Pertandingan

2351 Kata
Kumengenang segala hal yang pernah terlewati. Kucoba sekali lagi, pada sakit yang pernah menyerang diri. Bukan untuk mengulang sakitnya, namun mencoba kembali untuk menemukan bahagianya. *** Altair sudah diposisi. Berada digaris start, bersebelahan tepat dengan Sean. Tidak bisa dia jelaskan bagaimana rasanya Altair ingin menghancurkan wajah lelaki disebelahnya itu. Bahkan, diantara riuhan suara motor, dibalik helm fullface diwajahnya, Altair tahu Sean sedang tersenyum mengejek. Mungkin egois mengatakan ini, tapi bagaimana melihat Lea turun dari mobil musuhnya itu. Emosi Altair langsung mendidih hingga kepala. "Aku ingin bertaruh kali ini." teriak Sean kuat. Hanya tinggal beberapa menit hingga pertandingan itu berlangsung. Masih dengan mengegas motornya diposisi untuk melatih mesin, mereka saling bersebelahan, memancarkan kilatan gila dan juga gusar diwaktu bersamaan. Beberapa lagi sudah benar-benar siap pada posisi, mengingat betapa gilanya hadiah malam ini. Altair menoleh, menyunggingkan senyum mengejek. Menatap tajam musuhnya itu. Meski Sean sialan tidak melihatnya, Altair terusik sekali berbicara dengannya. "Kenapa? Takut?" tantang Sean lagi, gemas sendiri mendapati Altair tak kunjung menjawabnya. Altair langsung terkekeh pelan, dia tahu bagaimana sifat Sean. Bagaimana lelaki itu begitu mudah dikelabuhi. "Takut?? Hei, jangan bercanda." "Oke. Aku akan bertaruh untuk Lea." ujarnya puas, dia menaikkan sebelah alisnya. "Lea tidak untuk taruhan sialan!" sahut Altair tidak terima. "A-ah, jika tidak. Aku tidak punya pilihan selain merebutnya." kekeh Sean puas. Dia menyeringai geli. "In your dream. Menangkan dulu pertandingan ini!" jelas Altair kemudian. "Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkannya!" "Bagaimana jika aku yang menang? Kau akan merelakan wanita itu?" tanyanya mengejek. "Karena kau tidak mungkin menang, Sean." timpal Altair. Lalu, tidak ada lagi yang berbicara. Keduanya sudah mulai fokus pada jalannya pertandingan. Seorang wanita sexy sudah berdiri didepan garis start, mengibarkan bendera tanda pertandingan akan dimulai. Semua peserta sudah bersiap-siap, wanita itu menghitung perlahan, melempar bendera keatas dan menandakan pertandingan telah dimulai. Altair langsung menderu ninjanya, memimpin jalannya pertandingan kali ini. Melewati seluruh tikungan yang tersedia, Sean terlihat semakin gencar mendekatinya. Ingin menyalipnya berkali-kali, tapi tidak Altair biarkan. Altair juga tidak mudah terbuai, bagaimana ciumannya dengan Lea tadi masih berpusat dikepalanya, juga keinginan untuk memiliki wanita menyebalkan itu seutuhnya, Altair tidak punya pilihan selain memenangkan pertandingan kali ini. Lea masih meringis ditempatnya, meskipun ia tidak menyukai semua kebisingan itu, melihat Altair kembali disirkuit balap tersebut secara langsung, membuatnya teringat oleh rencana bodohnya dulu. Bagaimana semua hal nekat yang dilaluinya bisa ia lewati sejauh ini. Terjebak pada lelaki songong yang mempesona itu, bahkan tidak pernah tertera pada bagian rencananya. Lea tahu perasaan ini salah, perasaan ini tidak boleh diteruskan. Tapi semakin Lea menyangkalnya, semakin besar perasaan aneh itu bersarang dihatinya. Ia terus menggigit bibir bawahnya, seiring ninja Altair yang terus melaju menggila. Lea meringis melihat itu, menakutkan melihat balapan liar itu semakin membabi-buta. Bagaimana orang-orang disirkuit itu berlomba untuk mendapatkan posisi pertama. "Apakah Altair akan baik-baik saja? Aku sudah mual menonton balapan ini," cetus Lea kemudian. Ia bergidik ngeri menonton pertandingan ini. Meskipun dulu ia dan Pietro juga berada ditempat yang sama, Lea lebih banyak berbicara kepada Pietro daripada menyaksikan pertandingan itu. Kali ini berbeda, Lea dibuat seolah-olah ikut didalam sirkuit tersebut. "Jangan mengkhawatirkan Altair. Dia bisa mengatasi itu," sahut Rendra kemudian. "Berapa putaran lagi?" tanya Lea penasaran. "Lima," timpal Deo juga. "Tidak bisakah dipercepat saja?" timpal Lea gusar. Membuat keempat lelaki disana terkekeh geli. "Kenapa tidak kau saja yang mengadakan pertandingan ini??" singgung Kevin kemudian. "Seharusnya begitu," sahut Lea malas. "Kenapa Altair kalah kemarin?" "Tanyakan saja langsung pada orangnya," Kevin yang menyahut pertama. "Dia bahkan langsung pergi ketika pertandingan selesai," sambung Rendra kemudian. Lea tertegun untuk sesaat. Apa sisongong itu kehilangan fokus hanya karena ingin menjemputnya? Namun menepis itu lagi-lagi. Lea tidak ingin besar kepala. Semua mengerang begitu mendapati Altair berada diposisi ketiga, Sean terlihat memimpin jalannya pertandingan. Ini sudah putaran kedelapan ketika Altair berhasil dikecohkan. Sejak putaran pertama hingga ketujuh semua berjalan lancar, ketika pada tikungan tajam disana Sean terlihat menyalip dari posisi kiri, membuat Altair sedikit oleng dan posisinya jadi berubah. Lea hanya diam mendengarkan perdebatan teman-teman Altair. Meskipun pandangannya tidak berpindah kearah lain, Lea tahu perasaan kacau ini semata karena pertarungan sengit dihadapannya. Dalam hati Lea terus berucap, memastikan dirinya sendiri bahwa ini akan berlalu secepat mungkin. Altair akan baik-baik saja, sisongong itu sudah mahir melaju seperti itu. Ternyata, melihat ini Lea pikir lebih baik jika ia dirumah saja. Menunggu Altair datang untuk menepati janjinya, dari pada harus menahan malu oleh perlakuan Altair tadi. Huh! "Kenapa Altair kehilangan fokus??" rutuk Kevin kesal. "Bodoh, hanya tinggal 2 putaran!" Lucas menyahut geram. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah menyebalkan Sean jika dia menang lagi!" ketus Deo tidak terima. "Tenang. Kalian tidak lihat Altair tengah mengecoh Sean?" Rendra menengahi. Dia tahu taktik Altair. Dia paham bagaimana sisongong itu sedang bermain-main disirkuit tersebut. Lea menoleh mendengar penjelasan Rendra. Kedua alisnya mengerut, ia tidak mengerti pembahasan kali ini. "Apakah Altair akan menang?" "Tentu saja. Ingin bertaruh?" tantang Rendra disana. Lea menggelengkan kepalanya cepat. "Aku sudah banyak bertaruh. Dengan Altair, dengan Sean. Kini, kau mengajakku juga?" Rendra terkekeh. "Tidak jadi. Aku masih ingin hidup dengan tenang," "Maksud mu?" tanya Lea bingung. Kevin, Lucas, Deo dan Rendra tertawa nyaring, sebelum berujar serempak. "Altair psikopat!" Lea berlonjak. Berusaha memahami perkataan ke-empat lelaki itu. Ketika sebuah teriakan kemenangan melengking ditelinganya. Cepat Lea menoleh kedepan, mendapati Altair sudah turun dari ninjanya dan berlari menghampiri teman-temannya. Dia terlihat begitu puas, senyum diwajahnya terukir sempurna. "Aku pikir kita kehilangan 20juta malam ini," singgung Kevin seraya memeluk tubuh Altair. Disusul Lucas, dia ikut meraih Altair dalam pelukannya, "Kau tidak hanya mengecoh Sean, tapi juga kami." "Keren bro!!" teriak Deo bangga. Rendra melakukan hal yang sama, dia memeluk Altair dan memberi selamat kepada lelaki itu. Setelah selesai dengan teman-teman nya. Altair menghampiri Lea, menatap tajam wanita itu sebelum menariknya dalam pelukan. Lea hanya membulatkan mata sebelum berusaha menormalkan jantungnya. Tidak habis pikir oleh jalan pikiran sisongong itu. Dia seolah melakukan segalanya tanpa berpikir. "Aku akan pergi lebih dulu. Ambilah hadiahnya," jelas Altair. Dia melepaskan pelukannya pada tubuh Lea. Berganti dengan meraih pinggang wanita menyebalkan itu dan mulai memapahnya menghampiri Sean. Tentu saja itu harus dilakukan. Sudah dikatakan, dia Altair. Apapun yang dia inginkan maka semuanya harus terkabulkan. Altair sudah melangkah bersama Lea disisinya. Namun baru saja beberapa langkah suara teriakan Kevin menghentikan mereka. Altair menoleh, diikuti Lea disampingnya. "Ada apa?" tanya Altair penasaran. Mengabaikan Altair, Kevin berujar pada wanita disebelah sahabatnya itu. "Sekarang kau tahu kan alasan kekalahannya?" Lea mengerutkan dahinya, bingung. Namun detik selanjutnya Lea paham. Ia mengangguk pada Kevin. Membuat ketiga lelaki disana memberikan kedipan sebelah matanya pada Lea sebelum terkekeh geli. "Apa yang mereka bicarakan?" tanya Altair penasaran. "Hmm--bukan apa-apa." jawab Lea cepat. "Jangan sampai aku menciummu hanya karena kau tidak memberitahuku," singgungnya kemudian. Lea memukul pelan punggung lelaki itu. Menatapnya tajam, seraya berujar. "Tidak ada ciuman lagi! Kau sudah membuatku malu!" "Itu hukuman Lea. Aku sudah memberitahumu tadi." katanya lagi. "Apapun yang kau pikirkan. Milikku, akan selamanya menjadi milikku!" sambung Altair memperjelas itu. "Aku bukan milikmu!" teriak Lea tidak terima. Altair hanya tersenyum kecut sebelum memperkuat rengkuhannya pada pinggang Lea. "Aku senang melihatmu berjalan tanpa tongkat lagi." "Aku berlatih sendiri selama tiga hari. Tidak tahu meminta bantuan pada siapa, seseorang yang menabrakku malah memilih motornya dari pada membantuku!" singgung Lea ketus. Altair terkekeh. Geli sendiri melihat wajah masam wanita menyebalkan itu, mendengar celotehannya lagi, Altair merasa tenang dan juga damai. "Aku lebih memilih motorku tentu saja!" sahut Altair kemudian. Membuat Lea memukul punggung Altair lebih kuat dari sebelumnya. "Bagaimana mungkin motor bisa lebih penting dari ku?" rutuk Lea tidak terima. "Kau akan lebih penting dari segalanya, jika suatu saat kau sudah menjadi istriku." jelas Altair. "Jadi, kau mau menjadi istriku??" sambungnya lagi. Lea meneguk saliva-nya. Bagaimana bisa sisongong itu berkata sesantai ini. "A-ku, tidak ingin dilamar seperti itu." akhirnya hanya itu yang Lea katakan. "Aku juga tidak ingin melamar wanita dungu yang hobi menangkap pokemon!" ledek Altair. Membuat Lea benar-benar murka dan menginjak kaki Altair kuat. "Kenapa memintaku menjadi istrimu tadi! Sialan!!" protes Lea keras. Altair terkekeh, "Hanya bergurau, hell! Kepalaku bisa pecah jika menikah denganmu!" "Siapa juga yang mau menikah denganmu!" sahut Lea tidak mau kalah. "Kau bahkan terlihat sudah siap jika aku menikahimu sekarang," singgung Altair. Dengan Lea yang tidak lagi menjawab, ia hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Tidak pernah ada habisnya meladeni Altair sialan itu! Detik pertama membuat-nya terbang. Detik selanjutnya menghempasnya dalam. Altair b******n!! Altair menyeringai puas ketika dia berhasil membawa Lea menghampiri Sean. Lelaki itu terlihat sedang berbincang dengan krunya, menyadari kehadiran Altair, dia menghampiri mantan sahabatnya itu. Altair tersenyum penuh kemenangan, bagaimana wajah keki Sean begitu terlihat nyata saat ini. Dia terus menatap tangan Altair pada pinggang Lea. Membuat Altair semakin kuat merengkuh tangannya disana. "Sudah bangun dari mimpimu?" singgung Altair langsung. Tidak perlu banyak basa-basi setiap kali berhadapan dengan Sean. Lea tahu, ada yang tidak beres diantara mereka berdua. Lea paham bagaimana sorot saling membunuh itu terus terpancar satu sama lain. Sean hanya mengedikkan bahu, menghiraukan seruan Altair, dia kembali menatap Lea. "Lain kali, aku yang akan mengantarmu pulang." jelas Sean. Dia mengabaikan Altair. "Bermimpilah kembali Sean. Sampai kapan pun, selama aku masih ada, kau tidak akan kubiarkan menang." singgung Altair marah. "Benarkah? A-ah. Aku menunggu kemenanganmu lagi kalau begitu," singgungnya kemudian. "Pulanglah Lea. Maaf tidak bisa mampir keapartemenmu tadi. Lain kali aku akan singgah sesuai permintaanmu." sambung Sean, dia mengedipkan sebelah matanya pada Altair sebelum berbalik dan melangkah menuju para krunya lagi. Altair menggerem, dia mengepalkan tangan kuat. Melepaskan rengkuhannya dari pinggang Lea. Dia menatap wanita itu tajam. "Aku tidak menyuruhnya singgah! Sialan Sean! Kenapa dia mengarang semua itu??" rutuk Lea tidak terima. Ia menjelaskan pada Altair, mengingat betapa garang lelaki itu menatapnya kali ini. Jika Lea berusaha memperjelas itu semua, sialan Altair malah berlalu seraya menyuruhnya berjalan cepat. "Aku tunggu dimobil." kata-nya sebelum benar-benar berjalan meninggalkan Lea. Lea menggelengkan kepala tidak percaya, mendapati sisongong itu bertingkah sangat tidak wajar membuat Lea mendengus. Hell! Ia bahkan tidak berbicara apa-apa, kenapa Altair malah terlihat gusar? Apa dia cemburu? Sisongong itu cemburu hanya karena perkataan ngawur Sean?? Benar-benar gila!! ??? Altair sudah menghentikan Jeepnya pada parkiran apartemen Lea. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Keduanya sama-sama mengheningkan cipta. Lea berhenti berbicara selesai penjelasannya tidak Altair respon. Lelah mengalah ia memutuskan untuk tidak lagi banyak bicara. Sementara Altair, dia tidak tahu bagaimana perkataan Sean langsung mengusiknya. Bagaimana sibrengsek itu langsung mempengaruhi seluruh pikirannya. Altair bingung mendapati perasaan kacau dan juga gusar. Aneh, mendapti hati-nya yang langsung panas mendengar perkataan Sean. Altair cemburu, dia tahu itu. But why? Ini Lea? Wanita gila dan menyebalkan yang bahkan bukan siapa-siapa nya. "Kau tidak mampir?" tanya Lea akhirnya. Lelah dengan keadaan aneh dan kikuk ini. Mereka bertengkar setiap saat, berdebat sepanjang hari. Mendapati keadaan canggung ini, Lea semakin bingung. Altair hanya menggeleng. Membuat Lea kesal saat itu juga. "Sejak tadi kau menolak bicara. Kau menghiraukan penjelasanku, sementara aku tidak tahu apa yang salah. Kau cemburu karena perkataan Sean itu??" omel Lea akhirnya. Altair tidak juga menjawab. Dia masih menata gemuruh perasaan aneh dihatinya. Altair hanya membuka dasbor mobilnya, mengeluarkan sebuah rokok dari sana dan mulai menikmati rokok itu perlahan. Benar-benar mengabaikan Lea. "Kau berjanji akan berkunjung setelah balap mu selesai." ujar Lea mengingat janji Altair. Tidak tahu kenapa ia mengatakan itu, Lea hanya ingin menahan lelaki itu. Namun lagi-lagi seluruh perkataannya tidak digubris, akhirnya Lea membuka pintu Jeep itu cepat, turun dari mobil Altair dan menutup kembali pintu mobil itu kasar. Lea berjalan cepat, gopoh dan sempoyongan. Namun sebuah ide gila menari dikepalanya, masih memanfaatkan kakinya, Lea tidak tahu kenapa ia bisa berpikir seperti ini, sehingga secara sengaja Lea pura-pura tersandung. Ia terjatuh beberapa meter dari Jeep Altair yang hendak berlalu. Satu.. Dua.. Tiga.. "Dungu! Kau tidak apa-apa??" Altair berujar panik. Secepat mungkin Lea mengulum senyumnya. Merubah garis wajahnya detik itu juga. "Huh, sakit..." ringis Lea. Ia membuat wajahnya seolah-olah kesakitan. Altair menggeleng kepalanya sebelum menggendong Lea dari depan. Membawa tubuh wanita itu dalam dekapannya, Altair tidak tahu kenapa, tapi melihat wanita menyebalkan itu jatuh lagi, Altair merasa bersalah. "Kenapa? Biarkan aku berjalan sendiri. Turunkan aku!" rajuk Lea pura-pura. Altair menghiraukan itu, membawa tubuh Lea semakin erat, sehingga posisi mereka begitu dekat. Lea dapat mencium aroma lelaki itu, mendengar deru nafasnya, juga sebutir keringat yang turun dipelipisnya. Lea menyukai itu, ia seolah-olah tersesat dalam semua--tindakan Altair. "Aku membenci Sean. Seharusnya kau tahu itu." kata Altair akhirnya. "Tapi dia berbohong! Aku tidak memintanya masuk keapartemenku!" yakin Lea sekali lagi. Altair hanya berdehem, berjalan pada semua lorong apartemen ini, membuat langkah yang kian lama semakin pelan--Altair membawa tubuh Lea semakin tinggi dan mengecup pelan bibir wanita itu. "Aku cemburu." jujur Altair kemudian. Meninggalkan Lea yang sudah mematung dalam gendongan Altair. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN