Next Dangerous

2957 Kata
Sebuah angan untuk memiliki semakin kentara sekali. Pada semua batasan yang berusaha ditanamkan, terbuai begitu saja. Bagian itu hilang. Namun telah kembali datang. Perasaan anen nan nyaman. Terisi dalam bagian kolom yang runyam. *** Lea masih mengitari seluruh pandangan-nya pada ruangan ini, seakan tak henti-henti matanya terus berporos pada keindahan yang tengah diamati. Ini sudah hampir satu jam Altair meninggalkannya, dengan kaki yang seperti ini membuat Lea tidak punya pilihan lain selain menunggu. Ketika sebuah pintu utama ruangan itu terketuk, Lea pikir itu Altair namun yang datang adalah dua orang pelayan berseragam senada tengah membawa nampan berisi air dan juga beberapa makanan. "Permisi nona, silahkan diminum dan dimakan dulu," pelayan itu berujar sopan. Lea hanya mengangguk kikuk. "Terimakasih." katanya. "Um. Apa Altair sedang pergi? Kenapa dia lama sekali?" sambung Lea penasaran. "Tunggu saja Nona. Tuan muda ada dirumah. Dia tidak kemana-mana," pelayan satunya ikut menjelaskan. Membuat Lea manggut-manggut mengerti. "Nona. Maaf telah lancang mengatakan ini. Tapi, nona adalah wanita pertama yang dibawa tuan muda." Pelayan itu berujar lagi. Terlihat berbisik-bisik seraya menoleh pada pintu utama. Takut-takut objek yang tengah mereka bicarakan datang kembali. Tiba-tiba senyum terukir dibibir Lea. Ia pikir Aĺtair berbohong, ia pikir lelaki itu hanya menggodanya, tapi kenapa perasaannya malah senang? Kenapa hatinya menghangat? Bagaimana dengan Serena? Kenapa Altair tidak pernah membawanya kesini? Apakah si songong itu hanya main-main? Lea tersadar, buru-buru ia menormalkan perasaannya, menyadari bahwa kedua pelayan itu masih menatapnya. Lea berujar lagi, "Terimakasih lagi sudah mengatakan itu." Kemudian kedua pelayan itu pamit untuk berlalu, meninggalkan Lea dengan segala kebingungan lainnya. Ketika detik selanjutnya Lea baru ingat, A-ah mungkin saja Altair sedang menggunakan obat terlarang itu?? Tentu saja? Kalau tidak kenapa dia begitu gencar ingin membawa barang itu pulang? Ish! Sialan! Lea baru sadar! Kenapa ia bisa lupa bahwa Altair itu seorang pemakai?? Pemakai narkotika! Huh! Lea tidak boleh menaruh perasaan gila ini dalam hatinya. Tidak akan pernah. Lea membuka handphonenya, jengah sendiri menunggu Altair yang tak kunjung tiba. Disana, ada banyak sekali pesan dari Pietro dan juga Dryna. Mengabaikan pesan Pietro, Lea membuka pesan dari Dryna terlebih dahulu. Dryna Earlene Kenapa kau jarang mengabariku? Apakah sesuatu yang buruk terjadi? Dryna Earlene Bagaimana dengan lelaki itu? Belum ada kemajuan? Dryna Earlene Ini sudah hampir sebulan Lea. Kau tau semuanya ulah sibrengsek itu! Lea menghembuskan nafas berat, pesan dari Dryna semakin mengacak-acak kepalanya. Ia juga bingung pada semua yang tengah dilakukannya. Pada segala upaya yang sudah ia perjuangkan, tapi kenapa malah sesuatu yang lain menempati seluruh pemikirannya. Membuatnya seolah-olah buntu pada rencana awalnya. Baru saja Lea hendak membalas pesan itu ketika suara pintu kembali terdengar, disana sambil mendorong sebuah kursi roda Altair berjalan mendekati Lea. Lea kembali terpana pada seorang wanita dikursi roda itu, setelah puas mengamati foto Altair sekeluarga, Lea langusng tahu bahwa wanita cantik ini adalah ibunya Altair. Altair membawa Clarissa tepat didepan Lea, dia sengaja melakukan itu. Tidak tahu kenapa, dia begitu ingin mengenalkan si menyebalkan ini kepada Ibunya. Clarissa tersenyum sebelum menarik tangan Lea hangat. "Lea?" Lea hanya mengangguk kikuk, namun berusaha tersenyum ia membalas rengkuhan tangan Clarissa. "Iya tante. Tante mengenal-ku?" "Altair sudah menceritakanmu." Clarissa berujar manis. Lea tertawa, menatap tajam Altair yang kini tengah duduk dihadapannya, ia memicingkan mata, si-songong itu malah balas menatapnya meremehkan. Dasar sialan! "Apa dia menceritakan sesuatu yang buruk, Tante?" Lea bertanya wanti-wanti. Membuat tawa Clarissa pecah saat itu juga. "Tidak, dia malah terlihat sangat menyukaimu." "MA--" potong Altair cepat. "Lihat, kau tahu betapa keras kepalanya Altair?" Clarissa mengadu lagi. "Aku sudah tahu itu, Tante. Tidak hanya keras kepala, dia juga songong." Lea berujar tanpa takut. Bagaimana menceritakan ini kepada Clarissa malah membuatnya menggebu-gebu. "Dia sangat mirip dengan papanya Lea. Kau akan terkejut jika mendengar mereka tengah berdebat, tidak ada yang mau mengalah," Clarissa bersemangat mengatakan itu, begitu nyambung dan juga nyaman diwaktu bersamaaan. "Aku sudah menduganya tante. Kepalanya itu terbuat dari batu," sahut Lea lagi. Meninggalkan Altair dengan wajah masam dan juga keki. Tidak menyangka dua wanita itu malah semakin gencar membicarakannya secara terang-terangan. "Lea, sebaik-nya mari kita makan terlebih dahulu?" tawar Clarissa disana. Lea tersenyum, sebelum berujar. "Maaf tante, Lea sudah kenyang. Lain kali saja ya, aku dan Altair harus pergi sekarang. Benarkan?" Lea meminta persetujuan, menatap Altair penuh harap. Tidak, bukan maksud apa-apa menolak ajakan Clarissa, hanya saja Lea masih kikuk. Ini pertama kali ia kesini, tapi orang tua Altair sudah memperlakukannya dengan sangat baik. Altair menyeringai, "Bukan kah kita masih punya banyak waktu? Hei, makanlan dengan Mama-ku. Kita bahkan belum makan apa-apa hari ini," Shit! Jawaban Altair membuat Lea menatapnya tajam, sementara Clarissa sudah terkekeh disana. Tidak lama seorang wanita paruh baya datang kembali, seperti-nya wanita itu juga bekerja dirumah Altair, meskipun penampilannya tidak sama dengan para pelayan tadi. "Permisi Nyonya, makanannya sudah siap." katanya sopan. Clarissa mengangguk sebelum meminta mbok Tuti mendorong kursi roda itu. Lalu berlalu dan berujar lagi, "Makanlah lebih dulu Lea, setelah itu kalian bebas kemana saja." Lea hanya mendengus, pasrah dan tidak bisa menolak lagi. "Heh bodoh! Aku malu! Kenapa kau selalu seenaknya???" protes Lea ketika hanya tinggal mereka berdua disana. "Kau berbohong. Aku tidak suka." Altair menjawab serius. "Mama ku hanya ingin makan bersama, sesulit itukah kau mengabulkannya?" Hell, Lea langsung mengerutkan dahi, heran karena Altair malah terlihat marah. "Kau marah?" tanya Lea polos. Altair tidak merespon, dia langsung berdiri dari duduknya. Berniat untuk pergi meninggalkan Lea disana. "Altair, ish! Kenapa kau marah? Jangan meninggalkanku lagi." teriak Lea karena Altair sudah hampir membuka pintu utama kamar itu. "Bukannya kau kenyang? Untuk apa lagi ikut?" singgungnya kemudian. "Aku lapar. Aku hanya malu pada Mamamu. Bukan maksud apa-apa," Lea berusaha menjelaskan. Akhir-nya Altair bersender pada pintu disana, menyilangkan kedua tangannya didada, seraya berujar. "Kumaafkan. Mama ku sakit, kau tahu itu. Seharusnya kau tidak menolak apapun permintaannya." Jelas Altair, suaranya terdengar payau. Lea tertegun, ia memahami ini, satu hal paling tidak bisa Lea percaya. Altair begitu mencintai Ibu-nya. Tapi kenapa? Kenapa perlakuan-nya pada Serena berbeda? Ataukah memang bukan Altair pelakunya? Tidak mungkin karena lelaki itu sangat menghormati wanita. Huh, kepala Lea sakit hanya karena memikirkan itu. "Baiklah. Aku minta maaf sekali lagi. Aku hanya malu," jelas Lea lagi. Masih merasa tidak enak hati, karena Altair benar-benar gusar. "Ya." jawabnya malas. "Mari kita makan, bantu aku??" Lea memohon kembali. Ia mengulurkan tangannya, berharap Altair datang untuk membantunya. "Datanglah kesini. Setelah itu, aku akan memapahmu." jawabnya malas. Altair hanya ingin memberi sedikit pelajaran, meskipun tiga tega melihat wanita menyebalkan itu tergopoh-gopoh dengan gips dikakinya, namun kekesalannya masih terasa. Lea membuang nafas kasar, ia tahu Altair masih gusar terhadapnya. Tapi apa boleh buat, selagi itu yang dapat membuatnya kembali menjadi Altair yang songong Lea akan terima. Lagi pula Lea hanya perlu berjalan hingga pintu utama itu, selepas dari itu Altair yang akan membantunya. Lea berjalan pelan dengan satu kaki, meskipun masih terasa sedikit nyeri bekas senggolan motor Altair waktu itu, Lea berusaha menahannya, karena ia ingin membuktikan dirinya bisa. Sedikit lagi, tidak sampai 3 meter Lea akan sampai ditempat Altair berdiri, ketika kakinya malah menyenggol ujung meja kaca ruangan itu, s**t! Lea oleng dah ia terjatuh! "Brugh!" Altair langsung berlari, menghampiri Lea saat itu juga, kini dia malah merasa bersalah melihat wajah kesakitan wanita menyebalkan itu. "Lea, kau tidak apa-apa?" tanya Altair panik. Lea hanya mengaduh. "Sialan, maafkan aku." Lea mengangguk kemudian, "Sudahlah..." kata-nya malas. Altair langsung meraih tubuh wanita itu, menggendongnya dari depan dengan tangannya dia tautkan pada paha Lea. Disana, dalam semua kegaduhan yang sudah terjadi, Altair memapah Lea menuju ruang makan. Berkali-kali meminta maaf karena ternyata Altair kesal pada dirinya sendiri. Jika semua pelayan muda menjerit melihat perlakuan tuan muda mereka, sialnya dua gerutan merah dipipi Lea malah timbul tanpa henti. Altair sialan! Kini, untuk sekedar berbicara lidah Lea malah terasa kelu. Perlakuan Altair benar-benar menghipnotis isi kepalanya. "Maafkan aku mom. Lea terjatuh tadi," Altair berujar seraya meletakkan wanita menyebalkan itu dikursi tepat disebelahnya. Clarissa tersenyum, menatap Lea geli, sementara wanita itu malah menundukkan kepala. Terlihat sangat malu oleh kelakuan anaknya. "Tidak apa Lea. Makanlah, hanya ini yang bisa kita sajikan." Clarissa berujar semangat. Lea menatap tidak percaya seluruh makanan yang tersedia, hell! Ini sudah seperti makanan dihotel berbintang, benar-benar gila! Dasar keluarga kaya raya yang gila! Huh! "Tante, ini sudah seperti makanan Lea sebulan," kata Lea bergurau. "Makanan sebulan? Pembohong. Kau bahkan makan sangat banyak," sahut Altair kemudian. Membuat Lea memanyunkan bibirnya. "Altair--berhenti mengganggu Lea." Clarissa memotong. "Lea ayo makan yang banyak," sambung-nya bersemangat. "Ma--Papa belum pulang?" tanya Altair lagi. "Belum sayang, Papa masih ada urusan." jelas Clarissa. Membuat Altair mengangguk, dia kembali menatap Lea. "Apa??" sahut Lea judes. Altair terkekeh kembali. "Nothing." jawab-nya geli. "i***t!" celetuk Lea lagi. Altair tidak menjawab, diganti dengan mendekatkan wajahnya pada telinga wanita itu. Menghiraukan Clarissa yang sudah menggelengkan kepala disana. Tersenyum geli melihat perdebatan kedua anak muda dihadapannya. "Kau tahu? Sepertinya Mama ku sangat menyukaimu," bisik Altair. Lea menjawab pelan, "Of course! Tidak seperti-mu!" "A-ah? Kau ingin aku menyukaimu juga?" ledek Altair lagi. Dia menyunggingkan senyum puas. Lea menoleh, namun sialan karena kini wajahnya dan Altair hanya berjarak beberapa centi saja, "Dalam mimpimu!" "Jika dalam mimpi, bukan hanya menyukaimu, mungkin aku akan ku menikmati seluruh bagian terbaik ditubuhmu." ledeknya lagi, dia menaikkan sebelah alisnya. "b******k!" jawab Lea cepat. Meninggalkan cengiran meremehkan dari bibir si songong itu. "Hei? Kapan makannya jika kalian terus berdebat??" Clarissa memotong lagi. "Kenapa Mama terlihat seolah-olah tidak ada disini??" singgungnya disana. Altair hanya terkekeh sebelum berkata, "Maafkan aku, Mom." Dengan Clarissa yang sudah tersenyum geli, "Bertengkarlah diluar nanti, jangan dihadapan mommy. Kalian terlihat seperti akan memangsa satu sama lain," tutur Clarissa lagi. Jika Lea sudah menghela nafas panjang, sialan Altair malah terkekeh geli. Kemudian tidak ada lagi yang bersuara. Ketiganya sudah mulai melahap seluruh makanan yang tersedia. Dari bangkunya Clarissa tersenyum. Ini pertama kali Altair membawa seorang wanita, jadi kehadiran Lea membuat Clarissa memahami, anaknya memang sudah membuat sebuah keputusan. Sementara Lea, matanya terus menatap lekat Altair. Bagaimana lelaki itu memperlakukan Clarissa, juga sebentuk perhatian tulus yang Altair perlihatkan kepada Mamanya itu. Lea memahami ini, Altair begitu mencintai Clarissa. Dan Altair, dia tersenyum kecut. Bagaimana tidak tahu malunya melihat Lea makan dengan sangat lahap, disaat tadi dia menolak seluruh ini semua. Dasar wanita dungu! ??? Jika semua tanya dapat dijawab semudah itu, tidak perlu sejauh ini dalam menanggapi segalanya. Tidak tahu, sudah terhitung sejak kapan semua ini semakin membingungkan, namun tetap berjalan sesuai rencana, segalanya harus ditemukan. Harus jelas, agar tanya itu terselesaikan dengan baik. Lea sudah berada di Jeep Altair setelah selesai melahap seluruh makanan dirumah lelaki itu. Tidak pernah Lea dibuat seterkejut ini sebelumnya, tapi bagaimana Altair membawa Lea mengelilingi rumahnya, menunjukkan banyak sekali jenis mobil-mobil mewah diparkiran bawah tanah Lea terpana. Benar-benar tidak habis pikir dengan kekayaan yang dimiliki keluarga Kennedy itu. Tapi dari semua hal gila yang dapat membuatnya terpana itu, satu objek paling tidak masuk akal berhasil meliar dikepalanya. Bagaimana perlakuan lelaki itu terhadapnya, bagaimana Altair merengkuh pinggangnya kuat, membawanya berkeliling, memegangnya tanpa berhenti seolah-olah Lea sebuah objek utama yang harus dilindunginya. Perlakuan Altair, mengejutkan Lea lebih dari pada semua mobil mewah yang dilihatnya. Lea kalut pada semua perlakuan lelaki itu, meskipun selalu ada ucapan songong dan menyebalkan yang selalu dia katakan. Tapi Lea nyaman, ia merasa seolah-olah sebuah magnet terus menarik-nya untuk tetap berada disisi Altair. Menemui bahaya, melewatinya dan terus menemaninya hingga akhir. Sebuah pemikiran keji yang tak sepatutnya timbul dalam hati dan juga perasaannya. "Kenapa? Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Altair disela-sela perjalanan mereka. Sesekali menoleh pada wanita menyebalkan itu, yang kali ini seperti sedang memikirkan banyak hal. Lea mengangguk. "Mamamu sakit?" "Iya, Syringomyelia." Lea mengerutkan dahi, bingung. "Tumbuhnya kista berisi cairan dalam sumsum tulang belakang." Altair menjelaskan lagi. Tidak tahu kenapa segalanya bisa mengalir begitu saja. Bagaimana kehadiran Lea langsung mudah diterimanya. "Maaf--aku tidak tahu." sahut Lea merasa bersalah. "Tidak masalah." jawab Altair santai. Lea termenung, meskipun banyak sekali pertanyaan yang masih menumpuk dikepalanya. Tapi semua seakan tertahan ditenggorokannya. Hingga akhirnya, perkataan Altair menohok dadanya. Sederhana, tapi entah kenapa terasa membuat Lea merasa begitu diinginkan. "Itu rahasia-nya. Dan hanya kau yang tahu lagi." "Teman-teman mu tidak tahu??" tanya Lea tidak percaya. Altair menggeleng, "Aku tidak mudah terbuka dengan orang lain." kata-nya. Sebelum menatap Lea lekat. "Karena kau memaksa untuk mengenalku. Kau pengecualian." sambung-nya lagi. Dengan jantung Lea yang entah keberapa kalinya berpacu gila hari itu. "Kau akan mengantarku??" tanya Lea kemudian. Menyimpan seluruh tanyanya, nanti saja. Ia yakin Altair akan memberitahunya. "Jika kau mau." Lea menoleh, dengan mata mengerjap-ejap ia menatap lekat Altair. Berarti lelaki itu memberinya pilihan, "Bolehkah kita berjalan-jalan saja??" "Tidak. Buang-buang waktu." sahut Altair cepat. Lea langsung mengerucutkan bibir-nya. "Kenapa membuat-ku memilih kalau begitu? Sialan!" Dengan Altair yang sudah terkekeh geli disana. "Mereka tidak tahu rahasia-mu?" tanya Lea lagi mengingat bagaimana Altair menyembunyikan barang itu dari kedua sahabatnya sendiri. "Tidak ada yang tahu. Hanya kau. Kenapa terus bertanya." jelas Altair keki. Lea mengangguk paham dengan wajah ditekuk masam. "Kau juga jago berbohong," "Terkadang itu perlu," 'Tapi kenapa kau memarahiku tadi???" Jawab Lea tidak terima. Altair menoleh sesaat, menajamkan matanya. "Karena kau menolak permintaan Mamaku." "Kau begitu menyayangi Ibumu Tapi kenapa kau tidak bisa memperlakukan ku lebih baik lagi??" protes Lea tidak terima. "Dasar kau saja yang tidak tahu berterimakasih." sahut Altair tidak mau kalah. "Karena kau begitu songong!" celetuk Lea langsung. "Kau juga menyebalkan!" jawabnya gusar. Membuat Lea menatap tajam lelaki itu. "Hidupmu sudah sangat sempurna Altair. Kenapa lagi kau menggunakan barang itu?" tanya Lea akhirnya. "Tidak ada hidup yang sempurna Lea. Kau sudah lihat mamaku. Untuk apa semua kemewahan itu jika Mama ku masih saja kesakitan??" Lea terdiam. Berusaha memahami setiap perkataan lelaki itu. Lea paham betapa Altair mencintai Clarissa. Hal itu membuat hatinya menghangat, tidak banyak laki-laki yang dekat dengan Ibunya. Tapi Altair berbeda, dia bahkan terlihat rela menukar dunia ini demi Ibunya. "Kau tahu itu bahaya Altair. Kau tidak takut? Masuk penjara? Terkurung disana bertahun-tahun? Tidak ada kehidupan mewah? Tidak ada kehidupan bebas yang kau miliki??" celoteh Lea panjang. Berniat ingin menceramahi si songong itu tentang semua bahaya yang dia punya. "Aku lebih takut denganmu." singgung Altair kemudian. Lea kembali terdiam, apakah Altair tahu rencana-nya? Apakah Altair tahu seluruh sandiwara ini? Tidak. Dia tidak tahu, si songong itu tidak boleh sampai tahu. Tapi kenapa? Kenapa dengan dirinya? "Denganku? Kenapa?" tanya Lea wanti-wanti. Shit! Altair sudah terperanjat, perasaan takut kehilangan itu kembali lagi. Perasaan ingin memiliki itu semakin besar dan mulai merecoki pertahanannya. Altair--dia sudah benar-benar gila. Karena bahaya yang harus dihadapinya adalah apabila dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita menyebalkan itu. Dan jawaban Altair, berhasil membuat Lea tertegun. Membuatnya terdiam dengan seluruh pikiran yang sudah berkecamuk menjadi satu. "Because, you're the next dangerous Lea." ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN