2.

1432 Kata
Ala terlambat bangun. Pagi ini, dia terpaksa harus berhadapan dengan padatnya lalu lintas. Dari dalam mobilnya, terlihat jelas wajah-wajah pengendara yang terlihat lesu. Hari ini hari Senin. Ponselnya berdering. Ala segera menerima panggilan dari Restu, rekan satu divisinya, jauh lebih senior dibanding dirinya. "Langsung ke pabrik ya La, hari ini ada inspeksi" ucap Restu, nadanya terdengar lesu. "Hah? Astaga, belum persiapan Bang" protes Ala. Mentang-mentang dia lebih muda, sering kali jadi sasaran empuk para seniornya. "Cuma dari kantor pusat La, sejam doang paling" ucap Restu lagi meyakinkan. "Aih, udah deket kantor nih Bang" protes Ala lagi, bohong. Dia masih sangat jauh dari kantornya, terjebak dalam kemacetan yang mengurai sangat lambat. "Puter balik aja, Vincent sama Luna udah otw dari tadi" ucap Restu, mengakhiri panggilan tanpa menunggu respon. Ala memekik kesal. Pagi ini tak ada hal yang berpihak padanya. Saat bersiap tadi, banyak hal yang membuat harinya terasa semakin kacau karena ia terburu-buru. Inspeksi dadakan seperti ini jelas selalu terasa menegangkan. Ala sudah hafal bahwa hari ini pasti banyak komplain yang akan ia dengar, tapi dia tidak pernah bisa merasa terbiasa dengan kata-kata menyakitkan yang ditujukan pada timnya. Waktu berselang, Ala akhirnya tiba di pabrik. Sengaja ia memarkirkan mobilnya di ujung, menghindari agenda lanjutan yang mungkin terjadi sehabis inspeksi. Ala bergegas menuju ruang ganti. Di dalam area pabrik, semua orang wajib menggunakan pakaian yang sudah disediakan. Alasannya ada dua, pertama untuk menghindari kontaminasi dari luar, dan kedua untuk menjaga keselamatan pekerja. "Belum pada dateng?" tanya Ala sambil mengikat tali maskernya di belakang kepala. Dia berjalan menghampiri rekannya, Luna, yang sedang berbincang dengan petugas pabrik. "Sejam lagi, padahal ada mesin yang macet La, gimana nih?" ucap Luna panik. Ala melotot kaget. Tadi chat seniornya mengatakan semua aman terkendali, jadi Ala hanya perlu setor wajah katanya. Memang Ala sudah yakin tidak mungkin semua berjalan semulus ucapan senior, tapi sejak tadi harusnya dia juga diberi warning tentang hal ini, supaya bisa putar otak mengarang alasan. Gangguan pada mesin seperti ini merupakan masalah serius bagi mereka jika ketahuan oleh petugas inspeksi. Mesin yang macet akan menghambat proses produksi dan berimbas pada jumlah produksi yang berkurang, sehingga masalah seperti ini memang cukup fatal. "Mesin nomor berapa mas?" tanya Vincent, teknisi senior dari kantor Ala, yang muncul tiba-tiba, entah dari mana. Tangannya blepotan, sepertinya sisa oli yang menempel. "Nomor delapan mas" jawab petugas pabrik itu. Mereka bergegas menuju mesin yang dimaksud. Vincent memeriksa mesin tersebut, cek sana cek sini, entahlah, Ala tidak mengerti apa yang diperiksa. Mereka serahkan saja pada ahlinya. "Dari kapan macetnya mas?" tanya Vincent. "Anak shift 3 tadi yang lapor mas" "Udah, beres" ucap Vincent setelah mengganti salah satu kabel dalam mesin. Luna memekik kegirangan, spontan memeluk Ala karena masalah besar mereka sudah terselesaikan. Mereka beranjak ke ruang depan, sebentar lagi shift berikutnya akan dimulai, mesin akan mulai dinyalakan. Selama proses itu, selain