Wanita paruh baya dengan garis wajah mirip ayah datang menghampiriku dengan raut muka yang sedih. Tampak berkaca-kaca matanya menatap wajahku lekat. "Aya!" Ia langsung menyambar memelukku dengan erat dan menangis tersedu-sedu di bahuku. Aku dan Fajar saling pandang, seolah paham dengan kode yang kuberi, Fajar hanya membalasnya dengan mengendikan bahu. "Maafkan Tante Ya, ini semua salah Tante." Wanita paruh baya ini masih terisak dengan berkata maaf disela tangisannya. "Iya, Tante Aya maafkan. Tapi ini kenapa, ya? Tante salah apa?" tanyaku bingung dengan mencoba mengurai pelukannya yang semakin kuat hingga menyakitkanku. Aku merasa sesak dibuatnya. "Tidak ... Tante yang salah, hukum saja Tante, kalau bukan karenaku, kamu nggak akan mengalami nasib yang kayak gini," sahutnya lagi masih

