Masalah Lain

2187 Kata
Mungkin benar--jatuh cinta itu datang dengan sendirinya. Tanpa terkira, tanpa diminta. Kemudian, menimbulkan perasaan nyaman dan ingin memiliki, tahap itu menjadi bagian terpenting. Bagaimana wajahnya ingin terus kita lihat. Bagaimana suaranya menjadi bagian paling kita rindukan. Juga sebentuk keinginan untuk tetap bersama. Celaka, karena jatuh cinta itu semua terkikis tanpa sisa. *** Lea tersadar karena bel apartemennya terus berbunyi. Ia meringis pertama, kesal karena tidurnya terganggu. Semalam, bagaimana Lea berkutat dengan handphonenya hanya karena menunggu balasan dari Altair membuatnya terus memandang bendah pipih itu. Berjam-jam Lea melalukan hal yang sama. Menunggu dan terus menunggu hingga matanya lelah, dan ia berakhir tertidur seraya mendengar rekaman video yang dikirim Altair. Jika semua orang menganggapnya aneh. Lea menepis itu. Tidak tahu karena sudah sejak dulu, jika Lea menyukai sebuah lagu, ia akan mendengarkannya berkali-kali. Nanti, jika ada lagu baru yang menarik ditelinganya, barulah Lea mengganti lagu sebelumnya. Aneh memang. Tapi sudah sejak dulu seperti itu. Bel yang kembali berbunyi menyadarkan Lea. Jika itu Dryna, Lea yakin sepupunya itu sudah pasti langsung masuk. Dan jika itu Pietro, sahabatnya itu akan lebih dulu menghubunginya. Lea mengerutkan dahi bingung, pusing sendiri memikirkan siapa yang berkunjung sepagi ini. Ketika pikiran Lea langsung terarah pada Sean. Huh, bisa runyam urusannya. Lea mengintip dari balik lubang kecil pintu apartemen itu. Detik selanjutnya cepat Lea membuka pintu itu. Dia menemukan Gavi--ayah nya sudah berdiri disana. "Ayah? Apa yang kau lakukan disini??" jerit Lea senang. Ia langsung memeluk tubuh kokoh itu. Gavi terkekeh, "Tidak boleh Ayah mengunjungi putri sendiri?" "Bu-kan begitu. Tapi kenapa mendadak sekali. Katanya Ayah sedang keluar kota??" tanya Lea lagi. Gavi mengecup pangkal kepala Lea. Begitu merindukan gadis kecilnya ini. Tidak peduli berapa pun usia Lea, bagi Gavi putrinya itu tetap gadis kecilnya. "Hanya ingin memberi ini kepada anak ayah," kekeh Gavi geli. Dia memberi bingkisan kecil ketangan Lea. Lea menerima itu, menatap Ayahnya lekat kemudian memeluk Gavi kembali. "Ayah--terimakasih..." "Sama-sama sayang. Maafkan ayah belum bisa memberi contoh yang baik untuk Lea." ujarnya sedih. Lea menggeleng cepat. "Tidak ayah. Kau selalu menjadi ayah terbaik didunia ini..." sahut Lea tulus. Gavi terkekeh, "Selamat ulang tahun. Biarkan Ayah menjadi yang pertama menyampaikan ini." Lea berlonjak, mengerutkan dahi untuk sesaat sebelum tersadar. "Astaga, Lea bahkan melupakannya yah." kekehnya geli. "Ayah tidak mungkin melupakan hari kelahiran anak ayah." jelas Gavi lagi. "Besok yah, seharusnya ayah mengucapkan besok. Ini belum tanggalnya. Ayah curang," rutuk Lea kemudian. "Tidak apa. Ayah mau jadi yang pertama." sahut Gavi lagi. "Ish tapi ini belum tanggalnya," protes Lea lagi. "Tidak apa, ayah harus pergi lagi setelah ini." ujar Gavi sedih. "Kenapa? Tinggalah sehari disini ayah." paksa Lea. Ia masih bergelantungan manja ditangan kokoh ayahnya tersebut. "Tidak bisa Lea. Ayah tidak ingin melibatkan mu dalam bahaya..." jelas Gavi kemudian. "Ayah tengah melarikan diri??" tanya Lea takut. Gavi mengangguk cepat. "Hanya sebentar, tapi ada Om Baron yang menjaga rumah." "Lea tahu." katanya. Tanpa sadar suaranya tercekat, Lea tidak ingin Ayahnya terluka. Tidak akan pernah. Cukup sudah Lea kehilangan Vera--Ibu nya. Kini tidak akan pernah Lea biarkan siapapun menyakiti Ayahnya. Gavi kembali memeluk anaknya itu. Pelukan kerinduan dan juga sayang yang selalu berusaha dia berikan. Meski menggunakan cara yang buruk, karena semua ini demi kebahagiaan anaknya. Tidak ada yang Gavi pikirkan selain bagaimana hidup anaknya akan terjamin dan juga bahagia hingga nanti. "Ayah harus pergi sekarang..." decak Gavi lagi. Lea mengerucutkan bibirnya. Menjadi anak yang paling manja setiap kali berhadapan dengan Gavi. "Huh, Lea masih merindukan ayah..." "Nanti, ayah akan berkunjung kembali." ujar Gavi menyemangati. "Ayah akan pulang kerumah??" tanya Lea takut. "Sepertinya itu ide yang buruk--" "Tidak sayang. Ayah akan kesebuah desa kecil ditengah hutan. Menemui teman ayah disana untuk beberapa minggu kedepan." Lea menatap lekat ayahnya. "Apa om Baron baik-baik saja?" tanya Lea. Mengingat sesuatu yang buruk terjadi terakhir kali. "Om Baron baik-baik saja. Dia selalu punya cara sendiri. Lea tahu kan?" yakin Gavi kemudian. Lea mengangguk mantap. "Syukurlah. Lea pikir sesuatu yang buruk terjadi." "Tidak mungkin sayang. Om Baron sangat hebat menyembunyikan dirinya," kekeh Gavi. Lea hanya mendengus mendengar itu. "Sebaiknya Lea jangan pulang dulu ya. Tetap diapartemen saja," pinta Gavi kemudian. Lagi, Lea mengangguk paham. Bagaimana semua kesulitan yang terjadi kepada keluarganya, Lea tidak punya pilihan selain tumbuh dewasa seorang diri. Mendengarkan semua permintaan Ayahnya dan juga berusaha kuat untuk dirinya sendiri. "Ayah, berhati-hatilah. Selalu kabari Lea ya..." ucapnya sedih. Gavi mengangguk, mencium kembali pangkal kepala anaknya sebelum berujar, "Ayah menyayangimu Lea..." Lalu Gavi berlalu dan hilang dari balik pintu disana. Meninggalkan Lea yang ternyata sudah menangis dibuatnya. Bagimana kesulitan yang terjadi pada Gavi, membuat Lea terus memikirkan itu. Menyalahkan takdir, karena Tuhan begitu tidak adil memperlakukan hidupnya. ??? "Mom? Kenapa Papa lama sekali?" rutuk Altair kesal. Setelah membawa Clarissa berkeliling Hollywood, panggilam dari David membuat Altair dan Clarissa terpaksa menghentikan kesibukan mereka. Altair dan Clarissa sudah berada di cafe mewah yang terletak tidak jauh dari apartemen mereka. "Bersabarlah sayang. Sebentar lagi Papa akan tiba." jelas Clarissa pelan. Dia tersenyum geli melihat tingkah anaknya itu. "Sudah membeli kado untuk Lea?" tanya Clarissa lagi. Altair menggeleng cepat. Dia sudah berencana memilihkan hadiahnya setelah David datang. Dan keresahan Altair bertambah, sebenarnya itu lebih karena pesannya tak kunjung dibalas wanita menyebalkan itu. Altair jadi terusik sendiri. Panggilannya tidak diterima, pesannya tidak dibalas. Altair terus memikirkan hal buruk untuk itu. Berasumsi sendiri mengenai apa saja yang Lea lakukan disana, membuat Altair gusar membayangkan itu. "Lea tidak membalas pesanmu?" tebak Clarissa lagi. Altair mengangguk. Ini benar-benar sudah tidak masuk akal. Jika sebelumnya setiap konsultasi Clarissa, Altair adalah orang yang paling bersemangat, kini dia malah ogah-ogahan. Bagaimana perdebatan dan celotehan menyebalkan Lea kini semakin berputar dikepalanya. Sulit mengatakan ini, tapi Altair sudah terlanjur merindukan wanita itu lagi dan lagi. Clarissa menggeleng, meskipun anaknya itu berusaha untuk tetap tenang, Clarissa paham ada sesuatu yang mengganggu pikiran Altair. Altair terlihat sangat mirip dengan David. Bagaimana suaminya itu berusaha tenang, namun pandangannya terus terlihat kalut. "Altair--itu papa sudah datang." tegur Clarissa. Altair langsung menoleh. Matanya menatap tajam seorang wanita yang bergelanyut manja disebelah papanya. Detik itu juga Altair tersedak. "Mom! Kenapa Angel bisa ikut kemari???" protes Altair tidak terima. Clarissa hanya terkekeh sebelum melanjutkan, "Lihat, Haden dan Valerina juga ikut." Altair mengacak rambutnya frustasi. s**t! Apa Sean sialan itu ikut kemari? Sudah cukup meladeni Angel. Altair tidak ingin bertengkar dengan Sean juga. Benar-benar menyebalkan! "Mom--" rengek Altair pelan. "Kenrick dan Kennedy sedang ada urusan bisnis sayang." jelas Clarissa pertama. Angel langsung memeluk Clarissa, sebelum beralih menatap genit Altair.  Meski Altair membuang muka, Angel selalu punya kesempatan menggodanya. "Aku sudah datang sejauh ini, jangan terus memalingkan wajah tampan itu!" rutuk Angel gusar. Perkataannya membuat Clarissa, David, Haden dan Valerina juga ikut terkekeh. Altair menghiraukan rutukan wanita gila itu. Dia berdiri dan memberi salam pada Om Haden dan juga Tante Valerina. Meskipun Altair membenci Sean dan tidak menyukai Angel, Altair tidak pernah sedikitpun menghubungkan masalah mereka kepada keluarga Kenrick. Yeah, lagi pula Kennedy dan Kenrich sudah bersahabat sejak dulu. "Altair, semakin kesini Om lihat kau seperti fotokopian David--" ledek Haden pertama. "No! Altair jauh lebih mempesona dari om David, Dad!" sahut Angel cepat. "Tentu saja, itu karena om sudah menua Angel," timpal David tidak terima. "Hei, siapa bilang kau menua? Kau bahkan masih terlihat sangat muda," sambung Clarissa tidak mau kalah. Semuanya langsung terkekeh. David sudah berada disebelah Clarissa, berkali-kali mencium wajah istrinya itu, sudah dua hari mereka tidak bertemu. Bagaimana David sangat merindukan pelukan Clarissa. Haden dan Valerina hanya geleng-geleng kepala. Bahkan sejak dulu, perlakuan David tidak pernah berubah. Sampai hari ini, meskipun Clarissa sakit, dia terus mencintai istrinya itu. "See, papa dan mamamu bahkan tidak pernah berubah, Altair." singgung Haden lagi. "Mereka selalu romantis. Tidak sepertimu." rajuk Valerina pada Haden. Haden mengelus pangkal kepala istrinya, sebelum meledek. "Jika aku tidak romantis, tidak akan ada Sean dan Putri cantik kita ini." Hal tersebut langsung membuat semuanya terkekeh. Kecuali Altair tentu saja, dia merasa muak dan juga jengah. Apalagi sejak tadi Angel menempel seperti lem disebelahnya. "Pa. Ma--seperti nya aku harus pergi," kata Altair kemudian. Dia sudah bersiap untuk berlalu. "Altair mau kemana?" tanya Valerina pertama. "Dia sudah berjanji dengan temannya." Clarissa yang menyahut. Hal tersebut lantas membuat Altair tersenyum geli. "Iya tante, aku sudah berjanji dengan beberapa temanku." ikut Altair berbohong. Angel angkat dari duduknya, dia tersenyum menyeringai sebelum berujar, "Kalau begitu, biarkan aku ikut dengan Altair ya mom, dad." Altair membelalakkan mata. "Hei, kau baru saja tiba. Seharusnya kau istirahat terlebih dahulu." tolak Altair lembut. Angel terkekeh geli, "Tidak masalah Altair. Kau bisa menggendongku meski aku kelelahan nanti--" "Ta--" "Sudahlah Altair. Bawa saja Angel denganmu." David menengahi perdebatan kedua anak muda itu. "Angel? Kau tidak lelah memangnya?" Valerina menegur anaknya khawatir. Angel mengangguk cepat. "Tidak mom. Aku baik-baik saja. Biarkan aku ikut bersama Altair ya?" mohonnya sekali lagi. Valerina hanya berdeham sebelum mengangguk. Membuat Altair semakin menatap Angel keki. "Oh, dimana Sean? Kenapa aku tidak melihatnya?" Clarissa bertanya penasaran. Matanya menyapu seluruh hal disekitarnya. "Dia tidak mau ikut Clar. Kau tahu anak itu keras kepala," sahut Haden pertama. "Dia bilang akan kencan dengan teman satu kampusnya," sambung Valerina lagi. Hal tersebut membuat Altair langsung menoleh, dia benar-benar kehilangan kendali. Tangannya mengepal, Altair menggeram dia tahu siapa yang dimaksud oleh Valerina. "Sudah seharusnya, aku bahkan tidak sabar menimang cucu!" David menimpal juga. Membuat Altair kini menatap tajam papanya itu. Setelahnya Altair berlalu. Tidak lagi menimbrung disana karena pembicaraannya semakin mengarah pada hal yang tidak Altair inginkan. Jangan lupakan wanita gila yang masih membuntutinya, benar-benar Angel sialan! Dia lebih cocok dipanggil lucifer dari pada angel! "Altair--kita akan kemana?" teriak Angel bersemangat. Altair hanya berjalan cepat, dengan langkah besar, dia tidak mempedulikan Angel. Altair lebih sibuk pada panggilan yang sedang dia lakukan, pesan yang tak kunjung dibalas, membuat d**a Altair semakin bergemuruh. Apa Lea sengaja melakukannya? Apa wanita itu tidak menepati syaratnya? Apa ia telah pergi bersama Sean sialan itu? "Altair!!" teriak Angel kembali. Tidak terima karena sejak tadi dia terus diabaikan oleh lelaki itu. "Apa?" sahut Altair malas. Angel berdecak kesal. Dia menghentak kakinya gusar. "Kau ini! Aku sedang mengajakmu bicara. Kenapa terus memainkan ponsel sialan itu?!" "Aku sibuk Angel. Kembalilah dengan orang tuamu." tukas Altair kemudian. Suaranya meninggi, Altair benar-benar sedang kacau. "Ish! Tidak mau! Aku ikut kesini karena tahu kau ada," sahut Angel lagi. Altair menghela nafas kasar. Mereka masih berada dilobi cafe bakkery. "Percuma Angel. Besok aku sudah pulang." "What? Are u kidding? Aku baru saja tiba! Papa mu berkata kita seminggu disini!" jawab Angel kesal. "Itu papaku. Bukan bearti aku juga sama." jelas Altair malas. "Tidak Altair! Kau harus tetap disini. Kau semester akhir. Tidak banyak mata kuliah lagi. Kalau pun ada aku bisa meminta Papamu untuk memberitahu dosen agar mengosongkan jadwal mu itu!" pinta Angel panjang. Dia masih tidak terima Altair harus pergi besok. Hell! Dia bahkan baru saja tiba. "Bukan urusanmu!" ketus Altair tidak suka. "Kenapa kau pulang? Beri aku alasan--" protes Angel lagi. "Kekasihku ulang tahun." sahut Altair cepat. "Ish! Tidak! Kau tidak boleh pergi! Aku akan mengadu dengan Om David!" larang Angel lagi. Altair menghela nafas panjang. "Terserah Angel. Aku tetap harus berangkat besok." Altair berlalu. Menghiraukan teriakan dan rutukan Angel, Altair memasuki mobil Range Rover yang terparkir didepan Cafe itu. Mobil Altair yang dibeli David untuk mereka selama di Los Angeles. Mobil yang telah dipakainya memutari kota indah ini bersama Mamanya. Altair menderu laju mobil itu. Tidak peduli meskipun dia sedang berada dinegara orang. Altair hanya butuh pelampiasan untuk menenangkan perasaannya. Kini semua hal buruk mulai menari-nari dikepalanya. Semua andai-andai yang Lea lakukan membuat Altair gusar. Dia memukul setirnya. Mengumpat dan sebentuk amukan lain yang berhasil sedikit menenangkannya. Jika saja Altair membawa Lea itu ikut dengan-nya. Mungkin.. Altair tidak semenginginkan ini untuk pulang ke Indonesia. Semua hal tentang Lea sudah berada didaftar nomor satu kepalanya. Wanita gila itu! Bagaimana ia berhasil memasuki hati Altair yang telah beku?? ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN