Orang Kepercayaan

1107 Kata
Beberapa bulan yang lalu... “Bodoh! Aku masih berpikir tadi! Aku masih tidak percaya pada ucapanmu itu, aku yakin bukan mereka, aku kenal mereka dari aku masih anak-anak jadi aku tau mereka!” Jujur Aliana masih tidak percaya tapi dia masih memikirkan kemungkinan kebenaran dari ucapan Andrean barusan. “Terserah padamu jika tidak percaya pada ucapanku, fakta yang paling mudah untuk kamu buktikan adalah saat ini,” ucap Andrean dengan percaya diri. Tapi tentu saja Aliana masih belum percaya. “Apa? Saat ini apa?” tanya Aliana dengan nada tidak sabar. “Mereka pergikan? Mereka akan menemui Pamanku di luar kota, aku tau rencana itu,” ungkap Andrean. “Mana aku tau mereka pergi atau tidak. Tapi sungguh aku masih tidak percaya bagaimana bisa kamu mengatakan mereka adalah mata-mata! Apa tujuan mereka? Apa pekerjaan mereka selama ini kurang menghasilkan uang sehingga mereka menjadi pengintai begitu,” keluh Aliana, dia berpikir tapi pikirannya masih menolak untuk percaya karena fakta yang selama ini dia ketahui adalah keluarga itu adalah keluarga yang baik dan ramah padanya. Bahkan dirinya sangat dekat dengan orang tua di keluarga itu. “Ada banyak yang belum kamu ketahui, dan aku tidak bisa mengatakannya sekarang ini karena suatu saat kamu akan membuktikannya sendiri dan mengetahui fakta sebenarnya dari keluarga itu dan apa hubungannya dengan Pamanku.” Andrean berbicara sambil berdiri dari duduknya di sopa di samping tempat duduk Aliana. Aliana pun mengdongakkan kepalanya melihat Andrean yang tinggi menjulang dari tempat dia duduk. “Katakan saja sekarang,” pinta Aliana pada Andrean. “Tidak, kamu tidak akan percaya pada ucapanku. Jadi lebih baik kamu mengetahuinya dengan sendiri nantikan dari pada mengetahuinya dariku.” Andrean menatap Aliana dari posisinya berdiri. Sedangkan Aliana memperhatikan Andrean dari bawah. “Sudah dulu ya, aku harus pulang.” Andrean berpamitan pada Aliana. “Benar kamu mau pulang?” tanya Aliana memastikan, Andrean memperhatikan raut wajah Aliana kemudian Andrean tersenyum. “Iya,” jawab Andrean singat, kemudian dia berlalu dari ruang keluarga itu meninggalkan Aliana yang masih duduk memperhatikan punggung lebar Andrean menjauh dari pandangannya. “Yasudah pulanglah sana! hati-hati di jalan Andrean pai pai!” ucap Aliana dengan suara sedikit lebih kencang, tapi suara itu terdengar riang. Sedangkan Andrean terkekeh mendengar teriakan Aliana tadi. Sebenarnya Andrean ragu untuk meninggalkan Aliana sendirian, apalagi mengetahui fakta bahwa Fikra dan Billa sedang tidak ada di rumah nomor 21 itu. Itu tandanya mereka sedang mempersiapkan sesuatu yang Andrean jujur dia belum mengetahui sesuatu apa yang Juan rencanakan karena yang dapat dia pastikan hanya pamannya itu sedang mencari kesempatan untuk menjalankan rencananya setelah rencana pengungkapan identitas Aliana melalui komisaris perusahaan Yaksa tidak berhasil. Di kota yang berbeda tempat Aliana berada, disebuah gedung berlantai 40 di sebuah pusat kota. Tepatnya lagi di lantai 30 baru saja masuk seorang pria berumur lebih dari setengah abad masuk dengan dua orang berbadan besar dan tegap mengawalnya. “Dingin sekali ruangan ini,” ujar pria itu sambil mendudukan dirinya di kursi putar di balik meja kerja yang terlihat kokoh melindungi tubuhnya. “Mungkin karena Bapak habis dari luar yang panas tadi,” kata asistennya yang tadi mengekor di belakang orang yang disebutnya bapak tadi. “Oh mungkin saja, atau mungkin karena saya sedang bahagia saja, makanya… semua terada dingin.” Pria itu tersenyum bahagia sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi keberasannya. Melihat senyum yang terbit di bibir sang tuan, asistennya itu pun ikut tersenyum senang. “Selamat Pak, akhirnya Bapak bisa segera membuka hutan Kalimantan itu,” seru sang asisten memberikan selamat. “Tentu saja, terimakasih.” Senyuman menawan diberikan pada sang asisten yang ikut tersenyum dengan kepala sedikit tertunduk. Tak berapa lama setelah percakapan itu instruksi dari luar ruangan yang berupa sebuah ketukan dan suara dari seorang wanita dari arah pintu besar ruangan tersebut mengalihkan perhatian sang tuan dan asistennya. “Maaf Pak, ada dua orang laki-laki dan perempuan ingin menemui Bapak, mereka bilang Bapak mengundangnya,” ujar seorang wanita berpakaian sempit dan minim yang baru saja masuk ke dalam ruangan besar tempat sang tuan berada. “Oh mereka sudah datang, persilahkan mereka masuk dan setelah itu kamu masuk juga ke sini,” titah sang tuan dengan senyuman nakal di bibirnya. “Baiklah,” balas sang wanita kemudian kembali mundur dan keluar dari ruangan untuk menghampiri dua orang yang dia maksud tadi untuk masuk ke dalam ruangan. Dua orang itu adalah Fikra dan Billa, berdiri di depan meja resepsionis lantai 30 dengan 1 koper berukuran cukup besar di samping Fikra berdiri. “Silahkan ikut saya Tuan dan Nyonya,” seru wanita tadi. Fikra dan Billa dengan wajah datar dan aura dingin mengikuti langkah wanita berpakaian minim itu menuju ruangan tempat orang yang mereka ingin temui. Pintu dibukakan dari dalam oleh penjaga yang memang ada di dalam ruangan itu. “Hai kawan lama.” Sapaan tuan besar ruangan itu menyambut Fikra dan Billa. Sedangkan wanita yang tadi mengantar mereka melangkah lebih dekat untuk menghampiri tuan besarnya. Dengan satu tangan pria tua itu merengkuh pinggang yang lebih tepat ke b****g wanita tadi yang sudah berdiri berjarak satu langkah dari tuannya itu agar berdiri lebih dekat dengannya dan tangannya pun lebih santai dan leluasa untuk meremas dan mempermainkan tangannya pada b****g dan paha bagian atas yang tidak tertutup kain dress minim milik wanita itu. “Aku baru melihat seorang gubernur memiliki penjagaan ketat seperti ini, dan apa ini? Ada wanita mainiannya juga di dalam ruangan ini, Juan” sindir Fikra tanpa takut memperlihatkan bagaimana dia menatap orang yang dia sebut gubernur dan wanitanya serta penjaga pintu yang membukakan pintu untuk mereka tadi. Pria itu Juan, dia tidak membalas ucapan Fikra tapi dia tersenyum melihat raut sinis dari Fikra. Sedangkan tangannya tetap pada kegiatan meremasnya. “Apa kau tidak khawatir mereka juga menginginkannya,” sindir Billa pula melihat penjaga yang berdiri tegap seperti patung yang tidak memiliki hawa nafsu, sedangkan sang asisten yang dari tadi berdiri diam, dia terlihat tidak nyaman berada di ruang itu. Juan terkekeh kecil sambil meremas kuat b****g bagian bawah setelah tangannya menyusup kebalik dress rendah milik wanitanya. “Aghh…,” pekikkan bercampur desahan lolos begitu saja setelah remasan kuat itu. Wanita itu terkejut karena satu jari tuannya itu menyasar pada bagian sensitifnya. “Kenapa sayang hmm? Jangan memekik seperti itu.” Juan sedikit mendongak menatap wanitanya yang sudah memerah karena menahan teriakan dan desahan, ruangan itu dingin tapi keringat tetap lolos dari kulitnya. “Oh ya, tentang penjagaku itu. Mereka itu sama seperti rekanmu dulu, sebenarnya ini aib tapi mereka tidak peduli. Jadi aku akan mengatakannya,” ucap Juan sambil tersenyum. “Mereka itu sudah dikebiri, dan lagi pula mereka hanya akan menerima bukan pemberi.” Penjelasan Juan sudah cukup jelas untuk Fikra dan Billa. (d) …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN