Ada dua manusia yang diciptakan untuk bersama.
Saling mengisi sesama dan berakhir menjadi cerita.
Semua kejadian dapat dicerna pada baris yang seharusnya.
Pada angan yang memuncak tanpa terkira,
mungkin kenyataan untuk bersama semakin menghipnotis seluruh pikiran.
***
Ada rasa suka yang datang karena terbiasa..
Ada nyaman yang terus bersarang tanpa terkira..
Dan, ada keinginan untuk memiliki disaat raga terpaut mengagumi tanpa henti.
Pada apa-apa tentang mereka, memahami lebih baik lagi adalah jalan yang akhirnya dipilih.
Altair tidak tahu bagaimana sumpahnya untuk tidak ingin berurusan dengan wanita bisa dia lewatkan begitu saja. Bagaimana keinginan untuk tidak mencintai kembali bersarang dibenaknya.
Semua itu karena Lea. Wanita menyebalkan yang kini menyerang pikirannya secara tidak sopan dan terus-terusan.
Mendapati dirinya dipagi hari, berakhir disofa apartemen Lea, menjadi hal yang wajar bagi Alair saat ini.
Altair mengecek handphonenya pertama, takut-takut David atau Clarissa menghubunginya, mengingat dia tidak ada pulang kerumah sejak kemarin. Namun, menemukan bahwa segalanya masih aman Altair mengelus d**a.
Dia angkat dari tidurnya, berjalan untuk membasuh wajahnya pada kamar mandi yang tersedia, Altair ingin membuat sesuatu yang sama saat pertama kali dia datang kemari.
Lagi pula, wanita menyebalkan itu masih tertidur, tebak Altair asal. Biar dia yang mengambil alih semua itu. Menjadi sosok yang mungkin mampu membut dia seolah-olah sebagai tempat penting bagi Lea.
Altair menyiapkan semuanya, berterimakasihlah Lea karena jiwa memasak Altair patut dikasi nilai memuaskan.
Dan Altair mulai memasak sesuai dengan barang-barang yang tersedia. Bagaimana senyum diwajahnya terukir tanpa henti. Altair kini memahami apa sebabnya.
???
Lea membuka mata perlahan, tidak hanya sinar matahari pagi yang membangunkannya, melainkan karena aroma sedap dari dapurnya.
Mengabaikan semua perkataan Altair semalam, Lea berhenti membahasnya. Namun ukiran diwajahnya tak bisa membohongi itu. Juga bagaimana jantungnya berpacu tidak normal, Lea tahu. Ini menjadi akhir yang kacau dan tidak masuk akal.
Buru-buru Lea angkat dari posisinya, bagaimana kondisinya saat bangun tidur, bukan lagi menjadi bagian terpenting karena Lea tahu Altair sudah sering melihatnya seperti ini. Lea dibuat seolah-olah pernah hidup bersama Altair, dikehidupan sebelumnya. Ketika tanpa sadar ia terkekeh mendapati pikiran absurd itu.
Pelan-pelan Lea melangkah, mengingat kakinya belum terlalu lihai untuk meliut kesana-kemari. Dan bersyukur karena rencananya semalam berhasil total. Mendapati Altair kembali menjadi sisongong nya seperti biasa, Lea begitu menikmati kebersamaan mereka.
Bingung, dari mana sisongong itu dapat masak disaat rumahnya saja sudah tersedia banyak sekali pelayan. Hidupnya bahkan sudah penuh dengan kemewahan, jadi dari mana dia bisa memasak semua itu? Membuat Lea bertanya-tanya dalam hati.
"Wow, aku sudah lapar hanya karena mencium baunya," kekeh Lea ketika ia sudah sampai setelah menghampiri lelaki itu. Lea mengendap-endap kanhidung nya seperti kucing yang mencium makanan.
"Aku tidak memasak untukmu. Jangan kepedean, Lea." sahut Altair cepat.
Dia terkekeh kemudian mendapati wajah masam wanita itu. See, Altair bahkan menyukai bagaimana Lea kini mengontrol degupan jantungnya. Benar-benar sialan!
"Boleh aku bertanya sesuatu?" kata Lea.
"Tergantung pertanyaan--" jawab Altair. Dia tersenyum puas mendapati makanan yang dibuatnya sudah tersaji rapi diatas piring putih disana.
"Ish, tinggal jawab boleh saja sangat sulit keluar dari mulutmu itu!" singgung Lea. Ia sudah mengikuti Altair yang kini tengah berjalan menuju sofa.
Altair terkekeh mendengar gerutuan itu, setelah berada pada posisi nyamannya, barulah Altair menatap fokus wanita dihadapannya ini.
"Apa?" katanya kemudian.
"Siapa wanita yang bersamamu semalam?" tanya Lea akhirnya. Meskipun Sean sudah mengatakannya, Lea ingin mendengar itu secara langsung dari Altair. "Apa karena dia, kau melarangku datang?" sambungnya garang.
"Angel." sahutnya malas. Dia kemudian balas menatap Lea tajam. Mencari-cari sesuatu yang mampu membuat Altair untuk tetap yakin pada apa yang menjadi pilihannya.
"Angel?" ulang Lea seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Angel Danilova Kenrick." jelas Altair. "Dia kembaran Sean,"
"Kau menyukainya?" tuduh Lea langsung.
"Kenapa? Cemburu?" ledek Altair. Dia sudah lahap menikmati makanan buatannya.
"Kalau dia bukan saudara Sean. Apa kau akan menyukainya?" tanya Lea lagi. Tidak tahu kenapa ia begitu ingin membahas wanita itu. Bagaimana Angel terus bergelanyut manja disamping Altair membuatnya risih dan juga gusar.
Lea seorang wanita, ia memahami sorot mata Angel, bagaimana wanita itu terlihat berseri setiap kali melihat Altair. Wanita itu juga alasan Lea berpikir, apakah Serena tahu siapa Angel?
"Kau tidak ingin ini?" tunjuk Altair pada piring kaca berisi omelet telur dadar tersebut.
Lea manyun sesaat, sebelum mulai melahap makanan yang sudah tersisa setengah itu. Mereka makan sepiring berdua, mengingat Altair benar-benar hanya membuat omelet itu satu saja.
"Telur mu habis, jadi aku hanya dapat membuat satu--" jelas Altair.
Membuat Lea mengangguk, ia bahkan sudah berpikir buruk pada sisongong ini.
"Jangan mengabaikan pertanyaanku lagi," singgung Lea karena Altair terlihat tidak ingin membahas itu.
"Apa lagi?" kata-nya malas. Altair berdiri untuk mengambil remot, dia menghidupkan televisi Lea dan kembali ke posisinya.
"Jika Angel bukan saudara Sean. Apa kau akan mencintainya?" ulang Lea lagi.
"Kenapa itu menjadi begitu penting saat ini?" singgung Altair, dia menatap Lea tajam. Menohok mata wanita itu, mencari kebenaran atas rasa ingin tahunya. Namun, berkali-kali Altair melakukan itu, dia kembali pada kenyataan hampa. Altair tidak bisa menemukan apapun, karena Lea selalu membalas tatapannya.
"Tentu saja, kau melarangku datang. Tapi kulihat kalian berbicara begitu dekat," singgung Lea gusar. Ia tidak menyadari suaranya meninggi.
Membuat Altair menyunggingkan senyum gelinya, "Cemburu juga?"
Lea mendengus. "Tidak. Untuk apa?" ulangnya lagi. Meyakinkan Altair bahwa ia memang hanya ingin tahu.
Altair hanya mengedikkan bahu malas. Dia mendekat pada Lea, memberi wanita itu sentuhan pada wajahnya, Altair senang menyapu wajah wanita itu.
Membiarkan Lea tercekat pada semua perlakuannya, menistakan wanita itu dengan semua sentuhannya, Altair menarik dagu Lea perlahan. Membiarkan tatapan mereka beradu, Altair kembali menatap lekat wajah yang sukar dipahami itu. Sulit dimengerti dan segala bentuk kerumitan lain yang harus Altair temui.
"Siapapun dia. Bagaimanapun asalnya. Terlahir sebagai apa dia, meski dia saudara Sean sekalipun. Jika dia mampu membuatku jatuh cinta. Aku tidak peduli apapun itu, selain mendapatkannya." jelas Altair pertama. "Sayangnya, dia tidak mampu membuatku menyukainya. Jadi, kau bisa simpulkan sendiri."
Lea meneguk salivanya. Menghela nafas panjang, terombang ambing oleh perlakuan Altair, Lea kembali tertegun mendengar jawaban itu.
Pernyataan Altair seolah-olah memberi Lea harapan bahwa ia berhak jatuh cinta. Lea berhak mendapatkan perhatian dan rasa sayang, meski bersama seseorang yang tidak seharuspnya mampu membuat Lea terbuai. Tapi ia senang, Lea bahagia. Tidak tahu kenapa, jawaban itu seolah-olah memberi Lea kekuatan untuk tidak terus menyangkal perasaan dihatinya.
Apa mungkin segalanya sudah sampai pada tahap Lea menyukai sisongong itu?
"Apa itu serius? Kau tidak peduli apapun jika seseorang itu bergantung pada sesuatu yang buruk?" kata Lea, tidak tahu kenapa ia mengatakan itu.
Mulanya Altair bingung. Sebelum melanjutkan, "Kau bisa mempercayainya." jelasnya, sebelum menguraikan tangannya diwajah Lea, Altair kembali pada posisinya semula.
"Bagaimana bisa kau jago memasak?" tanya Lea lagi.
"Grandmaku, selalu mengajariku." jawab Altair santai. Kenangannya kembali bertahun-tahun yang lalu. Bagaimana Neneknya selalu sabar mengajaknya memasak.
"Kau terlihat sangat menyayanginya juga," singgung Lea, ia terkekeh kemudian. "Aku pernah mendengar kau juga mahir bernyanyi," sambung Lea lagi.
"Apakah jurusanmu menggosipi orang lain?" tuduh Altair. Dilihat dari banyaknya Lea mendengar semua tentangnya dari orang lain, Altair paham. Wanita itu hobi mencari tahu.
"Ish! Sean yang memberitahuku!" jelas Lea.
"Dia lagi?" kata Altair malas. "Sebaiknya kau pindah apartemen saja." sambungnya kemudian.
Lea mengerutkan dahi bingung, "Untuk apa? Karena Sean mengetahui apartemenku???" tuduh Lea tidak percaya.
"Karena apartemenmu diisi dengan banyak orang aneh," jelas Altair tidak suka.
"Ish! Tidak mau! Aku sudah membayarnya untuk setahun penuh!" sahut Lea tidak terima.
"Aku bahkan bisa membayarnya untuk 10 tahun kedepan," decak Altair malas.
"Hei! Sisongong ini mulai berulah lagi," ketus Lea tidak percaya. "Aku sudah nyaman disini, aku tidak ingin pindah!"
"Aku bisa membeli apartemen yang lebih besar dari pada ini," yakin Altair songong.
Membuat Lea menggeleng kepala tidak percaya. "Aku tidak butuh yang besar!"
"Sayangnya punya ku besar, Lea." kekeh Altair, tiba-tiba dia geli sendiri. Pembahasan mereka melenceng kearah lain karena perkataan Lea.
"What! Apanya bodoh! Hell! Kau m***m!" rutuk Lea cepat. Ia menggelengkan kepala tidak percaya.
Altair tertawa disana. "Kau yang m***m. Aku berkata rumahku yang besar, apa yang kau pikirkan? Mahkotaku ini??" tunjuk Altair pada sesuatu yang terdapat dibalik celananya itu.
"Dasar gila!!" cabik Lea kesal. Ia mengerucutkan bibirnya.
"Beberapa hari kedepan, aku tidak bisa menemuimu." jelas Altair. Dia sudah menahan untuk tidak mengatakan ini, mengingat baru semalam dia menemui wanita menyebalkan itu. Namun entahlah, kini segalanya terasa menjadi sebuah urusan. Mengatakan kepada Lea apa saja yang akan dilakukannya dan kemana saja dia akan pergi, Lea menjadi satu-satunya alasan yang kerap kali Altair hubungi.
Terlihat dari bagaimana Lea menekuk wajahnya, Altair dibuat seolah-olah sangat berarti. Bagaimana wanita itu kini terlihat--entahlah, sedih atau juga kacau.
"Ke--napa?" tanya Lea ingin tahu. Suara-nya gelagapan dan juga payau. Melihat Altair, mengorek tentang Serena menjadi satu-satu nya alasan bahwa Lea sudah mulai terpengaruh.
"Aku harus ke Los Angeles." jelas Altair kemudian.
Lea tidak tahu kenapa ia menggigit bibir bawahnya, ia merasa ingin menangis saat itu juga. Lea memalingkan wajahnya, mencoba untuk fokus pada layar kaca besar diruangan itu. Berharap series disana mampu membendung air matanya. Lea merasa, sepi dan juga kacau. Padahal sebelumnya, ini tidak pernah begini.
"Aku harus membawa Mamaku berobat," ujar Altair lagi.
Lea hanya mengangguk, namun matanya tidak berpaling sedikitpun. Ia pura-pura fokus pada layar kaca disana.
"Jangan mencoba menghindariku. Aku sedang berbicara Lea." tukas Altair tajam.
Lea menoleh, menatap--gamang lelaki menyebalkan itu. "Ya, pergilah Altair."
"Hei! Kenapa kau menangis??" ledek Altair ketika sebulir air bening turun dari mata wanita dihadapannya itu. Altair terkekeh geli, "Aku bahkan belum pergi, dan kau sudah merindukanku??" sambungnya menggoda.
Lea langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia mengubah posisi duduknya, menghindari tatapan mengejek Altair, karena Lea malu bukan main. Tidak tahu kenapa air mata bodoh itu sampai keluar, Lea benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. Sialan!
Altair tertawa puas, dia angkat dari duduknya dan kembali menghampiri Lea. Altair membuat posisi mereka berhadapan, pelan dia meraih tangan Lea, menatap lekat mata wanita menyebalkan itu sebelum tersenyum mengejek. "Papaku tidak bisa mengantar mamaku, jadi aku yang menggantikan nya."
Lea menghela nafas panjang, "Iya, aku mengerti Altair. Sudah kubilang pergilah..."
"Terus, kenapa kau menangis??" tanya Altair penasaran, dia sudah meraih tangan Lea. Menyatukan jari-jari wanita itu dalam rengkuhannya.
"Film itu sangat sedih," Lea beralasan, ia mengarah dagunya pada layar kaca ditengah sana.
Altair spontan menoleh, sebelum kembali tertawa lepas. "Aku baru tahu, wanita menyebalkan sepertimu menangisi kartun aneh itu," ledek Altair.
"Bukan urusanmu!" cetus Lea malas. "Pergi sana, kau harus mempersiapkan segalanya," sambungnya kemudian.
"Sudah tiga kali kau menyuruhku pergi. Bagaimana aku dapat tenang, jika kau saja menangis?" Altair berujar sambil merengkuh jemari Lea semakin kuat. Memberikan tatapan tegas pada wajah yang sedang memalingkan muka dihadapannya.
"Aku bukan menangisimu!" kata Lea mempertegas itu.
"Oke-oke. Mari kita anggap seperti itu," kekeh Altair lagi.
"Berapa lama?" tanya Lea akhirnya.
"Hanya seminggu." sahut Altair cepat. "Setelah itu, kita akan menyelesaikan segala hal yang sudah kita mulai." sambungnya lagi.
Lea berusaha memahami itu. Mencerna baik-baik perkataan sisongong dihadapannya. Bagaimana Altair menyentuh tangannya, bagaimana tatapan lelaki itu menghujaninya, apakah Altair akan meninggalkannya setelah ini? Bagaimana mungkin? Lea bahkan belum menemukan titik terang atas kasus Serena. Tidak, ini tidak boleh berakhir begini saja.
"K-kau akan meninggalkan-ku...??" tanya Lea gelagapan. Jantungnya terasa berhenti berdetak, hanya karena menunggu jawaban dari Altair.
Altair mengedikkan bahu. Menyunggingkan senyum menyebalkan itu sebelum mengacak rambut Lea pelan, "Tunggu setelah itu, kita akan memulai segalanya,"
Lea semakin mengerutkan dahi bingung. Tidak mengerti pembicaraan Altair mengarah kemana. "Ma-maksud mu?"
"Sudahlah. Aku lelah berhadapan dengan wanita dungu sepertimu,"
Lea mengerucutkan bibirnya lagi, "Kau membingungkan bodoh!"
"Jadi, jangan pernah punya pikiran mengundang lelaki lain keapartemen ini. Tidak untuk Sean, tidak juga dengan lelaki berkacamata itu," kata Altair menyinggung.
"Maksudmu Pietro? Hei! Dia sahabatku! Dia bahkan lebih dulu mengenalku," sahut Lea tidak terima.
"Terserah. Itu aturan jika kau ingin mengenalku lebih jauh lagi." tegas Altair, dia sengaja mengatakan itu.
Membuat Lea mendengus dan menatap gusar Altair. Sisongong ini benar-benar sangat posesif. Lea bahkan belum menjadi siapasiapa nya. Hell! Tidak waras!
"Aku memang ingin mengenalmu, tapi bukan bearti kau bisa melarang dengan siapa aku berteman," protes Lea tidak terima.
"Tidak ada persahabatan antara wanita dan laki-laki." singgung Altair.
"Ada! Aku dan Pietro buktinya!" sahut Lea cepat.
Altair hanya terkekeh sebelum berbisik ditelinga Lea. "Kau tahu, setiap kali kita bersama, sahabatmu itu terlihat seperti ingin menerkamku,"
"Itu karena kau sangat songong Altair!" sahut Lea cepat.
Altair hanya mengedikkan bahu dan mulai mengambil jaket kulitnya. Memasang jaket itu ditubuhnya, dia juga meraih kunci Jeepnya. "Malam ini aku berangkat,"
"Ma-malam ini??" kata Lea lagi. Ia berlonjak dan juga kaget. "Kenapa secepat itu??"
"Lusa jadwal konsultasinya," jelas Altair.
"Jika syarat darimu aku tidak boleh bersama Sean dan Pietro. Aku juga ingin mengajukan sesuatu," tukas Lea kemudian.
Altair menautkan kedua alisnya, menyimpan tangannya pada saku celananya seraya berujar, "Apa? Ingin kissing dariku?" godanya disana.
Lea menggeleng cepat. "Bukan itu!" katanya keki. "Nyanyikan satu lagu untukku sebelum kau berangkat," pinta Lea akhir-nya.
Altair terlihat mengimang itu untuk sesaat, sebelum mengangguk. "Bukan masalah besar. Sebaiknya kau pegang syarat dariku." jelas Altair. "Cukup semalam aku lihat kau mengabaikan perkataanku, tidak ada setelahnya lagi." sambung Altair memperjelas.
Lea hanya terus menatap sisongong itu. Tatapan tidak rela bahwa Altair harus pergi untuk sepekan.
Altair hanya mengedipkkan sebelah matanya, "Mungkin, aku akan merindukan celotehan menyebalkanmu selama seminggu kedepan,"
"Aku juga." katanya payau. "Berhati-hatilah. Salam untuk Tante Clarissa."
Altair mengangguk dan mulai melangkah pergi. Meninggalkan Lea yang terus menatap punggung itu sedih.
Lea menundukkan kepala dalam, tidak apa, hanya seminggu. Lagi pula apa yang ia harapkan? Altair bukan siapa-siapa nya. Mereka hanya dua orang asing yang belum menata perasaan mereka. Jadi, untuk apa semua hal konyol dan gila ini?
Tapi Lea bersumpah, ia tidak rela punggung itu semakin menjauh. Lalu ketika sebuah langkahan kaki yang kembali semakin mendekat itu, membuat Lea menengadahkan kepalanya.
Disana, Lea menemukan Altair berjalan mendekat.
Dua langkah..
Satu langkah..
Altair meraih wajah Lea cepat, menangkup wajah wanita menyebalkan itu sebelum menciumnya nakal. Menikmati bibir wanita itu dalam, Altair menautkan lidahnya didalam sana.

Lama..
Penuh hasrat..
Dan juga gila..
Altair menyudahi itu. Menatap lekat mata Lea dan berbisik pelan ditelinga wanita itu.
Sangat dekat..
Sehingga Lea terhipnotis oleh deru nafas Altair..
"Mungkin, aku akan lebih merindukan ciuman kita." kekehnya geli. "Jadi, berhenti menangis. Kau sudah terlihat seperti sangat mencintaiku."
Setelah mengatakan itu Altair berlalu. Hilang dari balik pintu utama apartemen tersebut.
Meninggalkan Lea yang sudah lunglai diatas sofanya.
Sialan! Altair benar-benar ingin membunuh-nya jika seperti ini terus!
???