Billa dan Fikra berada di sana. Entahlah dia merasa aura gelap dan hitam tiba-tiba menyelimuti aura abu-abu yanga ada di ruangan itu. Billa dan Fikra seperti membawa malaikat maut bersama mereka membuat dirinya merinding ketakutan apalagi tidak sengaja melihat tatapan menusuk seakan menguliti milik Billa. Kata menyeramkanlah yang tepat untuk menggambarkan ruangan tuan besarnya itu. “Setidaknya aku selamat dari aura menyeramkan itu, tapi sayang kali ini aku tidak bisa bermain dengan tuan besar,” bisik hati mendesah kecewa wanita milik Juan tadi. Dia memang sudah selalu bersama Juan dan melayani Juan hingga semua kebutuhan laki-laki tua itu bahkan tak jarang dia memandikan tuan besarnya itu dan merawatnya. Dia mengetahui tentang kondisi kesehatan dari tuan besarnya itu karena awal mulanya sebelum dia bekerja dengan Juan dia adalah seorang nurse disebuah rumah sakit ternama, tapi karena sebuah kecelakaan yang tidak sengaja dia lakukan pada pasien, dia dihakimi, namanya buruk, dan dia dicap nurse tidak professional. Dia stress dan tertekan, bertepatan dia merawat Juan yang baru saja masuk rumah sakit, Juan mengetahui masalahnya dan Juan menyelamatkannya dari rumah sakit itu dengan merekrut dirinya untuk menjadi nurse pribadi Juan dengan bayaran yang sangat mahal. Tentu saja hal bayaran itu membuatnya bahagia, kedua orang tuanya pun bahagia mengetahui dia pindah bekerja dengan gubernur terkenal seperti Juan dan menjadi nurse pribadinya. Nurse Jessica atau nurse Je pun bekerja melebihi dari tugasnya yaitu menjadi asisten Juan yang lain, selalu ada bersama Juan kemanapun perjalanan Juan hingga perlakuan Juan padanya lebih dari pasien-pasiennya di rumah sakit dulu. Awalnya nurse Je terkejut dan takut tapi dia ingat orang tuanya bahagia dia bekerja pada Juan, oleh karena itu nurse Je pun menerima perlakuan Juan padanya apapun itu. Nurse Je adalah Nurse Toy milik Juan dan sudah seperti itu semenjak 3 tahun yang lalu. Nurse Je kadang memiliki rasa cemburu pada wanita yang dibawa oleh Juan karena dirinya tidak ingin digantikan. Dia pun merasakan marah saat wanita-wanita yang dibawa Juan memanjakan laki-laki berumur 53 tahun itu. Iri saat wanita baru Juan menjadi teman bermain Juan saat Juan lelah bekerja, ataupun yang menemani Juan saat sibuk bekerja. walau begitu nurse Je tetap memperhatikan Juan dan tetap berada di samping Juan. Pengecualian hari ini saat dia bertemu dengan Billa dan Fikra, pasangan pembunuh professional itu membuat nyalinya untuk bertahan di samping Juan menciut. Pada akhirnya dia merelakan waktu bermainnya dengan tuan besarnya lenyap begitu saja saat Billa buka suara. (e) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN