Menolak menerima bahwa mereka tengah menata rasa bahagia,
namun juga bahaya.
Mereka tidak hanya menantang namun juga menerobos.
Sial, karena mereka tidak sendiri. Mereka tengah menjadi kita.
***
Ada dua objek yang kini tengah menata perasaan mereka yang paling sukar dimengerti. Enggan mengakui namun kentara sekali saling menyukai.
Jika semua kisah dapat mengalun penuh cinta, bagian mereka termasuk yang terbaik untuk diceritakan.
Namun bersikeras pada pikiran konyol dalam diri, mereka terus menyangkal segala hal yang membumbung tinggi. Mereka benar-benar terjaga pada perasaan aneh yang menyinggapi.
***
Lea membuka mata perlahan, detik itu juga ia membulatkan mata dalam kesadaran yang belum sepenuh-nya terkumpul. Lea tercekat pada aroma maskulin lelaki dipelukan-nya ini, disana dalam mata yang masih terpejam Altair benar-benar membungkus Lea dalam semua dekapan-nya.
Lea mematung cukup lama, ia menengadahkan kepala-nya karena tubuh Altair yang tinggi, membuat Lea hanya berada diatas d**a lelaki itu dengan bantalan kepala-nya merupakan tangan kokoh Altair. Lea terus memusatkan perhatian-nya pada wajah mempesona yang terlelap itu.
Bulu mata lentik, hidung mancung dan rahang yang tegas, membuat Lea terpana oleh sosok disamping-nya ini. Begitu sempurna untuk ukuran mahasiswa Bima Sakti.
Pelan-pelan Lea melepaskan diri dalam rengkuhan Altair, menahan gejolak hati-nya yang sudah tidak karuan, Lea menahan napas dan sedikit bergeser. Tidak juga ingin membangunkan wajah kelelahan itu, karena Lea lebih menikmati diam-nya Altair dalam tidur-nya.
Lea berhasil lepas dari dekapan Altair, memberi jarak pada tubuh kokoh itu, karena pagi ini saja, pikiran-nya sudah meliar untuk tetap memeluk si-songong itu! Huh!
Lea melirik jam dinding dipojok sana. Berlonjak lagi karena ia sudah melewatkan mata kuliah hari ini. Sudah pukul sebelas. Benar-benar gila karena Lea begitu tenang dan nyenyak tidur disamping lelaki itu.
Lea meraih handphone-nya diatas nakas, membuka cepat handphone itu dan menemukan banyak sekali pesan dari Pietro. Huh, Lea harus melewatkan lagi kuliah hari ini.
Menghiraukan pesan Pietro karena Lea belum menemukan jawaban untuk beralasan, ia memilih mengeluarkan pesan dari Pietro dan kembali menemukan satu pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor baru.
Lea mengerutkan dahi, membuka foto profil dari nomor baru tersebut seraya menyipitkan mata tidak percaya. Hell, itu Sean!
Sean Danilova
Selamat pagi calon pacar-ku. Ingin pergi kuliah bersama?
Lea baru saja hendak membalas itu ketika suara bariton dari lelaki disamping-nya terdengar kembali.
"Hei dungu, sudah jam berapa ini?" itu pertanyaan pertama dari mata yang masih terpejam disana.
Lea berdecak kesal, lihat baru bangun saja Altair sudah membuat-nya gondok setengah mati.
"Jam sebelas. Aku melewatkan kuliah hari ini karena mu!" rutuk Lea kesal.
Altair langsung terduduk, dia menoleh pada wajah masam wanita disamping-nya, kemudian terkekeh. Melihat wajah kusut itu saja membuat pagi Altair geli.
Namun detik selanjut-nya dia mengerang, "s**t! Aku harus pergi!" teriak-nya seraya turun dari ranjang. Altair memasuki kamar mandi Lea untuk sekedar mencuci muka-nya.
"Kau ada mata kuliah pagi?" tanya Lea. Walaupun ia tidak yakin Altair mendengar-nya karena suara shower dikamar mandi tengah dihidupkan.
"Aku ada urusan, jika kau tetap ingin kuliah, pergi-lah dengan yang lain," jelas Altair, dia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil diwajah-nya.
Lea mengangguk, tidak juga ingin tahu lebih karena ia hanya butuh ruang untuk bernafas lega setelah mengalami degupan bodoh yang tak kunjung berhenti sejak semalam.
"Baik-lah, mungkin aku akan pergi bersama Sean." ujar Lea santai, tidak keberatan karena lelaki itu juga yang pertama menghubungi-nya.
Altair menghentikan aktifitas-nya mengusap wajah dengan handuk kecil tersebut, mendengar nama Sean tatapan-nya menajam pada wanita menyebalkan itu.
"Siapa? Sean? Kalian sudah berhubungan sejauh itu??" tuduh Altair langsung, dia berjalan kembali mendekati Lea, terduduk pada sisi ranjang tepat dihadapan wanita itu.
"Ini dia baru saja menghubungi-ku," jelas Lea, ia mengedikkan bahu.
Altair menggeleng, "Tidak! Kau tidak boleh pergi dengan-nya!"
"Ish kau ini! Tadi menyuruh-ku pergi dengan yang lain, sekarang tidak boleh. Terus aku harus bagaimana bodoh?" omel Lea, heran sendiri sama pemikiran si-songong dihadapan-nya ini.
"Ikut saja dengan-ku!" jelas Altair kemudian, lebih baik dia membawa Lea daripada membiarkan wanita menyebalkan itu bersama Sean. Tidak! Altair tidak akan pernah mengizinkan-nya. 'Sialan kau Sean!' gusar Altair dalam hati-nya.
Lea menyunggingkan senyum, masih membalas tatapan keki lelaki dihadapan-nya ia meledek, "Wow, cemburu?"
"Bersiap-siaplah. Aku akan menunggu diruang tamu!" kata Altair seraya berlalu meninggalkan Lea. Dia menghindari pertanyaan itu, karena bagaimana pun juga terserah apa sebutan-nya, Altair memang tidak suka, mendapati wanita menyebalkan dan gila ini harus bersama lelaki lain. Sekalipun itu lelaki berkaca-mata yang kata-nya adalah sahabat-nya. Huh tidak akan pernah Altair merelakan itu.
Gila! Dia benar-benar sudah mulai menginginkan wanita menyebalkan tersebut.
"Kita mau kemana memang-nya?" tanya Lea ketika ia sudah berada disebelah Altair.
"Ingin mengenal-ku kan? Jadi, mari aku tunjukan sebuah kewajiban," jelas Altair kemudian.
Lea mengerutkan dahi, menatap bingung, berusaha memahami sorot mata Altair, ada kekhawatiran disana-- Lea dapat melihat-nya karena itu tidak seperti biasa-nya. Seperti sebuah rintangan berat yang sudah menunggu-nya.
Lea berusaha memahami itu ketika Altair malah angkat dari duduk-nya dan mulai melangkah pergi. Begitu pula Lea, ia dibuat tergopoh-gopoh mengikuti.
"Apa tidak sebaik-nya kita ke apartemen sebelah? Menanyakan hal gila yang dilakukan-nya semalam?" tanya Lea ketika mereka sudah keluar dari apartemen.
"Nanti saja, ini lebih penting dari pada berbasa-basi dengan pria aneh itu," ujar Altair.
Lea mendengus gusar. "Kau, tidak bisakah berjalan pelan-pelan?" jelas Lea sedikit memohon.
"Ini harus cepat Lea. Aku sudah terlambat, kenapa kau begitu lama?" timpal Altair gusar.
"Kaki-ku patah bodoh! Kalau saja kaki-ku sembuh, aku sudah berlari tanpa perlu menggunakan tongkat jelek ini!" sahut Lea tidak terima.
"Kau tinggal melangkah lebih besar dungu!" Altair masih bersikeras.
Lea mendengus gusar, "Kau ingin aku melangkah sebesar apa lagi?!"
"Terserah, yang penting lebih cepat dari pada ini!" jawab Altair angkuh.
Lea menghela nafas kasar, ish! Ia harus secepat-nya berjalan normal, begitu menyusahkan menggunakan tongkat sialan ini!
Dan huh, Altair bahkan memperlakukan-nya seolah tidak terjadi apa-apa. Sialan! Mereka tidur bersama semalam? Tapi kenapa? Kenapa lelaki itu tampak biasa saja? Bastard sialan!
Sementara Altair, dia tetap melangkah cepat. Dengan kedua tangan-nya dia simpan disaku, lelaki itu hanya menoleh pada jam dipergelangan tangan-nya.
Dengan gusar Lea melangkah sambil menghentak kedua tongkat-nya, "Yeah, selalu saja. Aku tidak pernah punya pilihan setiap kali dengan-mu."
Lea masih mengomel, namun Altair tidak menghiraukan seruan itu.
"Kau melarang-ku bersama Sean, tapi kau tidak memperlakukan-ku dengan baik." cerocos Lea. "Lebih baik aku tidak ikut," sambung-nya lagi.
Lea melempar tongkat-nya dibangku penumpang belakang, memasang seatbelt-nya dengan wajah masam ketika mereka berdua sudah berada disedan Altair.
"Berhentilah mengoceh, kau begitu menyebalkan!" sahut Altair, dia mulai melajukan sedan-nya. Dan Lea sudah benar-benar memalingkan wajah-nya.
Lama hening tercipta, yang satu sibuk menyuarakan keinginan-nya, disaat salah satu-nya enggan mendengarkan. Akhir-nya diam adalah pilihan terakhir disaat segala-nya tak sejalan.
Ketika sebuah suara merusak kesunyian itu, ada panggilan masuk dari handphone Lea. Cepat ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam slimbag-nya, mengerutkan dahi untuk sesaat pada nomor baru tersebut, ketika tersadar dari profil-nya itu nomor Sean. A-ah, Lea lupa membalas pesan lelaki itu karena Altair tadi.
"Siapa?" tanya Altair penasaran, sesekali dia menoleh.
"Se--"
"Hei! Apa yang kau lakukan, kembalikan hape-ku!" teriak Lea lagi. Altair sudah merampas handphone-nya ketika Lea bahkan belum sempat untuk menyelesaikan omongan-nya.
"Dia sudah bersama-ku! Jangan sok jagoan untuk berani menjemput-nya!" gusar Altair ketus. Dia langsung memutuskan sambungan ketika kemarahan-nya menjadi kekehan musuh-nya itu. b******k Sean!
"Apa yang kau lakukan??" ulang Lea lagi. Ia sudah benar-benar keki melihat perlakuan Altair hari ini.
"Memberi sialan itu peringatan!" jelas Altair tidak suka. Tidak bisakah wanita menyebalkan ini memahami kemarahan-nya? Atau sekedar tahu apa yang tidak disukai-nya. Hell!
Lea menggeleng tidak percaya, menatap gusar si-songong itu sambil berujar, "Kau benar-benar gila!"
"Tidak lebih gila dari seorang wanita yang menangkap pokemon disirkuit balap!" jawab Altair cepat, dia masih ingat jelas kejadian itu.
Lea tidak ambil pusing, ia hanya kembali memainkan handphone-nya ketika sebuah panggilan kembali masuk.
Detik itu juga Altair menoleh, cepat Lea melarikan handphone-nya sambil berujar, "Ini Ayah-ku bodoh!"
Altair hanya terkekeh, wajah keki wanita disebelah-nya mampu membuat-nya geli sendiri.
Lama panggilan dari ayah-nya terhubung, hingga akhir-nya Lea menegang, perasaan tidak enak menggerogoti-nya. Selepas perkataan dari ayah-nya dan juga panggilan yang sudah terputus.
"Hei, ada masalah?" tegur Altair akhir-nya. Dia menyadari perubahan wajah Lea, terlihat dengan campuran panik dan takut.
Lea menggeleng, bagaimana ia mendeskripsikan masalah itu ketika Altair saja tidak tahu menahu.
'Ayah sedang di-Entikong! (Perbatasan Indonesia-Malaysia)'
'Ayah mendengar kabar buruk beberapa hari belakangan ini.'
'Jadi, Ayah melarikan diri untuk sementara, mungkin sebulan.'
'Nanti setelah itu, Ayah akan menemui Lea.'
'Lea harus jaga kesehatan, doakan Ayah.'
Itu semua adalah perkataan yang disampaikan Ayah-nya tadi. Lea bingung dan juga takut, panik dan juga gelisah karena ini sudah mulai tidak beres.
Kepanikan Lea berlipat ganda karena Altair menderu sedan-nya melewati jalan yang sudah Lea hafal diluar kepala-nya. Jika memang tebakan-nya benar, Lea tahu tujuan lelaki itu.
"Altair? Kita akan kemana?" tanya Lea, ia menggigit bibir-nya pelan.
"Aku akan mengambil barang," jelas Altair santai, sedan-nya sudah hampir sampai pada tempat tujuan-nya.
Lea mengerutkan dahi sebelum sadar apa yang dimaksud si-songong itu, "Barang? Benda itu?"
Altair mengangguk, dia paham maksud Lea.
"s**t! Kenapa kau mengajak-ku??" gusar Lea.
"Kata-nya ingin mengenalku, sudah kukatakan ini adalah kewajiban yang biasa aku lakukan," jelas Altair lagi, tak henti-henti dia menyeringai puas.
"Altair! Kau tahu betapa bahaya-nya jika kita sampai tertangkap!" Lea berteriak semakin panik.
"Aku sudah pernah memberitahu-mu hidup-ku penuh bahaya. Sejak kau mengatakan ingin mengenal-ku, kau sudah terlibat ini semua Lea." Altair menjabarkan lagi. Dia sudah pernah mengatakan itu, Lea tetap harus menerima-nya. Tapi tidak masalah, wanita itu tanggung jawab-nya, Altair akan tetap melindungi-nya.
"Altair, berhentilah membeli barang itu. Sebelum kau benar-benar kecanduan!" Lea berusaha memperingati.
"Tidak bisa Lea, ini sudah kewajiban-ku. Aku tidak punya pilihan lain," sahut Altair kemudian.
Lea tahu, ia tidak akan pernah menang setiap kali berargumen dengan Altair, jadi memikirkan cara terbaik saat ini karena mereka akan melewati bahaya, Lea memutar otak-nya keras.
"Dimana kita akan membeli barang itu?" Lea pura-pura bertanya.
"Tidak lama lagi kita akan sampai pada tujuan," ujar Altair santai.
"Memang kau sudah menghubungi orang itu?" tanya Lea ingin tahu.
Altair menggeleng.
"Bodoh, hubungi terlebih dahulu, memang kau yakin dia ada dirumah?" Lea bersemangat sendiri.
"Semalam aku sudah menghubungi-nya, dia memang tidak ada dirumah." Altair menjelaskan pertama, sesekali dia menoleh pada wanita disebelah-nya ini. Berusaha memahami sorot aneh dimata pekat wanita itu, "Tapi tangan kanan-nya ada, mereka sudah mempersiapkan paket-ku!" Altair berujar santai. Ralat, kelewat santai karena membeli barang itu sudah seperti membeli permen bagi-nya. "Lihat itu rumah-nya,"
"Altair, hentikan mobil ini diluar pagar, percis disamping rumah itu." ujar Lea kemudian, ia sudah memikirkan cara ini sepanjang perjalanan mereka.
"Hell, jauh sekali dungu! Aku juga biasa-nya memarkirkan mobil didalam sana," Altair menolak itu tentu saja.
"Antisipasi Altair, kau tidak tahu apa yang akan terjadi." Lea masih meyakinkan itu. "Lagi pula kau membawa-ku, jangan bertingkah sangat egois!" sambung Lea gusar.
"Oke-oke. Baiklah. Kenapa kau jadi marah? Aneh!" rutuk Altair kesal. Dia benar-benar memarkirkan sedan-nya sesuai permintaan Lea.
"Tunggu saja disini, aku tidak akan lama." Altair berujar seraya melepaskan seatbelt-nya.
Baru saja hendak membuka pintu kemudi, Lea menarik lengan lelaki itu. "Berhati-hati lah. Jika polisi tiba-tiba datang, kau berlari lewat belakang, terus lompat pagar itu, kemudian kembali-lah cepat." jelas Lea mantap. Lea sengaja meminta Altair memarkirkan sedan-nya disini. Karena mereka akan lebih mudah kabur. Of course.
Altair menatap Lea tidak percaya, heran dan juga bingung diwaktu bersamaan. Lea seolah-olah mengetahui segala-nya, Altair menyipitkan mata, mencari kebenaran didalam mata penuh tanya itu. Tapi sial-nya, dia selalu terbuai. Dia tidak diberi kesempatan untuk menemukan apa-apa, buntu.
"Aku semalam nonton berita, ada banyak pembeli dan pengedar yang sudah tertangkap." jelas Lea pertama.
Altair benar-benar melihat-nya dengan tatapan mengintimidasi. "Karena itu, aku hanya mengkhawatirkan-mu!" sambung Lea lagi. Ia berusaha meyakinkan si-songong itu.
"Kau seperti sudah biasa menghindari segala bahaya, ataukah kau seorang pemakai juga?" sahut Altair, dia menaikkan sebelah alis-nya.
Langsung Lea memukul kuat pundak lelaki itu. "Jangan berkata yang tidak-tidak! Aku pergi dan berpikir untuk segala kemungkinan yang akan terjadi bodoh!"
Altair terkekeh, "A-ah, aku rasa kau sudah mulai jatuh cinta dengan-ku." jawab-nya menyeringai.
"Tidak ada hubungan-nya bo--"
Ucapan Lea terhenti seiring pintu kemudi itu tertutup, disana dari dalam mobil Altair, Lea memperhatikan punggung yang semakin menjauh itu.
Altair sialan!
???
Dua puluh menit...
Tiga puluh menit...
Lea sudah mulai resah berada disedan ini. Sejak tadi perasaan-nya kacau, Altair tak kunjung menampakkan batang hidung-nya. Berulang kali Lea membuka dan mengunci handphone-nya, hanya sekedar untuk menenangkan sedikit perasaan campur aduk yang menyerang-nya.
Lea menerima kabar buruk, namun ia tidak punya cukup kehendak untuk menghentikan itu. Hanya berusaha untuk sekedar memastikan mereka akan baik-baik saja.
Jadi, mencoba untuk menghubungi Altair adalah pilihan terakhir wanita itu. Lea mulai menekan panggilan pada nomor Altair, menunggu dengan sabar ketika pada deringan ke lima panggilan itu baru diterima.
"Hei bodoh! Kenapa lama sekali??" rutuk Lea langsung.
"Ada sedikit masalah disini, bersabar-lah dungu!" jawab Altair santai.
Lea menghela nafas berat, ketika detik selanjut-nya jantung-nya berpacu semakin gila! Lea menajamkan mata, membulatkan mata tidak percaya bahwa disana, beberapa polisi terlihat mendekat, Lea tahu mereka menuju rumah yang tengah dimasuki Altair.
"Altair! Altair! Cepatlah keluar, disini ada masalah yang lebih besar!" teriak Lea panik. "Beberapa polisi terlihat dari sana, keluarlah cepat!!" sambung Lea lagi.
"s**t!!"
Hanya itu yang dikatakan Altair ketika panggilan langsung diputus-nya sepihak. Disini, dari dalam sedan-nya, Lea sudah menundukkan kepala dalam. Berusaha sembunyi agar para polisi disana tidak menemukan-nya.
Altair menghentikan transaksi-nya bersama lelaki dihadapan-nya. Kabar dari wanita menyebalkan itu berhasil membuat-nya kacau seketika. Kini, tanpa menunggu apa-apa lagi sambil membawa paket milik-nya, Altair berlari penuh.
"Polisi akan datang kemari, pantas saja Caesario itu pergi! s**t! Kau bersembunyi-lah!" teriak Altair memperingati lelaki bertato disana, dia hanya mengangguk sebelum berlalu memasuki sebuah rungan.
Sementara Altair, setelah menghentikan langkah-nya tadi, kini dia benar-benar berlari. Mengikuti aba-aba dari Lea, entah bagaimana Altair mempercayai segala-nya kepada wanita itu.
Altair tidak mendengar serene polisi, namun dia tahu karena beberapa langkah kaki terdengar mulai mendekat. Kini, setelah melewati pintu belakang dan sampai pada pagar luar yang tak terlalu menjulang tinggi, Altair menghela nafas pertama, mengambil ancang-acang untuk kemudian melewati pagar tersebut tanpa kendala, dengan membawa barang itu ditangan-nya, dia berlari semakin kencang, memasuki sedan yang kini sudah terlihat didepan mata-nya.
"Sialan!" rutuk Altair, dia memukul kemudi sedan-nya.
"Astaga! Lihat-lah dibelakang!!" teriak Lea lagi.
Altair menoleh, melempar paket-nya pada Lea untuk kemudian melajukan sedan-nya. Bahaya besar karena kini mobil polisi tengah mengikuti mereka.
"Pegang-lah paket itu, kenakan seatbelt mu. Aku akan melaju!" jelas Altair, kini tanpa jawaban dari Lea pun sedan-nya sudah melaju.
Lea membawa barang Altair dalam rengkuhan-nya, memasang seatbelt-nya dan mulai memejamkan mata. Menahan diri karena jika tidak, Lea pasti menangis disana! s**t! Bencana, karena ia pasrah untuk mengikuti lelaki ini.
Altair tahu mobil polisi dibelakang memang mengikuti-nya, terbukti saat Altair melaju, mobil itu juga melakukan yang sama. Altair menoleh pada Lea, mendapati wanita menyebalkan itu tengah memeluk paket Altair dengan mata terpejam. Dalam hati, Altair merasa bersalah untuk semua yang terjadi kini.
Mengendarai tanpa aturan seperti yang kerap kali Altair lakukan, dia menerobos seluruh bahaya, menghiraukan makian dan pekikan dari pengendara lain, Altair melaju ugal-ugalan.
Dengan kecepataan gila yang hampir maximal, Altair tidak peduli, yang terpenting mereka harus bebas dari kejaran polisi itu.
Melihat jarak yang semakin lenggang, Altair melewati jalan setapak. Menikuk seluruh tikungan tanpa kendala, dia semakin menyeringai puas ketika mendapati mobil polisi itu sudah tertinggal jauh dibelakang.
Altair memutar sedan-nya, kini dia tidak punya tujuan lain selain bengkel Bang Maman. Tentu saja, karena dia harus secepat-nya mengganti Plat KB mobil-nya.
Sekarang, Altair tidak punya pilihan selain bagaimana saat ini dia ingin membawa Lea dalam pelukan-nya.
Sejak tadi, bukan ketakutan dikejar polisi yang dipikir-nya, selain bagaimana cara-nya cepat berlaru karena Altair hanya ingin meraih wanita menyebalkan itu dalam dekapan-nya.
Altair memarkirkan sedan-nya asal, ketika mereka sudah sampai pada tujuan, dia membuka seatbelt-nya cepat, lalu menarik tubuh Lea dalam pelukan-nya. "Maafkan aku. Aku tidak memikirkan ini akan terjadi,"
Baru, setelah pelukan itu Lea dapatkan. Perlahan ia membuka mata-nya, mendapati aroma maskulin yang sudah Lea hapal diluar kepala, ia menangis detik itu juga.
"Mereka telah pergi. Kita sudah aman, tidak ada yang perlu kau takutkan lagi." jelas-nya, Altair menguraikan pelukan-nya, mengganti dengan menangkup wajah wanita menyebalkan itu.
Disana dalam kegilaan yang tengah berotasi dikepala-nya, Altair menyapu wajah wanita itu, menepis air mata Lea dengan kedua jemari-nya dia menyatukan kening mereka. "Aku bersungguh-sungguh. Maafkan aku Lea. Maafkan aku!"
"Kau gila! Kau benar-benar gila!" teriak Lea dengan sesenggukan. Ia hampir saja mati mengingat bagaimana brutal-nya Altair membawa sedan itu.
Altair tidak lagi menjawab, dia kembali meraih tubuh Lea dalam pelukan-nya. Mengusap pangkal kepala wanita menyebalkan itu.
Altair bersungguh-sungguh. Dia harus menjaga Lea, bertanggung jawab atas segala hal yang sudah terjadi.
Dia menginginkan wanita itu lebih dari perjanjian mereka.
???