petugas, dilarang berada dalam ruangan besar itu. Satu jam berlalu, dua orang petugas inspeksi sudah tiba. Mereka sedang mengganti pakaian saat Luna izin ke kamar mandi. Menyebalkan. Ala menunggu dengan jantung berdegub kencang. Dia memasang senyum seramah dan seprofesional mungkin, padahal tidak ada yang melihatnya karena wajahnya tertutup masker. Ala dan Vincent mengantar kedua petugas inspeksi memasuki ruangan produksi. Vincent lebih banyak menjelaskan keadaan saat itu, termasuk menjawab pertanyaan. Hanya sesekali Ala menjawab beberapa pertanyaan atau menimpali pembicaraan. Di area pengemasan, sudah ada Luna yang stand by, sesuai perencanaan awal. Luna mengambil alih tugas untuk mendampingi petugas inspeksi, Ala dan Vincent hanya mengikuti dari belakang. Yang katanya inspeksi hanya satu jam, jelas omong kosong belaka. Nyatanya mereka baru bisa berganti pakaian saat jam makan siang. Belum sempat Ala membuat alasan, Gita sudah lebih dulu menghubungi dirinya. "Halo mbak" sapa Ala mengawali panggilan tersebut. "Halo Ala, maaf nih aku ganggu, udah istirahat belum?" tanya Gita, ada keraguan dalam nada bicaranya. "Udah mbak, baru selesai inspeksi dari pabrik" "Barusan perawat bilang mbak udah bisa pulang" ucap Gita pelan. Ala menangkap maksud pembicaraan ini. Momen yang sangat tepat di waktu yang tepat. "Loh, iya mbak? Aku ke RS sekarang kalau gitu" tawar Ala, sedikit menaikkan volume suaranya agar yang lain mendengar jelas. "Nggak ngerepotin? Ini aku mau hubungin adek, tapi kayaknya lagi nggak pegang hp" ucap Gita menjelaskan kerisauannya. "Aman mbak, ini aku otw" jawab Ala, memutus panggilan. Ala pura-pura meringis saat menatap rekan-rekannya, pura-pura merasa sungkan. "Maaf mas, Lun, aku disuruh jemput mbak Gita dari RS. Next time aku join ya" pamit Ala, melarikan diri dari agenda berikutnya, yang sering kelepasan sampai ke bar. Usai inspeksi mendadak seperti ini, mereka memang tidak wajib kembali ke kantor. Semacam ada aturan tak tertulis yang mengijinkan mereka menghabiskan sisa jam kerja sesuka hati. Ala bergegas menuju mobilnya di ujung parkiran, hatinya membuncah bahagia. Ini hal pertama yang membuatnya senang hari ini, terbebas dari belenggu inspeksi dadakan dan segala macam drama lanjutan. Meski cuaca terik, Ala tidak mengeluh sama sekali, sangat berbeda dengan dirinya pada hari-hari sebelumnya. Dia begitu riang sampai ke ruang rawat Gita. Semua barang bawaan Gita sudah dikemas rapi, infus juga sudah dilepas, Ala hanya perlu mengurus kepulangan Gita ke bagian administrasi rumah sakit, mengambil obat sekalian mengambil jadwal kontrol berikutnya untuk memantau pemulihan Gita. Sepanjang perjalanan, Ala menceritakan pengalamannya hari ini. Gita menyambut senang, terutama saat mendengar ocehan Ala tentang betapa sial dirinya hari ini, terdengar lucu. "Makanya pakai alarm, La" nasehat Gita pada akhirnya. "Aku pake mbak, tapi tadi bangun terlalu cepet, jam tengah lima, aku matiin alarmnya, niatnya tidur 5 menit sebelum mandi, eh taunya kebangun udah terang" ucap Ala, tertawa mengingat kebodohan dirinya. "Eh, rumah yang kuning kan mbak?" tanya Ala memastikan. Dia sudah pernah berkunjung saat Gita melahirkan anak pertamanya. "Iya" Ala membantu Gita membawa tas besar dan termos kecilnya agar ibu muda itu tidak mengangkat beban berat dulu. Begitu pintu dibuka, suasana gelap, sunyi, sepi. Seperti tidak ada tanda keberadaan bayi di rumah itu. Gita membuka tirai gorden dan beberapa jendela. Rumah ini memang seperti tak berpenghuni selama dirinya dirawat di rumah sakit. Anaknya sudah Gita titipkan pada ibunya saat dia masuk rumah sakit. Sedangkan suaminya, tentu saja mengungsi ke rumah orang tuanya, selalu begitu jika tak ada Gita di rumah. "Minum apa, La?" tanya Gita sebelum dirinya beranjak ke dapur. "Nggak usah mbak, belum haus" tolak Ala. Setibanya di dapur, Gita mendadak pusing melihat semuanya berantakan. Piring kotor bekas masak mi instan dibiarkan di atas wastafel. Sayur sawi dan cabai rawit juga sudah layu di atas meja, lupa dikembalikan ke dalam kulkas. Gita menghela nafas berat, lalu membersihkan semuanya perlahan. Kekesalan pada suaminya semakin menumpuk. Setelah dapurnya cukup bersih, Gita mengambil beberapa minuman kemasan dari kulkas, membawanya ke depan sebagai suguhan darurat. "Kalau mau yang lain, lihat di dapur aja ya La, aku mau mandi dulu" ucap Gita. Ala mengangguk. "Siap mbak" Beberapa menit kemudian, pintu rumah dibuka dari luar. Ala menoleh kaget. Seorang perempuan paruh baya membawa bayi dalam gendongannya. Nampaknya itu adalah orang tua Gita. Disusul pria muda yang pernah Ala lihat di rumah sakit. "Ah, ada tamu rupanya" sapa ibu Gita ramah. "Gita nya dimana nak?" sambung perempuan itu. Ala mengangguk sekali, gestur menyapa dengan sopan, dirinya juga tersenyum tak kalah ramah. "Mbak Gita lagi mandi, tante" jawab Ala. Wanita paruh baya itu mendudukkan diri di samping Ala, melepas gendongan dan menaruh bayi itu merangkak di atas karpet. "Temannya Gita ya?" tanya wanita itu membuka pembicaraan. "Iya tante, sekantor sama Mbak Gita. Saya Ala" jawab Ala, menyodorkan tangan kanannya untuk menyalim. "Tadi Ala yang jemput Gita? Apa kata dokternya?" "Iya tante, tadi dikasih obat sama disuruh kontrol seminggu lagi" Terdengar suara pintu terbuka, tapi Ala tak tahu dimana letaknya. Mereka kompak menoleh saat Gita memasuki ruang tamu tersebut. "Bisa-bisanya kamu pulang dari rumah sakit nggak ngabarin mama" protes ibu Gita. Gita tertawa pelan, memeluk bayinya yang sedang sibuk menarik ujung karpet. "Kangen banget nak" gumamnya pelan, matanya berkaca-kaca menahan kesedihan. "Tadi aku mau kasih tau ma, tapi keburu Ala dateng jemput" ucap Gita memberi alasan. Nyatanya, dia memang tidak ingin memberi tahu ibunya, dia masih belum siap bertemu keluarganya. "Buktinya tadi aku telepon Kai, tapi nggak diangkat" sambungnya. Pria yang disebut namanya itu mengangguk menyetujui. "Kok nggak telepon mama?" tanya ibu Gita lagi, masih protes karena dirinya seperti tidak dianggap lagi. Sejak menikah, Gita memang semakin tertutup pada ibunya. "Kelupaan mama, aku buru-buru waktu Ala udah dateng" bela Gita, lagi. Ibunya hanya menghela nafas berat, masih belum terima dengan alasan yang dilontarkan putrinya. Cukup lama berbincang, akhirnya Ala pamit undur diri. Dia merasa keluarga ini butuh waktu untuk berbicara serius, sebelum suami Gita kembali ke rumah ini. Karena jam kerja masih belum berakhir, Ala memutuskan untuk kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN