Ursula

2219 Kata
Tak bisa berhenti. Tak bisa terpungkiri. Kini sebuah nyaman bersarang dihati. Membeku disebagian hati. Pada semua hal konyol yang kini mulai berarti. *** Altair baru sadar, ketika pesawat pribadi keluarga Kennedy surah mendarat diatas apartemen mewah di Los Angeles.  Setelah melakukan penerbangan selama 18 jam. Dibantu 5 orang pelayan yang ikut, juga mbok Tuti--mereka dikhususkan untuk menjaga Clarissa. Atas perintah David tentu saja. David akan menyusul setelah urusan perusahaan selesai. Jadi, kedatangan Altair dan Clarissa sudah disambut oleh 3 orang dengan jass dan pakaian rapi. Tidak perlu dipertanyakan, sudah pasti itu orang suruhan Papanya. Mengingat Kennedy memiliki banyak sekali property dan juga usaha lainnya hingga keluar negeri. Altair mendorong Clarissa dengan kursi rodanya, mereka langsung memasuki apartemen mewah yang memang menjadi tujuan utama setiap datang kemari. "Altair?" tegur Clarissa pelan. Altair sedikit membungkuk, "Kenapa mom?" katanya penasaran. "Kenapa diam saja? Biasanya Altair paling semangat jika sudah kesini," tegur Clarissa. Dia tahu betapa anaknya itu sangat senang jika mereka akan konsultasi keluar negeri. Meninggalkan segepuk tugas kuliah, Clarissa paham Altair menyukai negara ini. Tapi, mendapati Altair yang terus memainkan handphonenya dan tidak banyak bicara, membuat Clarissa heran. Bingung dan juga tidak seperti biasanya. Altair tersenyum kemudian, dia semakin mendekatkan wajahnya agar Clarissa dapat melihatnya. "Aku hanya sedang banyak pikiran mom." "Kenapa? Ada masalah?" tanya Clarissa khawatir. Altair menggeleng cepat. "Tidak mom. Bukan masalah besar," jelas Altair. Dia tidak ingin membebankan Clarissa. Karena memang tidak ada yang terjadi. Altair hanya sedikit merindukan wanita menyebalkan itu. "Karena Lea?" tuduh Clarissa langsung. Mendapati Altair jarang pulang kerumah dan membawa Lea kerumah mereka, Clarissa bisa langsung menyimpulkan itu. Bahkan, hanya dengan melihat senyum Altair, Clarissa paham anaknya memang sedang jatuh cinta. "Hei, bukan mom! Kenapa jadi wanita menyebalkan itu??" tolak Altair langsung. Suaranya tercekat, Altair tahu Clarissa pasti menertawakannya setelah ini. "Jangan mencoba membohongi mommy. Itu jelas sekali Altair." goda Clarissa. Altair hanya terkekeh pelan. Memang tidak pernah ada anak laki-laki yang berhasil membohongi mamanya. Semuanya pasti gagal, sama seperti Altair saat ini. Melihat Altair tak kunjung menjawab, Clarissa berujar lagi, "Jika Altair sangat merindukannya, kenapa tidak suruh saja dia ikut dengan kita?" Altair tersedak saat itu juga. Detik selanjutnya dia terkekeh. "Mom--sudahlah," "Apa kita suruh Papa membawanya kemari? Ikut menyusul?" timpal Clarissa lagi. Dia semakin gencar menggoda Altair. "Mom--" kata Altair lagi. "Aku tidak apa-apa," "Tidak mungkin. Kau terlihat sangat resah Altair. Mama tahu itu," sahut Clarissa lagi. "Oke-oke. Baiklah, begini Lea dua hari lagi ulang tahun," jujur Altair akhirnya. "Iya, lalu? Apa yang menjadi urusanmu? Altair memikirkan kadonya??" ledek Clarissa lagi. Dia jauh lebih bersemangat. Altair memang selalu menceritakan banyak hal kepadanya, entah itu tentang kuliahnya atau sahabatnya. Clarissa pernah muda, dia sudah melewati masa-masa itu. Mendapati anaknya kebingungan, dia berusaha untuk membantu menemukan jalan keluarnya. "Aku sudah memikirkan kadonya, mom. Aku hanya tidak ada dihari spesialnya," jawab Altair murung. Aneh! Benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana Lea bisa mempengaruhi seluruh pikirannya sampai pada hari ini, Altair sangat tidak habis pikir. Dia tidak pernah seperti ini, memusingkan seorang wanita hanya karena begitu ingin hadir dihari spesialnya. Altair tidak pernah begini, mendapati hatinya yang tenang setiap kali bersama wanita itu, Altair menyimpulkan ini. Bahkan jika memang Lea tidak memiliki perasaan yang sama, Altair tahu. Dia sudah jatuh cinta kepada wanita menyebalkan itu. Terlihat dari bagaimana semalam Altair lebih memilih berdebat dengan David hanya karena dia ingin pergi keruang studio untuk merekam sebuah lagu demi Lea. Altair tidak peduli, meskipun Papanya terus memaksanya untuk segera bersiap-siap. Bagi Altair, perjanjian mereka adalah yang utama. Syarat dari Lea tidak ingin dia abaikan begitu saja. Mendapati dirinya seperti itu, meski pada rentan waktu yang tidak tahu sejak kapan, Altair sudah menginginkan wanita itu. Dia menginginkan Lea. Wanita menyebalkan yang berhasil membuatnya membuang segala hal tentang Serena. Mungkin... Lea berhasil mencuri hatinya... Tapi kenapa... Kenapa harus wanita menyebelkan itu? Huh! Tidak bisa Altair bayangkan bagaimana wanita itu akan menertawakannya, jika ia sampai tahu. Jadi mengirimkan sepenggal videonya bernyanyi, Altair hanya berharap, Lea juga menepati syarat yang diberikan olehnya. Hell! Altair sudah mulai kehilangan akal.. "Apa Altair ingin pulang?" tanya Clarissa--suaranya terdengar sedih. Cepat Altair menggeleng, "Tidak mom. Aku lebih memilihmu tentu saja." "Tidak apa sayang, setelah Papa datang, Altair boleh pergi. Biar Papa yang menemani Mama disini," jelas Clarissa. Kebahagian anaknya ada pada daftar nomor satu hidupnya. "Hmm--nanti ku pikir lagi," ujar Altair akhirnya. ??? Lea masih berkutat dengan kelakuan konyolnya sejak semalam. Memandangi handphonenya dengan senyum yang tak kunjung meredam. Lea tahu betapa gila apa yang ia lakukan ini, mendapati sebuah video Altair yang dikirim oleh lelaki itu semalam, Lea memutar dan mendengarnya berkali-kali. Bagaimana ukiran senyum diwajahnya semakin berseri-seri hanya karena sebuah video yang sisongong itu berikan.  Disana, bagaimana Altair merekam lagu itu dengan senyumnya, benar-benar meruntuhkan seluruh pertahanan Lea. Wajah songong yang menyebalkan itu, senyum menjengkelkan yang Altair berikan pada video itu, juga suara serak dan berat yang Altair tampilkan disana benar-benar menghujani Lea dengan perasaan kacau. Lea--mendengarkan itu berkali-kali. Memutarnya seperti orang bodoh yang tengah jatuh cinta. Bagaimana tawanya tertahan dengan senyum yang terus tersimpul rapi. Bahkan, dikampus pada semua mata kuliah yang terjadwal, Lea melakukan hal yang sama. Mencuri-curi saat ada kesempatan hanya untuk mendengar suara berat lelaki songong itu. Seminggu saja belum berlalu, lantas kenapa Lea terasa sudah merindukan sosok Altair? Benar-benar b******n sialan. Lea sudah terpesona oleh semua kesongongan lelaki itu. Lea mampu menahan segala hal, sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan. Perasaan nyaman yang terus-terusan ditepisnya. Namun, mendapati bagaimana Altair mampu membuatnya mengabaikan semua itu, menemukan Altair pada pagi hari melelahkan dan juga mendapati bagaimana ciuman dan perlakuan mengejutkan yang dia berikan pada Lea. Bagaimana bisa Lea menahan itu? Bagaimana caranya Lea menepis itu, disaat pikirannya saja kini berpusat dengan bagaimana perasaan Altair terhadapnya. "Kakimu sepertinya sudah baik-baik saja?" Pietro menegur ketika kelas mereka sudah berakhir. Buru-buru Lea mengunci handphonenya, ia tidak ingin Pietro mendapati dirinya tengah tersenyum hanya karena sebuah rekaman video. Lea mengangguk cepat. "Ini jauh lebih baik," "Mau kuantar pulang??" tawar Pietro lagi. Lea menggeleng cepat. Mendapati Altair menepati syarat yang Lea berikan. Lea juga akan melakukan hal yang sama, sudah cukup mendapati sisongong itu gusar hanya karena Lea datang bersama Sean, tidak bisa Lea hayalkan jika Altair menemukannya bersama Pietro. Seharusnya Lea tidak peduli, Pietro sahabatnya. Mereka sudah lama berteman. Tapi bagaimana perkataan Altair mempengaruhi seluruh pikirannya. Lea jadi terus memikirkan itu. "Hmm--aku sudah berjanji pulang bersama Dryna," sahut Lea lagi. Meskipun itu sebuah kebohongan karena Lea juga terus menghindari Dryna, tidak tahu bagaimana menyampaikan apa yang diketahuinya tentang kematian Serena, karena setiap kali bersama Altair, Lea tidak menemukan apa pun. Semuanya menjadi--buntu. Pietro mengangguk. "Kau sudah jarang pergi denganku." singgungnya kemudian. Lea mengerjapkan mata, merasa bersalah. Ia tahu Pietro tengah menyinggungnya. Apalagi mereka baru saja berbaikan, setelah kejadian Lea memilih Altair kemarin. Tapi, bagaimana lagi. Sepertinya Lea jauh lebih mengkhawatirkan Altair daripada sahabatnya itu. "Maafkan aku.." kata Lea akhirnya. Pietro hanya mengedikkan bahu seraya berlalu. 'Lea sudah benar-benar berubah.' batinnya. Kelas sudah berakhir, setelah Pietro meninggalkannya Lea pikir ia bisa langsung pulang. Ketika sebuah suara menyebalkan kembali terdengar. "Hei, kenapa tuan putri ini belum pulang?" teriak Sean. Dia menyamakan posisinya dengan Lea. Lea menatap gusar lelaki dihadapannya. Tidak tahu dari mana Sean datang, Lea bahkan tidak menemukan lelaki ini sejak mata kuliah tadi pagi. "Diamlah Sean. Kenapa kau berkata ngawur kemarin??" rutuk Lea kesal. Karena Sean, ia bertengkar dengan Altair. Sean hanya terkekeh, dia menyunggingkan senyum mengejek mendapati kekesalan wanita dihadapannya. "Aku hanya ingin bergurau dengannya," "Altair jadi marah!" gusar Lea lagi. "Dia cemburu, lebih tepatnya." ralat Sean kemudian. "Kau harus tahu ini Lea, jika Altair menyukai seseorang, dia tidak ingin membagi miliknya dengan yang lain." jelas Sean lagi. Lea mengerutkan dahinya, berusaha mencerna perkataan lelaki itu. "Maksudmu?" "Maksudku, aku ingin mengajakmu pulang bersama." timpal Sean kemudian. "Tidak Sean! Aku sudah berjanji dengan orang lain," tolak Lea lagi, persis seperti apa yang dikatakannya kepada Pietro tadi. Lea pikir Sean akan mengerti, ketika lelaki itu terkekeh detik selanjutnya. "Janjian dengan orang lain? Benarkah? Atau Altair melarangmu dekat denganku?" tuduhnya langsung. "Terserah kau saja." jawab Lea malas. "Lagi pula Altair tidak ada disini, apa yang kau takutkan?" goda Sean lagi. Lea meneguk salivanya, "K-kau? Bagaimana kau tahu?" "Sudah kukatakan, aku mengenal Altair lebih baik dari siapapun." kekeh Sean disana. "Kenapa kalian bertengkar?" tanya Lea penasaran. Ia baru mengingat foto Altair, Sean dan satu orang lagi yang terpajang dirumah Altair waktu itu. "Jalan denganku untuk satu cerita." goda Sean lagi, dia mengedipkan sebelah matanya. "Ish! Jangan bercanda." decak Lea gusar. "Tidak mau? Tidak masalah. Aku tidak memaksamu." kekeh Sean lagi. Lea mengimang itu, tapi kembali lagi pada semua perlakuan Altair dan syarat yang diberikan, Lea menghela nafas untuk kemudian menolak Sean kembali. Bahkan, meskipun Altair tidak tahu karena mereka berada di Negara yang berbeda, Lea tetap saja merasa mata lelaki itu seakan--mengawasinya. Lagi pula, Lea bisa mendapatkan cerita tu dari Altair nanti. Tentu saja, Altair bahkan menceritakan masalah Clarissa kepadanya. "Hmm--bagaimana saudara kembar mu?" cetus Lea kemudian. Teringat kembali pada wanita sexy malam itu. "Tidak tahu. Sepertinya dia pergi bersama Papaku." jawab Sean kemudian. Menghiraukan itu Lea menanyakan hal lain yang mengganjal dihatinya. "Sejak kapan dia menyukai Altair?" "Sejak dia lahir," kekeh Sean geli. Membuat Lea mengerucutkan bibirnya. "Pergi sana--" usir Lea kemudian. "Baiklah tuan putri, aku akan pergi. Sebelumnya, berhentilah tersenyum hanya karena video sisongong itu. Kau terlihat seperti orang gila," ledek Sean. Setelahnya, belum sempat Lea menjawab, lelaki itu sudah berlalu dengan kekehan geli diwajahnya. Sialan! Darimana Sean tahu? Apakah sejak tadi dia duduk dibelakang Lea? Mengamati semua hal yang Lea lakukan?? Astaga!! Tidak Altair! Tidak Sean! Kedua b******n itu selalu membuatnya keki. Huh!! ??? Altair terbangun setelah lelah dengan perjalanan panjangnya. Hal pertama yang dilakukannya bukan lagi bangun untuk merenggangkan ototnya. Melainkan langsung membuka handphonenya. Jika sebelumnya Altair jarang peduli pada benda pipih itu, kini mendapati pesan dari wanita menyebalkan disana menjadi satu-satunya alasan Altair mengecek benda itu terus-terusan. Senyum mengembang diwajahnya, mendapati pesan dari Lea membuat pikiran Altair normal kembali. Menghiraukan pesan dari wanita menyebalkan itu sesaat, Altair bersiap-siap terlebih dahulu, mengingat jadwalnya membawa Clarissa berjalan-jalan. Tidak perlu waktu lama bagi Altair untuk mempersiapkan diri. Dengan kaos hitam dan coat berwarna senada dia kembali fokus pada handphonenya. Wanita Gila Kau sedang apa? Wanita Gila Hei songong, balas pesanku! Wanita Gila Kau hanya membaca tanpa berniat membalasnya? Altair terkekeh membaca serentetan rutukan dari wanita menyebalkan itu. Bahkan setelah banyak sekali pesan yang mereka tukar semalamam, seakan tak membuat perdebatan mereka habis. Selalu saja ada banyak hal yang mereka bicarakan. Altair kemudian mengirim fotonya kepada Lea. Tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Kini, bertukar foto menjadi sesuatu yang sering terjadi dalam pesan mereka.  Sialan! Karena hanya karena foto itu, mood Lea kembali membaik. Benar-benar tidak masuk akal! Altair Ataya Aku sedang bersiap-siap tadi. Altair Ataya Kau cerewet sekali. Altair Ataya Seperti Grandma ku! Lea langsung membalas pesan itu cepat. Tidak tahu kenapa, hanya karena bertukar pesan seperti itu dapat membuat hati-nya tenang dan juga nyaman. Wanita Gila Kau mau kemana? Wanita Gila Tumben sekali memakai coat seperti itu, jelek. Altair kembali bersender diatas ranjangnya. Bagaimana berdebat dengan Lea menjadi kesenangan tersendiri baginya. Altair Ataya Disini musim dingin dungu! Altair Ataya Apa yang kau lakukan? Mendapati kiriman foto dari Altair membuat Lea melakukan hal yang sama. Cepat Lea merapikan rambutnya, menyimpul rambut panjang itu asal, kemudian melakukan selca berkali-kali. Wanita Gila Jangan merindukanku?  Wanita Gila Bawakan aku oleh-oleh ya hehe  Altair tidak hanya tersenyum. Dia memandang foto itu lama. Bagaimana ekpresi menyebalkan Lea berhasil membuat pikirannya kacau kembali. Altair menyimpan foto itu pada galerinya. Bahkan ketukan dari Mbok Tuti tidak dihiraukannya hanya karena sebuah foto menggemaskan disana. "Tuan muda, Nyonya sudah menunggu didepan." teriak Mbok Tuti kemudian. "Iya. Aku akan keluar sebentar lagi." sahut Altair. Setelah itu buru-buru Altair membalas pesan Lea. Altair Ataya Hell, kenapa berpakaian seperti itu. Kau ingin memamerkan d**a yang tidak indah itu?? Altair Ataya Tidurlah. Disana pasti sudah malam. Aku akan pergi. Altair Ataya Setelah itu akan kukabari lagi. Altair Ataya Cium dulu. Baru oleh-oleh:p Altair Ataya Gdnight. Ursula! Altair menyimpan handphonenya didalam saku. Setelah itu, dia berlalu menghampiri Clarissa. Jika memang David datang, Altair tidak punya pilihan, dia harus pulang ke Indonesia--secepatnya. Karena wanita menyebalkan itu, sudah membuat Altair merindukan ciuman mereka. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN