Semuanya kentara sekali. Bagaimana menemukanmu dimalam hari,
menjadi tantangan tersendiri. Perihal luka dan juga rasa yang belum tersusun rapi.
***
Untuk hari-hari yang terlewati penuh perdebatan beberapa waktu belakangan ini, kini sepi menjadi begitu kentara sekali.
Ini sudah tiga hari sejak Lea tidak bertemu Altair. Tidak tahu kenapa ia malah dilanda perasaan aneh. Walaupun mereka terus bertukar pesan dan saling menghubungi satu sama lain. Tidak menemukan Altair beberapa waktu belakangan ini malah membuat Lea uring-uringan. Meski setiap kali bertemu Altair, lelaki itu bahkan tidak menghilangkan sedikitpun kesongongannya tersebut.
Lea juga tidak paham kenapa ia begitu gencar ingin bertemu lelaki itu. Hanya saja, melihat wajah songongnya, Lea menjadi tenang. Ia seakan menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang melenceng dari hidupnya.
Sebuah nyaman yang terus bersarang, sebuah kekaguman yang datang setiap kali Lea menemui wajah mempesona itu.
Kini, Lea juga tidak perlu lagi menggunakan tongkatnya. Setelah menggunakan salap yang diberi oleh dr.Molgen waktu itu secara rutin, kakinya berangsur membaik.
Walaupun ia masih berjalan pelan, kakinya jauh lebih nyaman. Tapi Lea tidak ingin ini cepat berlalu, ia masih ingin Altair bertanggung jawab. Lea masih ingin menemukan kebenarannya. Ketika, siapa sangka ia sebenarnya sudah terbiasa oleh kehadiran Altair.
Jadi, tiga hari belakangan ini Lea menghabiskan waktu dengan Dryna dan juga Pietro.
Lea menyampaikan semua yang ditelitinya, tentang bagaimana sifat Altair, juga betapa tatapan lelaki itu gusar setiap kali mereka membahas tentang Serena. Dan Lea bahkan tahu betapa Dryna begitu membenci lelaki itu.
Sementara pada Pietro, Lea terus membahas betapa kesongongan Altair begitu dibencinya. Bagaimana menyebalkan sifat lelaki itu yang membuat mereka berakhir pada banyak perdebatan. Lea tidak tahu, tapi mendapati Pietro gusar setiap kali membahas Altair, Lea berhenti saat itu juga.
Dan sejak tiga hari itu juga Sean gencar menghubunginya. Mengajaknya untuk pergi bersama dan juga sebentuk ajakan lain yang terasa semakin membingungkan.
Lea tidak tahu namun ia terus menceritakan kepada Altair bagaimana Sean terus mengajaknya pergi bersama.
Dan setiap kali Lea menceritakan itu, Altair pasti langsung menghubunginya, berpesan entah sudah yang keberapa juta kalinya agar Lea tidak pergi dengan musuhnya tersebut.
Lea terkekeh, ia merasa tertantang, merasa senang mendapati betapa Altair begitu kesal mendengar tentang Sean. Aneh, padahal difoto waktu itu mereka terlihat sangat bersahabat.
Tidak tahu kenapa dan bagaimana. Tapi kini Lea berakhir merindukan lelaki songong itu.
Hari ini, pertandingan Altair berlangsung. Lea berniat untuk menonton, tapi Altair melarangnya. Memintanya untuk tetap berada diapartemen, karena dia berjanji akan mendatangi Lea setelah pertandingan selesai.
Mendapati janji lelaki itu, Lea mengulum senyum-nya. Ia memutuskan untuk berbaring diranjang dengan perasaan senang.
Sederhana padahal, ia hanya akan bertemu Altair. Tapi kenapa begitu bahagia rasa-nya? Sialan! Ini sudah terlalu jauh!
Lea hanya memutar tubuhnya jengah. Ia ingin melakukan sesuatu, memasak misalnya, tidak tahu ada apa dengan perasaannya hari ini. Yang jelas Lea terus tersenyum sepanjang hari, menanti pertemuannya yang sebentar lagi akan terjadi. Karena baru 3 hari tidak bertemu si songong itu segalanya menjadi kacau.
Baru saja akan beranjak dari ranjangnya, ketika sebuah pesan menghiasi layarnya. Lea mengerutkan dahi, sebelum membuka pesan itu.
Sean Danilova
Satu jam lagi balap dimulai. Aku menebak Altair pasti melarangmu datang. Mau pergi denganku saja? Aku ingin bertaruh dengan si songong itu.
Lea mengimang ajakan itu. Bertaruh? Hell! Mereka bahkan tidak pernah bertegur sapa. Kenapa Sean kini gencar mendekatinya? Ada apa dengan mereka? Kenapa kedua orang itu seperti tengah mengujinya? Membuat Lea pusing sendiri memikirkannya.
Lea Caesario
Bertaruh? Bertaruh apa? Kenapa harus ada aku?
Sean Danilova
Jika aku menang, ngedate lah denganku. Jangan terus menghindar.
Lea Caesario
Aku tidak menghindar.
Sean Danilova
Ah. Benarkah? Atau sisongong itu cemburu aku menggodamu?
Lea Caesario
Kau aneh Sean.
Sean Danilova
Tidak masalah. Jadi, mau menonton? Atau tetap dirumah saja Tuan Putri?
Lea terdiam sesaat. Altair memang melarangnya untuk pergi. Lea juga sebenarnya tidak suka pada kebisingan disirkuit balap itu. Namun, ia begitu ingin melihat Altair. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana sisongong itu akan memenangkan pertandingan dengan seluruh keangkuhannya. Lea jadi terpanggil untuk menyaksikan.
Lea Caesario
Apartemenku dijalan Ouranos Sky.
Sean Danilova
Aku sudah diparkiran bawah tuan Putri. Silahkan turun.
Lea Caesario
What? Kau tahu dari mana??
Sean Danilova
Nanti ku jelaskan. Cepat turun. Aku harus bertanding sayang.
Lea menghela nafas kasar, tidak berniat untuk menjawab pesan Sean lagi, ia mengganti piamanya dengan jeans hitam dan juga kaos hitam. Lea berlalu dan turun secepat mungkin. Ia tidak lagi menggunakan tongkat, meski jalannya masih sempoyongan.
Sepanjang perjalanan Sean menyunggingkan senyumnya. Lelaki itu terus menatap Lea, masih dengan BMW putih miliknya, Sean juga menderu laju mobil itu.
Lea kembali dibuat terpana, bagaimana lelaki ini memiliki barang-barang mewah itu, Lea paham. Lagi pula siapa yang tidak mengenal keluarga Kenrick? Mereka sebelah duabelas dengan Kennedy! Pengusaha terkaya diIndonesia. Dengan banyak cabang diluar negeri. Lea bergidik membayangkan itu semua.
"Bagaimana kau tahu apartemenku?" tanya Lea langsung ketika mereka sudah diperjalanan menuju sirkuit.
"Tidak ada yang tidak kuketahui Lea." sahutnya puas.
"Ish! Aku serius Sean!" kata Lea malas.
"Aku bertanya pada Pietro." jawabnya lagi. Dia sudah terkekeh. Puas mendapati wanita itu berhasil dibawanya.
Lea menggeleng, "Bohong. Pietro tidak mungkin mengatakan tempat tinggalku pada orang lain,"
"Tanya saja padanya," sahut Sean santai. Dia sudah membawa BMWnya menuju parkiran sirkuit. Masih dengan senyum menyimpul puas, Sean sengaja meletakkan mobilnya dekat dengan Altair dan teman-teman nya berdiri.
Lea meneguk salivanya, tiba-tiba jantungnya berdebar, ia langsung memikirkan banyak sekali kemungkinan. Entah Altair yang akan marah, atau karena pemandangan dihadapannya yang tiba-tiba begitu mengusik pengelihatannya.
"Kau mengenal wanita disana?" tanya Lea, ia menunjuk kearah Altair yang terlihat tengah berbincang pada seorang wanita.
Sean terkekeh. Dia masih bersandar pada kursi mobilnya, "Kenapa? Kau cemburu?"
"Tidak mungkin. Aku hanya penasaran," celetuk Lea membela diri.
"Wanita itu menyukai Altair." jelas Sean lagi.
Lea menoleh detik itu juga. "Be-narkah?" sahutnya gelagapan.
"Sejak dulu sekali." sambung Sean lagi.
"Altair menyukainya juga?" tanya Lea lagi. Tidak tahu kenapa, pemandangan itu langsung mengusiknya. Apa itu alasan Altair melarangnya untuk datang? Apa wanita itu yang menghubungi Altair waktu itu? Sialan! Segalanya mulai terlihat jelas saat ini. Lea terdiam detik itu juga, namun matanya terus mengarah pada Altair.
Melihat kegaduhan pada wanita disampingnya membuat Sean terkekeh geli. Bahkan, bagaimana pun Lea menyangkal semuanya, Sean tahu dia menyukai Altair. Itu bahkan kentara sekali. "Altair tidak menyukai wanita itu. Jika itu yang ingin kau ketahui."
"Kau tahu dari mana??" sahut Lea cepat. Jawaban Sean membuatnya sedikit tenang. Tidak tahu kenapa.
"Sudah kukatakan tidak ada yang tidak kuketahui." ulangnya mengatakan hal yang sama.
"Kau hanya menebak asal?" tuduh Lea kemudian.
Sean terkekeh, "Karena wanita itu kembaranku!"
Lea terperangah. Menatap tajam lelaki disampingnya kini. "Be-benarkah??" tanya Lea tidak percaya.
Sean hanya mengangguk sebelum mengajak Lea turun dari mobilnya. "Aku sudah harus turun Lea. Berhenti bertanya lagi, kau akan tetap dimobil? Atau ikut turun denganku?"
Detik itu juga Lea turun dari mobil Sean. Jantungnya langsung berdegup tidak karuan. Apalagi saat Sean berteriak memanggil wanita disamping Altair, dia membawa Lea berjalan mendekat.
Jika jantung Lea sudah berpacu tidak normal, ketakutannya bertambah runyam karena Altair terlihat menatapnya gusar.
Altair turun dari ninjanya. Dia melewati Angel yang terus mengusiknya sejak tadi. Altair yakin wanita itu diajak oleh kembarannya datang kesini. Karena Angel tidak pernah melewatkan pertandingan mereka.
Dan mendapati Lea turun dari mobil Sean. Membuat darahnya mengalir deras, emosinya memuncak detik itu juga. Altair melewatkan Angel begitu saja, menghiraukan teriakan wanita itu dan juga beberapa temannya, Altair melangkah mendekati Lea.
Dia menarik tangan Lea, membawa wanita itu mendekat, menghiraukan rintihan Lea yang kesakitan, Altair tidak peduli. Dia hanya ingin wanita itu tahu, bahwa dia tengah marah besar.
"Apa yang kau lakukan disini?!!" teriaknya marah.
"Sean mengajakku..." sahut Lea pelan. Ia menundukkan kepala takut, tidak pernah mendapati ekpresi menakutkan Altair saat ini.
Sean mendekat, berusaha untuk menjauhkan Altair dari wanita itu. Ketika Altair lebih dulu menarik jaket kulit musuhnya tersebut.
"Berhenti menganggunya b*****t!" teriak Altair marah. Hal tersebut membuat keempat sahabatnya dan juga Angel mendekat. Pertandingan sebentar lagi dimulai, mereka tidak ingin gagal hanya karena pertengkaran kecil ini.
Sean terkekeh, menepis tangan Altair dihadapannya. Seraya berujar santai, "Aku hanya membawa teman sekelas untuk menonton pertandinganku, tidak ada niat lebih dari pada itu--"
Altair meraih kerah baju Sean semakin dalam, membuat Lea lebih dulu berdiri ditengahnya.
"Altair..." kata-nya pelan. Lea menyentuh punggung tangan Altair, menatap lekat mata hazel itu dalam gelapnya malam dan berujar, "Aku yang memaksanya untuk ikut."
Altair terkekeh. "Kau tidak mendengarkanku sekarang?" singgungnya marah.
"Bu--kan. Bu--kan seperti itu Altair." ujar Lea gelagapan. "Ini sudah tiga hari kita tidak bertemu, aku hanya ingin melihatmu bertanding." jelasnya payau. "Oke, aku akan pulang jika memang kedatanganku membuatmu marah. Aku akan pergi se--"
Altair menggeleng kepala pelan. Dia menepis tangan Lea, ketika detik selanjutnya dia berganti dengan meraih pinggang wanita itu. Membawa tubuh Lea mendekat, tidak memberi jarak--menghiraukan desiran darahnya yang mengalir semakin menggila, persetan dengan semua itu.
Altair tidak peduli lagi, dia mendekatkan wajahnya, memejamkan mata dan mulai menikmati bibir wanita menyebalkan direngkuhannya.
Tidak tahu apa yang merasuki Altair, itu seolah-olah terjadi begitu saja. Terlampau bodoh karena dia ternyata begitu merindukan bibir sialan itu.
Meninggalkan tatapan penuh keterkejutan dari keempat sahabatnya, Sean dan juga Angel tentu saja.
Altair menyudahi itu cepat seiring pengumuman bahwa mereka sudah harus berada digaris stars.
"Kubatalkan mendapatkan ciuman itu setelah pertandingan." bisiknya pertama. "Sudah kukatakan, aku tidak suka kau dekat dengan Sean. Itu hukumanmu Lea." katanya, seraya berlalu.
Altair mendekat pada Rendra. Karena hanya laki-laki itu yang dipercayanya. "Biarkan Lea bergabung bersama kalian." titahnya seraya mulai melangkah menuju sirkuit.
Sementara Sean, dia tersenyum puas. Dia mengenal Altair, lebih dari siapapun disana. Jadi, mendapati kekesalan mantan sahabatnya itu, Sean semakin menyeringai puas.
"Sean!! Aku membenci Altair!!" teriak Angel marah.
Sean hanya mengelus puncak kepala kembarannya. Masih dengan kekehan geli, membuat Angel gusar dan melangkah pergi. Angel marah besar kali ini, mendapati Altair mencium wanita lain dihadapannya, Angel benar-benar tidak bisa menerima itu.
Dan Lea. Jangan dipertanyakan bagaimana perasaannya. Kakinya meluluh lunglai, semua terasa kosong dan juga gila diwaktu bersamaan. Bagaimama si songong itu menghipnotis pikirannya. Lea ingin mengubur diri saat ini juga.
'Altair really wants me dead i guess!' batin Lea dalam hati. Semuanya masih membeku, serangan mendadak Altair menjadikannya kaku. Berdiri bodoh diantara banyaknya tatap mata, tidak ada yang lebih Lea inginkan selain menutup diri dengan selimutnya. Mengubur diri dan bersembunyi pada semua kebodohan ini, sehingga perasaan konyol tersebut secepatnya terhenti. Secepatnya disudahi--karena ia tersiksa seperti ini.
Jika Altair sudah bersiap dengan ninjanya digaris stars. Lea kini bersama dengan teman-teman Altair. Masih terdiam dan gamang. Matanya bahkan tak berpaling pada punggung sisongong itu.
Melupakan bersama siapa ia datang tadi, karena perlakuan Altair seakan menghujaninya dengan seluruh benda tajam. Ia bingung dan juga malu.
Altair boleh melakukan itu jika mereka hanya berdua. Tapi tidak dengan saat ini. Semua orang menatapnya tidak percaya. Lea benar-benar diberi pelajaran hanya karena datang bersama Sean. Altair sialan!!
"Jangan terus memikirkan itu cantik. Wajahmu memerah." tegur Lucas geli.
Lea menoleh sebelum menutup wajah dengan tangannya.
"Tidak pernah terpikirkan Altair melakukan itu didepan semua orang--" sahut Kevin juga.
"Sibrengsek itu!" timpal Deo sembari terkekeh.
"Berhenti mengejekku!" teriak Lea kemudian.
Rendra sudah berlalu untuk mengurusi Altair. Mengingat tugasnya sebagai manager untuk memberi beberapa saran dan arahan.
Lucas, Deo dan Kevin sudah terkekeh geli disana. Mereka semakin gencar menggoda Lea. Seolah-olah menemukan mainan baru untuk dijadikan mangsa.
Dan Lea. Ia tidak punya pilihan lain selain menormalkan degupan jantungnya. Masih seputar perlakuan mengejutkan Altair terhadapnya.
???