Setelah perut kenyang, Ala melanjutkan tontonannya yang tadi sempat terhenti. Hari ini dia sedang menyukai drama detektif yang menegangkan.
Drama korea sering kali menampilkan adegan terkait makanan yang membuat penonton ngiler.
Seperti kali ini, Ala tergiur melihat pemeran drama memakan sandwich, ramyeon dan kopi latte.
Dia tidak bisa menahan diri, akhirnya membeli makanan yang dirasa paling serupa tampilannya dari aplikasi ojek online.
Ala sampai menghentikan tontonannya demi menunggu pesanannya tiba.
Tidak ingin waktu terbuang, Ala memutuskan untuk mandi saja. Meski belum terlalu sore, tapi Ala ingin segera mandi, agar nanti sisa waktunya bisa fokus pada aktivitas kesukaannya, menonton.
Belum sempat mengeringkan rambut, ponselnya sudah berbunyi, pertanda pesanannya sudah tiba.
Ala bergegas ke luar untuk menerima pesanannya.
Di saat yang bersamaan, ternyata tetangga kamar sebelah juga sedang membuka pintu.
"Loh, mas?" pekik Ala kaget.
Banyak hal mengejutkan yang berkaitan dengan pria itu.
"Eh, kos disini juga?" tanya pria itu, ramah. Sekali lagi, ramah.
"Iya"
"Udah setahun saya disini, bisa-bisanya belum pernah ketemu ya mas" tambah Ala ceria.
"Iya, saya juga jarang di kos" ucap pria itu. Gestur tubuhnya menunjukkan bahwa dirinya ingin masuk ke kamar, jadi Ala juga memutuskan kembali.
Saat plastik pesanannya dibuka, Ala menggeleng bahagia. Aroma gurih makanan berpadu dengan harum kopi latte yang creamy.
Sebagai kaum promo hunter, Ala membeli paket bundling yang harganya lebih murah dan isi lebih banyak. Pesanannya tadi ada dua sandwich ukuran large dan dua kopi dengan jenis berbeda, latte dan long black.
Ala mengambil satu sandwich dan kopi latte miliknya, lalu menutup kembali box kertas tersebut. Ala turun ke lantai satu, memberikan makanan tersebut pada satpam kos.
Namanya Pak Wawan, pria berusia enam puluh tahunan yang sudah mengabdi di kos semi elit ini selama puluhan tahun.
Dari pekerjaannya ini, dia membiayai empat anaknya dan istrinya yang sesekali menjadi buruh cuci gosok harian jika ada yang meminta jasanya.
Pak Wawan memiliki kepribadian yang ceria, sehingga mudah akrab dengan banyak orang, termasuk Ala.
"Permisi Pak Wan, ini ada kopi" ucap Ala mengetuk jendela pos satpam.
Pak Wawan yang sedang asyik menonton pertandingan olahraga di televisi pun sontak menoleh. Wajahnya berbinar melihat es kopi hitam yang mengembun. Minum yang sangat cocok dalam kondisi siang terik begini.
"Wah, dapat rejeki lagi nih dari Mbak Ala" ucapnya riang.
Bangkit dari kursi untuk menerima bungkusan makanan tersebut.
"Biar seger pak" jawab Ala ramah, lalu bergegas pamit kembali ke kamarnya.
Dari balkon lantai atas, ternyata pria tadi menyaksikan semuanya. Dia terkekeh melihat langkah Ala yang terlampau riang, seperti anak kecil diberi es krim.
Ala tidak menyadari keberadaan pria itu di pojok balkon. Dia sudah tidak sabar menikmati makanannya sambil menonton drama yang sedang di puncak penyelidikan.
*
Keesokan harinya, Ala sudah berdandan rapi. Memakai dress kuning yang membuat kulitnya semakin cerah. Di bahunya tersampir shoulder bag berwarna cream yang senada dengan kitten heels 5 cmnya.
"Iya, nanti aku anterin ke rumah abang dulu sebelum gereja" ucap Ala ke arah ponselnya, dirinya masih sambil memasang heels.
"..."
"Iya bang, tunggu depan gerbang aja, ini mau turun" ucap Ala.
Dia menyemprotkan parfum ke beberapa spot tubuhnya, lalu bergegas keluar kamar.
Hari ini ada misa inkulturasi di gerejanya, Ala harus tiba lebih awal agar bisa memilih posisi kursi.
Begitu menuruni anak tangga, Ala melihat Pak Wawan duduk bersama seseorang di teras pos.
"Nah, itu Mbak Ala juga tiap minggu gereja mas, bareng aja" ucap Pak Wawan pada pria muda di sampingnya.
Ala yang merasa namanya disebut, segera mendekat.
"Kenapa pak?" tanya Ala.
"Ini mbak, Mas Kai mau gereja juga, tapi ban mobilnya pecah tuh" ucap Pak Wawan menjelaskan.
Ala melihat sekilas ke arah yang ditunjuk. Memang ban mobil bagian depan terlihat kempes.
"Gereja dimana mas?" tanya Ala lagi.
"Di Gereja Santa Maria" jawab Kai. Ah, Ala baru ingat nama pria itu setelah disebut oleh Pak Wawan.
Ala juga baru ingat jika dirinya seagama dengan Gita, jadi besar kemungkinan adiknya ini juga memiliki agama yang sama.
"Saya juga di sana sih mas, tapi ini masih nunggu jemputan, kemarin mobil saya sempat dipinjem teman" ucap Ala menjelaskan.
"Mau bareng mas?" tambah Ala menawarkan.
Kai mengangguk, menyetujui tawaran Ala.
Beberapa menit menunggu, akhirnya Bastian tiba. Ala segera beranjak, mempersilahkan Kai masuk ke dalam mobil.
"Pamit ya Pak Wan" ucap Ala setelah duduk di kursi depan.
Mobil sedikit masuk ke halaman kos, memutar ke arah datangnya tadi.
Setelah Bastian diantar ke rumahnya, Kai mengambil alih kemudi.
"Saya yang nyetir, boleh?" tanya Kai sesaat setelah Bastian turun dari mobil.
Ala yang hampir membuka pintu mobil pun mengurungkan aksinya.
"Boleh mas" jawabnya.
Kai turun dari kursi belakang, lalu duduk di samping Ala. Mereka melanjutkan perjalanan, lebih cepat dari laju sebelumnya karena jalanan cukup lancar.
Di pintu Gereja, Ala dan Kai sedikit mengantri saat mengambil air suci.
Meski sudah berangkat lebih awal, ternyata kursi sudah banyak terisi.
Ala celingukan mencari posisi kursi kosong yang sesuai keinginannya. Dia menyukai bagian kursi baris tengah karena lebih leluasa melihat altar.
Setelah berlutut, Ala duduk di barisan kursi yang masih kosong.
Yang tak ia duga, ternyata Kai mengikuti dirinya duduk di sana.
Ala pikir, Kai si manusia irit bicara itu akan mencari tempat duduk sendiri.
Ala menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Kai duduk di pinggir. Padahal itu adalah spot favoritnya, tapi Ala mengalah saja.
Usai berdoa, Ala mengeluarkan kipas lipat mungil andalannya karena dia mudah kepanasan.
"Besok jadwal kontrolnya Mbak Gita, mas ikut nemenin nggak?" tanya Ala, basa-basi.
Kai melirik sebentar, lalu kembali fokus melihat dekorasi khas daerah yang selalu terasa unik di matanya.
"Nggak, ada suaminya" jawab Kai.
Pria itu memang sudah kembali dalam mode irit bicara lagi.
Ala hanya mengangguk pelan, tidak berniat melanjutkan pembicaraan.
*
Misa berlangsung lebih lama dari biasanya, karena ada beberapa koor bahasa daerah penyelenggara dan tari persembahan saat mengiringi perarakan persembahan menuju altar.
Setelah misa selesai, Ala meminta izin untuk mengunjungi bazar di halaman gereja. Ada beragam makanan khas daerah yang bisa dieksplor di sana.
Dalam perjalanan pulang, Kai mengajak makan siang terlebih dahulu.
Kai menulis pesanannya di kertas, mie goreng hokkian dan air mineral dingin. Dia memberikan kertas itu untuk diisi oleh Ala.
"Saya ke toilet dulu" ucapnya pamit.
Ala menulis pesanannya, mie pangsit goreng dan es jeruk peras. Setelahnya, Ala menyerahkan menu pesanan mereka pada salah satu pekerja yang lewat di sampingnya.
"Udah pesan?" tanya Kai begitu kembali.
"Udah"
"Habis ini, mampir ke swalayan bentar ya" ucap Ala, dia teringat dengan kulkasnya yang sudah kosong.
Kai mengangguk.
"Kalau saya sekalian beli ban, boleh?" tanya Kai.
"Mau ganti ban sendiri mas?"
"Iya"
Ala mempersilahkan, dirinya tidak masalah jika harus mampir ke toko perkakas otomotif.
Usai menyelesaikan makan siang, mereka beranjak ke tujuan berikutnya.
Ala sibuk memilih sayur dan bumbu, sesekali berpikir tentang menu apa yang ingin dia buat nantinya.
Di salah satu stand, ada promo ambil udang sepuasnya. Ala bergidik ngeri, membayangkan kemungkinan bahwa udang itu dari kawasan yang ramai dibicarakan karena paparan zat radioaktifnya.
Di lain sisi, Ala menatap miris ibu-ibu yang beramai-ramai membeli. Dia tidak sampai hati jika memang benar seperti yang ia khawatirkan.
Ia menilai langkah pemerintah terlalu lambat dan terkesan abai pada kasus tersebut.
"Mau beli udang?" ucap Kai, saat melihat Ala menatap cukup lama ke arah stand tersebut.
Ala menoleh.
"Nggaklah mas, takut"
Kai mengernyit heran.
"Kenapa?"
"Takut aja, jangan sampai udangnya bisa dijual semurah itu karena produk kontam yang nggak laku mas" jawab Ala.
"Masalah zat radioaktif itu ya? Masa produk berbahaya seperti itu masih dijual bebas?" ucap Kai, meragukan pemikiran Ala.
"Harusnya sih nggak dijual lagi, tapi tetap aja was-was. Menteri aja bilang produknya aman dikonsumsi, mas"
"Karena pemerintah tidak melakukan pengawasan dengan proper, kita sebagai konsumen harus ekstra hati-hati mas. Perusahaan kami aja sampai makin ketat memilih suplier udang mas, harus yang bersertifikasi bebas radioaktif" imbuhnya lagi.
Kai menatap dirinya cukup intens, membuat Ala sedikit salah tingkah.
"Kamu benar" ucap pria itu singkat.
Dari caranya menatap, Ala pikir pria itu akan mengeluarkan statement panjang, ternyata praduganya salah.
"Kalau dibiarkan seperti ini, kasihan masyarakat awam yang masih terbatas wawasannya. Apalagi ibu hamil dan anak-anak, kalau terpapar jangka panjang, bisa cacat atau bahkan kena penyakit serius mas" ucap Ala, melanjutkan kegiatan memilah belanjaan.
"Kenapa?" tanya Kai.
"Paparan zat kimia berbahaya seperti itu bisa menumpuk dalam sel. Lama-kelamaan, bisa mengganggu kinerja organ atau bahkan lebih parahnya memicu mutasi sel menjadi ganas, entah jadi kanker atau bahkan mungkin autoimun mas" papar Ala, dia senang berbagi pengetahuan seperti ini.
Entah disadari atau tidak, Kai jadi ikut-ikutan memilih tomat lalu menyodorkannya pada Ala.
"Ngeri ya, efeknya" ujar Kai.
Ala menerima tomat yang disodorkan, memeriksa kualitasnya. Ternyata lembek, Ala mengembalikannya.
Kai menatap miris tomat pilihannya. Dia semakin berhati-hati memilih tomat berikut, lalu memberikan pada Ala.
"Iya mas, sayangnya masyarakat banyak yang tidak tahu, dan akhirnya jadi tidak aware dengan bahayanya" ucap Ala.
Tomat berikutnya juga tidak lolos uji, Ala malah menyudahi kegiatan memilih tomat. Berganti mengambil sayuran lain, yang tak perlu waktu lama memilihnya.
"Kenapa tomat pilihan saya tidak diterima?" tanya Kai. Dia sedikit kesal karena penilaiannya terasa dianggap remeh.
Ala terkejut mendapati pertanyaan itu muncul dari seorang Kai.
"Mas pilih buah yang terlalu matang, jadi sudah agak lembek" jawab Ala.
"Semakin matang, semakin bagus dong" ucap Kai, mempertahankan prinsipnya.
Ala terkekeh. Dia tidak menyangka sikap Kai seperti bocah yang sedang protes.
"Untuk buah tertentu, memang semakin matang akan semakin bagus kualitasnya mas. Tapi kalau tomat, jika buahnya sudah terlalu matang akan mudah busuk, masa simpannya terlalu singkat"
"Langsung dimasak saja, tidak usah disimpan lama-lama" ucap Kai lagi.
"Kalau akan segera digunakan, memang boleh saja mengambil buah seperti pilihan mas tadi. Tapi, saya kan belum tahu kapan mau masaknya, jadi cari aman saja mas, pilih yang belum terlalu matang" jawab Ala, menyudahi acara pilih-memilih.
Ala berjalan menuju area timbangan, memberikan plastik belanjaannya untuk ditimbang dan disegel oleh petugas.