3.

1499 Kata
"Nebeng ya, La" ucap Bastian menghampiri Ala yang masih berkutat dengan laptopnya. Sebagian karyawan sudah meninggalkan kantor karena jam kerja sudah berakhir setengah jam yang lalu. Ala memilih pulang lebih lama karena pekerjaannya masih tanggung untuk ditinggalkan. "Tumben bang" ucap Ala, mempercepat laju jemarinya mengetik kata demi kata di keyboardnya. "Mobil dibawa bini" jawab Bastian singkat, berlalu menyimpan cangkir kopinya ke pantry kantor. Beberapa menit kemudian, Ala menutup laptopnya. Mereka bergegas meninggalkan gedung kantor. Rumah Bastian memang searah dengan tempat tinggal Ala. Bastian membawa mobil cukup lambat, jam pulang kantor banyak sepeda motor menyelip sesuka hati. "Besok nebeng lagi boleh nggak?" tanya Bastian sebelum ke luar dari mobil. Mereka sudah tiba di depan rumahnya. "Aman bang, besok berkabar aja" jawab Ala, ikut keluar untuk berpindah ke kursi kemudi. Mobil Ala melaju pelan. Langit sudah gelap, Ala memutuskan makan malam di luar karena kosnya masih berantakan. Tadi pagi dia tidak sempat beberes karena terlambat. Ala memasuki kawasan mall, dia ingin memberi self reward sebagai kompensasi atas banyak hal tidak menyenangkan hari ini. Tujuan awalnya ingin makan di salah satu food court berlogo merah, tapi ternyata semua meja penuh, bahkan waiting list sudah diberlakukan sejak sore. Tidak ingin menunggu terlalu lama, Ala memutuskan memasuki restoran berlogo ungu saja. Ala juga masih harus antri untuk memberikan daftar pesanannya karena suasana cukup ramai. Selanjutnya, Ala celingukan mencari meja kosong yang sesuai keinginannya. Pilihannya jatuh pada meja di ujung samping. Dia tidak suka duduk di bagian tengah resto, terlalu ramai menurutnya. Ala menunggu sendirian, sampai akhirnya restoran semakin penuh, pesanannya tak kunjung datang. Sudah hal lumrah memang di resto ini. "Boleh gabung?" tanya seorang pria yang tadi siang bersama Ala. Wajah terlihat cukup lelah, entah karena masalah pribadi atau lelah mencari tempat duduk. "Silahkan mas" ucap Ala ramah. "Baru pesen?" tanya Ala basa-basi, karena pria itu tak kunjung membuka obrolan. "Sudah dari tadi, lama cari kursi" jawab pria itu. Ala mengangguk-angguk saja, tidak berniat membuka topik lain. Keduanya kembali beradu dalam sunyi. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya, sedangkan Ala hanya scroll media sosial untuk menghalau bosan. Pesanan mereka tiba hampir bersamaan, sehingga tidak perlu ada yang merasa canggung jika pesanannya tiba duluan. Mereka makan tanpa ada obrolan apa pun. Ala masih sambil melihat ponselnya, menonton kartun untuk menemani acara makan malamnya. "Saya duluan. Terima kasih kursinya" ucap pria itu, beranjak setelah menyelesaikan makannya. "Sama-sama mas" jawab Ala ramah, perasaannya lega karena tak harus merasa kikuk makan bersama orang asing. Ala menikmati sisa makanannya dengan rileks, tidak harus menahan diri lagi. Dirinya juga tak terlalu berlama-lama dengan makanannya, karena masih banyak orang yang mungkin lebih memerlukan tempat duduk. * Keesokan harinya, sesuai janji kemarin, Ala menjemput Bastian. Pagi ini Ala bangun tepat waktu, tidurnya juga cukup berkualitas. Kemarin malam, Ala bersih-bersih kos hingga larut malam. Hampir semua sudut ruangan dia bersihkan, bahkan mengubah tata letak beberapa furniture. Pagi ini tubuhnya terasa segar dan ringan, Ala juga berangkat lebih awal dari biasanya. "Emang mobilnya dibawa kemana bang?" tanya Ala saat mobil mulai melaju. "Kondangan sepupu di kampung" "Bocil pada libur sekolah dong, seru banget" ucap Ala, membayangkan betapa menyenangkan di posisi itu. "Seru apanya, ngerusuh semua La, sampe emaknya pusing. Capek ngurusin acara, malah ditambah sama bocah" gerutu Bastian, menyalurkan sebagaimana unek-unek istrinya tadi malam. "Seru buat mereka lah bang, masalah capek kan urusan orang dewasa hahaha" jawab Ala tertawa. Di halaman gedung kantor, terlihat Gita turun dari mobil suaminya. Wajahnya kusut, sepertinya cekcok rumah tangga lagi. Ala hanya melihat sekilas dari balik jendela saat mobilnya melintas. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan menuju lift di sudut basemen. Keduanya masih larut dalam pembahasan seputar kantor, namun sama-sama enggan membahas apa yang baru mereka saksikan. "Nitip tas La, mau ngopi" ucap Bastian, memberikan tasnya pada Ala. "Ngopi nggak?" tanya Bastian lagi, sebelum benar-benar berlalu dari hadapan Ala. "Nggak bang, masih pagi" tolak Ala singkat. Dia berjalan menuju kursi kerjanya, menyalakan laptop dan menyapa singkat beberapa rekan yang sudah dalam ruangan. Laptopnya belum benar-benar menyala saat seseorang meletakkan wadah makanan di atas mejanya. "Loh?" ucap Ala heran, menatap si pemberi. "Dari mama. Makasih ya La, kemarin banyak aku repotin" ucap Gita, menjawab segala tanya di benak Ala. Ala tersenyum. "Aman mbak" Dia lalu membuka kotak makanan yang diberikan. Senyumnya semakin sumringah, menu makanan rumahan yang terlihat sangat menggoda. Ala mencomot brokoli dari sayur capcay, memakan dengan gaya khas perempuan, geleng-geleng kegirangan. Berikutnya, dia mengambil jamur dan potongan jagung muda. "Enak banget mbak" ucapnya, memberikan dua tanda jempol. Gita tertawa melihat kelakuan Ala. "Belum sarapan?" "Udah mbak, ini nyicip doang" jawab Ala dengan cengiran singkat. "Mbak juga dibawain bekal? Lunch bareng di sini aja ya?" tambah Ala, mengajak Gita makan bersama di kantor saja. Gita mengangguk, lalu beranjak kembali ke kursinya yang cukup jauh dari Ala. Pagi ini, mereka cukup keteteran dengan pekerjaan masing-masing. Terlebih Gita, harus ekstra memperhatikan pekerjaan mana yang sudah di back up oleh rekannya selama cuti kemarin. Sepanjang hari, Ala tidak meninggalkan ruangan sama sekali. Dia hanya beranjak dari kursi saat makan siang dan ke kamar mandi. "Ala, cek dong, laporan inspeksi kemaren" ucap Luna menghampiri meja kerja Ala, sesaat sebelum jam pulang kantor. Ala membaca laporan tersebut, menyesuaikan semua isinya dengan notes yang mereka tulis kemarin. "Nambah dikit nih, bagian bahan baku kemarin minta diperketat, cek suplier udang, jangan ngambil dari kawasan yang kena kontam radioaktif itu" ucap Ala menambahkan poin yang lupa dicatat. Luna menepuk jidat pelan, bisa-bisanya dia melupakan hal krusial seperti itu. "Yang lain, aman?" tanya Luna memastikan. "Aman, jangan lupa crosscheck sama Mas Vincent" ucap Ala, menyerahkan kembali laptop Luna. Begitu jam kerja berakhir, Ala segera beranjak, kali ini tidak berlama-lama lagi. Kemarin dia sudah membuat Bastian menunggu lama. * Selama satu minggu itu, Bastian rutin nebeng setiap hari. Istri dan anaknya baru kembali hari minggu, karena acara pernikahan sepupu istrinya itu berlangsung dua hari, rabu di rumah mempelai perempuan dan jumat di rumah mempelai laki-laki di desa sebelah. * Hari ini sabtu, Ala bersedia meminjamkan mobilnya pada Bastian karena dia tidak punya rencana beraktivitas di luar. Hari libur seperti ini adalah momen quality time yang sangat Ala dambakan. Dia marathon menonton beberapa drama dan film, sampai-sampai dirinya lupa waktu. Ala baru beranjak dari ranjangnya saat tubuhnya gemetar karena lapar. Sudah pukul dua siang, belum ada makanan apa pun yang masuk ke perutnya sejak pagi. Sialnya, kulkas Ala ternyata tidak ada bahan makanan yang layak dikonsumsi sebagai menu pembuka. Dirinya belum belanja karena satu minggu ini selalu bersama Bastian, dia tidak sempat mampir dan sering lupa untuk belanja. "Beli geprek di warung sebelah, enak kali ya" gumam Ala pada dirinya sendiri. Ala memeriksa rice cooker, masih ada sisa nasi semalam. Dirinya hanya perlu beli lauk. Setelah cuci muka dan gosok gigi, Ala menyisir rambutnya sekedar. Malas berganti pakaian, Ala hanya menutupi dasternya dengan hoodie ungu oversize yang hampir menyentuh lutut. Ala melangkah riang, kepalanya sudah dipenuhi oleh ayam geprek sambal ijo yang menggiurkan. Warung tujuannya tak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki. "Tante, ayamnya satu, bagian d**a, sambel ijo ya" ucap Ala pada pemilik warung, terbilang langganan karena Ala sering beli meski tidak tiap hari. "Udah lama nggak mampir, La" ucap Tante Sri, pemilik warung. "Jarang makan di kos, tante" jawab Ala. Ala duduk di kursi dekat etalase, ingin menyaksikan ayam pesanannya digoreng, lalu digeprek dan dilumuri sambal. "Mau bayar, bu" ucap salah pelanggan yang muncul dari dalam warung makan tersebut. Konsep bangunannya memang seperti ruko, dua lantai. Di lantai atas, dijadikan tempat tinggal keluarga pemilik warung. Di lantai bawah, ruang depannya dipenuhi oleh meja makan dan beberapa kipas angin di dinding. Di bagian teras dipasangi kanopi karena etalase makanan dan penggorengan diletakkan di sana. "Tiga puluh lima ribu, mas" ucap Tante Sri, meninggalkan sejenak ayam yang baru masuk penggorengan. Sambil menunggu, Ala membuka bungkus kerupuk kulit yang tersusun di etalase. Perutnya sudah lapar maksimal. "Bu, nasi ayamnya satu" ucap seorang pria yang baru muncul di belakang Ala. Gadis itu memutar pandangan, sedikit melihat pelanggan yang baru datang itu. "Loh, mas?" ucap Ala ramah. Pria itu adalah adik Gita, tapi Ala lupa namanya. "Eh, halo" sapa pria itu, sedikit lebih ramah dari biasanya. Pria itu memilih meja di samping Ala, meja terdekat ke etalase. "Tinggal di sekitar sini juga mas?" tanya Ala. "Iya" jawab pria itu. "Mbaknya?" tambahnya lagi, membuat Ala terheran-heran dengan keramahan yang tak lazim ini. "Oh, iya, saya kos deket sini" jawab Ala riang. Fenomena mengobrol dua arah dengan orang yang sebelumnya irit bicara memang punya sensasi menyenangkan tersendiri. "Tempat kerjanya juga masih area sini mas?" tanya Ala. "Nggak, kantor saya agak jauh mbak" ucap pria itu. "Kenapa ngga cari tempat tinggal dekat kantor? Atau disini tinggal di rumah sendiri ya mas?" jiwa kepo Ala mulai terpancing. Pria itu terkekeh, menurutnya gadis di depannya itu cukup cerewet. "Belum punya rumah sendiri mbak. Saya disini pernah ngekos waktu magang dulu, malas pindah karena sudah nyaman dengan kamar yang sekarang" Ala mengangguk-angguk mengerti. Sebenarnya Ala masih ingin mengobrol, tapi pesanannya sudah terlanjur selesai. Terpaksa, obrolan yang sedikit lebih hidup ini harus diakhiri. "Duluan mas, tante" pamit Ala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN