Kembali aku memijit kepala ini karena rasa pusing yang mendera. Kucoba membawa diri ini tidur sejenak melepaskan beban yang masih menghimpit d**a ini, tapi sia-sia. Aku tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Tidak ada rasa ngantuk. Mataku jelas terang sekali. Sakit. Mas Bintang tetap pergi kesana dengan alasan anak. Wanita itu tetap bisa memaksanya untuk pergi dari sini. Lelaki yang sudah menemaniku selama dua tahun itu merengek dan memohon untuk menemui mereka. Sebentar saja katanya, sebelum dua jam Mas Bintang berjanji akan pulang. Dia bilang anaknya menangis ingin bertemu dengannya. Sedangkan aku yang dari kemarin menangis darah disini karenanya, tidak sedikitpun menyentuh hatinya. *** "Non!" panggil seseorang dari luar kamar. Aku mengenali suara itu. Bi Sri. "Iya, masuk Bi,

