'Aku Menyukaimu'

2636 Kata
Pada semua kenyataan yang sukar diterima, lalu menginginkan menjadi jawaban akhirnya. Karena jatuh cinta indah, ia tidak direncana. Namun berakhir menjadi keinginan nyata. *** Lea tidak tahu jika merindukan sisongong itu akan berdampak pada hatinya yang semakin menggila. Altair sudah meninggalkan apartemennya beberapa jam lalu. Meskipun Lea menahannya untuk tetap tinggal, Altair bersikeras harus pergi. Meninggalkan Lea yang sudah menelusuri seluruh kamarnya, memikirkan semua hal gila yang sudah dilakukannya bersama Altair disini. Cumbuan lelaki itu, pelukan hangat yang biasa Altair berikan dan sebentuk hal-hal mengejutkan yang telah mereka lewatkan. Lea mengulum senyumnya, tidak menyangka kehadiran Altair merubah jalan pikirannya sejauh ini. Lea jatuh cinta pada lelaki songong itu. Ia mengakui ini. Terbukti dari segala hal yang Altair lakukan, Lea menyukai kebersamaan mereka. Lantas menjadikan Lea sebagai satu-satu nya yang paling menginginkan lelaki itu. Mendambakan Altair seperti kebanyakan orang, lalu berakhir meyakinkan itu sebagai rasa suka atau halusinasi semata. Lea menerima semua keburukan Altair, pada semua rahasia tentang sisongong itu yang diketahuinya, juga sekelabat bahaya yang harus Lea pahami, Lea tahu ia sudah jatuh terlalu jauh. Tidak juga punya kesempatan untuk berlalu lagi, karena Lea ingin menemani lelaki itu. Merubah Altair menjadi lebih baik, melanjutkan kisah mereka yang belum dimulai, juga meneruskan hal-hal gila yang masih harus mereka lalukan. Meyakini diri sendiri lagi dan lagi, Lea tidak peduli siapa pembunuh Serena, karena sebuah testpeck itu memiliki banyak pertanyaan. Lea merasakan keganjalan disana, memikirkan jika itu memang bukan salah Altair, atau mungkin karena Lea sudah mencintai lelaki itu? Lea menghela napas panjang, segalanya semakin rumit. Bagaimana Dryna terus memintanya untuk mencari tahu, disaat Lea sendiri bingung harus bagaimana lagi? Ketika lamunan itu terhenti karena suara bel apartemennya, cepat Lea berlari. Mengingat kakinya sudah baik-baik saja, tanpa melihat siapa yang datang Lea membuka pintu itu cepat. Tentu saja karena ia yakin itu Altair, Lea lupa mengatakan bahwa Altair sudah berjanji untuk datang kembali. Disana, bagaimana Altair tengah membawa sebuah kue membuat Lea terkekeh. Lalu, mengambil handphone yang ada disaku piamanya Lea mengabadikan moment itu. Kemudian, ia menyeret Altair untuk masuk keapartemennya. Sesuatu yang sederhana, tapi mampu membuat jantung Lea mendidih karena debarannya.  "Selamat ulang tahun dungu," ucap Altair seraya menyerahkan kue yang dibawanya sejak tadi. Lea menerima kue itu, kemudian meletakkannya asal diatas meja, ia menatap Altair kembali dan berujar geli, "Jadi, kau pergi hanya untuk membelikanku kue?" Altair mengedikkan bahu seraya tersenyum menggoda, "Aku menemui seorang wanita," Lea mendengus kesal, "Sialan!" "Hei, tukang kuenya memang seorang wanita. Kau bahkan mencemburui seorang penjual kue??" ledek Altair tidak percaya. "Dari mana kau tahu ulang tahun ku?" tanya Lea langsung. Mengabaikan ledekan Altair sebelumnya. Karena sisongong itu selalu berhasil membuatnya meneguk ludah. "Aku tahu segalanya," sahutnya kemudian. "Huh, tidak ada romantis-romantis nya," singgung Lea lagi. Altair tersenyum geli. "Ingin yang romantis?" kekeh Altair. "Nanti, setelah kau jadi milikku. Seluruh hidupku hanya untukmu, Lea." sambung Altair kemudian. Membuat Lea tertegun detik itu juga. Altair menarik tubuh Lea dalam pelukannya, memenjarakan tubuh wanita itu dalam dekapannya, Altair mencium pangkal kepala Lea. Lama dan dalam. Lalu dia menghela napas, sebelum berujar tulus, "Aku menyukaimu." Lalu, beralih menatap wajah Lea. Dia menyapu lembut wajah itu, tidak percaya pada apa yang sudah dikatakannya. "Tidak pernah menginginkan seorang wanita seperti ini." katanya lagi. Lea tidak hanya tertegun. Namun juga merasakan darah ditubuhnya mengalir begitu deras. Lea tidak menyangka sisongong itu akan mengatakannya secepat ini. Baru saja Lea akan menjawab, bel apartemennya kembali berbunyi. Lea melepaskan rengkuhan Altair dari tubuhnya, mengerutkan dahi bingung karena ia tidak memiliki janji dengan orang lain. Takut-takut jika Dryna yang datang, Lea memilih untuk mengintip dari lubang kecil pintunya. Lea berlonjak karena ia menemukan sahabatnya disana. Altair menaikkan sebelas alisnya, menunggu Lea mengatakan sesuatu perihal kedatangan seseorang yang mengusik mereka berdua malam ini. Lea mendekat pada Altair. "Itu Pietro," katanya kemudian. Altair hanya manggut-manggut. "Lalu?" "Bisakah kau sembunyi lebih dulu? Aku tidak ingin dia salah paham," jelas Lea memohon. "Tidak masalah. Aku lebih suka melihatnya salah paham," sahut Altair cepat. "Altair--?" mohon Lea. "Please? Aku tidak ingin Pietro memikirkan yang tidak-tidak tentang kita..." "Kenapa? Karena kau menyukainya?" tuduh Altair langsung. Lea menggeleng cepat, "Bu-bukan! Bukan seperti itu bodoh!" "Baiklah. Biarkan aku pulang saja kalau begitu," rajuk Altair akhirnya. Dia sudah akan melangkah pergi, ketika sebuah tangan menahannya. Lea menatap Altair sendu, "Jangan pergi..." erang Lea kemudian. "Aku lebih menginginkan mu ada disini," Sialan! Jika saja bukan karena tatapan memohon itu, Altair sudah pasti akan berlalu tanpa peduli. Akhirnya, menghela napas berat, Altair masuk kekamar Lea. Bersembunyi didalam sana sesuai permintan wanita itu. Lea membuka apartemen itu cepat, berusaha tersenyum karena ia sedang tidak mengharapkan kedatangan sahabatnya itu. "Pietro? Ada apa?" Pietro langsung memeluk Lea, "Selamat ulang tahun jelek!" ucapnya disana. Dia menyerahkan sebuket bunga dan sebuah bingkisan berukuran sedang. Lea menerima itu cepat. "Terimakasih Pietro! Kau sahabat terbaikku!" sahutnya girang. Pietro hanya tersenyum kikuk, "Bisakah kita mengubah status itu?" "Ha-h?" sahut Lea gelagapan. Ia bingung dan sulit mencerna perkataan Pietro. Lea benar-benar sedang tidak fokus, mengingat Altair pasti sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Pietro terkekeh kemudian, "Kau tidak menyuruhku masuk?" singgungnya. "Hmm, sebenarnya aku sangat mengantuk," sahut Lea merasa bersalah. Lea tidak ingin situasi seperti ini semakin membunuhnya, berada diatap yang sama dengan Pietro dan Altair, Lea yakin kedua lelaki itu akan berdebat panjang nantinya, sama seperti sebelumnya. Pietro terlihat salah tingkah, "Oh c-mon. Kita merayakan ulang tahunmu setiap tahun," "Ta--pi, aku sangat lelah Pietro," tolak Lea lagi. Pietro langsung menyapu matanya pada sekeliling apartemen Lea, menelusuri semua pandangannya pada ruangan persegi dihadapannya ini. Disana, Pietro menemukan sebuah kue yang masih utuh diatas meja. Membuatnya bertanya-tanya dan tersenyum kecut. "Lelah? Apa yang kau lakukan? Kau bahkan terus mengurung diri diapartemen," cetus Pietro tidak suka. Lea benar-benar telah berubah. Itu terlihat jelas sekali. "Aku--" "Kau menyembunyikan sesuatu? Atau seseorang?" tuduh Pietro langsung. Lea menggeleng cepat. Sangat cepat, sehingga membuat Pietro semakin jadi menatapnya curiga. "Aku harus bertemu Ayahku besok," bohong Lea kemudian. "Merayakan hari spesial ini dengannya," Pietro mengerutkan dahi, menatap Lea lekat, berusaha mencari kebohongan yang tengah disampaikan sahabatnya itu. Hingga akhirnya dia mengalah, Pietro menghela napas panjang. "Benarkah??" Lea mengangguk cepat. "Kau tahu kan ini momen yang langka?" "Jadi? Kita melewatkan acara tahunan malam ini?" ujarnya sedih. Lea langsung menatapnya iba, tidak pernah membohongi Pietro seperti ini. Lea juga tidak tahu, bagaimana pengaruh Altair bisa merubahnya sejauh ini. "Setelah itu aku akan mentraktirmu? Bagaimana?" jelas Lea. Ia memikirkan alternatif lain. "Baiklah. Jika begitu istirahatlah, salam untuk om Gavi," tukas Pietro. Dia mengacak-acak rambut Lea, sebelum berbalik dan melangkah pergi. Lea kembali menghela napas, ia bersender pada pintu apartemen, mengingat bagaimana wajah Pietro sangat kecewa malam ini. Seharusnya Lea tidak begini, Pietro sahabatnya. Laki-laki itu orang yang selalu ada untuknya, tapi kenapa? Kenapa kehadiran Altair seakan lebih dibutuhkannya? Bagaimana bisa lelaki itu menjadi yang lebih diinginkannya?? Seolah-olah buntu oleh semua pemikirannya, Lea memutuskan untuk berlalu dan menghampiri Altair. Lea menemui Altair yang sudah terlelap diranjangnya. Ia tersenyum sesaat, berjalan pada sisi ranjang dan menyisir rambut Altair dengan jarinya. Lama Lea menikmati wajah kelelahan itu, setelah datang dan langsung menghampirinya, tidak mengherankan kini Altair tumbang oleh rasa lelahnya.  Lea memperhatikan wajah itu dengan penuh keraguan. Menafsirkan seluruh perasaan yang sebenarnya, menghayalkan apa-apa tentang mereka, kemudian memikirkan pantas kah perasaan ini ada? Yatuhan, ini saja sudah tidak benar sejak awal. Akhirnya, Lea memutuskan untuk ikut meneparkan diri disebelah Altair. Lea lebih memilih untuk membuka handphonenya, disana Lea sudah menemukan ucapan dari Ayahnya, Dryna dan juga Pietro tentu saja. Selain itu, tidak ada. Setelah membalas pesan Gavi, Lea memutuskan untuk menyimpan kembali handphonenya. Ia sengaja mengabaikan yang lainnya, setelah itu Lea memiringkan tubuhnya untuk menatap Altair--lebih dalam. Lea telah memutuskan satu hal malam itu, tidak peduli kendala apa yang ia temui kedepannya, Lea menginginkan Altair. Lea menyukai lelaki itu. Ia benar-benar telah jatuh cinta, pada semua hal gila yang Altair berikan kepadanya. ??? Altair membuka mata pertama, berlonjak pada detik selanjutnya karena dia berakhir diranjang Lea. Namun bukan itu masalahnya, karena kini dia menemukan Lea masih terlelap disebelahnya. Altair menggeleng sebelum mengecup pelan pangkal kepala Lea, tidak tahu apa yang dia lakukan. Altair menginginkan wanita itu. Mendambakannya begitu besar dalam semua keinginan yang berusaha dia dapatkan. Lalu, setelah melakukan itu Altair berlalu, dia melangkah keluar. Semalam, setelah mendengar beberapa percakapan Lea dan Pietro, Altair berakhir ketiduran. Dia benar-benar lelah. Altair tersenyum kecut ketika menemukan sebuket bunga dan sebuah bingkisan persis disamping kue yang diberinya semalam. Altair tahu lelaki berkacamata itu menyukai Lea, meski Lea bersikeras bahwa mereka hanya sebatas sahabat, Altair melihat sesuatu yang berbeda. Bagaimana Pietro memandang Lea, melihatnya dan dari caranya saja Altair sudah tahu. Tapi Altair tidak ingin mengalah, meski dia harus melawan Pietro atau bahkan Sean sekalipun Altair tidak akan tinggal diam. Bagaimana kini kehadiran Lea mengusiknya, Altair juga menginginkan wanita itu. Setelah membuang buket bunga itu ketong sampah yang tersedia dipojok dapur, Altair berlalu untuk mengambil segelas minuman dan kembali kekamar Lea lagi. Altair menggeleng, mendapati wanita menyebalkan itu masih tertidur pulas. Dia mengehela napas panjang sebelum mendekat. Melakukan hal yang sama, Altair menelusuri semua hal yang ada pada Lea. Bagaimana wanita itu menggodanya semalam, memberikannya sensasi yang tidak pernah Altair dapatkan sebelumnya, Lea benar-benar menikamnya dengan semua tingkah laku wanita itu. Altair menautkan jemarinya pada wajah Lea, menyapu wajah kelelahan itu dengan ukiran senyum puas diwajahnya. Altair berlonjak ketika Lea menarik tangannya, memeluk tangannya hangat seolah-olah dia tidak diizinkan pergi dari sana. Altair terkekeh pelan, sebelum membangunkan Lea. Membenarkan posisi anak rambut yang menutupi wajahnya seiring gerakan yang Altair lakukan, Lea ikut membuka matanya. Lea hanya tertegun, mendapati Altair yang sudah tersenyum disana seolah-olah menenangkannya, memberinya kehangatan tanpa disentuh, memberinya kenyamanan tanpa ditunjukan. Lea tersenyum, ia menyukai sisongong itu juga. "Kenapa kau tersenyum? Bersihkan dulu air liur mu," ledek Altair. Hal tersebut sukses membuat Lea angkat dari posisinya berbaring. Meskipun telah menyatakan rasa sukanya, kesongongan Altair tidak pernah hilang. 'b******n itu!' umpat Lea dalam hati. Ia mengerucutkan bibirnya masam, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sesaat sebelum kembali duduk diatas ranjangnya. "Apa?!" sahut Lea kesal. Altair sejak tadi hanya terkekeh seraya menatapnya. Membuat Lea keki dan juga sebal. "Tidak. Aku hanya senang melihatmu pagi ini," goda Altair. Dengan Lea yang hanya mendengus disana. "Sekarang kau berubah menjadi Altair penggoda?" "Bukan masalah jika itu bisa membuatmu kesal," "Ish! Sudahlah, malas sekali berdebat denganmu," "Apa yang kalian bicarakan semalam? Dia memberimu bunga?" tanya Altair seraya menaikkan sebelah alisnya. "Heh, kuno sekali." singgung Altair tidak suka. "Kau yang kuno!" jawab Lea tidak mau kalah. "Aku sudah membuangnya," oceh Altair lagi, dia menyunggingkan senyum puas. Lea membulatkan mata tidak percaya, "Itu bunga favorit ku! Kenapa kau membuangnya??" "Aku tidak suka," gerutu Altair. "Walaupun tidak suka, pemberian orang lain harus kau hargai, Altair." imbuh Lea lagi. Ia menatap Altair tajam. "Tidak peduli. Aku bisa membeli perusahaan bunga itu, jika memang kau mau," tukasnya percaya diri. Lea menggeleng tidak percaya, "Dasar kau gila!" "Lupakanlah. Aku belum mendengar jawabanmu atas pengakuanku semalam," jelas Altair lagi. Lea langsung kalut dan juga bingung. Darahnya mulai bereaksi gila lagi. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi sisongong ini. "Pengakuan apa?" Altair tertawa geli, dia menyisir rambut dengan jarinya, menghipnotis Lea hanya karena pergerakan sederhana itu. Lea meneguk ludahnya. 'Altair sialan!' "Kau ingin aku mengulanginya?" tantang Altair langsung. Dia sudah menajamkan tatapannya pada mata Lea. Lea mengangguk geli, "Boleh. Aku ingin mendengarnya lagi," "Aku menyukaimu," ucap Altair cepat. Membuat Lea langsung meneguk ludahnya lagi. Sialan, Altair bahkan mengatakannya tanpa berpikir kembali. "H-h-ha," Lea terkekeh kemudian. Berusaha meminimasirkan kekagetannya. "Sebenarnya, aku takut setiap kali bersamamu," sambung Lea lagi. Kali ini wajahnya serius, ia bersungguh-sungguh atas apa yang dikatakannya. "Takut? Kenapa? Karena kau berpikir aku seorang pemakai narkoba?" tebak Altair langsung. Lea mengangguk. "Jika kau memang menyukaiku, bisakah kau berhenti?" tanya Lea hati-hati. "Apa yang aku dapatkan jika aku berhenti?" tantang Altair lagi. Lea berpikir sejenak, mereka masih bertatapan. Menenggelamkan pikiran mereka lewat tatapan itu, Lea mengimang segala hal yang akan ia katakan. "Bagaimana jika kau mendapatkanku?" Perkataan wanita menyebalkan itu mendebarkan hati Altair. Membuat ukiran dibibirnya melekuk sempurna. Baru ini, baru kali ini seseorang berhasil mengacaukan pikirannya. "Promise you remember that, you're mine." ingat Altair kemudian. "Jadi? Berjanji untuk menyudahi itu? Pelan-pelan saja. Aku akan membantu." kata Lea lagi. Ia meraih tangan Altair, menyatukan jemarinya ditangan lelaki itu. Meyakinkan Altair bahwa ia selalu ada untuk melewati itu. Karena Lea juga menginginkan Altair. Sudah ia katakan berkali-kali. Lea berhenti mencari tahu, menghilangkan sejenak rencana gilanya sejak awal mendekati sisongong ini, Lea tidak peduli siapa atau alasan Serena bunuh diri. Karena Lea yakin Altair bukan pelakunya atau karena ia sudah benar-benar jatuh cinta pada lelaki itu. Tidak tahu kenapa, Lea tidak ingin kehilangan Altair. Jadi, menepis bahwa Altair adalah pelakunya, Lea tidak ingin ambil pusing lagi. Karena ia sudah mencintai lelaki itu. "Jika itu yang wanitaku ini inginkan, apapun akan aku turuti." ucap Altair, dia meraih wajah Lea. Menangkup wajah itu dan membawanya mendekat. Menyatukan kening mereka disana. Meninggalkan Lea yang sudah berusaha menahan degupan jantungnya. "Altair?" tegur Lea pelan. Suaranya nyaris tercekat, mengingat jarak mereka sedekat ini. "Iya? Ada apa?" sahut Altair cepat. "Sepertinya, aku mulai takut kehilanganmu." jujur Lea takut-takut. Altair terkekeh, kemudian memeluk tubuh wanita itu. Mendekapnya kuat dan hangat. Altair benar-benar sudah menemukan obatnya. Dia sudah menemukan semua keganjalan yang mulai mendekapnya setiap kali bersama Lea. Kemudian, setelah berkutat dengan seluruh pemikiran gila, dia harus mengatakan ini. Meluruskan seluruh kesalahpahaman yang Lea pikirkan selama ini, karena Altair tahu bagaimana kini mereka tengah menata perasaan mereka. Altair menguraikan pelukannya, meraih tangan Lea dan menyentuh punggung tangannya lembut. "Lea? Aku ingin memberitahumu satu rahasia lagi," jelas Altair pertama. Lea mengerutkan dahi bingung. Tidak tahu apa lagi kejutan yang akan didengarnya, namun terus meyakinkan itu sesuatu yang baik ia mendengarkan Altair. "Aku pernah mengatakan, kau akan tahu segalanya jika kau terus bersabar kan?" tukas Altair lagi. Lea mengangguk. "Sebenarnya--" Altair sengaja menggantung kalimatnya. Apalagi menemukan ekpresi masam dari wajah Lea, membuatnya terkekeh. Lalu Altair mendekatkan bibirnya dan mensejajarkan itu dengan telinga Lea. Kemudian melanjutkan, "Aku bukan pemakai seperti yang kau tuduhkan. Aku hanya membeli narkoba itu untuk mengobati Mommyku." Lea langsung membulatkan mata tidak percaya. Ia mendorong tubuh Altair agar dapat melihat keseriusan diwajah lelaki itu. "Be-be-narkah?" tanya Lea gelagapan. Altair mengangguk. "Mamaku harus menggunakan itu, jika tidak dia akan kesakitan sepanjang hari..." Lea menggeleng sebelum meninju perut Altair pelan, "Kenapa tidak memberitahuku sejak awal??!!" "Karena aku senang mendapatkan ciuman darimu," jujur Altair lagi. Dengan Lea yang sudah menatapnya tajam. Dasar sisongong sialan ini! Dia membohongi Lea sejak awal. Gila! ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN