Pilihan

2447 Kata
Kususun tentang kita pada garis pertama pertemuan. Berusaha menerima yang tidak seharus-nya, namun berakhir menjadi keinginan nyata. *** Lea pikir Altair akan mengantarnya pulang mengingat sisongong itu harus bertemu teman-teman nya. Namun, kebingungan Lea semakin bertambah kacau, karena saat ini Altair malah menderu Jeep itu bukan ke arah apartemennya. Dia terlihat melaju pada arah yang berlawanan. "Kemana kau akan membawaku?" tanya Lea ketus. Altair tidak menghiraukan seruan itu, karena dia masih sibuk dengan handphone ditelinganya. Lea menggerutu sebal, bukannya menderu Jeep itu dengan benar, si songong itu malah memainkan handphonenya dijalan. Benar-benar tidak waras. Namun memilih diam dan mendengarkan, karena Altair terlihat sedang fokus melakukan panggilan, Lea mengerucutkan bibirnya kesal. "Kemana kita?" tanya Lea lagi, setelah memastikan Altair sudah selesai dengan panggilannya. "Kerumah sakit." sahutnya kemudian. Lea berlonjak, "Siapa yang sakit??" tanyanya panik. "Itu, orang gila yang menangkap pokemon disirkuit balap." singgung Altair kemudian. Lea spontan memukul lengan lelaki itu. "Aku serius bodoh!!" "Aku juga serius dungu!" "Kenapa membawaku kesana?" katanya tidak terima. "Aku baik-baik saja bodoh!" "Otakmu bermasalah. Aku harus membawa-mu ke psikiater!" ledek Altair lagi. "Altair! Aku serius!" Altair terkekeh, "Melakukan konsultasi dungu! Ini sudah hampir sebulan, jadwal seharusnya dua minggu sekali." jelasnya kemudian. Lea terperangah, "Ish, jadi kau melewatkan jadwal konsultasiku selama ini?" tuduhnya langsung. "Kau tidak ingin aku sembuh??" sambung Lea lagi. "Aku sangat sibuk kemarin." jelas Altair santai, padahal tidak seperti itu yang sebenarnya. Altair tidak tahu, tidak yakin dengan semua perasaan bodoh ini. Membuatnya terus berpikir dan mendapati kebingungan selanjutnya. Sudah lama dia terus menghubungi dr.Molgen, mengingat jadwal konsultasi yang sudah dijanjikannya bersama dulu. Namun sialnya, dokter itu sedang ada perjalanan keluar kota, yang mengharuskan Altair untuk melewatkan sesi konsultasi Lea dengan dokter Molgen. Hingga akhirnya, saat dirumahnya tadi, dokter Molgen kembali menghubunginya. Meskipun ini sudah hampir sebulan, dia meminta Altair untuk membawa Lea melakukan konsultasi yang tertinggal itu. Berhubung beliau sedang bertugas dirumah sakit saat ini. Terlampau gila karena setiap hari Altair bahkan menghubungi dokter Molgen. Memintanya untuk cepat kembali dari perjalanan tugasnya, karena bagaimana pun beliau harus segera mengecek keadaan Lea. Sedikit aneh mendapati perasaan khawatir terus membuncah dihatinya. Apalagi hanya karena wanita gila dan menyebalkan itu. Tidak pernah terpikirkan bahwa Altair menjadi sekalut ini hanya karena sesuatu yang terus mengusiknya. "Kau memang jahat!" rajuk Lea kemudian. Wajahnya ditekuk masam. Masih tidak terima dengan alasan Altair yang mengabaikan konsultasinya. "Bawel. Berhentilah mengeluh. Kau sudah sangat merepotkan ku." sahut Altair cepat seiring Jeepnya yang mulai memasuki parkiran rumah sakit. "Tidak ada gendong-gendongan seperti kemarin!" ancam Lea ketika Altair sudah selesai memarkirkan Jeep-nya.  "Terus? Kau akan mengesot?" singgung Altair seraya menaikkan sebelah alis-nya. "Aku bukan lumpuh bodoh! Aku masih bisa jalan!" sahut Lea cepat. Keki sendiri melihat wajah tengil sisongong itu. Dengan Altair yang sudah terkekeh geli. Dia turun dari bangku kemudi, keluar dan menghampiri Lea. Membantu wanita menyebalkan itu, seraya menaruh lengan-nya pada pinggang mungil Lea. "Begini lebih baik." katanya. Lea hanya meneguk salivanya, tidak lagi berkomentar karena memang ia juga butuh tameng untuk berjalan. Pada semua kekacauan dihatinya, Lea berusaha meredam itu. Dengan jarak gila yang terjadi antara dirinya dan Altair. Lea benar-benar kalut. Altair melewati instalasi gawat darurat, menemui beberapa perawat disana untuk mengantarnya keruang dr. Molgen. "A-ah, kau sudah menjinakkan seorang macan?" Lea menoleh, mendapati perawat yang dulu memintanya mengisi formulir sudah berada dihadapannya. "Ish, berhenti menggoda-ku!" sahut Lea kesal. Perawat itu terkekeh, Lea menoleh sesaat pada name tagnya yang bernama Hilda Danila. Wajahnya manis, kulitnya sawo matang, mungkin usianya hanya terpaut 3 tahun diatas Lea. "Mari kuantar kalian keruangan dokter Molgen." ujarnya kemudian. "Beliau sudah berpesan kepadaku." sambungnya lagi. Lea dan Altair langsung mengikuti, beruntung keadaan dirumah sakit itu tidak terlalu ramai. "Waktu itu, kalian menjadi trending topik dirumah sakit." ujar Hilda disela-sela perjalanan mereka menuju ruang dokter. Jika Lea mengerutkan dahi bingung, Altair malah tidak ambil pusing. Begitu merepotkan mendengar gosipan para wanita. Masih dengan memapah tubuh Lea disampingnya, Altair mengeratkan rengkuhannya. Memastikan wanita menyebalkan itu baik-baik saja dan aman jika disebelahnya. "Pelan-pelan saja dungu!" bisik Altair ketika Lea terlihat terburu-buru. "Lagi pula kau sudah memapahku. Tidak perlu ada yang aku takutkan lagi," jelas Lea. Membuat Altair tertegun mendengarnya. "Eh, apa kata-mu? Kami menjadi trending topik? Kenapa???" tanya Lea kembali. Hilda yang berada didepan mereka berhenti sesaat. "Karena perlakuan macanmu ini. Mereka jadi terus bergosip." singgung Hilda pertama. "Kau tidak lihat semenjak kedatangan kalian beberapa perawat sudah terkekeh geli?" Lea langsung menoleh pada Altair, menatap keki lelaki itu yang malah hanya menyunggingkan senyum menyebalkan miliknya. "Sudah sampai. Silahkan masuk." jelas Hilda. "Terimakasih--" kata Lea. Dengan Hilda yang hanya mengangguk dan berlalu, tidak lupa kedipan manja dia berikan kepada Altair. Hell! perawat itu!! Altair mengetuk pintu ruangan itu pertama. Sahutan dari dalam membuatnya langsung menoleh. Dia masuk dan langsung disambut hangat oleh sahabat Papanya tersebut. Dr.Molgen terus tersenyum menatap keduanya. Sejak awal, setelah melihat bagaimana paniknya Altair saat Lea diperiksa, juga bagaimana tanggapnya lelaki itu berlari ketika mendengar kabar wanita itu sadar, meski Altair terlihat berusaha menutupi kepanikannya, dr.Molgen paham. Dia tahu, lalu menyimpulkan ini kedua mahasiswa itu akan tetap berurusan. Kentara sekali. Jadi, melihat bagaimana keduanya kini duduk dikursi ruangannya beliau hanya terkekeh geli. "Maaf baru bisa melakukan konsultasi dok," Lea menegur pertama. Ia sengaja menekankan katanya, berharap Altair tersinggung karena menyepelekan waktu konsultasinya. Huh b******n itu! Dr.Molgen tersenyum, "Tidak masalah nona." "Panggil Lea saja, dok." sahut Lea cepat. "Lele juga bisa dok," cetus Altair langsung. Membuat Lea menoleh dan menatapnya tajam. "Jangan dengarkan orang gila ini dok!" Dokter Molgen terkekeh, beliau mulai angkat dari duduknya, dia berjalan mendekati Lea, membawa wanita itu untuk segera berbaring dikasur dalam ruangan itu. Posisi berbaring membuat dokter Molgen lebih mudah memeriksanya. Altair juga berdiri, dia berada tepat disisi ranjang, selagi dr.Molgen melakukan pemeriksaan. Terus memusatkan perhatiannya pada wanita yang terbaring disana. "Sudah sedikit membaik. Kau pernah jatuh?" tanya dr.Molgen. Lea sudah dipersilahkan untuk duduk. Lea berpikir sejenak, sebelum tersadar. "A-ah waktu itu aku terjatuh." "Tadi juga, dok. Apa baik-baik saja?" Altair yang menyahut itu. "Baik. Hanya ada sedikit memar dikakinya." jelas dokter Molgen lagi. "Obatku sudah habis dok. Apa masih perlu minum obat lagi?" Lea menyambung cepat. "Nyerinya masih terasa?" tanya dokter Molgen pertama. "Antibiotikmu sudah rutin diminum sampai habis?" "Nyerinya hilang datang dok. Antibiotiknya sudah habis semua." "Tidak apa, kadang cuaca dingin dapat membuat nyeri." jelasnya kemudian. Lea mengangguk paham, begitu juga Altair, dia terus mendengarkan semua penjelasan sahabat Papanya itu. Dokter Molgen terlihat menulis sesuatu disebuah resep. Setelah itu beliau menyerahkan secarik kertas tersebut kepada Altair. "Ini salep untuk menghilangkan bekas memar. Silahkan mengambilnya diInstalasi Farmasi." jelas dokter Molgen disana. Altair mengangguk paham. Dokter Molgen berdiri mendekati Altair, begitu juga Altair, dia menyusul untuk berdiri kemudian memeluk dokter itu hangat. Lea yang menyaksikan hanya mengerurkan dahi bingung. Altair mengenal dokter itu? Wow. "Sampai bertemu dua minggu lagi. Salam untuk David dan Clarissa." katanya seraya menepuk punggung Altair pelan. "Jika dia ingat dok." sahut Lea cepat. Ia masih menyinggung Altair. Altair terkekeh, "Baiklah dok. Terimakasih untuk hari ini." katanya sopan. Tidak menyangka dokter itu masih menyambutnya hangat. Memperlakukannya dengan sangat baik. "Kalian berakhir bersama?" ledek dokter Molgen ketika Altair telah memapah Lea disampingnya. "Hell! Tidak mungkin dok!" keduanya menjawab serentak. Membuat dokter Molgen tertawa detik itu juga, "Oke. Berhati-hatilah." Kemudian Lea dan Altair berlalu. Altair membawa Lea menuju Jeepnya. Meninggalkan wanita menyebalkan itu dimobil, lalu meminta Lea untuk menunggu. Sementara Altair, dia harus menebus resep yang diberikan dr.Molgen tadi. See, Altair bahkan rela merepotkan dirinya sendiri sejak mengenal Lea. Benar-benar bagian paling melenceng dari kamusnya. ??? CARSWELL Kevin Aldebaran : @AltairAtaya Kau balik lagi atau tidak? Kevin Aldebaran : Jika tidak aku pergi saja. Rendra Tyaga : Aku juga bung. Menjijikan sekali hanya berdua bersama Kevin dibasecamp ini. Deo Abian : Aku skip kebasecamp hari ini Lucas Zepyr : Aku sedang bersama Natalia. Kevin Aldebaran : Sialan, itu incaranku selanjutnya!!! b******k kau Lucas! Lucas Zepyr : Well, kau sudah kalah start bro Deo Abian : Dua buaya. Rendra Tyaga : Tidak mengherankan Altair hanya terkekeh membaca obrolan teman-teman nya, resep obat Lea sudah ditebusnya. Kini masih dengan handphone ditangannya, dia mengetik balasan sebelum menyimpan benda pipih itu kembali. Altair Ataya : Aku ada urusan. Hanya itu yang Altair katakan. Setelahnya dia benar-benar melupakan handphonenya. Ralat, dia melupakan semua hal. Karena berdebat dengan Lea jauh lebih menarik perhatiannya. Altair sudah membawa Lea menjauh dari rumah sakit, dia telah menderu Jeepnya menuju Ouranos Sky. Membawa Lea keapartemennya jauh lebih baik, mengingat langit sudah mulai gelap dan betapa melelahkan waktu yang telah mereka lalui hari ini. "Altair, apa maksud dari bahaya selanjutnya adalah aku?" tanya Lea disela-sela perjalanan mereka. Ia takut Altair mengetahui semua itu. Tentang semua kepalsuannya. Mengenai seluruh rencana konyolnya. Juga hal-hal gila yang sudah disembunyikannya. Tapi jawaban Altair memang tidak pernah membuahkan hasil. Lelaki itu selalu paham menghindari segala hal. "Bukan masalah besar." "Ish! Kau selalu seperti itu!" rutuk Lea kesal. "Jangan terus memberiku teka-teki!" "Supaya kau pintar sedikit," sahut-nya asal. "Jangan hanya bisa menangkap pokemon, tapi tidak bisa menebak sesuatu," singgungnya seraya terkekeh geli. "Sialan! Berhenti membahas itu!" rajuk Lea kemudian. Altair hanya tertawa, tidak lagi menyahut karena kini mereka sudah sampai diparkiran apartemen Lea. Memang tidak pernah banyak hal yang mereka lakukan selain berdebat dan terus berdebat. Namun siapa sangka, sesuatu yang gila itu malah membuat keduanya semakin dekat. Altair turun pertama, berjalan kesamping untuk memapah Lea kembali, mengingat tongkat wanita itu sudah dibawa kedua sahabatnya. Mereka sudah akan melangkah menuju lobi apartemen, ketika seseorang menghentikan langkahnya. "Pietro? Ada apa?" tanya Lea penasaran. Ia berlonjak karena mendapati sahabatnya itu sudah berdiri disana. Bukan hal aneh karena Pietro memang sering datang keapartemennya. Mengingat betapa erat persahabatan mereka. Tapi kali ini berbeda, Pietro kadang mengabarinya terlebih dahulu jika lelaki itu ingin berkunjung. "Aku ingin mengajakmu pergi." jawabnya kemudian. Altair masih berdiri disana, menyunggingkan senyum mengejek, dia terus merengkuh pinggang Lea dengan tangannya. Mengeratkan posisi mereka semakin dekat, itu sengaja Altair lakukan. Melihat betapa tajam mata lelaki berkacamata itu terus melihat perlakuan Altair pada Lea. Lea menoleh kepada Altair, menatap lelaki itu lekat, meminta persetujuan, mengingat sudah seharian mereka bersama. Namun Altair malah menaikkan sebelah alisnya, balik menatap Lea tajam seakan semua pilihan memang hak wanita itu. "Lea? Biarkan aku yang mengantarmu naik. Setelah itu, ayo kita jalan." Pietro kembali bersuara. Tidak tahan menunggu jawaban dari sahabatnya itu. "Dia akan naik denganku." Altair menyahut cepat. Pietro terkekeh. Membuat Altair menatapnya tidak suka. Sialan! "Tidak apa bro, dia sepertinya lebih baik naik bersamaku." singgung Pietro lagi. Lea hanya menatap bingung kedua lelaki itu. Perdebatan mereka seolah-olah membuat ia tidak punya ruang untuk memberi pilihan. "Altair, biarkan aku--" "Aku harus membawa celanaku yang ketinggalan," potongnya cepat. Mendengar itu Pietro langsung menatap tidak suka kearahnya, sementara Altair, dia semakin menyeringai puas. "Kau tahu perjanjian kita." bisik Altair pelan. Namun berhasil membuat Lea meringis. "Pietro, maafkan aku. Kita pergi lain kali saja ya?" ujar Lea penuh salah. Pietro langsung mendatarkan wajahnya. Dia terkekeh pelan, tidak menyangka perubahan Lea sudah pada tahap mengerikan seperti ini. Apa? Lea menolak ajakannya hanya karena lelaki sialan ini? Tidak habis pikir! Pietro tidak juga memaksa, segalanya sudah Lea putuskan. Akhirnya berbalik badan dan mulai melangkah pergi Pietro berlalu tanpa pamit lagi. "Pietro!!" teriak Lea kemudian. Tapi sahabatnya itu sudah benar-benar berlalu. "Kau--memang celana apa yang ketinggalan??" tanya Lea lagi. Perasaannya Altair tidak pernah meninggalkan apapun. "Mungkin aku melupakannya dibasecamp. Bukan diapartemenmu." jawab-nya santai. Lea menggeram. "Kau---" "Ganteng? Baru tahu?" potong Altair lagi. "SIALAN!!" teriak Lea. "Lihat! Pietro jadi marah!" gusar Lea kemudian. Altair hanya mengedikkan bahu tidak peduli, dia mulai memapah Lea naik. Senyum diwajahnya tak berhenti terukir. Tidak pernah dia merasa sepuas ini lebih dari apapun. Namun mendapati wanita menyebalkan itu memilihnya. Meski dengan sedikit ancaman kecil, Altair mengulum senyumnya, dia merasakan kemenangan. Tapi ini berbeda, ini lebih menyenangkan dari pada kemenangannya disirkuit balap. Sialan. Jantung-nya, sudah kembali membabi-buta. Gila. Dan juga tidak masuk akal. Ini sudah mulai semakin merunyam. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN