Menemukanmu pada ketidaksengajaan.
Mendapatkanmu tanpa dugaan.
Lalu berakhir menginginkanmu, pada setiap paragraf pertama yang kita lewatkan.
***
Lea sudah berada di sedan Altair, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, karena hari ini jadwal Lea konsultasi dengan dr. Molgen. Altair sudah menghubungi sahabat papanya itu.
Sepanjang perjalanan, Lea masih menanyakan perihal kebenaran tentang Altair. Pada obat terlarang yang dibeli lelaki itu, juga sebentuk rasa penasaran yang selama ini sudah berusaha ditahannya. Menemukan keseriusan dalam raut yang paling sukar ditebak itu.
"Berhenti melihatku seperti itu!" kekeh Altair geli. "Aku tidak berbohong dungu, lagi pula memangnya kau pernah melihatku menggunakan barang itu?" sambung Altair lagi. Jengah sendiri karena wanita menyebalkan itu terus menyemprotnya dengan segudang pertanyaan.
Lea menghela napas, "Aku hanya tidak percaya."
"Bagaimana aku membuktikannya? Kau bisa lihat sendiri, aku tidak pernah sakau seperti lelaki bertopi disebelah apartemenmu." gerutu Altair lagi. "Kita bahkan hampir seharian bersama, jika memang aku menggunakan barang itu, aku tidak punya cukup waktu berdua denganmu," sambung Altair meyakinkan.
Dia memaparkan itu semua, pada semua keraguan yang terus Lea tampilkan dimatanya, Altair hanya ingin wanita itu percaya. Karena begitulah kebenarannya. Karena tidak ada lagi yang Altair sembunyikan. Dia bersumpah untuk itu.
"Oke, baiklah. Aku akan mulai mempercayainya," ujar Lea kemudian.
"Kau harus mempercayainya," ralat Altair cepat. "Aku tidak ingin menjalin hubungan pada semua ketidakpercayaan darimu,"
Lea kembali menatap rahang tegas disebelahnya, perkataan Altair seolah-olah membuatnya terpaku. Seakan mereka sudah menjalin hubungan yang lebih serius dari pada sebelumnya.
Detik selanjutnya Lea terkekeh, "Kita belum menjalin apa-apa,"
"Kita sudah terikat sejak kau memintaku untuk bertanggung jawab," sahut Altair lagi. Meskipun pandangannya tertuju pada jalanan dihadapannya, sesekali matanya melirik Lea, menjadikan itu sebagai sesuatu yang kini mulai disukainya.
"Huh! Dulu kau bahkan ingin langsung pergi," decak Lea. Kini pikirannya teralih pada beberapa bulan yang lalu. Pada pertemuannya dengan Altair.
"Itu karena kau begitu menyebalkan dan banyak mau," sahut Altair tidak terima.
Lea menyunggingkan senyum, "Kau juga sangat songong, aku bahkan bersumpah tidak akan pernah menyukaimu,"
"Terus? Kau melanggar sumpahmu sendiri?" singgung Altair langsung.
Lea mengedikkan bahu acuh, "Hmm, si songong itu berhasil membuatku gila ternyata."
Altair tertawa saat itu juga. "Kau, bagaimana kau bisa menuduhku seorang pemakai?"
Lea terdiam detik itu juga, memikirkan apa yang harus dikatakannya. Seharusnya Lea memberitahu Altair mengingat lelaki itu sudah menceritakan segalanya, namun Lea menahan itu. Nanti saja, hingga saatnya dan Lea siap akan itu. Tanpa dipinta pun Lea akan menjelaskannya sendiri.
Jadi untuk sekarang, biarkan Lea menjadi pengecut karena terus menyembunyikan itu. Lea takut Altair menganggapnya buruk jika dia tahu kebenarannya. Lea belum siap. Tidak tahu sampai kapan ia akan menutupinya.
"Aku pernah melihatmu membawa benda itu," decak Lea asal. Berharap Altair percaya dan tidak lagi banyak bertanya.
Altair terlihat mengerutkan dahi, bingung. Namun lebih memilih mengganti topik dan melupakan masalah itu, Lea membahas masalah lain setelahnya.
"Setelah menemui dr.Molgen, kita akan kemana?" tanya Lea kemudian. Seiring sedan Altair yang sudah memasuki parkiran rumah sakit.
Altair melepas seatbeltnya dan berujar, "Kebasecamp, hari ini ada party kemenangan kemarin, sekalian merayakan ulang tahunmu."
Lea tertegun sesaat, meneguk ludahnya tidak percaya, karena Altair sudah melakukan segalanya sejauh ini. "Sebenarnya aku tidak suka merayakan ulang tahunku,"
Altair menatap tajam wanita itu, sebelum menggeleng pelan. "Anggap saja itu party kemenanganku kemarin, jika kau memang tidak suka itu sebagai hadiah ulang tahun dariku," tukas Altair pertama. "Lagi pula aku tidak mengatakan ini hari ulang tahunmu, aku hanya meminta mereka untuk mengadakan acara saja dibasecamp." jelasnya antusias.
"Kau meminta mereka melakukannya??" tanya Lea tidak percaya.
Altair mengangguk. Kemudian turun dari bangku kemudi. Dia membuka pintu penumpang, memapah Lea seperti biasa meskipun wanita itu sudah baik-baik saja, Altair hanya senang melakukannya. Tidak tahu kenapa. Segala hal tentang Lea mulai mempengaruhi dunianya.
"Altair, aku sudah bisa berjalan normal bodoh!" gerutu Lea tidak suka. Melihat bagaimana berpuluh-puluh mata menatap keduanya geli. Lea merasa terusik. Tapi tidak dengan Altair. Sisongong itu bahkan semakin gencar menggodanya. Apalagi semenjak mereka memasuki rumah sakit, melewati koridor utama menuju ruangan dr.Molgen.
Altair terkekeh, tidak peduli. "Aku tidak ingin wanita dungu ini jatuh dan membuat kakinya pincang lagi,"
"Tidak mungkin, kau tenang saja!" sahut Lea cepat. Tapi Altair malah semakin erat merengkuh pinggangnya. 'Dasar b******n ini!'
"Berjalan saja cepat, biarkan aku memapahmu." decak Altair. Dengan Lea yang sudah menghela nafas panjang.
???
"Segalanya sudah mulai membaik, kau hanya perlu minum vitamin tulang untuk memulihkannya lagi." jelas dr.Molgen ramah.
Lea mengangguk senang, wajahnya berbinar-binar, setelah hampir sebulan dengan tongkat sialan itu, kini kakinya sudah pulih dan lebih baik. "Terimakasih dok,"
"Sama-sama ." sahut dr.Molgen kemudian. Dia beralih menatap Altair, bagaimana pandangan anak sahabatnya itu terus terarah pada wanita disebelahnya, membuat beliau terkeleh geli. "Ternyata, bukan hanya kakimu yang penuh perkembangan," singgung dr.Molgen pertama.
Membuat Altair dan Lea bingung lantas menoleh pada dokter dihadapan mereka. Menatapnya dengan punuh tanya dan butuh penjelasan.
"Hubungan kalian kelihatannya berkembang lebih baik juga," ledek dr.Molgen kemudian.
"Dari mana dokter tahu? Kami bahkan masih terlihat seperti tom and jerry," Lea menyahut cepat. Menatap Altair yang sudah terkekeh disampingnya.
"Itu kelihatan jelas, aku tidak ingin berbohong tapi kalian tampak serasi," goda dr.Molgen lagi.
"Benarkah dok? Tapi aku yakin wanita ini akan menyakarku terus," sambung Altair geli. Dengan Lea yang sudah menatapnya masam.
"Apa masih perlu konsultasi lagi dok untuk minggu-minggu selanjutnya?" Altair mengalihkan pembicaraan, geli sendiri melihat tatapan masam wanita disebelahnya.
"Tidak perlu lagi, tapi jika suatu waktu ada keluhan, silahkan hubungi saya terlebih dahulu." ujar dr.Molgen antusias.
Altair mengangguk dan pamit, sama seperti sebelumnya, dia memeluk hangat sahabat papanya itu. Merasa nyaman dan juga senang karena hingga kini dr.Molgen terus merahasiakan kejadiannya waktu itu.
"Apa David dan Clarissa sudah pulang ke Indonesia?" dr.Molgen bertanya lagi.
"Hari ini sepertinya mereka tiba," jawab Altair. Dr.Molgen hanya mengganguk, kemudian kembali pada posisinya.
"Oh iya dok, bulan depan peringatan hari pernikahan papa dan mamaku. Kau akan datang?" sambung Altair kemudian.
"Jika di undang aku akan datang." sahutnya kemudian.
"Itu sudah pasti dok, kalau begitu see u!" tukas Altair lagi.
Membuat Lea juga pamit seraya mengucapkan banyak terimakasih, kemudian ia dan Altair berlalu dan melangkah pergi.
Meninggalkan dr.Molgen yang sudah tersenyum geli menatap dua punggung dihadapannya. Apalagi saat punggung itu menjauh dan hilang dari balik pintu.
???
Altair telah kembali menghentikan sedannya pada parkiran basecamp. Seharusnya bukan hari ini dia harus menyatakan Lea sebagai miliknya.
Namun, menemukan bagaimana Pietro semalam mendatangi apartemen wanita menyebalkan ini, Altair begitu terusik. Dia benar-benar tidak menyukai fakta bahwa Lea bersahabat dengan lelaki berkaca mata itu.
Hening. Tidak ada yang memulai. Disaat Altair tengah sibuk menata jantungnya, sial karena Lea sudah menatapnya bingung.
Altair beralih menatap Lea. Menjelma sebagai sosok yang begitu menginginkan wanita ini. Melihatnya hingga menembus tatapan wanita itu.
Altair menghela napas panjang lalu menarik tubuh Lea keatas pangkuannya. Memenjarakan Lea dengan tatapan dan juga perlakuannya, Altair harus menyatakan ini sekarang juga.
Lea yang mendapat perlakuan seperti itu tidak hanya membelalakkan mata, namun juga tercekat diwaktu bersamaan. Ia mengatur jantungnya yang berpacu tidak normal. "Al-tair? A-pa ya-ng kau lakukan??" ujarnya gelagapan.
"Sebelum aku ke LA, aku pernah mengatakan bahwa kita akan memulai segalanya, right?" jelas Altair pertama. Lea mengangguk cepat, mengingat bagaimana posisi mereka kini membuat napasnya tercekat.
"Kau tahu maksudku?" tanya Altair lagi. Lea menggeleng kemudian.
Altair meraih sesuatu dari saku celananya, mengeluarkan benda dalam kotak persegi kecil disana dan menyerahkannya tepat diwajah Lea. "Selamat ulang tahun--"
"I--ni untukku?" tanya Lea gelagapan.
"Bukan, untuk pelayan dirumah." sahut Altair geli. Membuat Lea memukul dadanya kuat.
Menepis rasa sakitnya, Altair hanya terkekeh. "Untukmu bodoh! Kenapa masih terus bertanya?!" jengkel Altair kemudian.
Lea menerima itu seiring dengan jantungnya yang menggila.
"Bukalah--" tegur Altair langsung.
Lea menuruti, ia membuka kotak itu perlahan, tertegun karena mendapati sebuah kalung bermata bunga mawar yang menjadi bunga favoritnya.

Lea menatap Altair setelahnya, mengunci mata mereka dalam satu tatapan, menutup kembali kotak itu dan menggantinya dengan meraih wajah Altair.
Lea mengecup pelan bibir sisongong itu, benar-benar gila karena kini Lea yang bereaksi tidak wajar. Matanya berbinar-binar, senang dan juga haru.
"Kau suka?" tebak Altair langsung. Lea mengangguk cepat. Terlampau bahagia disuatu waktu.
"Baguslah." hela Altair pertama. Dia membalas perlakuan Lea, menyapu wajah wanita itu dengan kedua tangannya.
Altair mendekatkan wajahnya. Berbisik pelan pada telinga wanita itu. "Ini kado dariku."
Lea menahan napasnya, otaknya dibuat tidak berfungsi baik, bagaimana helaan napas Altair dan juga aroma lelaki itu begitu mengusik indra penciumannya.
Altair kembali mensejajarkan wajah mereka. Menikmati semua ketegangan diwajah Lea, sehingga ukiran dibibirnya terukir seketika. "Mau kah kau menjadi pacarku? Satu-satunya milikku?"
Lea mencerna semua itu. Altair menyatakan rasa sukanya. Sisongong ini memintanya menjadi kekasihnya? Hell? Lea tidak salah dengar kan?
"Aku--"
Altair langsung mendekap mulut Lea dengan tangannya. Masih belum siap untuk mendengar jawaban wanita itu.
"Jangan menjawab sekarang, jika kau bersedia pakailah kalung itu besok. Jika tidak, maka biarkan saja dan kembalikan padaku." jelas Altair kemudian.
Lea mengangguk, membuat Altair melepaskan tangannya.
Barulah Altair meletakkan Lea kembali ditempatnya, dia menoleh dan terus menatap Lea lekat. Mendapati gerutan merah diwajah wanita itu membuat Altair terkekeh.
"Ayo turun. Sepertinya mereka sudah menunggu." jelas Altair dan mulai turun dari sedannya.
Meninggalkan Lea yang sudah menghela napas panjang. Jika sejak awal akan berakhir seperti ini, Lea lebih baik undur diri saja.
Sialan karena hatinya menjerit senang bukan main.
Kedatangan Altair dan Lea langsung disambut antusias oleh keempat sahabatnya. Bagaimana kini pandangan mengejek itu terus mereka lemparkan pada Altair.
Tidak menyangka bahwa Altair sudah kemakan omongannya sendiri. Mengingat bagaimana lelaki itu terus menyanggah segala hal menyangkut wanita itu.
"Kau tahu Lea? Altair sangat bersikeras meminta kami menyiapkan ini semua." cetus Kevin pertama. Dia menunjukkan semua persiapan yang sudah mereka lakukan.
"Dia benar-benar memerintahkan ini harus sesuai dengan pilihannya," sambung Lucas kemudian.
"Daddy ku akan murka melihat anaknya diperintah seperti ini." Kevin merungut sedih.
"Shut up! Kalian berdua sangat berisik," sahut Altair malas. Membuat Lea terkekeh karenanya.
"Aku bahkan melewatkan dinnerku demi sisongong ini," Deo menyambung lantang.
"Aku juga--" sahut Rendra cepat.
"Apa? Kau kenapa? Melewatkan jalan dengan nenekmu?" potong Altair kemudian.
"Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa, sialan!" rutuk Rendra akhirnya.
Membuat semuanya terkekeh geli.
Lalu mereka sudah sibuk dengan tugas masing-masing, Lea masih membantu Kevin memanggang daging.
Sementara Altair dan Rendra mempersiapkan minuman, Lucas dan Deo ikut merapikan tikar mengingat mereka melakukannya dihalaman belakang.
"Oh iya, minggu depan ada pertandingan. Hadiahnya lebih besar dari kemarin. Kau akan ikut?" ujar Rendra pertama. Dia baru menerima kabar itu.
Altair menoleh, mengalihkan tugasnya sebentar untuk menatap sahabatnya itu, "Kenapa mendadak? Tidak seperti biasanya,"
Rendra mengedikkan bahu, "Tidak tahu, aku baru menerima kabar itu."
Altair menghela napas panjang. Membuat Rendra berujar lagi, "Aku tidak memaksamu kali ini. Lagi pula yang kemarin kau sudah mendapatkan posisi pertama."
Altair berfikir sejenak. "Sean ikut?"
Rendra mengangguk. "Itu sudah pasti!"
"Baiklah, daftarkan aku juga kalau begitu." sahut Altair cepat.
"Kenapa semuanya tergantung Sean? Kau seperti merindukan sahabatmu itu," kekeh Rendra geli.
"Dia bukan lagi sahabatku," sahut Altair tidak suka. "Aku hanya tidak ingin membiarkannya menang lagi. Kau tahu, dia bahkan membanggakan dirinya didepan Lea!" sambung Altair tidak suka.
Rendra terkekeh, "Aku pikir wanita itu melarangmu, seperti yang sebelumnya." goda Rendra lagi.
"Mereka dua orang yang berbeda. Jangan terus membahas wanita yang sudah tiada itu. Aku membencinya, Ren. Kau tahu itu." jelas Altair tidak suka.
Rendra hanya mengangguk, tersenyum geli dan berujar kembali. "Baguslah, mengingat yang sebelumnya begitu menentang semua hal yang kau suka."
Altair tidak lagi menjawab, dia sudah memfokuskan diri pada semua botol minuman, dari yang biasa hingga yang berakohol--diatas meja.
Ketika perkataan Rendra berhasil membuat Altair menatap Lea lekat. Meski wanita itu tidak menyadarinya. "Lagi pula, dia wanita menyenangkan. Ku rasa yang lain juga mendukung hubunganmu kali ini."
Altair tersenyum mendengar itu, jika sebelumnya tidak seperti ini, menemui Lea pada sebuah ketidaksengajaan membuatnya senang diwaktu bersamaan.
"Kau sudah jatuh cinta lagi Altair," goda Rendra kemudian.
"Kurasa, itu sudah lewat. Sepertinya, aku mulai mencintainya," sahut Altair cepat dan berlalu menghampiri Lea dan Kevin.
Risih melihat sahabat-nya yang satu itu terus tertawa bersama wanitanya.
Hell, bahkan dengan Kevin sahabatnya sendiri Altair begitu tidak suka. Benar-benar gila cara Lea membuatnya jatuh hati.
???