Jadwal Kuliah

1955 Kata
Pada semua perasaan konyol yang datang tanpa permisi, sekelabat hal buruk berjejer rapi menanti. Semacam keinginan untuk tetap memiliki namun terhalang pada gengsi. *** Aneh, kini bukan hanya terbiasa oleh kehadiran Altair. Lea malah sibuk dan kalut ketika lelaki itu mulai menghilang. Tidak tahu perasaan yang menyerangnya, namun mengingat segala rencana yang sudah disusunnya. Lea menepis itu semua. Mengenyahkan sekelabat perasaan bodoh itu, agar tidak ada yang perlu tersakiti lagi. Lea membuka mata perlahan, merenggangkan seluruh tubuhnya yang kelelahan, juga menggosok pelan kedua matanya, tidak tahu ternyata ia sudah berakhir tidur dikamarnya ketika semalam ia dan Altair masih memperdebatkan banyak hal diruang tamu depan. Mungkin menolak ajakan Pietro, sahabatnya, menjadi hal indah yang pernah Lea lakukan. Karena ternyata, bagaimana Altair memperlakukannya berhasil membuat Lea terhipnotis lagi-lagi. Lea pikir setelah mengantarnya sampai pada pintu apartemen, sisongong itu akan pulang, ketika setelah Lea masuk. Hanya jelang satu jam, Altair kembali lagi. Memasuki apartemennya tanpa permisi karena dia sudah hafal diluar kepala kode kamar Lea. Mereka berbincang banyak hal, dari Altair yang ternyata mendatangi lelaki bertopi waktu itu, juga mengutarakan segala keresahan Lea selama ini. Altair pergi seorang diri, memastikan untuk menemukan jawaban ketika lelaki bertopi itu mengatakan bahwa dia tengah mabuk dan salah masuk kamar. Mengingat jarak kamar Lea dan miliknya hanya berbeda beberapa meter. Dan, untuk alasan itulah Altair berusaha menerimanya. Memastikan lelaki itu untuk tidak bertingkah lebih jauh lagi. Altair tidak peduli, karena semua ketakutan Lea tiba-tiba menjadi bagian paling mengusik pikirannya. Lea langsung mendapati hatinya yang menghangat. Tidak pernah berfikir si-songong itu akan melakukannya seorang diri. Apalagi saat Altair mulai mengobati kakinya dengan salap yang sudah diresepkan oleh dr.Molgen tadi. Tidak bisa Lea menjelaskan bagaimana seluruh perasaan kacaunya mulai menggerogoti. Jadi, tidak ada alasan lain ketika mendapati dirinya sudah tertidur pulas dikamar ini, tentu saja Altair yang menggendongnya semalam. Sebuah senyum langsung bersarang diwajahnya. Namun detik selanjutnya buru-buru Lea menyadarkan diri. Kakinya sudah lebih nyaman, ia berjalan pelan tanpa tongkat, segalanya semakin jauh lebih mudah saat ini. Lea keluar kamar, langsung mengunjungi ruang tamunya. Disana, dalam sofa panjang berwarna peach, juga sebuah lukisan diatasnya Lea mendapati Altair tengah tertidur pulas.  Kakinya semakin cepat melangkah pada objek sempurna itu. Meneliti seluruh wajah indah Altair, sama seperti dirumah sakit dulu, dalam tidurnya saja Altair mampu mengacaukan seluruh pikiran Lea. Sialan. Ini tidak seharusnya begini. Lea terdiam lama, bingung harus bagaimana mendapati segala kekacauan ini. Lama ia berfikir dan terus berfikir, tiba-tiba ketidak percayaan bahwa Altair pelakunya menggerogoti seluruh pikiran Lea. Dia sosok yang baik. Meskipun ke-songongannya tidak pernah hilang. Juga sifat tidak mau kalahnya selalu ada, Lea tahu Altair bukan lelaki yang buruk. Namun menepis itu lagi dan lagi, mempercayai apa yang pernah dilihatnya dengan Dryna. Lea kembali pada perasaan ingin tahu dan juga gusar. Ketika akhirnya, Lea mendekat dan mulai mengguncang tubuh lelaki itu pelan. "Altair. Bangunlah!" Detik itu juga Altair mulai membuka mata, mendapati Lea dihadapannya menjadi sesuatu yang tiba-tiba melenceng dari perkiraannya. Semalam, setelah mendapati wanita menyebalkan itu ketiduran diatas sofa, Altair menggeleng sebelum membawanya kekamar. Bisa saja Altair tidur bersamanya, namun mengingat bagaimana jantungnya menggila ketika mereka tidur bersama saat itu Altair menghilangkan niat itu. Melihat wajah kelelahannya Altair malah tersenyum geli. Tidak menyangka bahwa wanita itu yang berhasil merubah semua pemikiran dikepalanya. Kehadiran Lea, benar-benar menjungkirbalikkan hidup Altair. "Aku tidak ada mata kulih hari ini," Altair menjelaskan pertama. Dia yakin wanita menyebalkan itu menyuruhnya untuk kuliah. "Aku juga. Astaga, bagaimana bisa jadwal kita sama??" sahut Lea girang. Altair hanya terkekeh. Semakin aneh karena berhadapan dengan wanita itu, Altair lebih banyak tertawa. Sialan! "Jodoh!" jawab Altair asal. "Hell! Amit-amit!" sambung Lea cepat. Ia menggeleng kepala tidak terima. Altair hanya menyunggingkan senyum mengejek. "Kenapa kau tidur disini?" tanya Lea lagi. "Terus dimana lagi? Dikamar? Bersama-mu?" jawab Altair cepat. Dia mengganti posisinya jadi terduduk. Membuat tubuhnya dan Lea kini saling berhadapan dekat. "Maksudku, Mama mu tidak mencari?" ralat Lea kemudian. "Aku sudah meminta izin." jelas Altair lagi. "Katanya, aku tinggal disini saja. Dari pada jarang pulang kerumah," "Gila!" rutuk Lea kesal. "Apartemenku hanya sebesar ruang tamu rumahmu. Untuk apa kau ingin tinggal disini?" "Untuk melihat wajah menyebalkan itu--" tunjuknya pada wajah Lea. Lea memutar bola mata-nya jengah, "Ish! Tidak waras!!" Altair tidak menjawab, handphonenya berbunyi, ada sebuah panggilan dari Rendra. Tadi-nya Altair malas menerimanya, takut-takut ada hal penting dari sahabatnya itu dia memilih untuk mengangkatnya. "3 hari lagi balap dimulai. Kau sama sekali belum latihan. Masih ingin main apa tidak?" Rendra berujar serius. Altair memijit pangkal kepalanya. A-ah dia lupa mengatakan ini, walaupun Rendra sahabatnya, lelaki itu merangkap menjadi manager dan juga mengurusi segala hal tentang balapnya. Altair sengaja meminta Rendra, mengingat lelaki itu menjadi yang paling dewasa diantara yang lainnya. "Baiklah. Setelah ini aku akan kesana." akhirnya Altair berujar pasrah. "Sudah cukup kehilangan 10 juta kemarin, aku tidak ingin kehilangan 20 juta nanti!" jawabnya ketus. "Kau boleh mengurusi wanita itu, tapi jangan lepaskan tanggung jawabmu." sambungnya gusar. "Oke. Aku akan berlatih hari ini. Berhenti mengomel!" rutuk Altair. Namun Rendra langsung memutuskan sambungan sepihak. Poor Altair! Heh, bahkan tidak peduli berapa juta pun uang kemenangannya, Altair bisa memberi lebih dari pada itu. Tapi semuanya memang karena hobi. Dan juga pegangan lain untuk dirinya sendiri. Altair hanya ingin membuktikan, meski tidak dengan perusahaan David, dia bisa hidup sendiri dengan uangnya. "Siapa?" tanya Lea penasaran. Altair memiringkan kepalanya, tersenyum mengejek dan berujar, "Wanita." "Kekasihmu?" sahut Lea penasaran. "Lelaki mana yang menghabiskan waktunya dengan wanita lain jika dia sudah memiliki kekasih," singgung Altair kemudian. Lea meneguk saliva-nya, mencerna perkataan si-songong itu. Sangat tidak menyangka Altair yang bodoh ini bisa berfikir seperti itu. "Aku mendengar kedua sahabatmu sering bergonta-ganti wanita," "Lagi, kau selalu saja menyimpulkan sesuatu tanpa pernah cari tahu," gerutu ltair kemudian. "Aku tidak sama dengan mereka!" "Oh ya? Kenapa ku dengar kau mengabaikan mantan terakhirmu?" singgung Lea langsung. Bagaimana pun juga itu harus dibahas, jika tidak semuanya akan sulit untuk diketahui. "Dia sudah tidak ada. Tidak perlu dipikirkan lagi." sahut Altair santai. "Kenapa? Karena kau tidak mencintainya?" tuduh Lea langsung. "Tidak. Aku membencinya. Jadi stop membahas wanita yang sudah mati itu!" Altair berujar sarkas. Lea menggigit bibirnya kuat. Sebenarnya bagaimana kejadian itu bisa terjadi? Kenapa? Ada masalah apa antara Altair dan Serena? Kini Semuanya semakin sukar dimengerti. Apalagi Altair terlihat enggan setiap kali membahas masalah Serena. Altair berdiri dari posisinya, dia meraih pangkal kepala Lea sebelum berlalu memasuki kamar mandi apartemen wanita itu. Altair tersenyum kecut, dia bahkan melewatkan mata kuliah hari ini. Altair hanya ingin menyamakan jadwal kuliah wanita menyebalkan itu dengan miliknya. Bagaimana semalam Altair membaca dan mengambil foto jadwal yang terletak pada dinding kamar Lea. Dia terkekeh geli. Aneh, mendapati dia melakukan hal konyol itu, hanya untuk terus bersama wanita menyebalkan tersebut. "Mau kemana?" tanya Lea lagi, penasaran karena Altair sudah bersiap untuk pergi. Disana, dengan rambut acak-acakan yang dibahasi sedikit air, Lea meneguk salivanya. Sialan karena wajah Altair bisa terlihat se-mempesona itu. "Basecamp." sahutnya lalu mengenakan jaket denimnya. "Ada urusan?" tanya Lea lagi. Merasa tidak rela jika Altair harus pergi. "Latihan. 3 hari lagi balap dimulai." jelasnya santai. Altair mendekat pada wanita itu. Menyunggingkan senyum seraya berbisik ditelinga Lea, "Kau hutang menciumku. Aku masih baik-baik saja sejak kemarin. Jadi, berikan itu setelah menang balapan nanti." sambungnya seraya melangkah pergi. Meninggalkan Lea dengan wajah bertekuk masam, juga kepala yang masih bertanya-tanya. Altair benar-benar tidak tersentuh. Dia penuh teka-teki. Lea seakan diberi berkeping-keping puzzle hanya untuk menyusun-nya. Sialan! ??? Altair langsung bergegas menuju basecamp selepas pergi dari apartemen Lea. Dia menderu laju Jeepnya, walaupun semua adalah haknya untuk latihan atau tidak, Altair hanya tidak ingin mengecewakan Rendra. Mereka harus menyusun strategi untuk membahas balapannya yang tersisa 3 hari lagi. Altair tidak akan mengalah, tidak selepas Sean sialan itu membanggakan dirinya dihadapan Lea. Shit! Apakah dia tengah dilanda cemburu? Huh! Gila! Tidak butuh waktu lama bagi Altair untuk sampai pada basecamp itu. Disana, dia sudah menemukan Rendra dan juga Deo tengah merokok dihalaman depan. Kevin dan Lucas tidak perlu dipertanyakan, kedua b******n itu pasti tengah bermain-main dengan para wanitanya. "Ku kira sekarang balap bukan urusan terpenting lagi," singgung Rendra langsung. Deo terkekeh disampingnya, "Sean menjadi semakin terlatih bro. Kau tahu itu semenjak kekalahan terakhir," sambung Deo lagi. "Oke-oke. Maafkan aku. Berhenti menyinggungku!" sahut Altair tidak suka. Dia ikut bergabung disana. "Waktumu tidak banyak lagi Altair. Terakhir kali kau bahkan langsung pergi begitu saja." Rendra masih kesal masalah itu. "Aku harus menjemput Lea waktu itu," jelasnya kemudian. "Aneh, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya." jelas Deo lagi. "Bahkan ketika Serena mengekangmu, kau tidak mempedulikan itu," "Jangan membahas wanita sialan itu!" ucapnya gusar. "Ini berbeda!" "Jadi, wanita baru itu sudah berhasil meluluhkan Altair yang songong ini?" sindir Deo lagi. "Tidak ada hubungannya. Aku hanya bertanggung jawab!" sahutnya cepat. "Sejak kapan kau memikirkan itu? Waktu menabraknya saja kau tidak peduli--" kini Rendra ikut bersuara lagi. Altair menghela nafas kasar. "Motorku sudah siap kan? Mari latihan sekarang. Jangan banyak bicara lagi!" Rendra kemudian menyerahkan kunci ninja lelaki itu. Membiarkan Altair membawa ninja tersebut pada sirkuit yang terletak tidak jauh dari basecamp mereka. Sementara Rendra dan Dio, menyusul dengan ninja milik Kevin. Disana, mereka terus meneliti setiap pergerakan Altair, heran dan tidak habis pikir. Meski jarang berlatih, si-songong itu tetap terlihat lihai dan juga lincah. Bravo!! Altair benar-benar serius melakukannya, meski setiap putaran dia selalu singgah untuk meminta penilaian, Rendra dan Dio terlihat sangat puas. Walaupun kedua sahabatnya itu masih terus berkomentar setiap saat. Altair berjanji, dia bahkan tidak akan kalah kali ini. Mendapati Sean sialan itu terus mengusik Lea, perasaan tidak suka langsung menyerangnya. Altair tahu betapa licik niat lelaki itu. Sudah cukup Sean mengusik Lea, melepaskan wanita menyebalkan itu begitu saja, tidak akan pernah Altair biarkan. Tidak selama dia masih berurusan, masih terikat dan juga masih bersama. Dia Altair, apapun yang dia inginkan, harus sesuai keinginan-nya. Hell! Semua orang tahu itu. "Aku mempercayaimu." kata Rendra puas. Langit sudah berubah warna, Altair telah menyelesaikan latihannya dengan baik. Mereka kini sudah berada dibasecamp. Kevin dan Lucas juga sudah tiba, tidak tahu kapan kedua b******n itu datang. Namun wajahnya berseri puas. "Sudah selesai latihan?" tanya Kevin ketika Altair sudah duduk disampingnya. Altair hanya mengangguk lelah. "Kemana wanita lucu itu?" tanya Kevin kembali. "Siapa?" sahut Lucas cepat. "b******n! Mendengar wanita saja telingamu langsung berfungsi baik," singgung Kevin ketus. "Seperti kau tidak saja!" jawabnya tidak terima. "Sudah milik Altair. Ambil saja jika kau ingin berakhir dirumah sakit," kekeh Kevin lagi. "A-ah wanita menyebalkan itu?" angguk Lucas paham. "Ku pikir siapa," sambungnya terkekeh. Altair hanya menggeleng kepala, begitu juga Deo dan Rendra, mereka hanya terkekeh ditempatnya. "Tapi serius, dia sungguh menyebalkan. Bagaimana dia mengataimu. Ku tebak kalian selalu bertengkar?" ledek Kevin kemudian. "Memang. Jangan dipertanyakan lagi." sahut Altair malas. "Apa saja yang kalian lakukan? Kau bahkan sudah jarang kemari sebulan belakangan ini," tanya Kevin kembali. "Tidak banyak. Aku punya cara membuatnya bungkam." decak Altair puas. "Poor Altair! Dia wanita menyenangkan," ucap Kevin lagi. "Dan juga menyebalkan!" sahut Altair asal. Dia kemudian merebahkan kepalanya pada sofa disana. Altair memejamkan mata. Tidak tahu kenapa, bayangan Lea malah berputar dikepalanya. Altair membuka mata kembali, menghiraukan seluruh perdebatan teman-temannya disana, dia mengeluarkan handphonenya dari saku celana, Altair hendak menghubungi wanita menyebalkan itu. Ketika sebuah pesan dari Lea lebih dulu bersarang dikotak masuknya. Wanita Gila Sudah selesai latihan? Boleh datang ke apartemenku? Aku ingin sate kambing lagi hehe. Altair tersenyum kecil, dia angkat dari duduk-nya. Mengambil kunci Jeepnya seraya berlalu meninggalkan ke-empat sahabatnya. Tidak menghiraukan seruan dan ejekan, karena latihannya sudah selesai. Altair juga segera bergegas, mengingat mungkin beberapa hari kedepan dia akan menjadi jauh lebih sibuk. Jadi, memutuskan kembali ke apartemen wanita menyebalkan itu. Altair mengulum senyumnya dalam. Mungkin.. Dia.. Sudah.. Menemukan.. Tujuan sesungguhnya. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN