Pada semua apa-apa tentang kita. Ku enyahkan segala hal gila yang memopori.
Ku hilangkan lagi dan lagi.
Ku enyahkan tanpa peduli.
Namun tetap saja.
Semua kembali.
Tentangmu ada dan ada lagi.
***
Altair melepaskan pelukan-nya pada tubuh bergetar Lea yang sudah melunak. Dia menoleh pada kaca sedan-nya, mendapati Bang Maman tengah mengetuk kaca itu. Buru-buru Altair menjauhkan diri dari tubuh Lea, namun masih tetap menatap--gamang wajah wanita disamping-nya.
"Turunlah, aku akan berbicara kepada bang Maman lebih dulu." Altair menjelaskan.
Lea menepis sisa-sisa air mata-nya, sebelum meraih tongkatnya untuk kemudian turun dari sedan itu.
Disana, dibengkel yang Altair katakan ini, Lea tidak menemukan siapa-siapa, hanya seorang lelaki yang mengetuk pintu kaca mobil Altair tadi dan juga 2 orang lelaki yang tengah mengurusi kerangka motor.
Lea berjalan pada kursi panjang yang tersedia dipojok kanan, ia memutuskan untuk kembali berputar pada kejadian beberapa waktu lalu.
Bagaimana rasa-nya menjadi sangat kacau dan juga takut diwaktu bersamaan. Sial, karena Lea sudah benar-benar menerobos seluruh bahaya itu!
"Ganti-kan plat ku," jelas Altair pertama, ketika dia sudah turun dari sedannya.
Maman tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan kemudian masuk kembali kedalam bengkel-nya, mengambil dan membawa seluruh perlengkapan.
Ini yang Altair suka, bang Maman tidak banyak bicara, dia terus melakukan segala yang Altair perintahkan. Yeah, tentu saja karena sebagian bengkel ini Altair yang memberi dana.
Dari tempatnya berdiri, dipojok sana Altair menoleh pada wanita menyebalkan itu, merasa bersalah atas apa yang baru saja terjadi karena Lea bahkan terlihat hanya berdiam diri. Mungkin Lea masih meminimasirkan ketegangan-nya, tebak Altair.
Altair menoleh pada jalanan lenggang dibelakang nya, meskipun kali ini dia berhasil lolos, Altair yakin polisi itu masih berputar untuk mengejarnya. Demi tuhan Altair tidak masalah jika dia seorang diri, ini berbeda, Lea ada disana. Wanita gila itu benar-benar terperangkap dalam semua bahaya yang kerap kali Altair lalui sendiri.
Akhir nya, mengeluarkan handphone-nya, Altair memutuskan untuk menghubungi Rendra, karena bagaimana pun Altair harus membawa paketan itu kerumahnya. Tidak masalah, disana akan lebih aman.
Altair melangkah mendekati Lea, melewati bang Maman yang kini tengah sibuk mengganti plat-nya, dia tidak peduli, karena seluruh pikiran nya hanya tentang wanita yang kini berada dihadapan nya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Altair langsung. Bagaimana kekhawatiran nya terus berputar pada wanita itu.
Lea hanya mengangguk. Membuat Altair berjongkok dihadapan wanita itu. Menatap lekat mata hitam pekat nya, Altair menemukan banyak sekali kekacauan didalam sana.
"Aku tidak apa bodoh. Jangan menatap-ku seperti itu!" sahut Lea. Sebenar nya itu tidak lebih, karena jantung nya mulai berpacu cepat atas perlakuan Altair.
Altair mendengus, lihat wanita menyebalkan itu selalu saja membuat nya gusar.
"Aku khawatir dungu!" ujar Altair cepat. Dia membenarkan posisi nya, berdiri dengan tangan menyilang didada, Altair kembali menatap Lea tajam. "Sudah kukatakan, hidup ku penuh bahaya. Kau tidak lupa kan aku pernah mengatakan nya?"
Lea diam sejenak. Tentu saja ia ingat, bahkan tanpa disuruh pun Lea sudah tahu segala bahaya yang akan dilewati nya. Lea hanya kalut dan panik, tidak menyangka bahwa bahaya itu sudah benar-benar dihadapi nya. Aneh, karena ternyata pikiran Lea terus berputar bahwa, ia harus menemani seluruh bahaya itu dengan tetap berada disamping si singong tersebut. Huh, gila! Ini tidak bisa dipikir lagi.
"Aku tahu. Aku tahu." jelas Lea akhir nya, ia meyakinkan Altair.
Altair menaikkan sebelah alis nya, detik selanjut nya dia tersenyum menyebalkan. "Kau tahu? Melihat kepanikan diwajah mu tadi, membuat ku ingin terus mengejek nya,"
"Sialan! Aku lebih panik karena mobil mu yang melaju! Bukan karena polisi bodoh itu!" Lea membela diri nya.
Membuat Altair terkekeh kemudian, sedikit lega karena wanita menyebalkan itu sudah kembali berceloteh, membuat Altair yakin dia telah kembali baik-baik saja. "Terimakasih Lea." akhir-nya Altair mengatakan itu.
Lea mengerutkan dahi-nya, "Untuk apa?" tanya-nya bingung.
"Karena sudah menemani ku." sambung nya tulus. Altair bersungguh-sungguh mengatakan itu.
"Berikan aku hadiah atas itu," sahut Lea cepat.
"Apa? Ke Cappadocia lagi?" Altair menantang.
Lea mengangguk cepat. Membuat Altair tertawa lepas disana.
"Dungu, kenapa kau begitu ingin kesana? Maladewa lebih bagus menurut-ku." singgung Altair kemudian.
"Hobi kita tidak sama. Apalagi kesukaan kita, tentu saja beda bodoh!" jawab Lea marah.
Altair menggelengkan kepala, maju selangkah untuk mendorong pelan kepala wanita menyebalkan itu. "Tidak perlu marah seperti itu. Wajah mu jadi terlihat seperti dugong!"
"Babi, siput, ursula dan sekarang dugong?? Hell! Kau benar-benar b******n!" rutuk Lea tidak terima.
"Yes, I'm!"
Lea mendengus, sebelum perhatian-nya teralihkan pada dua buah ninja yang datang dengan helm fullface dikepala-nya. Mereka menghentikan ninja itu tepat dihadapan Altair, membuat Lea mengerutkan dahi bingung.
"Kenapa mobil mu?" Rendra bertanya pertama, dia melepaskan helm nya, disusul Kevin dibelakang nya.
"Ada masalah kecil--" jawab Altair malas.
"Masalah kecil kata-mu?? Heh! Dikejar po--"
Altair langsung menutup mulut wanita menyebalkan itu, bahkan ketika Lea belum sempat menyelesaikan kalimat-nya.
"Mereka tidak tahu bodoh! Diam-lah!!" bisik Altair marah.
Rendra dan Kevin membulatkan mata, sebelum sama-sama menoleh dan mengedikkan bahu bingung.
"He-vas-kan h-a-ku hodoh!! ( Lepaskan aku bodoh )" teriak Lea berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan Altair di mulut-nya.
Altair langsung melepaskan tangan-nya, menatap tajam wanita menyebalkan itu sebelum beralih pada kedua sahabat-nya.
"s**t. Apa yang kalian lakukan?" Kevin berteriak protes.
"Memamerkan kemesraan??" sambung Rendra tidak terima.
"Diamlah. Berikan kunci motor ku. Aku harus pergi," Altair mengalihkan pembicaraan.
Kevin langsung menyerahkan kunci ninja itu pada Altair, tentu saja karena motor lelaki itu selalu ditinggal dibasecamp. Kembali pada alasan pertama, Clarissa tidak ingin Altair menggunakan motor lagi.
Altair langsung berlalu setelah menerima kunci itu, dia berjalan menuju mobil nya untuk mengambil paketan yang sudah dibeli nya.
Sebenar nya tidak masalah untuk menunggu bang Maman mengganti plat sedan nya, hanya saja Altair ragu, biarkan saja sedan itu dibengkel, dia akan menggunakan ninja nya untuk membawa paket itu kerumah nya.
Sementara Lea, ia terus menatap bingung kegelisahan Altair. Tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.
"Kau wanita menyebalkan itu?" Kevin menegur pertama, menaikkan sebelah alis nya untuk menunggu jawaban.
"Siapa yang mengatakan itu! Si-songong Altair??" sahut-nya tidak terima.
Membuat Kevin dan Rendra terkekeh.
"Lihat lah, kau sangat cocok dengan-nya." tukas Rendra cepat.
"Cocok kata-mu? Heh, kami terus beradu mulut setiap hari. Kau tidak tahu betapa songong teman-mu itu!" singgung Lea panjang.
"Yeah, semua orang juga tahu betapa songong seorang Altair," celetuk Kevin langsung.
"Tapi kau tahu? Hanya kau wanita yang membuat-nya bertekuk," Rendra mengejek.
"Omong kosong. Dari mana seorang Altair bertekuk? Sangat tidak mungkin!" kata Lea tidak habis pikir.
"Itu sudah terlihat jelas, kau hanya tidak menyadari-nya," sahut Rendra kemudian.
"Ish entahlah! Tidak ada habis-nya membahas si-songong itu," kekeuh Lea lagi.
Membuat tawa Rendra dan Kevin pecah seketika, meninggalkan Lea yang sudah mengerutkan bibir-nya manyun. Huh!
Tidak lama Altair kembali dengan sebuah paketan ditangan-nya, melirik pada wajah masam Lea, dia berujar. "Kau ikut atau tinggal disini?"
Lea mengimang sesaat, jika tinggal tidak ada satupun yang dikenalnya, dan jika ikut, lebih menyulitkan Altair mengingat kaki nya seperti ini.
"Kau lama?" tanya Lea bimbang.
Altair menggeleng. "Aku hanya membawa ini pulang sebentar,"
"Apa itu?" tanya Kevin penasaran.
"Kalung--" jawab Altair asal. Dia kembali melirik Lea, "Jadi? Tinggal atau bagaimana?" tanya nya memastikan.
"Pergilah, kita bisa menjaganya." Rendra yang berujar.
"Hm--aku ikut dengan mu saja." pinta Lea akhirnya.
Altair mengangguk sebelum bersiap-siap dengan ninjanya. Dia mendekatkan motornya dengan Lea, agar wanita itu tak perlu kerepotan lagi.
"Kau bisa naik?" tanya Altair lagi mengingat akan sulit untuk Lea mengendarai motor dengan kaki seperti itu.
"Bisa, bantu aku sedikit." katanya, kemudian Altair benar-benar memfokuskan pandangannya pada wanita menyebalkan itu.
"Kenapa kalian berdua berbicara seolah-olah kami tidak ada??" Kevin protes disana.
"Cinta memang membutakan." Rendra menyambung.
"A-ah membunuh lebih tepat." ralat Kevin langsung.
Altair tidak merespon kedua sahabatnya itu, akan panjang jika dia terus menyahut kehebohan dua orang itu, akhirnya setelah Lea berhasil duduk dibelakang-nya, Altair menyerahkan tongkat milik wanita itu kepada Kevin.
"Peganglah. Simpan saja dibasecamp. Aku akan kesana setelah mengantar ini," kata-nya seraya mulai menghidupkan ninjanya.
"Sialan!" rutuk Kevin langsung.
Dengan Altair yang sudah terkekeh.
"See you--" ledek Lea seraya melambaikan kedua tangan-nya. Seiring dengan ninja Altair yang mulai berlalu. Meninggalkan wajah masam pada Rendra dan juga Kevin.
Disana, dalam ninja yang semakin melaju itu, Lea menautkan kedua jemarinya pada pinggang Altair.
Jika Lea menolak seluruh ajakan Pietro untuk pulang bersama dengan alasan kakinya, terlihat aneh karena kini ia malah menaiki ninja sialan ini bersama si-songong yang kini terasa nyata untuk diraihnya.
Huh, semua-nya mulai terlihat jelas. Perasaan itu nyata, keinginan untuk mencari tahu yang semakin kesini malah semakin samar.
Lea terjebak, terperangkap dan ingin memiliki. Karena, tidak pernah seperti ini. Ada bagian runyam yang terus berporos disekitarnya, sebuah perasaan aneh untuk tetap tinggal.
"Kau sedang naik roller coaster? Kenapa memegang ku begitu kuat dungu!" teriak Altair disela-sela perjalanan.
Cepat Lea menguraikan pelukannya, ia juga tidak tahu karena merengkuh Altair dari belakang seperti itu begitu menenangkan, begitu menyenangkan. "Kaki ku tidak seimbang, aku tidak ingin jatuh hanya karena tidak memelukmu," Lea beralasan.
"Benarkah? Kenapa terlihat kau malah begitu menikmati punggung ku ini?" kata-nya songong. Altair memelankan laju ninjanya selagi mereka berbicara. Dan a-h satu lagi, sebenarnya sejak tadi dia tengah memikirkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya melihat kedatangan Lea nanti.
Detik itu juga Lea langsung menarik tangannya dari pinggang Altair. Menekuk bibirnya masam, tidak ada habis-nya meladeni si-songong itu.
Dari kaca spion-nya Altair terkekeh. Tapi dengan tangan satunya dia menarik kembali tangan Lea. "Memelukku akan jauh lebih baik." kata-nya.
Lea tidak juga melakukan penolakan karena semuanya akan lebih aman bersama si-songong ini.
???
Lea membulatkan mata tidak percaya, terhipnotis oleh pemandangan dihadapan nya. Altair sudah menghentikan ninja nya pada halaman besar rumah yang tengah mereka singgahi. Lelaki itu tengah membantu Lea untuk turun mengingat kakinya masih belum pulih total.
"Kau bilang ini rumah mu? Are u kidding??" tanya Lea tidak percaya.
Altair hanya mengedikkan bahu. Geli sendiri melihat ekpresi wanita menyebalkan itu.
"Ini nama nya manssion!" sambung Lea tidak habis pikir. "Kau bukan hanya kaya. Tapi kaya raya bodoh!" gerutu Lea lagi.
Altair hanya tertawa sebelum menarik tubuh Lea dalam dekapan nya. Disana, dengan satu tangan nya memegang pinggang Lea, Altair mulai memapah wanita itu, membawa nya melangkah memasuki rumah nya.
Meninggalkan jantung Lea yang sudah berpacu gila, layak-nya memutari Roller Coaster. s**t! Ini gila!
Kedatangan Altair dan Lea langsung disambut hangat oleh beberapa pelayan dirumah itu, mereka sedikit membungkuk saat tuan muda Altair lewat, membuat Lea menatap tidak percaya pemandangan dihadapan nya.
"Aku seperti berada ditengah acara besar, kau tau? Seluruh pelayan dirumah mu menatap ku!" bisik Lea pelan.
Altair terkekeh, semakin mengeratkan rengkuhan-nya pada pinggang wanita itu. Dia mendekatkan wajah nya, sedikit membungkuk untuk menyamai posisi nya dengan Lea, seraya berujar. "Itu karena kau wanita pertama yang ku bawa kesini."
Lea menajamkan pendengaran nya, memastikan bahwa kali ini perkataan Altair tidak lah main-main. Lea menoleh detik itu juga, mencari kebohongan pada mata hazel milik Altair, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Semua nya terasa benar.
"Benarkah?" tanya Lea tidak percaya. Altair tidak lagi menjawab, dia hanya terus melangkah membawa Lea menuju sebuah ruangan dipojok kiri rumah besar ini.
Disana, Altair meletakkan Lea terlebih dahulu.
"Tunggu disini, aku akan menyimpan barang ini," kata-nya sambil menunjukkan paket yang sudah dibeli nya tadi.
Lea mengangguk, kini pikiran nya terkuras habis, pada kehidupan megah yang Altair miliki. Untuk apa lagi dia menggunakan benda terlarang itu? Hidup nya sudah penuh dengan kemewahan. Dasar si songong tidak tahu bersyukur.
Lea memutari mata nya pada keliling ruangan itu, sebuah ruangan cukup besar dengan warna yang didominasi oleh warna putih dan juga cream. Sebuah lukisan di pojok ruangan, juga satu foto keluarga yang tergantung jelas pada dinding tengah-nya, disini dari tempat-nya duduk, Lea bahkan membulatkan mata memandangi betapa sempurna keluarga Altair. Wajah cantik ibu-nya, juga ketegasan yang mendominasi wajah Ayah nya. Lea tahu, si songong itu banyak mewarisi gen Ayah nya.
Huh, Lea dibuat terhipnotis berkali-kali.
Namun satu yang paling kentara sekali, sebuah foto berbingkai kecil yang terletak dinakas sebelah Lea, menampilkan tiga orang tengah tersenyum dari atas ninja-nya. Lea tidak dapat menebak kapan foto itu diambil, tapi jika diperbolehkan menebak, itu sekitar lima atau enam tahun lalu saat Altair masih duduk dibangku sekolah nya.
Yang membuat Lea semakin bertanya-tanya karena difoto itu ada wajah yang tidak asing lagi.
Sean.
Altair.
Dan satu orang laki-laki yang tidak Lea ketahui.
Shit! Ada apa sebenar nya? Kenapa difoto itu mereka terlihat sangat bersahabat?
Lea memang tidak pernah dapat menebak semua teka-teki Altair, selain ia harus mendapatkan pengakuan dari si songong itu langsung.
Segala nya semakin bertambah runyam. Lea dibuat seolah-olah harus mengetahui segala-hal tentang Altair. Mungkinkah, Lea sudah mulai?? Me---?
Ah sudahah. Lea tidak siap membayangkan itu.
???