Jika memang menginginkanmu akan semengagumkan ini, seharusnya sejak dulu kutemui kamu pada titik yang kulewati. Menahan untuk tetap di sini, Atau saat sentuhanmu masih terus kunikmati hingga nanti. *** Mengunci diri dan memasuki kamarnya dengan tangan bergetar hebat, Lea baru menghela napas panjang setelah apa yang ia lewati hari ini. Sepanjang perjalanan, Lea sibuk menoleh kebelakang--masih menenteng barang yang di tukarnya dengan Altair tadi, Lea memastikan bahwa ia aman. Bahwa tidak ada yang mengikutinya lagi, bahkan tatapan curiga dari supir taksi tadi, sudah tidak Lea hiraukan karena ia terlanjur kalut. Akhirnya--menyimpan barang itu dalam lemari pakaiannya, Lea mengunci lemarinya, kemudian meneparkan diri di atas ranjangnya. Memijat pangkal kepalanya, Lea merasakan seluruh

