Karena jatuh cinta itu sebuah pilihan.
Jika tidak bersama, maka di paksa untuk ada.
Jika memang tidak di izinkan, maka diharuskan untuk diterima.
Begitulah sebuah pilihan jatuh cinta terus terlewati,
Pada semua siklus yang tak pernah berhenti.
***
Altair mengendap-endap memasuki pekarangan rumahnya, setelah semalam berakhir tertidur diapartemen Lea. Mendapati banyak panggilan dari David dan juga Clarissa, dia meringis. Itu menandakan bahwa ada sesuatu yang penting. Akhirnya, melewati pintu samping menjadi pilihan Altair setelahnya.
Altair hanya ingin pulang sebentar, menanyakan perihal kedatangan kedua orang tuanya, kemudian mandi untuk bersiap-siap kencan bersama Lea. Itu sudah perjanjian mereka hari ini.
"Wow. Lihatlah bagaimana si jagoan Kennedy ini masuk seperti pencuri."
Altair terdiam sesaat, dia mengenali suara itu. Bahkan tanpa menoleh pun Altair kenal jelas dengan si pemilik suara.
Akhirnya terpaksa membalikkan tubuh, setelah meringkuk diam-diam, Altair menatap gusar seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan dirumahku?!" singgungnya tidak suka. Jelas sekali menandakan bahwa Altair membenci kedatangan lelaki itu.
Sementara yang disindir malah terkekeh geli, masih dengan menyeringai puas. Dia menyahut, "A-ah, aku hanya mengunjungi rumah sahabatku,"
"Kau bukan sahabatku! Pergilah sebelum aku mengusirmu sialan!" berang Altair lagi.
"Sepertinya itu tidak mungkin, mengingat kau dan aku akan menjadi keluarga," godanya lagi.
Membuat Altair mengerutkan dahi bingung. Apa yang Sean sialan ini lanturkan? Tidak waras!
"A-ah kau tidak tahu? Orang tuamu akan menjodohkanmu dengan kembaranku!" kekehnya lagi.
Membuat Altair membulatkan mata tidak percaya. "Jangan mengada-ada sialan!"
"Pergilah keruang tamu, kau akan menemukan semua orang disana," decaknya seraya mengedipkan sebelah mata. Kemudian berlalu meninggalkan Altair.
Membuat Altair terdiam sesaat, sebelum mengejar dan melewati Sean secepat mungkin.
Dia harus bertemu David dan Clarissa. Meminta penjelasan atas semua hal gila yang didengarnya dari Sean sialan itu!
Altair sudah berada diruang tamu. Benar saja, disana--dia menemukan kedua orang tuanya, om Haden, tante Valerina dan juga Angel Danilova. Oh satu lagi, jangan melupakan Sean sialan itu!
Gila! Ada apa ini?
"Altair?" tegur David pertama. "Kau dari mana saja? Kenapa tidak pulang semalam??" sambungnya lagi. Suaranya sedikit meninggi.
"Mom? Bisa jelaskan sesuatu kepadaku??" tanya Altair langsung. Menghiraukan pertanyaan dari Papanya itu.
"Altair? Kau lewat mana tadi? Kenapa aku tidak melihatmu masuk?" itu suara manja dari Angel. Membuat Altair menghiraukan wanita itu juga.
"Seperti tidak tahu saja Altair hobi bersembunyi, dia seperti wanita." kekeh Sean. Dia menyahut dengan senyum menggoda.
Dasar kembar sialan! Altair membenci kedua bersaudara itu!
"Altair, duduk lah lebih dulu..." Clarissa berujar pelan. Barulah Altair menuruti.
Haden dan Valerina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra dan putri mereka.
"Sebelumnya, Altair dari mana sayang? Kenapa tidak pulang sejak kemarin?" tanya Clarissa lagi. Benar-benar lembut dan penuh kekhawatiran.
Altair hanya terdiam. Bingung sendiri bagaimana mengatakannya. Mengingat saat ini ada banyak mata yang menunggu jawabannya. Akhirnya hanya mengedikkan bahu, Altair berujar ngawur, "Aku bersama teman-temanku."
"Teman-temanmu? A-ah wanita itu belum menjadi kekasihmu ternyata," Sean menyambung geli.
Membuat Altair menatapnya tajam. "Diam Sean! Aku tidak berbicara kepadamu!"
"Altair bahkan meninggalkanku dibandara kemarin om," adu Angel kepada David.
David langsung menatap Altair tajam.
"Itu karena Sean sudah menjemputmu!" sahut Altair memperjelas.
"Kids, sudahlah. Jangan terus berdebat," Haden menengahi itu.
"Kalian sudah besar, kenapa masih sering bertengkar," Valerina menyambung juga.
Membuat Altair, Sean dan Angel sama-sama bungkam. Altair masih menatap Clarissa, meminta jawaban atas rasa penasarannya kali ini. Mendapati Sean dan Angel dirumahnya, benar-benar membuat emosi Altair naik turun.
"Begini, sebelumnya pertemuan keluarga ini memang sangat mendadak." Haden menjelaskan pertama. "Bagaimana Kennedy dan Kenrick terus bersama dalam mengembangkan perusahaan, kita bahkan sudah seperti keluarga,"
"Dad, langsung saja--" potong Sean kemudian.
"Sean--diam lah dulu! Kenapa kau sangat tidak sabaran!" Angel yang menyahut. "Seharusnya aku yang bersemangat,"
"Benar kata Sean. Langsung saja," jawab Altair mendukung.
Membuat ke-empat orang tua disana hanya menggelengkan kepala.
"Ini bukan waktunya untuk main-main lagi. Mengingat kalian semua sudah berada disemester akhir," David kini mengambil alih untuk menjelaskan. "Perusahaan kita akan menjadi semakin besar jika kita menjadi keluarga seutuhnya," David menyambung lagi. Membuat Altair benar-benar mengerutkan dahinya, bingung.
"Jadi, kami memutuskan untuk menikahkan Altair dan Angel," jelas David kemudian. Membuat Altair tersedak detik itu juga.
"Apa?? Menikahiku?" sahutnya geli. Dia sudah tertawa disana. Lalu, menemukan wajah serius semua orang, Altair menggeleng kepala pelan. "Tidak dad!" teriak Altair tidak terima. Dia sudah berdiri dan posisinya.
"Altair--" tegur Clarissa lagi. Dia menahan lengan anak semata wayangnya itu. Kemudian menoleh pada suaminya, meminta sedikit pengertiandari David--untuk putranya.
"Tidak mom! Aku tidak mau! Aku sudah memiliki kekasih! Aku tidak ingin pernikahan ini! Kalian gila!" sambungnya marah seraya berlalu pergi.
Menghiraukan kilatan marah dari kedua mata papanya, juga seruan memohon dari mamanya. Altair tidak peduli lagi. Dia sudah memiliki pilihannya sendiri!
Jadi, mengganti bajunya dengan kaos putih dan celana pendek, juga sepatu yang ditariknya asal, Altair enggan untuk berdiam dirumah. Dia lebih memilih untuk menaiki sedannya kembali dan berlalu menghampiri tujuan sebenarnya.
Tidak tahu bagaimana lagi, Altair seperti tengah membutuhkan Lea. Itu saja.
???
"Sayang, sudah kukatakan Altair tidak akan setuju dengan rencana ini," Clarissa berujar sedih. Tidak tega melihat kemarahan dari Putranya tadi. "Aku sudah bilang Altair memiliki kekasih, kenapa kau tidak mempercayai itu??" sambung Clarissa lagi. Dia sudah benar-benar menangis disana.
Melihat itu membuat David langsung memeluk istrinya. Merasa bersalah atas rencana dadakan itu. "Maafkan aku, aku hanya ingin membantu Haden, kau tahu Angel sangat menyukai Altair." jelas David pertama. Berusaha menenangkan istrinya itu, "Juga bagaimana perkembangan perusahaan kita, semua itu karena Haden yang membantu," sambung David lagi. Memberitahukan perihal peranan Kenrick dalam urusan bisnisnya.
"Biarkan Altair yang memilih untuk itu. Jangan memaksanya, dia sudah tahu mana yang terbaik untuknya." sahut Clarissa cepat.
"Baiklah. Biarkan aku menilai dulu wanita yang menjadi pilihan anakku. Jika memang itu yang istriku inginkan..." ujarnya lembut.
"Dia sangat baik. Kau tidak ada waktu dia kemari dulu," decak Clarissa kemudian.
David mengelus pangkal kepala istrinya itu, sebelum berujar. "Nanti saat ulang tahun pernikahan, aku akan meminta Altair membawanya,"
Clarissa langsung mengangguk setuju. "Tentu saja, kau harus melihatnya sendiri,"
"Jadi berhenti memikirkan itu lagi, aku tidak ingin kau semakin drop," ucapnya penuh perhatian. Membuat Clarissa langsung memeluk hangat suaminya itu.
"Aku akan menjelaskan pada Haden, mereka pasti akan mengerti." tambah David meyakinkan.
"Apa mereka akan marah??" tanya Clarissa takut-takut.
"Sepertinya tidak, mereka juga tahu Altair tidak menyukai Angel sejak dulu." kekeh David kemudian.
"Altair dan Sean sudah berbaikan?" tanya Clarissa lagi, begitu penasaran.
"Tidak tahu, biarkan itu menjadi urusan mereka. Mereka sudah besar, sayang." timpal David lagi. Dengan Clarissa yang sudah mengangguk disana.
???
"Sialan! Bagaimana bisa si songong itu menolak ku??" gusar Angel tidak terima. Kini dia dan Sean sudah berada dalam satu mobil. Mengingat kedua orang tuanya telah lebih dulu pulang dengan mobil yang berbeda.
Sean hanya terkekeh disana, dia tersenyum geli melihat bagaimana kembarannya ini terlihat begitu gusar. "Itu karena kau tidak bisa memikat hatinya. Sudah sejak dulu, menoleh pada mu saja Altair tidak sudi." ledek Sean puas.
Membuat Angel memukul kepala Sean kuat. Menatap kembarannya itu berang.
Sean mengaduh. "s**t! Kita bisa mati dijalan gila!"
"Tidak peduli! Kau pembalap, seharusnya bisa mengatasi itu!" sahut Angel masa bodoh.
"Itu hal yang berbeda bodoh!" keki Sean lagi. "Lihat? Bagaimana Altair mau denganmu? Kau sangat gila!"
"Katakan lagi? Akanku tendang kau hingga keluar mobil!" ancam Angel. Membuat Sean menutup mulutnya saat itu juga. Kembarannya ini benar-benar gila!
"Ish! Apa yang kurang dariku? Aku cantik! Aku sexy! Semua laki-laki bahkan bertekuk dikakiku!" gerutu Angel lagi. Sakit hati dan juga kesal karena penolakan Altair tadi. "Disandingkan dengan teman sekelasmu itu? Oh god! Itu bukan levelanku!" rutuk Angel lagi. Masih sama kekinya.
"Aku punya semua didunia ini. Mengejar Altair, aku bahkan menolak sejuta laki-laki! But why?? Menoleh padaku saja sibastard itu tidak mau!!" gerutunya lagi.
"Aku bersumpah, hubungan Altair dan wanita itu tidak bertahan lama! Benarkan??" katanya lagi, meminta pendapat dari Sean.
Sean hanya mengedikkan bahu tidak peduli.
"Sean! Jawablah sialan!" teriak Angel keki.
"Tadi menyuruhku diam! Sekarang meminta pendapatku, kau ini mau apa sebenarnya??" geram Sean kemudian.
"Ish! Entahlah! Kau mirip sekali dengan sahabatmu itu! Menyebalkan!!" decak Angel lagi.
"Bawel, kau sangat berisik. Tinggal menemui lelaki baru dan lupakan Altair. Tidak susah!" kata Sean tidak ambil pusing.
"Tentu saja, kau pikir aku akan menunggu Altair hingga tua? Hell! Jangan gila!" katanya tidak percaya. "A-ah dan lagi, kalian sepertinya masih bertengkar," kini Angel yang menggoda kembarannya itu.
"Kau tau aku dan Altair memang selalu bertengkar," sahut Sean malas.
"Berbaikan lah, meskipun aku menyukainya. Melihat kau seperti ini dengannya, aku sedih." ungkap Angel tulus.
Sean hanya manggut-manggut.
"Kalian berteman dari kecil, kau juga sangat bodoh! Lebih memilih mendengarkan orang lain dari pada sahabatmu sendiri," cerocos Angel tanpa henti.
"Sudahlah--jangan membahas itu lagi. Aku akan berusaha mendapatkan maafnya," tukas Sean kemudian.
Membuat Angel menghela nafas panjang. Kemudian kembali memukul kepala Sean seperti sebelumnya.
Kali ini, hanya karena dia ingin melihat wajah masam kembarannya itu.
???
Lea sudah keluar dari apartemennya. Setelah menggunakan kalung pemberian Altair--yang berarti Lea menerima lelaki itu, Lea tersenyum sepanjang koridor.
Altair memintanya untuk turun keparkiran, tidak seperti biasa karena si songong itu akan selalu menyempatkan diri keapartemennya. Tapi mengingat kakinya yang sudah sembuh, Lea tidak ambil pusing.
Ia sudah sampai pada lobi apartemen, menemukan Altair yang tengah menikmati rokoknya pada ujung undakan tangga parkiran. Lea mengerutkan dahi.
Lalu mendapati baju mereka berdua yang senada, membuat Lea semakin mengulum senyumnya. Bahkan dalam balutan kaos putih itu--Altair begitu terlihat mempesona.
Lea berdeham. Hanya untuk mengalihkan perhatian lelaki itu, karena kini ia ingin memamerkan kalung yang sudah dipakainya. Tidak lagi banyak berpikir tentang apapun karena Lea juga sudah jatuh cinta pada sisongong itu.
"Hei? Kenapa melamun?" tegur Lea lagi. Altair tidak menyadari kehadirannya. Wajah lelaki itu tampak murung, tidak seperti biasanya. Membuat Lea semakin menatapnya heran.
Buru-buru Altair membuang puntung rokoknya, menatap Lea lekat sebelum berujar pasrah, "Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Apa ada hal buruk yang terjadi dirumah?" tebak Lea langsung. Karena sebelumnya Altair masih baik-baik saja. Mereka masih membicarakan banyak hal.
Altair hanya menggeleng sebelum meraih pinggang Lea. Membawa wanita itu menuju sedannya yang terletak tidak jauh disana, seraya berujar. "Aku hanya memikirkan bagaimana rasanya menikmati sesuatu didalam sana." tunjuk Altair pada baju Lea yang menampilkan sebagian dadanya.
Cepat Lea mendorong Altair, memukul pelan d**a si songong itu sebelum merutuk. "m***m! Apa yang kau pikirkan?!"
Altair hanya mengedikkan bahu, "Sudah kukatakan aku tidak suka melihatmu berpakaian kurang bahan seperti itu."
Kemudian dengan wajah masamnya Lea mengikuti Altair memasuki mobil.
"Ini tidak kurang bahan bodoh!" sahut Lea tidak terima.
"Tidak katamu? Lihat d**a kecilmu, kelihatan--" ledek Altair kemudian.
Membuat Lea menatapnya gusar. "Sialan! Aku hanya ingin tampil sempurna pada kencan pertama kita!" rajuknya kemudian.
Lea langsung membuang muka, menatap pada luar jendela bersamaan dengan sedan Altair yang mulai melaju.
Altair keterlaluan, padahal Lea hanya ingin memamerkan kalung yang sudah di kenakannya. Altair Sialan!
"Hei dungu--" tegur Altair kemudian. Lea hanya berdeham, tidak menoleh pada sumber suara karena moodnya sudah buruk.
Altair terkekeh geli, dia hanya bergurau. Menemukan Lea pada tatapan pertama diparkiran apartemen tadi, melihat wanita menyebalkan itu dengan kalung yang diberikannya, seketika dunianya melambung tinggi.
Lea hadir seolah-olah membuatnya lupa pada apa yang barusan terjadi. Menghiraukan perjodohan gila orang tuanya, Altair hanya menginginkan wanita itu, Lea.
"Kau tahu? Kau sangat cantik--" imbuhnya pertama. "Aku hanya tidak suka orang lain menatapmu juga, kau milikku." sambungnya lagi. Dia meraih tangan Lea.
Memaksa wanita itu untuk melihat wajahnya, Altair semakin geli melihat kilatan masam diwajah wanita menyebalkan itu.
"Cantik sedikit dari ursula? Itu maksudmu kan??" singgung Lea malas. Ia masih menatap Altair tajam.
"Oh c'mon. Maafkan aku, kau sangat cantik! Aku tidak berbohong," decak Altair lagi. Membuat Lea mengedikkan bahu malas.
"Apa yang harus aku lakukan agar wanita cantik ini berhenti marah?" tukas Altair, sesekali dia membagi pandangannya pada jalanan. "Ingin hadiah, Mobil? Apartemen baru? atau...Aku?"
"Si songong ini. Jangan terus memamerkan semua kekayaanmu!" rutuk Lea. Membuat Altair terkekeh geli olehnya.
"Tanpa dijawab pun aku sudah tahu jawabannya," jawab Altair bangga.
"Dasar kau selalu sok tahu!" sahut Lea cepat.
"Itu terbukti dari hadiah yang tengah kau pakai sekarang..." ledek Altair lagi. Membuat Lea menoleh pada kalung yang sudah menjuntai dilehernya. Huh!
Altair menarik tangan wanita itu, mendekatkan punggung tangan Lea kebibirnya dan mencium hangat tangan itu. Menikmatinya seolah-olah itu adalah bibir Lea, Altair tersenyum kemudian. Benar-benar bersama Lea, Altair mampu melupakan dunia.
"Terimakasih sudah menerimaku..." ujar Altair tulus.
Membuat Lea mengangguk dan balas menatap lekat lelaki itu.
Akhirnya, dalam semua kekacauan yang terjadi, Altair hanya butuh Lea ternyata. Tidak lebih dari pada itu.
Keduanya pun melaju, melakukan kencan pertama mereka, yang tanpa sengaja sangat serasi dengan baju yang berwarna senada.
???