Pada garis yang berkesinambungan, ada celah untuk menyambungkan. Mencoba mensejajarkan dan berakhir dengan banyak tanya.
Jika tidak sekarang, mungkin tidak ada lagi setelahnya.
Lantas beralih untuk menemukan, segalanya memang runyam.
***
Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta.
Altair tidak bisa mendeskripsikan bagaimana kekesalannya selama perjalanan dari California menuju Indonesia.
Dia dibuat kesusahan oleh kehadiran Angel yang tiba-tiba sudah tersenyum menggoda kearahnya.
Altair tidak tahu bagaimana wanita itu melobi David. Namun, melihatnya sepanjang hari dengan pesawat yang sama dan duduk tepat disampingnya benar-benar membuat Altair gusar.
Kali ini, mereka harus menggunakan pesawat umum, mengingat jet pribadi Kennedy hanya akan membawa David dan Clarissa pulang.
Jika, Altair memang secepat itu ingin pulang ke Indonesia, maka dia harus rela menggunakan pesawat umum.
Sialan!
Kini, dia dan Angel sudah mendarat di Indonesia. Bagaimana Angel terus bergelanyut dilengannya, membuat Altair menghela napasnya panjang.
"Kau benar-benar membuatku muak Angel," ujarnya seraya menepis kasar tangan wanita itu.
Angel hanya mengerucutkan bibirnya. "Altair! Untuk apa aku tinggal disana jika kau tidak ada??"
"Berhentilah menggangguku!" rutuk Altair kemudian.
"Aku hanya berusaha," sahut Angel cepat.
Altair mengedikkan bahu tidak peduli. Dia mulai bergegas cepat. Dia ingin berlalu dari kembaran Sean itu. Astaga, kenapa Sean dan Angel sangat menyebalkan?!
Membuat Angel kesal dan menghentak kakinya kasar. "Altair!!" Angel berteriak nyaring. Dia sengaja melakukan itu.
Tidak memungkiri kini beberapa orang menatap kearah mereka. Altair hanya balas melirik Angel tajam.
"Aku akan berteriak lagi jika kau meninggalkanku," ancam Angel brutal.
Altair terlanjur tidak peduli. Apalagi mengingat mereka berada di Bandara yang ramai. Tidak mungkin wanita itu berani melakukannya.
Altair terus melangkah cepat. Membuat Angel tidak punya pilihan selain meneruskan aksinya.
"Altair!!" teriaknya lagi. "Ba--"
Altair langsung mendekap mulut wanita itu. Mengapitnya pada kedua lengannya, Altair benar-benar menggeram.
"Diamlah! Kau membuatku malu!" rutuk Altair lagi. Dia masih mendekap mulut Angel, membuat Angel terkekeh geli.
Wanita itu malah menikmati perlakuan Altair terhadapnya.
Disana--tanpa Altair tahu, seseorang yang berjarak tidak jauh dari mereka sudah mengabadikan moment Altair dan Angel barusan.
Dalam foto itu, bagaimana Altair terlihat seperti tengah memeluk Angel. Dan pada sudut pandang yang berbeda, itu lebih seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
???
Lea masih uring-uringan diatas ranjangnya. Sejak tadi, ralat--sejak semalam ia masih berkutat dengan handphone dalam genggamannya.
Lea sudah mengirim banyak sekali pesan, melakukan panggilan video dan juga penjelasan panjang yang ia sampaikan pada Altair, namun berakhir sia-sia. Altair tidak membalas pesannya, juga tidak mengabarinya lagi setelah itu.
Lea pikir sisongong itu marah. Ia tahu Altair salah paham mengingat pesannya kemarin hanya dibaca Lea.
Mendapati dirinya yang gencar sekali menjelaskan pada Altair, Lea merasa sangat aneh. Mereka seolah-olah sudah menjalin hubungan serius, padahal segalanya tidak lebih dari pada itu.
Aneh, Lea tidak bisa memikirkannya karena rasanya ia butuh melihat Altair. Menginginkan lelaki itu detik ini, juga pada detik-detik selanjutnya.
Tapi ini berbeda, Lea semakin mulai terbiasa oleh kehadiran lelaki itu. Oleh tingkah lakunya, oleh aromanya, oleh tatapannya dan semua perlakuan mengejutkan yang kerap kali Altair lakukan. Termasuk bagaimana dia bisa menghipnotis Lea dengan cumbuannya.
Lea ingin mengenal Altair, lebih dari pada rencana yang sudah disusunnya. Lea ingin mengetahui semua sisi kelam lelaki itu. Karena yang terlihat semuanya seakan tidak benar, selain Lea mendengar semua itu dari mulut Altair sendiri.
Akhirnya, lelah berkutat dengan semua pikiran mengenai lelaki songong itu, Lea meletakkan handphonenya. Ia masih tetap pada posisi pertama, memutar-mutar tubuhnya jengah.
Ketika sebuah pesan menghiasi layar handphonenya. Cepat Lea menyambar benda pipih itu, Lea pikir itu balasan dari Altair, ketika pesan itu berasal dari orang yang tidak diinginkannya.
Lea membuka pesan itu malas. Itu sebuah pesan dari Sean. Membukanya pelan, Lea terpaku detik itu juga.
Lea merasa marah dan juga gusar. Bagaimana difoto itu Altair terlihat sedang bersama Angel. Terpampang nyata bahwa Angel terlihat tengah merengkuh manja pinggang Altair. Lea melempar handphonenya asal.
Lea merasa dikhianati padahal mereka bukan siapa-siapa. Lantas, tidak tahu kenapa Lea hanya menangis setelahnya.
Lea berusaha untuk menepati syarat dari Altair. Mengabaikan Pietro--sahabat nya, menghiraukan Sean sialan itu, juga sebentuk hindaran yang Lea lakukan karena permintaan sisongong itu.
Tapi kenapa disini Lea merasa Altair malah tidak memikirkan perasaannya? Kenapa si songong itu malah bersama wanita lain? Apa Altair berbohong? Apa dia pergi bersama Angel? Lantas, apa hubungan mereka? Kenapa Lea tidak suka melihat itu?
Sekelabat pikiran buruk meliar dikepalanya. Berusaha untuk meredam tangisnya, Lea menahan gejolak hebat didadanya. Lea membenci Altair!
Sialan! Karena Lea cemburu hanya dengan melihat foto itu!
???
Altair langsung menderu sedannya menuju apartemen Lea. Sejak turun dari pesawat dia sudah meminta anak buah David untuk mengantarkan sedannya.
Setelah berdebat cukup panjang dengan Angel, Altair menghela napas begitu mendapati kembaran wanita itu juga berada disana. Sean terlihat berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
Altair langsung menarik wanita itu cepat, menyerahkan Angel kepada mantan sahabatnya itu dan berlalu tanpa menghiraukannya lagi.
Meski Altair begitu ingin memukul wajah menyebalkan Sean, dia menahan itu karena keinginannya hanya untuk menemui Lea. Tidak lebih dari pada itu.
Jadi, disinilah Altair berada. Setelah memarkirkan sedannya asal, dia sudah sampai pada pintu apartemen Lea.
Altair tersenyum geli, tidak pernah setergesa ini hanya karena menginginkan seorang wanita.
Altair menghela napas panjang sebelum mulai menekan sandi wanita itu, dia hanya berharap wanita menyebalkan tersebut belum mengganti sandinya.
Tersenyum puas karena apartemen itu berhasil dibukanya, Altair mulai melangkah masuk. Dia pikir, Lea tidak ada disana. Lalu Altair melangkah pelan, menemukan wanita menyebalkan itu tengah terbaring diranjangnya.
"Tidur?" tegur Altair pertama. Dia berjalan pada sisi ranjang untuk melihat wajah menyebalkan itu.
Lea berlonjak, menepis air matanya cepat dan angkat dari tidurnya. Ia menatap Altair gusar.
"Hei, kenapa kau menangis lagi??" seru Altair, dia maju untuk meraih wajah Lea.
Secepat itu juga Lea menepis tangannya. Altair mengerutkan dahi bingung, merasakan sesuatu yang tidak beres.
Sebelumnya mereka bahkan baik-baik saja.
"Kenapa kau disini?!" gusar Lea langsung. Ia masih menatap Altair marah. "Bukankah kau harus melanjutkan urusanmu dengan wanita itu?" singgungnya kemudian.
Altair semakin mengerutkan dahinya, tidak paham maksud wanita menyebalkan ini.
"Wanita apa? Siapa? Kau kenapa dungu?" sahut Altair bingung.
"Kau bilang harus pergi dengan tante Clarissa. Tapi bagaimana kau menjelaskan ini??" decak Lea, ia menunjukkan gambar yang ada handphonenya. Bagaimana dalam foto itu menampilkan Altair dan juga Angel pada posisi kacau.
Altair terkekeh kemudian. Menatap geli wanita menyebalkan itu, sebelum berujar. "Cemburu?"
Lea menggeleng cepat. Ia memutar bola matanya jengah, menghindari tatapan Altair, karena sisongong itu selalu mampu menenangkannya.
"Seharusnya katakan saja iya. Kenapa susah sekali mengakuinya??" ledek Altair lagi.
"Aku tidak cemburu!" sahut Lea malas. "Aku menepati syarat darimu, menjauhi Sean, menghiraukan Pietro," sambungnya lagi.
"A-ah benarkah? Kau tidak pergi bersama Sean sialan itu?" tanya Altair kemudian.
"Aku menghabiskan waktu diapartemen berhari-hari. Jangan menuduhku jika kau tidak melihatnya sendiri!" rutuk Lea kesal. Ia ingin meluruskan sesuatu yang Altair tuduhkan kemarin.
"Baguslah. Aku senang mendengarnya." jelas Altair, dia masih menyunggingkan senyumnya.
"Terus? Kenapa diam saja? Bagaimana kau menjelaskan foto itu?" gusar Lea lagi.
"Kau tidak memberi syarat agar aku menghindari wanita lain. Kau hanya meminta ku mengirimmu lagu," singgung Altair.
Lea mendengus marah. "Terserah kau saja!"
"Aku merindukan wajah masam itu," goda Altair seraya menunjuk wajah Lea dengan dagunya. "Melihatmu cemburu, menyenangkan juga. Aku merasa seperti diinginkan."
"Aku tidak cem--"
Altair sudah mendekap mulut Lea dengan tangannya. Menatap tajam wanita itu, matanya seolah tidak diberi ampun untuk menoleh pada arah lain.
Mulanya Altair ragu, Altair bingung menyimpulkan perasaannya. Tapi, mendapati Lea sedang tertangkap cemburu, Altair paham.
Mereka mungkin memiliki perasaan yang sama, itu sudah terlihat jelas. Jadi, menikmati kecemburuan wanita menyebalkan itu, Altair ingin memilikinya, melupakan masa lalunya dan mulai kembali dari awal lagi. Meskipun sulit, Altair berjanji akan mencobanya.
"Aku sudah merindukan bibirmu. Jadi, setelah ini biarkan aku menjelaskan semuanya." bisik Altair pelan ditelinga Lea.
Dia melepaskan tangannya diwajah Lea. Baru saja Lea ingin menyahut lagi, ketika Altair sudah lebih dulu membungkam Lea dengan ciumannya.
Lea tidak punya pilihan lain, karena tanpa diduga pun Lea begitu merindukan sentuhan lelaki itu.
Lea memejamkan mata, menikmati tarikan Altair pada bibirnya, Lea membalas itu juga.
Altair menghipnotis Lea dengan seluruh inda pengecapnya.
Bagaimana cumbuan Altair terus berlangsung tanpa henti, membuat Lea seolah-olah mati.
Lea menyudahi itu pertama. Menjauhkan wajahnya sedikit, ia menatap Altair--gamang.
"Jelaskan sekarang," pinta Lea langsung.
Altair mendengus, dia belum selesai dengan bibir wanita itu. Tapi Lea lebih dulu menyudahinya. "Aku masih ingin--"
"Tidak. Sebelum kau menjelaskannya." potong Lea tidak mau kalah.
"Oke. Baiklah." jelas Altair. Dia meraih pinggang Lea pertama, membawa wanita itu pada sisi ranjang, Altair membuat posisi mereka berhadapan. Menjatuhkan Lea diatas pangkuannya, sehingga aroma wanita itu mampu sedikit meredam rindunya.
Tidak perlu lagi menjelaskan bagaimana jantung Lea saat ini. Ia benar-benar lumpuh. Apalagi saat Altair membuat posisi mereka seperti ini. Dasar bastard ini!!
Altair masih tersenyum geli, membiarkan Lea terus menatapnya gusar, Altair mulai menjelaskan semua itu.
Bagaimana Angel bisa berakhir bersamanya. Juga menyampaikan semua yang membuat Lea mampu mempercayainya. Lalu semua berubah, tidak tahu kenapa dan bagaimana, Altair menginginkan Lea lebih dari perjanjian mereka.
"Bukan kah seharusnya kau diLA seminggu?" tanya Lea kemudian. Ia berusaha keras menghindari tatapan mengejek Altair.
Lea merasa bodoh dan juga malu, bagaimana bisa ia langsung menangisi foto Altair dan Angel tadi, benar-benar tidak masuk akal.
"Umm--bagaimana menjelaskannya. Wanita dihadapanku ini sepertinya sudah sangat merindukanku," goda Altair lagi. Dia mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Lea, masih diposisi yang sama seperti sebelumnya, Altair menyukai ini.
"Aku tidak merindukanmu. Aku hanya butuh pertanggungjawaban," sahut Lea langsung.
"Untuk apa? Kakimu sudah sembuh," kekeh Altair kemudian.
"Tapi rahasiamu masih aman padaku," jelas Lea. Ia mengedikkan sebelah mata. Merasa menang setiap kali berhasil mengancam sisongong itu.
Membuat Altair menajamkan mata, menatap kembali wanita menyebalkan itu.
"Kau hanya punya itu. Jika kau tahu yang sebenarnya, kau tidak punya cara lagi untuk mengancamku!" decak Altair tidak suka.
Lea terkekeh sebelum mendekatkan wajahnya pada Altair. Lea terlanjur tidak peduli karena sejak awal pertemuan mereka sudah didasari oleh semua kekonyolan gila ini.
Lea menyapu wajah Altair dengan jemarinya, merindukan sisongong ini seperti yang dia katakan. Lea tersenyum menggoda. "Aku punya segalanya untuk membuatmu selalu denganku."
"Benarkah?" tantang Altair kemudian. "Beritahu aku, apa yang wanita gila ini punya?"
Lea mengecup pelan bibir Altair. Tidak peduli lagi sisongong itu menganggapnya apa. Menyudahi ciuman itu pertama, gantinya Lea menautkan tangannya pada leher Altair. Masih dengan senyum menggoda, Lea mendekat pada telinga lelaki itu, membisikkan sesuatu yang benar-benar diluar akal sehatnya, "Aku punya semua yang kau butuhkan."

Altair menggeleng sebelum wajah Lea berhadapan dengannya. Menelusuri seluruh hal gila yang sedang Lea lekukan terhadapnya. Altair memperdekat jarak mereka, menarik Lea hingga wanita itu benar-benar terduduk diatas mahkotanya. s**t!! Lea benar-benar membuatnya gila!
"Ck. Wanna play with me?" tutur Altair langsung.
Hal tersebut sukses membuat Lea tersenyum genit, sebelum mendorong tubuh Altair. Lea melompat detik itu juga, sebelum berujar geli. "In your dream, Altair."
"s**t!" erang Altair langsung. Lea hanya terkekeh dah menghilang dari kamarnya. Meninggalkan Altair yang sudah menggeram ditempatnya.
"Minumlah jeruk manis ini, kau tidak lelah setelah melakukan perjalanan jauh?" ujar Lea setelah kembali dari dapur. Ia menyerahkan minuman itu kepada Altair.
Altair menerimanya, meminum air itu dalam sekali tegukan dan meletakkannya diatas nakas sebelah ranjang Lea. "Aku sangat lelah. Tapi, melihat kau cemburu, segalanya hilang seketika."
Lea mendengus, "Sisongong ini! Sudah kukatakan aku tidak cemburu!"
Altair menyunggingkan senyum, "Jadi? Aku boleh pergi bersama Angel?"
"Ya. Tapi, jangan pernah menemuiku lagi," acuh Lea tidak peduli.
"Wow, itu jauh lebih seru. Mengingat aku tidak perlu bertanggung jawab lagi," kekeh Altair kemudian.
Lea langsung menatapnya masam, "Kau--"
"Apa? Ingin menciumku lagi?"
Lea menggeleng cepat. Membuat Altair terkekeh disana. Masih dengan menatap Lea tajam, Altair membuat tatapan mereka menyatu. Dalam semua pikiran gila yang terus berputar dikepalanya.
Jika Lea sejak awal sudah mengusiknya sejauh ini, bolehkah Altair tenggelam lebih dalam lagi?
???