Terkadang semesta memang tidak pernah baik dalam mempertemui, namun ia paling bijak dalam menyinggahi. Begitulah pemikiran Altair terus berporos pada satu nama yang kini terus menghentak kepala-nya.
Runyam dan juga gila.
???
Sejak pertama bertemu wanita menyebalkan itu, Altair tidak pernah menyangka akan berakhir menjadi seperti ini. Dia memang tidak ingin bertanggung jawab waktu itu, karena bagi Altair itu bukan salah-nya.
Dia juga tidak ingin terlibat dengan banyak wanita lagi, karena menurut-nya semua wanita sama saja, mereka tidak pernah menghargai, dan selalu menyepelekan segala hal yang sudah kita korbankan.
Pengecualian tentu saja hanya berlaku untuk Clarissa--Ibu nya.
Altair mengubur semua kenangan kelam-nya bersama Serena, tidak peduli lagi apapun mengenai wanita yang sudah tiada itu. Bagi Altair semua kisah mereka sudah berakhir, seiring kepergian Serena. Bahkan, meski Altair sempat mencintai wanita itu, Altair benar-benar menghapus segala-nya tentang Serena. Tidak hanya dihati-nya, tapi juga di hidup-nya.
Namun, yang paling kentara adalah bagaimana saat ini Altair mengatakan bahwa kehadiran Lea, wanita menyebalkan itu ternyata mulai mewarnai hari-hari nya. Tidak terkira kalau Altair malah menyukai perdebatan mereka, dia merasa kalau segala hal yang dipermasalahkan antara mereka menjadi sesuatu yang nyambung.
Altair ingin menyangkal itu, tentu saja dia benar-benar ingin, karena sejak awal sudah dia katakan, dia tidak ingin terjebak pada wanita lagi. Terlibat pada semua kekonyolan yang lantas berakhir sama.
Sampai akhir-nya, sialan. Altair malah benar-benar gusar mendapati mantan sahabat-nya, Sean berani menggoda wanita-nya. Lihat, Altair bahkan sudah mengklaim Lea sebagai milik-nya.
Akhir-nya, semua pemikiran konyol itu berhenti seiring sedan-nya mulai memasuki halaman rumah mewah dihadapan-nya. Kediaman keluarga Kennedy.
Setelah memarkirkan sedan-nya asal seperti biasa, Altair mulai melangkah masuk. Dia berlonjak karena mendapati kedua orang tua-nya masih berbincang diruang tamu. Ini sudah larut sejak Altair pergi dari apartemen Lea, tidak seperti biasa kedua orang tua-nya masih terjaga.
"Dad? Mom? Kenapa kalian belum tidur?" Altair menegur ketika dia sudah sampai diruang tamu.
"Tadi mama kesakitan, ini baru selesai minum obat," David yang menjawab.
Altair langsung membungkuk didepan kursi roda Clarissa, menatap lekat wajah cantik mama-nya itu. Altair meraih tangan Clarissa, berujar takut. "Ma? Kenapa? Sakit-nya makin parah?"
Clarissa tersenyum sebelum menangkup wajah anak-nya tersebut, "Tidak sayang, mama hanya kelelahan."
"Pa? Obat-nya sudah habis?" Altair kini beralih menatap David.
Lelaki dengan rahang tegas yang tampak kelelahan itu mengangguk, "Tadi yang terakhir,"
"Baiklah. Aku akan menemui Caesario untuk mendapatkan-nya lagi besok." jelas Altair, dia masih memandang wajah Clarissa. Begitu menyakitkan mendapati mama-nya hanya dapat duduk dikursi roda. Altair menyayangi wanita itu, lebih dari apapun didunia ini.
"Berhati-hatilah sayang. Kau tau sekarang sedang marak-marak nya penangkapan," Clarissa berujar takut, dia sedih karena harus melibatkan anak-nya dari semua ini.
"Apa kita menyuruh orang lain saja?" David kini menambahkan.
Altair langsung menoleh, "Tidak perlu Pa, kau tahu terakhir kali kita meminta bantuan orang lain, mereka berakhir tertangkap,"
"Tapi itu lebih baik dari pada kau yang ke-"
"Tenang saja. Aku berjanji, jangan mengkhawatirkan-ku. Kesembuhan mama yang pertama, Pa." Altair meyakinkan, dia memotong cepat omongan David.
David menghela nafas berat, ini memang salah-nya sudah membuat anak-nya sendiri yang melakukan itu, namun David memang tidak punya pilihan, kesembuhan Clarissa adalah yang utama. Dia rela melakukan apapun demi istri tercinta-nya itu.
"Maafkan mama sudah merepotkan kalian berdua, jika saja mama tidak ada kalian tidak perlu--"
"Ma--" teriak Altair dan David bersamaan.
"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak seharus-nya!" jelas Altair gusar. Dia tidak suka Clarissa berkata seperti itu.
"Sayang, kau adalah segala-nya. Jangan berkata yang tidak-tidak," David ikut menimpali. Dia menatap lekat wajah istri-nya, bagaimana menjelaskan ini bahwa David begitu mencintai Clarissa, melebihi apapun didunia ini.
"Serahkan saja kepada Altair. Aku akan mendapatkan barang itu besok," Altair meyakinkan lagi.
"Altair, anak mama. Terimakasih ya sayang," Clarissa berujar sedih, wajah-nya pilu.
Altair mengangguk, mencium pipi Clarissa sebelum berujar, "Mama, kau tau aku menyayangi-mu. Jika kau sakit, aku juga merasakan yang sama,"
Clarissa langsung meraih tubuh Altair, memeluk anak semata wayang-nya hangat. Begitu bersyukur karena mendapati suami dan anak yang sangat menyayangi-nya. Hal tersebut membuat sebulir air mata jatuh dari kelopak-nya.
Altair yang menyadari itu langsung menghapus-nya, "Hei kenapa mama menangis?" ledek Altair kemudian, dia terkekeh pelan.
Hal tersebut membuat David langsung menatap lekat tepat dimanik mata istri-nya itu. "Sayang, kau menghancurkan hati-ku melihat air mata-mu." singgung-nya juga.
Membuat Clarissa tertawa mendengar itu. Altair juga sama dia langsung tersenyum, sementara David perasaan lega langsung menghampiri-nya.
"Pa, bawa mama kekamar. Dia terlihat begitu jelek jika menangis," cetus Altair tidak suka. Membuat senyum Clarissa semakin mengembang disana.
"Asal kau tahu, mama-mu memang mudah menangis. Dia begitu cengeng Altair," kata David, dia menggoda istri-nya disana.
Altair terkekeh geli, "Huh tidak heran Pa, dia terlihat begitu mencintai-mu." ujar Altair, dia semakin jadi mengejek kedua orang tua-nya.
Altair tersenyum, terlampau bahagia karena menemukan betapa Papa-nya sangat mencintai Clarissa. Meski mama-nya sakit, David bahkan menjadi yang terdepan untuk merawat-nya, meski dia sibuk dengan semua urusan perusahan-nya, David selalu menyempatkan diri untuk membawa Clarissa berjalan keliling rumah-nya.
Altair hanya terus membayangkan, semoga saja dia menemukan pendamping yang mencintai-nya, seperi Clarissa mencintai Papa-nya. Huh, ada apa dengan semua pemikiran itu!
"Aku juga mencintai-nya," kata David, dia mencium pangkal kepala Clarissa. Membuat Altair menatap geli kedua orang tua-nya itu.
"Aku jadi ingin menikah secepat-nya," Altair meledek.
Clarissa langsung membulatkan mata mendengar itu, "Mama tidak ingin orang lain memiliki Altair kami." kata-nya.
"Jadi itu arti-nya tidak boleh?" Altair berujar sambil menaikkan sebelah alis-nya.
"Tidak, sebelum kau benar-benar belajar mengelola perusahaan--" kini David yang berujar, dia terkekeh begitu mendapati wajah kusut anak-nya tersebut.
"Pa-- kau tahu aku tidak ingin berkecamuk didunia itu, otak-ku tidak mampu!" Altair masih bersikeras menolak.
"Terus, kau ingin aku bagaimana? Meneruskan perusahaan-ku kepada Dadang?" ujar-nya bergurau. Dadang merupakan tukang kebun dikeluarga Kennedy.
Altair tertawa saat itu juga, "Tidak masalah asal Dadang bisa melakukan-nya," kata Altair santai. Dia benar-benar meremehkan Papa-nya.
"Kekayaan-ku tidak akan habis, meski aku memberi satu perusahaan itu kepada Dadang," David berujar sombong.
Hell semua orang dapat menyimpulkan darimana kesongongan Altair diperoleh. Ayah dan anak sama saja!
Altair menggeleng tidak percaya, "Ma-- kenapa Papa begitu songong?" singgung-nya meminta bantuan.
Clarissa sudah tertawa dibuat-nya, "Begitulah cara dia memikat Mama."
"Kembali-lah muda lagi jika terus memamerkan kemesraan itu didepan-ku!" rutuk Altair gusar.
Membuat David dan Clarissa tertawa lepas disana.
"Menikah itu tidak sembarangan Altair, kau harus siap secara ekonomi, memang kau ingin memberi istri-mu makan apa nanti-nya?" Clarissa langsung berceramah panjang.
"Tidak masalah Ma, kau tahu sendiri betapa banyak kekayaan yang dimiliki Kennedy!" jawab-nya sombong. Altair terkekeh, menyerang balik dengan apa yang dikatakan David tadi.
"Dasar kau ini!" rutuk David kemudian. Dengan Altair yang sudah tersenyum puas.
"Pa, bawalah mama kekamar. Ini sudah begitu larut," jelas Altair kemudian. Dia tetap mengkhawatirkan mama-nya itu.
David mengangguk, kemudian berdiri dan meraih pegangan kursi roda Clarissa. Mereka sudah bersiap untuk kembali kekamar.
"Kamu juga, tidur-lah Altair." pinta Clarissa lembut.
Altair mengangguk juga, dia berdiri dari jongkok-nya.
"Kenalkan dulu kepada papa dan mama, wanita yang mampu membuat Altair kami berpikiran untuk menikah," ledek Clarissa, setelah itu dia meminta suami-nya untuk membawa-nya cepat, David terkekeh dan berlalu mendorong kursi roda itu.
Altair masih terdiam ditempat-nya, memikirkan perkataan Clarissa. What? Kenapa mama-nya malah berpikiran seperti itu. Altair berkata hanya untuk bergurau. Huh! Clarissa sudah salah tangkap.
Menghiraukan itu lagi, Altair juga berlalu menaiki lantai dua, tempat kamar-nya berada. Dia sudah benar-benar lelah.
???
Seperti biasa, Lea pikir setelah kepergian Altair, ia akan menenangkan diri dan beranjak tidur, ketika itu semua malah menjadi hal kesekian yang akan Lea lakukan.
Lea masih tersadar, berkutat dengan semua perlakuan b******n Altair tadi, ia jadi terus membayangkan itu. Lea tidak pernah melakukan itu, terbuai pada semua sentuhan Altair, juga terhipnotis oleh seluruh perlakuan-nya, sialan!
Lea memikili hidup yang berat, ia lebih suka tidak berhubungan dengan banyak orang, karena menurut Lea mereka semua hanya bertingkah palsu. Terlihat dari bagaimana pertemanan-nya, Lea hanya memiliki Pietro disamping-nya.
Bersahabat dengan Pietro sudah sejak Lea pertama kali menjadi mahasiswa diFakultas itu. Lea juga hanya memiliki Serena dan Dryna, hanya dua wanita itu tempat Lea mengadu segala hal. Ketika kepergian Serena, mengharuskan Lea ikut andil dalam semua ini.
Hingga akhir-nya, memasuki dunia Altair, adalah segala hal yang memang sudah Lea rencanakan sejak awal. Jika memang sepucuk surat yang Dryna temukan itu mengarah pada Altair, seharus-nya Lea takut. Seharus-nya ia waspada setiap kali dekat dengan si-songong itu. Ditambah fakta bahwa Altair seorang pemakai narkoba, tidak mengherankan jika dia yang dapat melakukan semua itu. Seorang pemakai cenderung pemarah dan juga kasar. Jadi, bisa jadi poin besar jika kepergian Serena mengarah pada lelaki itu. Altair juga telah mengatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu yang lebih dari pada itu. Lea memutar isi kepala-nya, hanya sekedar untuk memahami perkataan lelaki songong tersebut. Tapi Lea tidak menemukan titik terang. Segala-nya terlihat buntu.
Dan sial-nya, Lea tidak mendapati ketakutan dalam diri-nya, setiap kali berhadapan dengan Altair. Yang lebih membuat-nya gusar, karena ternyata Lea malah merasa nyaman, hidup-nya mulai berwarna dan ia menyukai keberadaan lelaki itu disamping-nya.
Hell, lebih baik Lea mati daripada berurusan dengan semua hal yang ada pada lelaki sialan itu! Ish!
Tapi, bagaimana Lea tidak terguncang ketika Altair malah terus membuat jantung-nya memburu kencang? Membuat degupan didada-nya berpacu cepat? Dan membuat Lea begitu menikmati bibir lelaki itu? Tuhan! Ini benar-benar gila!
Lea duduk diranjang-nya, mengacak rambut-nya frustasi. Tersadar sama apa yang baru saja ia katakan. Tidak, Lea sudah mengakui-nya. Si-songong itu akan besar kepala, jadi sampai kapan-pun Lea harus merahasiakan-nya.
Dasar b******n m***m Altair! Sialan!
Lea baru saja merebahkan diri-nya, menatap nanar langit-langit apartemen, ketika suara dentuman keras berhasil membuat-nya terduduk kembali.
Lea berlonjak, itu suara dari apartemen sebelah, s**t! Itu pasti ulah lelaki bertopi tersebut. Lea berusaha untuk tenang, ketika detik berikut-nya ia dibuat panik. Bel apartemen-nya berbunyi, secepat kilat Lea merogoh tongkat-nya, berjalan pelan dengan tongkat itu keluar dari kamar-nya.
Lea pikir itu Dryna, karena sepupu-nya itu kerap datang dan menginap diapartemen-nya. Ketika sampai pada ambang pintu, Lea mengintip dari lobang kecil pintu-nya.
Lea berhasil membulatkan mata, ia takut karena disana, lelaki bertopi itu sudah berdiri sempoyongan didepan apartemen-nya. Pantas saja suara dentuman itu perlahan menghilang, karena ternyata pelaku-nya sudah berdiri didepan pintu kamar apartemen-nya. Gila!
Bukan hanya itu, lelaki itu malah tengah mencoba menekan-nekan sandi Lea secara asal. Sialan, Lea kalut bukan main, secepat kilat Lea melangkah dengan tongkat-nya untuk kembali kekamar, mengunci diri disana kemudian dengan tangan bergetar Lea meraih handphone-nya.
Kenapa perkataan Altair malah menjadi nyata? Ish! Lea hampir menangis, dalam ketakutan-nya Lea bukan menghubungi satpam apartemen-nya, karena panggilan-nya malah terarah pada kontak bernama Lelaki Songong disana.
Lea menggigit bibir-nya kuat, menahan tangis-nya dalam ketakutan yang tengah melanda, ketika pada deringan ke lima panggilan itu baru diterima. Lea bercerocos panjang.
"Altair! Datang-lah ke apartemen-ku! Orang sebelah kambuh lagi, dia kini berada didepan pintu-ku. Aku takut, cepat kemari Altair!"
"Aku baru ingin tidur. Hubungi saja satpam dibawah, kau sendiri yang mengatakan itu!" Altair menolak cepat. Dengan senyum yang telah tersungging diujung bibir-nya.
Jawaban Altair membuat pertahanan Lea hancur, ia menangis detik itu juga. "Aku takut. Aku akan mencium-mu jika memang itu yang kau inginkan, tapi tolong, datang-lah kemari. Kumohon Altair. Datang-lah cepat!!" tanpa sadar Lea mengutarakan perkataan gila itu.
Altair menahan tawa-nya, dia sudah menyeringai puas meskipun hati-nya ikut kacau mendengar ketakutan wanita itu, Altair tetap tersenyum. Tanpa Lea tahu, Altair sudah berada disedan-nya, menghiraukan langit yang sudah pekat, Altair telah meninggalkan halaman besar rumah-nya.
Tidak peduli apapun perkataan David dan Clarissa besok, nanti saja Altair menjelaskan-nya. Yang terpenting dia harus bertemu dengan wanita-nya.
"Baiklah, aku akan datang, demi ciuman itu." timpal Altair puas, dia geli sendiri.
Disana masih dengan ketakutan-nya Lea berdecak kesal, sialan karena Lea sendiri sudah mulai membocorkan rahasia-nya sendiri. "Cepat-lah Altair, tunjukan lagi keahlian balap-mu kali ini!"
"Huh belom beberapa jam kita melakukan-nya, kini kau sudah ingin lagi," ledek Altair, bahkan hanya dengan satu tangan-nya dia menderu sedan itu gila-gilaan. Tidak peduli apapun karena tujuan-nya memang untuk wanita itu. Altair hanya ingin wanita menyebalkan itu sedikit lebih tenang.
"Cepat-lah, kau sudah dimana?" tanya Lea tidak sabaran. Ia masih sesenggukan, tapi suara Altair begitu menenangkan.
"Kau terus menghubungi ku, bagaimana aku dapat melaju?" jawab-nya gusar, tapi itu hanya bualan karena dia ternyata sudah hampir sampai di-apartemen Lea.
"Jangan mematikan-nya, aku takut bodoh!" gusar Lea, ia sudah bersembunyi dibawah selimut-nya.
"Ck, Lea. Lea. Maka-nya jangan mengusir-ku terus," singgung Altair, dia sudah memarkirkan sedan-nya diparkiran apartemen Lea. Jalanan sedikit melenggang karena ini sudah jauh malam, jadi tidak perlu waktu lama untuk Altair sampai kesini. Segera dia melangkah cepat dan memasuki lift.
"Kenapa kau lama sekali? Aku takut dia berhasil masuk!" tutur Lea panik. Ia masih sibuk mengatur nafas-nya.
Altair tidak menjawab, dia hanya menghela nafas berat, setelah keluar dari lift dan berjalan pada koridor menuju kamar Lea, Altair tidak menemukan siapa-siapa didepan pintu wanita itu. Dia menggeleng, menekan sandi itu cepat kemudian berlalu masuk.
"Altair! Pintu apartemen ku terbuka! Astaga tuhan, dia berhasil masuk, bagaimana ini???" teriak Lea panik. Ia masih menangis sesenggukan. Kesal dan dongkol karena Altair terus meremehkan ketakutan-nya.
Altair hanya terkekeh sebelum membuka kamar wanita menyebalkan itu, namun pintu itu terkunci.
"Dia berusaha membuka pintu kamar-ku! Huaa!!" Lea semakin jadi menyembunyikan diri-nya.
"Ini aku bodoh, bukalah pintu itu. Cepat berikan ciuman-mu!" jelas-nya.
"Benarkah? Itu kau? Jangan membohongi-ku!" rutuk Lea. Namun ia sudah menepis air mata-nya cepat.
"Buktikan sendiri." kata Altair, kemudian ia memutuskan sambungan.
Cepat Lea meraih tongkat-nya dan berjalan kepintu kamar itu, menghela nafas berat Lea membuka pintu pelan. Barulah Lea bernafas lega ketika ia menemukan Altair disana. Tongkat-nya terjatuh, Lea ikut terduduk dilantai.
Altair langsung berjongkok, spontan dia meraih tubuh yang lunglai itu dalam pelukan-nya. Altair juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu, tapi tubuh bergetar wanita menyebalkan itu berhasil membuat-nya kalut.
"Hei tidak ada apa-apa disana, kau membohongi-ku?" tuduh Altair langsung.
Lea langsung menengadahkan kepala-nya, dia hanya menatap gusar Altair.
"Oke-oke. Fine. Aku tidak menemukan siapa-siapa saat datang." Altair menjelaskan pertama.
"Lelaki bertopi itu menghempas barang, detik selanjut-nya dia menekan bel kamar-ku. s**t, dia sudah gila!!" rutuk Lea kesal.
"Aku pikir, kau memang hanya menginginkan bibir-ku," ledek Altair, dia menyeringai puas.
Lea meneguk saliva-nya, menyesali omongan-nya sendiri karena si songong ini malah semakin jadi memberi-nya tatapan geli.
"Mari kita lakukan sekarang," pinta-nya memaksa. Lea membulatkan mata, ia menggeleng pelan.
Namun detik selanjut-nya, Altair meraih tubuh itu, membawa-nya dengan gaya bridal kemudian memasuki kamar Lea.
"Altair! Kau gila! Lepaskan! Kaki ku sakit bodoh!" teriak Lea sambil menepuk punggung lelaki itu.
"I-know. Diam-lah jika tidak ingin kaki-mu semakin patah!" tukas-nya santai, dia semakin memantapkan kaki menuju ranjang Lea.
"Kau sudah mengganggu tidurku, jadi berikan aku hadiah atas itu," jelas Altair setelah dia meletakkan Lea diatas ranjang-nya.
"Huh, aku hanya ketakutan, omongan-ku juga asal-asalan!" jawab Lea, ia berusaha menghindar, namun begitu sulit karena si-songong itu sudah terduduk disebelah-nya. Membiarkan posisi mereka berhadapan. Lagi pula seribu persen Lea yakin, Altair tidak akan peduli pada apa yang dikatakan-nya.
"A-ah, benarkah? Tapi aku tidak peduli,"
See, Lea sudah menduga jawaban itu! Altair b******n!
Lea berdecak kesal, sedetik kemudian ia mendekatkan wajah-nya dan mengecup cepat bibir Altair, setelah itu Lea memalingkan muka. Ia benar-benar malu!
Altair tertawa, "Hei, itu bukan ciuman! Itu hanya sentuhan kecil, aku tidak terima," kata Altair, dia kembali menarik tubuh Lea sehingga posisi mereka kini berhadapan kembali.
Lea memutar bola mata-nya jengah, "Aku sudah lelah, lihat sudah pukul dua bodoh!" teriak Lea. Ia menunjuk jam dinding dibelakang Altair dengan dagu-nya. Berusaha untuk terlihat biasa padahal hati-nya kalap.
Altair menoleh sesaat, kembali menatap lekat wanita menyebalkan itu. Dia terkekeh sebelum menarik tubuh Lea dalam pelukan-nya, membaringkan diri diatas ranjang wanita itu, Altair berbisik pelan.

"Aku sedang banyak pikiran, biarkan seperti ini."
Disana, dalam dekapan hangat Altair, Lea meneguk saliva-nya, membulatkan mata dengan degupan yang sudah berpacu semakin gila.
Lea tidak melakukan penolakan karena ia sudah dibuat kalut sejak awal, akhir-nya dalam dekapan Altair yang semakin mengerat, Lea mulai memejamkan mata.
Begitu juga Altair. Dia sudah mengenyahkan seluruh pikiran-nya pada pelukan Lea. Membiarkan tubuh hangat wanita itu membungkus pelukan-nya, Altair menghabiskan malam lelah itu disisi wanita menyebalkan tersebut.
Tenang dan juga damai. Altair merasakan itu semua tiba-tiba, dalam kekhawatiran yang perlahan mulai menghilang.
Gila! Ini sudah mulai tidak wajar.
???