Jika memang semenginginkan mu sesulit ini,
bolehkah kuganti dengan mendapatkanmu akan kugaris bawahi?
***
Dryna memasuki apartemen sepupunya itu seperti biasa. Tidak perlu menunggu Lea untuk membuka pintu karena dia sendiri sudah hafal kata sandi apartemen ini.
Dryna pikir Lea sedang pergi, mengingat wanita ceroboh itu tidak menyahut panggilannya. Detik selanjutnya Dryna menggeleng kepala. Benar saja, disana--diatas sofa, dia menemukan Lea masih terlelap. Dryna terkekeh geli pada detik selanjutnya ketika melihat posisi tidur sepupunya itu.
"Lea!" decak Dryna pertama.
Teguran pertama masih tidak ada sahutan. Lalu Dryna melakukan hal yang sama berkali-kali.
Lantas Lea mengerang, membuka mata perlahan dan berlonjak mendapati Dryna sudah berdiri dihadapannya.
Tadi, selepas kepergian Gavi. Lea langsung menangis, tidak tahu kenapa, ia merasa sangat buruk.
Lea merasa tidak berguna menjadi seorang anak. Mengingat betapa Ayahnya bekerja keras demi dirinya, demi hidupnya yang seperti ini, Lea tidak bisa membayangkan itu.
Apalagi setiap kali memikirkan bagaimana bahaya yang setiap hari Gavi lalui, juga sebentuk kekacauan yang mendadak bisa terjadi. Lea takut. Lea sedih setiap kali membayangkan itu. Lalu, menangis merupakan satu-satu nya cara Lea menenangkan diri. Sehingga ia berakhir diatas sofa ini.
Ditambah kedatangan mendadak Dryna, membuat pikiran Lea kacau diwaktu bersamaan. Lea tidak tahu harus melaporkan apa, ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya karena selama bersama Altair, usahanya untuk mencari tahu tentang Serena berakhir sia-sia.
Lea merasa semakin bodoh karena ia terjebak, ia terpesona oleh semua perlakuan Altair. Bagaimana sisongong itu memperdayanya. Lea benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Lea tahu ini salah. Ini tidak benar, namun bagaimana mendapati kehangatan dan juga nyaman setiap kali bersama sisongong itu, Lea menjadi kacau lagi-lagi.
Bagaimana Altair menjaganya, menciumnya, menikmati seluruh perdebatan mereka, Lea benar-benar dibuat lumpuh.
Jadi, mendapati Dryna diapartemennya saat ini, menjadi hal buruk yang Lea kesalkan. Lea tidak tahu harus menyimpulkan apa. Kehadiran Dryna dan wajah meminta penjelasan dari wanita itu membuat Lea tiba-tiba panik.
"Dryna, kenapa kau disini?"
Dryna mengerutkan dahi, menatap gusar Lea. "Aku ingin mendengar ceritamu. Kau sudah jarang mengabariku!"
Lea meneguk ludahnya. Mengontrol pikirannya sesaat, lalu berujar. "Hmm--sebentar, aku cuci muka dulu..."
Dryna mengangguk, sebelum larut dalam serial televisi yang ditontonnya.
Lea mengambil handphonenya lebih dulu, setelah itu barulah ia memasuki kamar mandinya.
Langit sudah gelap, matanya pedih karena menangis seharian, sehingga tanpa sadar ia tertidur pulas dan berakhir disofa. Beruntungnya Dryna tidak menyadari matanya.
Kini pikiran Lea kembali pada Altair. Lihat, bagaimana Lea bisa menolak sosok Altair disaat pikirannya saja terus tertuju pada sisongong itu.
Lea membasuh wajahnya, setelah itu kembali meraih handphonenya yang sengaja ia simpan diatas nakas kamar mandi. Disana, Lea sudah menemukan banyak sekali panggilan dan pesan dari Altair.
Tanpa sadar ia tersenyum. Wajahnya berseri. Cepat Lea membuka pesan itu, ketika pesan terakhir dari Altair membuat Lea membelalakkan mata.
Lelaki Songong
Hei dungu, apa yang kau lakukan?
Lelaki Songong
Kau dimana? Kenapa tidak membalas pesan ku?
Lelaki Songong
Apa sekarang kau balas mengabaikan ku?
Lelaki Songong
Atau kau sedang bersama Sean sialan itu??
Lelaki Songong
Kau melanggar syarat kita?
Lelaki Songong
Lea. Jangan sampai aku menyurug orang lain untuk memantau mu:)
Senyum Lea masih tertahan, bagaimana ia membayangkan ekspresi gusar Altair saat ini, membuatnya geli sendiri.
Lea tahu, ia tidak mungkin salah menyimpulkan ini. Altair tertangkap cemburu, itu terbukti dari bagaimana dia memarahi Sean kemarin. Entah kenapa, Lea jadi merasa diinginkan.
Lea baru saja akan membalas pesan itu, ketika teriakan Dryna memintanya kembali mengejutkannya.
Menghiraukan pesan dari Altair karena takut sisongong itu akan menghubunginya, Lea memutuskan untuk tidak membalasnya. Nanti saja selepas Dryna pergi dari apartemennya.
Buru-buru Lea keluar dari kamar mandi. Ia menyimpan handphonenya dikamar dan kembali mendatangi Dryna diruang tamu.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?!" gerutu Dryna kesal.
Lea hanya terkekeh. Mengatur kembali ekspresi diwajahnya karena Dryna berpikir ia sudah gila jika terus tersenyum. "Aku sakit perut tadi, maafkan aku."
"It's okay. Sekarang ceritakan padaku!" paksa Dryna kemudian.
Lea diam sesaat. Menghela nafas panjang, Lea mulai resah. "Tidak banyak yang kutemukan, Dry."
"Persetan! Katakan apa saja!" sahut Dryna gusar. "Ini sudah sebulan lebih, memangnya kau ingin terus terikat dengan si b******k itu??!"
Lea meneguk ludahnya. Merasa bersalah pada Dryna dan juga Serena.
Lea tahu, ia berhak dibenci. Tapi bagaimana perasaan suka itu memuncaki hatinya yang paling tinggi, Lea juga tidak punya pilihan lain.
Pada apa-apa yang tidak seharusnya ada, juga mengenai kekonyolan yang Lea rasa rumit. Lea tetap bertahan. Tidak tahu sebenarnya apa yang ia lakukan.
Lea tahu ini tidak mudah. Tapi bagaimana nyaman dan tenang terus terikrar dihatinya, mengenai semua perhatian Altair, ralat--mengenai perlakuan sisongong itu, Lea tidak punya pilihan lain. Bahkan bersama Altair pun, Lea tidak diberi kesempatan memilih. Karena lelaki itu paham semua keluh kesahnya.
"Altair tidak banyak bicara Dry. Kau tahu aku hanya selalu berdebat dengannya," jelas Lea pertama.
"Terus? Bagaimana saat denganmu? Sifat nya? Tingkah nya? Perlakuan nya?" tutur Dryna panjang.
'Dia membuat-ku nyaman.' batin Lea. Dia memilih membungkam perasaannya. Dryna tidak perlu tahu. Tidak selepas wanita itu menerima Altair lagi.
"Mungkin, dia hanya posesif." imbuh Lea. "Tapi, dia tidak seburuk seperti yang kau tuduhkan..." jelas Lea lagi.
"Tidak mungkin Lea! Kau sendiri melihat testpeck itu. Kau tahu Altair pelakunya, kita tahu b******n itu pembunuhnya!" jerit Dryna tidak terima.
"Ta--"
"Sialan! Kau harus cepat bergerak Lea! Kau harus cari tahu semua nya! Kau harus membuat dia mengakui perbuatannya!!" teriak Dryna marah.
Lea mengangguk kemudian, berusaha menenangkan emosi Dryna setiap kali membahas Altair. Lea menarik tubuh Dryna, memeluk wanita itu pelan.
"Baiklah, aku akan berusaha lebih keras lagi..." ujar Lea.
Hal tersebut lantas membuat Dryna langsung membalas pelukan Lea.
"Serena sudah pergi. Aku tidak bisa menerima itu Lea. Kau tahu pasti." ucap Dryna sedih.
"Akan kukatakan semua yang kutahu..." sahut Lea cepat.
"Jangan melupakan itu. Kau bahkan jarang mengabari ku," rutuk Dryna lagi.
"Itu karena aku sedang banyak tugas Dryna," jelas Lea kemudian.
"Aku pikir karena kau mulai terpesona oleh b******n itu!" tuduh Dryna.
Lea tersedak saat itu juga. Ia terkekeh, "Tidak mungkin Dry. Tenang saja."
Dryna berdehem sesaat. Akhirnya Lea berakhir pergi bersama sepupunya itu.
Bahkan, Lea sengaja meninggalkan handphonenya di apartemen. Karena ia
lebih takut Altair mengetahui rencananya.
Jadi, setelah ini biarkan Lea menjelaskan kepada Altair apa saja yang ia lakukan. Minus dengan Dryna tentu saja.
???
"CARSWELL"
Deo Abian : @AltairAtaya kau dimana?
Rendra Tyaga : Kita harus merayakan kemenangan kemarin.
Kevin Aldebaran : Jangan bertanya lagi.
Lucas Zephyr : Bersama wanita lucu itu tentu saja.
Rendra Tyaga : Ck. Dia benar-benar jatuh cinta lagi, aku sudah menduganya.
Altair masih berada di toko perhiasan mewah yang terletak tidak jauh dari apartemennya. Sejak tadi-- handphonenya berbunyi, memilih mengabaikan itu karena Altair sudah menduga itu pasti dari grup Carswell, dia lebih baik melanjutkan aktifitasnya.
Altair tersenyum--bagaimana memilih kalung untuk Lea menjadi sesuatu yang menyenangkan. Lantas membuatnya tidak sabar untuk menemui wanita itu.
Kini, setelah bingung memilih hadiah yang pas untuk Lea, Altair meminta bantuan dari sahabatnya. Dia mengirim gambar untuk dijadikan pilihan.

Altair Ataya : Mana yang harus ku beli?
Kevin Aldebaran : s**t! Kau akan menikahi wanita itu?
Deo Abiyan : Stop Kev, kau bodoh sekali. Sejak kapan menikah diberi kalung?
Lucas Zephyr : Hell, yang benar saja??
Deo Abiyan : Wow, Altair. Kau mengejutkan kami semua.
Rendra Tyaga : Bagaimana dengan balapmu? Wanita itu tidak melarangmu kan??
Altair Ataya : Bantu aku memilihnya sialan!
Kevin Aldebaran : Bermata bulan lebih baik.
Lucas Zephyr : Pojok kanan lebih menarik.
Deo Abian : Nomor dua lebih elegan.
Rendra Tyaga : Bulan saja.
Altair Ataya : Tidak jadi, aku sudah melihat yang lebih indah.
Kevin Aldebaran : b******n, kenapa bertanya sejak awal!
Altair Ataya : Aku sedang di LA.
Kevin Aldebaran : s**t! Kau bercanda?
Lucas Zephyr : Tidak heran, itulah yang orang kaya lakukan
Rendra Tyaga : 20 juta bahkan tidak ada harganya bagi sisongong itu
Deo Abiyan : Kau juga kaya sialan @LucasZephyr
Kevin Aldebaran : Hell! Orang tuamu bahkan pemilik hotel besar @RendraTyaga
Lucas Zephyr : Kau juga b******k, kau pikir siapa pemilik properti mewah dinegara kita?? @KevinAldebaran
Deo Abiyan : Dan kalian pikir siapa pemilik Tambang terbanyak?? @LucasZephyr
Altair Ataya : Beginikah percakapan orang-orang kaya?
Altair terkekeh geli, dia menggelengkan kepala sebelum kembali memasukkan handphonenya.
"I choose this one," jelas Altair pada penjaga wanita disana.
Dia mengangguk patuh. Mempersiapkan kalung yang dipilih Altair seraya terus tersenyum genit.
Setelah menerimanya, Altair membayar cepat kalung itu dengan card miliknya. Risih dan kikuk ditatap seintens itu oleh wanita penjaga perhiasan itu.
"Thank's u Sir." ucapnya seraya mengedikkan sebelah mata.
Hell, she's like a b***h.
Altair berlalu begitu saja, tidak mengindahkan tatapan genit wanita sialan itu. Dia sudah terlanjur memilih hadiah untuk Lea. Altair tidak ingin moodnya hancur hanya karena pesannya tidak dibalas Lea.
Nanti, setelah ini. Pada semua kekacauan yang berhasil Lea buat dalam pikirannya, Altair akan membungkam wanita itu dengan seluruh cumbuannya.
Tidak tahu kenapa, menikmati bibir Lea menjadi hal rutin yang ingin terus dia lakukan. Setiap hari. Hanya bibir wanita itu. Bagaimana sekarang Altair mengeluh panjang karena ternyata, dia sudah sangat merindukan Lea. Wanita gila yang berhasil meluluhkan dunianya dalam sekejab.
Jadi, sepanjang jalanan lenggang diLos Angeles saat ini, Altair tengah meminimasirkan keresahan dan kekalutannya karena Lea. Dia menghiraukan handphonenya, mengingat bagaimana wanita itu berhasil membuatnya semakin kacau diwaktu bersamaan. Nanti, tidak hanya Altair bungkam--akan didekapnya Lea, seperti kemarahannya saat ini.
Altair sudah sampai diapartemennya. Disambut oleh para pelayan dan mbok Tuti, Altair melewati orang-orang itu begitu saja. Tidak ada kesan ramah seperti biasanya. Dia sedang gondok karena terus memikirkan Lea.
Altair berjalan pada ruang tengah apartemen mewah ini, disana dia sudah menemukan David dan Clarissa tengah bercengkrama. Altair langsung bergabung, mengingat dia harus menyampaikan kepulangannya besok.
"Dari mana saja Altair?" tegur David pertama.
Altair mengecup pipi Clarissa, sebelum duduk tepat disebelah Mommynya itu. "Memutari kota ini, Dad!" sambung Altair kemudian.
"Tumben sekali datang awal, biasanya kau pulang setelah semua orang terlelap," sahut David kemudian.
"Tidak ada yang seru," jawab Altair malas.
"Biasanya kau paling betah disini..." singgung David lagi.
"Sekarang terasa membosankan. Benarkan mom??" katanya pada Clarissa--meminta persetujuan.
Clarissa hanya terkekeh dan mengangguk pelan.
"Pa, sepertinya aku harus pulang besok," timpal Altair langsung.
David menatap putranya garang. Yang langsung dibalas Altair dengan cengiran mengejek.
"Aku ada urusan Pa," sambungnya lagi.
"Urusan?? Kau pikir urusan apa yang lebih penting dari mengobati Mama mu??" singgung David marah.
Altair menghela nafas panjang. Dia sudah menduga ini. Gantinya, Altair menoleh pada Clarissa, Altair menekuk wajahnya kesal. Memberi kode agar Clarissa menolongnya dari amukan David. Lagi pula, tidak ada yang mampu meredam kemarahan David selain Clarissa--mommy nya.
"Sudahlah sayang, biarkan Altair pulang lebih dulu..." Clarissa berujar kemudian.
"See, dengarlah Pa. Mama saja mengizinkan ku..." tukas Altair cepat.
"Tidak Altair-- papa tidak ak--"
"Sayang...biarkan Altair pulang," decak Clarissa. "Lagi pula kau ada disini, kau yang akan menemani ku konsultasi. Benarkan??" sambung Clarissa pelan. Dia meraih tangan suaminya. Menatap David dalam dan penuh--cinta.
"Bagimana jika aku ada urusan? Kau tahu sayang aku dan Haden sedang melakukan perjalanan bisnis," tandas David khawatir.
Clarissa tersenyum, kembali menatap lekat suaminya itu. "Tidak apa. Tuti dan beberapa pelayan ada disini..."
David hanya menghela napas panjang. Selalu saja tidak punya pilihan jika semua itu menyangkut keinginan istrinya. Hal tersebut sukses membuat Altair menyeringai puas, dia selalu tahu kelemahan Daddynya.
"Baiklah. Kau boleh pulang kids." ujar David akhirnya.
Altair tersenyum puas sebelum mengecup kembali pipi Clarissa. Dia berujar geli, "Thank's mom. You're my Angel!"
Membuat Clarissa terkekeh, sementara David hanya geleng-geleng kepala. Mereka pun kembali larut dalam pembicaraan yang lebih serius.
Bagaimana David terus memaksa Altair untuk meneruskan perusahaan dan meminta putranya itu untuk lebih serius, mengingat usianya yang tidak muda lagi.
Altair benar-benar menghabiskan waktunya bersama David dan juga Clarissa.
Menghiraukan handphonenya, Altair sengaja tidak mengabari Lea.
Hell, wanita itu lagi.
???