Maria masih menangis, Haidar duduk tenang di depannya. Ia sulit menerima kenyataan itu dan bagaimanapun dia harus menerimanya dengan lapang d**a. Haidar baru saja kembali usai mengantarkan Farfalla dan seperti janjinya dia telah menceritakan kepada Maria. “Bagaimana Maria?” tanya Haidar setelah dia rasa Maria mulai berhenti menangis dan sudah bisa menguasai dirinya. Maria mengangguk, dia tidak boleh egois dan menolak permintaan Haidar. “Terima kasih… terima kasih atas pengertian mu.” Pria itu lalu mendekat dan mencium puncak kepala Maria. Selalu begitu… Haidar selalu memperlakukannya dengan manis dan perlakuannya yang sekarang sangat menakutkan bagi Maria. “Mas,” panggil Maria, suara wanita itu masih terdengar serak karena habis menangis. “Ya.” Haidar yang sudah berjalan menuju ranj

