Setelah pulang dari sekolah, Rifat yang tidak memiliki kesibukan lain kembali memasuki permainan. Rifat tersadar di dalam rumah Sonya si pemilik cafe seperti biasanya, kamar yang pemuda itu tempati begitu berantakan hasil dari aksi keduanya kemarin malam. Bangkit dari tempat tidur Rifat segera membereskan ruangan dan seluruh rumah sebagai balasan karena telah diizinkan untuk tinggal di rumah ini. Rifat juga membuat bekal makanan untuk wanita pemilik rumah yang saat ini berkerja di sebrang rumahnya sendiri.
Setelah menyelesaikan tugasnya membersihkan rumah, Rifat keluar rumah menuju cafe di sebrang jalan. Dia melihat tempat itu tengah ramai dengan pengunjung, pemandangan yang biasa saat pagi hari.
“Rifat, kau sudah bangun!.” seorang wanita berambut keemasan menyambut kedatangan Rifat.
“Yah, terlihat ramai seperti biasa, apa kau butuh tambahan tangan?.”
“Tidak ini baik-baik saja. Ada dua karyawan magang yang melamar pekerjaan kemarin.” kata Sonya menunjukkan dia pekerja barunya. Melihat jika Sonya tidak membutuhkan bantuan darinya saat ini, Rifat pun memutuskan untuk meninggalkan cafe. Tapi sebelum itu dia memberikan kotak makanan yang telah dia buat untuk Sonya.
“Jesss, kau benar-benar pemuda yang sangat prihatin.” wajah Sonya begitu merah saat menerima bekal. Kemudian dikarenakan tidak ingin mengganggu pekerjaan di cafe, Rifat memutuskan untuk pergi.
“Sebelum aku pergi ke persekutuan untuk mendapatkan misi harian, lebih baik aku mengisi ulang persediaan ku.”
“Lagi pula potion yang aku miliki tersisa sedikit.” setelah keluar dari cafe Rifat memutuskan untuk pergi ke distrik perbelanjaan untuk membeli beberapa barang.
***
Carot's Drugs Store. Toko potion yang baru-baru ini dibuka namun sekarang sudah tutup. Itu bukan karena tidak ada pembeli lalu bankrut tapi justru sebaliknya. Toko Npc yang buka jam 5 pagi dalam waktu game itu selalu di penuhi oleh player, menyebabkan barang yang mereka jual selalu habis kurang dari satu jam pembukaan toko.
Potion yang dibuat di toko ini memiliki efek lebih kuat dari toko Npc lainnya, bahkan para player yang memiliki job peramu obat pun dibuat penasaran dengan cara pembuatan obat di toko yang baru buka kurang dari 1 bulan. Tapi tentu saja pemilik toko tidak mau memberitahu resep rahasia potion mereka.
Prok prok prok! Suara tepukan terdengar namun bukan tepuk tangan. Suara itu berasal dari hentakan pinguin Rifat yang membentur b****g wanita di depannya dengan begitu cepat. “Oh yes yes... master kau begitu luar biasa.” wanita yang tidak lain adalah Carol pemilik toko Carot's Drugs Store terus mendesah nikmat saat bagian bawahnya diacak-acak oleh batang pemuda itu. Dengan gaya anjing, Rifat dapat melihat dengan jelas kemolekan tubuh wanita bersuami dengan dua orang anak itu yang saat ini tengah dia nikmati sesuka hatinya.
Plak! Suara tampar terdengar keras dari perbuatan Rifat yang menampar b****g berisi Carol, membuat wanita mengerang dengan penuh kenikmatan, “Akh… Fu*k so good!.” dengan wajah mesumnya Carol mengintip ke belakang, Carol menatap Rifat dengan penuh arti sementara bibir bawahnya dia gigit dengan lembut. Melihat itu Rifat langsung menyadari apa yang diinginkan oleh pasangannya.
Dengan keras Rifat menarik rambut biru gelap wanita itu membuatnya tersentak kaget, sementara pinggulnya semakin dipercepat. Suara desahan Carol semakin menggila saat Rifat berbuat begitu kasar padanya, wanita itu begitu terangsang saat rambutnya ditarik dengan kuat membuatnya merasakan kesakitan namun bagian bawahnya terasa nikmat dalam waktu bersamaan.
“Oh fu*k i cum... i cum... i cumingggg!” dengan rambut ditarik membuat wajah Carol menghadap keatas, namun Rifat dapat melihat wajah ahegao yang dibuat oleh wanita itu saat dia klimaks karena didepan mereka merupakan sebuah cermin.
