Max Pov
Semenjak kejadian itu, Tamara selalu menghindariku . Setiap kali ku ajak dia keluar, dia selalu menolak dengan alasan banyak kerjaan. Sikapnya yang berubah membuatku bingung & putus asa
" Akhir - akhir ini kau seperti orang putus cinta" Bastian menatapku sambil menawarkan sebungkus rokok kepadaku
" Itu hanya perasaanmu saja! Mana mungkin aku patah hati!" Menghisap sebatang rokok membuat pikiranku semakin tenang
" Benar juga! Terakhir kali kau patah hati hanya saat mendengarkan kematian istri pertamamu Erika" Bastian hanya bisa menatapku sambil termenung
" Erika...dulu aku berharap dia masih hidup...entah kenapa sekarang aku jarang memikirkannya" aku memikirkan waktu aku sangat terguncang kehilangan istri pertamaku saat kecelakaan mobil 6 tahun yang lalu
" Karena kau saat ini jatuh cinta dengan Tamara" Bastian menyunggingkan senyuman yang aku tau artinya
" Darimana kau tau? Kau saja tidak pernah jatuh cinta! Sok tau kau!" Aku membuang batang rokok disembarang tempat karena tak sanggup lagi diinterogasi oleh Bastian
" Aku bisa melihat dari matamu cara kau memandangnya sangat berbeda dengan kau memandang erika" Bastian sangat suka memancing emosiku apalagi yang berkaitan dengan Erika
" Jangan kau banding - bandingkan dengan Erika! Aku tidak suka!" Aku langsung meninggalkannya dengan perasaan bersalah kepada Erika karena telah berkhianat
Jam 5 aku sengaja menunggu Tamara diparkiran motor. Aku ingin sekali membawanya pergi dari kota ini & menikahinya
" Tamara! Ku mohon bicara kepadaku" aku membalik tubuhnya & memeluknya
" Lepaskan saya Pak! Saya tidak mau ada orang yang melihat kita disini" Tamara menjerit seolah - olah aku ingin mempermalukannya didepan orang banyak
" Aku akan melepaskan asalkan kamu mau ikut denganku!" Aku semakin mempererat pelukanku agar dia mau mengikuti keinginanku
" Baiklah! Tapi lepaskan saya dulu" Akhirnya aku melepaskannya & dia mau mengikutiku
Aku membawanya ke sebuah apartemen yang dulu pernah kutempati dengan Erika. Aku sengaja membawanya kesana karena aku tidak ingin ada yang tau
" Ini apartemen siapa?" Tamara terlihat takjub melihat apartemenku yang begitu besar & luas
" Ini apartemenku. Kamu tunggu dulu disini. Aku akan membuatkan minuman untuk kita berdua" Aku meninggalkannya menuju mini bar untuk mengambil Red Wine kesukaanku
" Silakan diminum" aku memberikannya segelas red wine & sepertinya dia tidak pernah meminumnya
" Minuman apa ini? Kenapa rasanya begitu aneh? " rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresinya yang begitu polos
" Ini Red Wine kesukaanku. Habisksn saja karena harganya sangat mahal. Sayang kan kalau tidak dihabiskan" Aku menghabiskan minumanku sambil melihatnya menghabiskan minumannya
" Terus terang saja, apa yang anda ingin katakan kepada saya?" Dia menatapku dengan penasaran & aku akan memainkan kepolosannya
" Aku ingin kita menikah"
Terlihat dari raut wajahnya yang sangat shock & membuatku ingin tertawa tapi ku tahan agar actingku berhasil untuk mendapatkannya
" Saya tidak mau menyakiti ibu Tiara" dia benar - benar menolakku tetapi aku tidak menyerah
" Apa kamu tidak takut kalau sekarang mengandung anakku?" Akhirnya jurus mematikan ku keluarkan & dia terdiam tidak bisa berkata apapun
" Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan kepadamu & aku sangat mencintaimu!" Aku langsung bersujud didepannya sambil menyerahkan cincin yang kupersiapkan untuk melamarnya
" Saya tidak bisa" tetapi aku tidak menyerah & memasukkan cincin ke jarinya & tiba - tiba dia menangis
" Sayang...ku mohon nikahi aku! Aku berjanji akan bertanggung jawab. Jika kamu tidak ingin aku menceraikan tiara akan aku lakukan asalkan kau mau menikahiku!" Aku mencium tangannya sambil menatap matanya yang indah
" Baiklah kalau begitu, aku mau menikah denganmu" aku langsung memeluknya & menciumnya
Sehabis percintaan kami yang dahsyat, aku memeluk tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benang. Dia begitu cantik seperti bidadari. Aku tidak sabar ingin menikahinya
***
Max Pov
Pagi ini kami resmi menjadi suami istri. Aku sangat bahagia bisa menjadi suami Tamara.
" Aku bahagia akhirnya kita menikah" aku mencium keningnya & Tamara memelukku
" Bagaimana dengan Bu Tiara?" Aku tau Tamara sangat bingung memikirkan Tiara tapi aku tidak terlalu peduli karena Tiara wanita licik
" Tidak usah kau pikirkan sayang. Kita pikirkan bulan madu saja" aku tersenyum nakal & dia mencubit pinggangku
Bastian Pov
Aku sangat heran dengan sikap Max yang berubah. Aku berfikir ini semua ada hubungannya dengan Tamara. Aku harus menyelidiki sendiri apa yang terjadi dengan Max karena hanya Max satu - satunya kakak kandungku yang kumiliki setelah orang tua ku meninggal. Tiba - tiba aku bertemu dengan Tiara, si wanita licik yang ingin menguasai harta kakakku
" Bas, apa kau melihat Max? Dari kemarin aku mencarinya tidak ketemu"
Tiara terlihat kebingungan mencari Max. Aku tau wanita licik ini hanya ingin uang maka aku menulisksn check untuknya supaya dia tidak menggangguku
" Ini kuberikan kau check tapi kau jangan menggangguku!"
Aku menyerahkan check di atas meja & dia langsung melihat nominalnya & pergi begitu saja dari ruanganku. Sebenarnya aku bisa saja menyingkirkan wanita itu tapi Max yang bersikeras menjaga perempuan itu karena Ayah kami sangat berhutang budi dengan ayahnya Tiara yang telah menyelamatkan aku & Max dari perampok.
Entah sejak kapan aku memikirkan Tamara. Meskipun awalnya aku tidak suka dengan penampilannya yang kampungan tetapi dia begitu bersahaja & polos tidak seperti Tiara yang gila harta & kemewahan yang diberikan kakakku. Semoga aku bisa menemukan mereka secepatnya