“Seperti biasa, saat klimaks kau menunjukkan ekspresi yang luar biasa Carol.” Rifat menarik wajah Carol dan menunjukkan cermin yang memantulkan dirinya sendiri yang dimabuk kenikmatan.
“Aku sangat senang jika master menyukai wanita kotor sepertiku.” ucap Carol dengan nafas putus putus. Karena Carol telah mencapai puncak, Rifat pun perlahan menarik barangnya. “Mmmhhh yes oohhh...” Carol begitu menikmati setiap inci dari batang Rifat yang ditarik keluar dari kewanitaannya yang masih begitu sensitif karena baru saja mencapai klimaks. Kemudian setelah seluruh batang dicabut keluar, perlahan lubang kewanitaan Carol yang masih terbuka lebar memuntahkan semua cairan hasil adukan milik keduanya.
“Hemm… hari ini juga dapat banyak.” kata Rifat saat melihat cairan yang keluar dari kewanitaan Carol di tampung pada bak kecil dibawah kaki wanita itu. Saat cairan berhenti keluar Rifat segera mengobok milik Carol memastikan setiap tetes cairan telah dikeluarkan, perbuatan Rifat yang begitu kadar saat menangani kewanitaan Carol membuatnya kembali mendesah dengan hebat.
Setelah bagian Carol selesai giliran Rifat yang cairannya harus diambil. Carol yang sudah kembali bertenaga mulai turun untuk memulai tugasnya. Wanita itu menatap batang Rifat yang sudah beberapa Minggu terakhir mengambil tugas suaminya untuk memuaskan birahinya. Dengan tanpa sungkan Caro mencium ujung torpedo itu dan menjilatinya bagian es krim lalu memasukkannya perlahan hingga pangkal yang membuat batang itu masuk ke begitu dalam ke tenggorokannya.
“Haah wajah yang kau buat memang yang terbaik.” komentar Rifa saat melihat wanita dibawahnya menunjuk wajah mesumnya saat mulut dipenuhi oleh batang. Carol merasakan sesak nafas akibat tenggorokannya yang tersumbat, tapi itu justru membuat wanita itu lebih terangsang, tangannya terus memainkan kewanitaannya sendiri hingga dia kembali klimaks, a******i yang dua hasilkan kembali ditampung dengan bak kecil namun kali ini pada bak yang berbeda.
Crock crock crock! Suara mirip katak mulai terdengar saat Rifat perlahan menggerakkan pinggulnya maju mundur. Rifat begitu menyukai saat menggunakan mulut Carol sebagai tempat membuang s****a, namun sayang Rifat tidak bisa membuang s****a berharga miliknya kedalam tenggorokan carol. saat Rifat hampir klimaks dia langsung menarik barangnya, Caro terlihat agak tidak puas karena tidak bisa menikmati s**u kental milik Rifat. Namun Carol sadar jika mereka saat ini sedang membutuhkan s****a milik masternya itu.
Setelah mencabut batang, Carol segera mengocok nya hingga Rifat klimaks, s****a yang dikeluarkan segera ditampung pada botol kaca yang sebelumnya Carol siapkan, “Ah ini sangat melimpah seperti biasa, anda benar-benar lebih baik dari pecundang itu.” Carol melihat s****a yang Rifat hasilkan dengan wajah yang merona.
Wanita itu sering membandingkan Rifat dengan suaminya entah karena dia sudah tergila-gila pada Rifat atau memang Carol tidak lagi merasakan kepuasan saat melakukan hubungan seksual dengan suaminya sendiri, yang jelas dia selalu menghina lelaki yang telah memberinya dua orang anak.
Setelah dirasa cukup Carol segera menarik batang Rifat dari mulut botol lalu segera memasukkannya kedai mulutnya dan menghisap habis s****a yang tersisa.
“Mmmhh oooh.. rasa ini benar-benar yang terbaik.” wajah Carol menunjukkan seolah dia telah menikmati madu yang begitu lezat.
Setelah selesai dengan ritual yang selalu keduanya jalani sebelum bekerja. Rifat dan Carol yang masih dalam keadaan tanpa busana mulai mempersiapkan bahan-bahan pembuatan potion. Selain berbagai herbal ada juga cairan-cairan kental yang dihasilkan dari ritual menjadi bahan pembuatan potion yang mereka jual di Carot's Drugs Store.
Dan begitu kebenaran tentang resep rahasia potion Carot's Drugs Store, toko obat yang selalu ramai oleh pengunjung.