Mungkin aku akan menjelma menjadi si paling gila.
Karena menginginkanmu,
tidak perlu aturan.
Jika melanggar akan mendapatkan, maka akan aku lakukan.
***
Lea mengerutkan dahi ketika sedan Altair mulai memasuki bandara Soekarno Hatta. Benar-benar bingung, kenapa Altair membawanya kesini. Karena ini kencan pertama mereka.
"Altair? Kau mengajakku kencan dibandara?" tanya Lea polos. Membuat Altair terkekeh disebelahnya.
Dia sudah memarkirkan sedannya, meminta Lea untuk mengikutinya turun dan membawa wanita itu dalam rengkuhannya.
"Hei, pasangan macam apa yang kencan dibandara?" kekeh Altair kemudian. Dia sudah membawa Lea masuk dan mulai melakukan check in.
"Serius, Altair. Apa yang kau lakukan??" tanya Lea penasaran. Benar-benar tidak habis pikir oleh jalan pikiran si songong itu.
"Kita akan kencan," jelasnya pertama. "Disebuah pulau." lanjutnya kemudian. Dia sudah menatap Lea geli, mengedikkan sebelah mata menggoda.
Lea menggeleng tidak percaya. "Pulau apa? Jangan mengada-ada bodoh!"
"Berhentilah mengomel, diam saja atau kita akan ketinggalan pesawat." sahutnya tajam dan mulai membawa Lea menuju pesawat yang sebentar lagi akan take off.
"Aku tidak bawa apa-apa." rutuk Lea kesal.
"Kita bisa membelinya setelah sampai nanti." potong Altair. Mendapati keterkejutan Lea membuatnya geli sendiri. Tidak tahu kenapa, Altair hanya ingin terus bersama wanita itu.
Mereka sudah berada dipesawat yang sebentar lagi akan lepas landas. Membawa Lea dengan pesawat FirstClass, malah membuat wanita itu tak berhenti berceloteh sepanjang waktu.
"Kau gila, ini pasti sangat mahal. Lagi pula kita akan kemana??" celotehnya panjang. Memasuki pesawat dengan pelayanan terbaik membuat Lea tidak mempercayai itu.
Bukan, bukan karena ia tidak pernah naik pesawat. Tapi karena ini benar-benar mengejutkan.
"Tidak masalah, aku punya banyak uang." kekeh Altair.
"Ini uang orang tuamu!" sahut Lea kesal.
Altair memukul pelan kepala Lea sebelum berbisik. "Aku hanya ingin membahagiakan kekasihku. Apapun akan aku lakukan."
"Tapi aku tidak minta menaiki ini! Lebih baik kita kencan seperti biasa, makan di pinggiran, memutari kota dan berpegangan tangan sepanjang jalan," rutuk Lea kesal.
Altair langsung meraih tangannya. Menyatukan jemari mereka disana, memenjarakan tangan Lea dalam seluruh dekapannya, seraya berujar. "Mari kita melakukan yang kau minta setelah pesawat ini landing."
Lea hanya menghela napas panjang. "Apa kau sedang ada masalah? Kenapa mendadak sekali?"
Altair tidak menjawab. Dia hanya menatap Lea lekat dan membawa wanita itu untuk terus mendekatinya--tidak memberi jarak diantara mereka, karena menemukan Lea seolah-olah hal terbaik yang berulang kali di syukurinya.
Memilih untuk tidak membahas itu, Altair hanya ingin membicarakan hal lain. Pada semua hal gila yang sudah mereka lewati bersama, Altair tidak ingin ini berakhir. Tidak akan pernah.
"Lea?" ujarnya pelan.
Membuat Lea menoleh detik itu juga, menemukan sorotan aneh dari mata Altair, memberinya sesuatu pada tatapan itu, si songong ini terlihat sangat menginginkannya. Tapi Lea tidak menolak, karena ia juga sama.
"Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Altair kemudian.
Lea terdiam seketika. Tidak tahu pada perasaan yang di milikinya. Meskipun Lea berusaha mengingkari ini, perasaan itu timbul kembali. Menikamnya seperti desiran angin tak berpenghuni, membawanya menari-nari pada bait-bait nan mulai melepas diri, lalu menepis semua keingintahuannya pada sosok Altair. Menjadikan lelaki itu seperi sanggahan dan keinginan, menikmati semua yang tersimpan rapi pada wajah menakjubkan itu, merindukannya tanpa pernah berhenti, meski pada jalan panjang yang sudah dicobanya hati-hati.
Perasaan untuk selalu tinggal itu masih berada dikamus tertinggi harapannya, mungkinkan itu yang dikatakan mencintai? Pada apa-apa yang tak sepatutnya Lea sadari? Itukah jawaban atas pertanyaan lelaki ini?
Melihat Lea yang tak kunjung menjawab, membuat Altair menghela napas panjang. "Tidak masalah jika belum, aku akan menunggu hingga waktu itu tiba." jelasnya, kemudian memilih untuk memejamkan mata, masih dengan tangannya yang terus bertaut pada jemari Lea.
Lea mengalihkan mata pada pemandangan menakjubkan yang dilihatnya. Langit-langit cerah yang seolah menyapanya dari balik jendela pesawat, juga wajah kelelahan yang kini sudah terlelap disebelahnya. Membuat Lea silih ganti memperhatikan dua objek paling indah itu sehingga tanpa sadar bibirnya ikut mengukir senyum.
'Mungkin, aku sudah mencintaimu Altair.' yakin Lea dalam hati.
???

Hamparan laut biru nan menawan, juga desiran ombak yang menghantam daratan, menjadi pemandangan terbaik yang Lea temui hari ini.
Lea memejamkan mata untuk menikmati sapuan angin sepoi-sepoi di wajahnya. Bagaimana kini ia merasa tenang pada semua pemandangan indah yang tengah dilihatnya.
Mereka sudah sampai disebuah villa yang terletak tidak jauh di sisir pantai. Dimana beberapa orang sudah menyambutnya ketika ia dan Altair baru sampai di Bandar Udara Internasional H.AS. Hanandjoeddin.
Keterkejutan Lea berlipat ganda saat mendapati Altair membawanya kesebuah villa megah yang sudah di pijakinya saat ini. Villa mewah yang tak lain ternyata milik si songong ini. Benar-benar tidak habis pikir berapa banyak kekayaan yang dimiliki Kennedy.
Altair membawanya ke Belitong. Ini pertama kalinya Lea berada disini, sebelumnya ia hanya pernah mendengar bagaimana indahnya semua pulau yang ada disini.
Jadi, tidak bisa Lea pungkiri berapa kali ia terpana pada semua pemandangan yang dilewatinya sepanjang perjalanan tadi. Memang tidak banyak bangunan mewah, hanya terdapat rumah penduduk dan juga hamparan hutan dengan pemandangan laut yang masih asri.
"Permisi tuan muda, nona. Kapalnya sudah siap, 10 menit lagi kita akan berangkat." seorang laki-laki berkemeja rapi memecahkan kekagumam Lea pada pantai di hadapannya.
Lea menoleh, sementara Altair mengangguk. "Oh iya, apakah semuanya sudah siap disana?" tanya Altair kemudian.
Laki-laki itu mengangguk sopan, kemudian berbalik pergi.
Lea langsung menatap Altair lekat. Kapal? Semuanya? Astaga, mau kemana lagi si songong ini membawanya?
Altair terkekeh sebelum berjalan mendekati wanita itu, menggendong Lea cepat dan menaruhnya pada sisi balkon yang langsung menghadap pantai.
"Aku ingin membawamu ke pulau Lengkuas yang ada ditengah laut sana." jelas Altair pertama.
Lea meneguk salivanya, mengingat jarak mereka yang seperti ini, membuatnya linglung seketika. "Pulau Lengkuas? Kenapa seperti nama bumbu makanan?" ujar Lea bingung.
Altair menoyor kepala wanita di hadapannya ini. Geli sendiri karena Lea begitu dungu. "Jangan mengejek namanya, kau akan terpana setelah sampai disana." decak Altair kemudian.
"Aku tidak habis pikir berapa banyak kekayaan yang kau punya," ungkap Lea langsung. Mengingat betapa indah villa yang tengah ia singgahi ini.
"Jangan memikirkannya, kau akan terkejut mendengarnya," sahu Altair.
Membuat Lea mendengus seraya menggeleng tidak percaya. "Kenapa tidak ke Cappadocia saja?? Huh ajak aku kesana--"
Altair tersenyum geli, sebelum berbisik. "Tidak, kau saja kalah taruhan. Kau tau kan aku tidak mungkin sakau dihadapanmu?"
"Itu karena kau tidak memberitahuku sejak awal!" geram Lea, merasa dicurangi.
"Dan kau juga aneh. Kau bahkan selalu menuduhku padahal tidak tahu kebenarannya bagaimana." sahut Altair tidak mau kalah.
"Sudahlah, berdebat dengan mu tidak ada habisnya!" rutuk Lea kesal.
Altair terkekeh sebelum mengecup pelan bibir Lea. Mengedikkan sebelah mata lalu membawa wanita menyebalkan itu dengan gaya--bridal.
Membiarkan Lea yang terus berteriak meminta diturunkan. Tidak menghiraukan banyaknya tatap mata yang menatap geli keduanya.
Altair bahkan tidak mempedulikan itu. Dia mencintai Lea, lebih dari yang wanita ini tahu.
Kapal yang di naiki Altair dan Lea sudah melaju. Memang bukan kapal berjenis mewah yang Lea pikirkan.

Ini lebih pada kapal kayu yang berjalan pun harus dibantu dengan tenaga mesin berisi minyak. Lea membayangkan bagaimana jika minyak itu habis atau mesinnya rusak ditengah perjalanan mereka? Hell! Ini sama dengan bunuh diri namanya. Namun menepis itu karena Altair terus menangkup tangannya, membuat Lea seolah-olah tak berdaya pada apa yang seharusnya ia takutkan.
Hanya mereka berdua didalam kapal ini. Dengan satu petugas yang memang dikhususkan untuk membawa kapal ini pada tujuan mereka.
"Kau terlihat pucat. Kau takut?" tanya Altair, dia menyapu wajah Lea. Meski dalam pekatnya malam, Altair tahu wajah ketakutan itu. Mereka duduk pada ujung kapal, saling berhadapan dengan hamparan bintang yang seolah menyambut kedatangan mereka.
"Aku tidak bisa berenang." ucap Lea. Sentuhan tangan Altair membuatnya tidak merasakan ketakutan, bagaimana tatapan lelaki itu terus menghujaninya membuat Lea merasa utuh dan juga terlindungi.
"Hei, tenang saja ada aku disini." yakin Altair. "Tidak ada yang perlu kau takutkan. Kau aman Lea, jika bersamaku." sambungnya lagi.
"Apa kapal ini kuat? Apa kita tidak akan kehabisan minyak ditengah laut? Apa tersedia pelampung jika suatu waktu kapal ini karam?" todong Lea bertubi-tubi. Semua pertanyaan itu begitu mengusik pikirannya.
Altair benar-benar tertawa detik itu juga. "Dungu! Itu tidak mungkin, ini tidak jauh sayang. Kau lihat itu, mercusuarnya sudah kelihatan!" tunjuk Altair.

Lea langsung mengikuti arah yang diberitahukan Altair. Bagaimana menara berwarna putih itu terlihat berdiri kokoh. "Kita sudah sampai?"
Altair mengangguk cepat. "Sebentar lagi, kau pikir kita akan menempuh sepuluh jam perjalanan dengan kapal ini??"
"Makanya aku khawatir bodoh! Kau tidak bilang pulaunya tidak jauh! Ish!" rutuk Lea kesal.
"Aku akan membawamu dengan yacth milik Kennedy jika kita pergi sejauh itu." kekeh Altair geli.
"Kau--punya yacth?" tanya Lea tidak percaya.
Altair menyunggingkan senyum geli, "Tentu saja." jawabnya bangga.
"Si songong ini, kau selalu saja memamerkan harta keluargamu." rutuk Lea.
"Kau yang bertanya, kenapa jadi menyalahkanku??" jawab Altair tidak terima.
"Jadi? Kita tidak akan pernah ke Cappadocia??" tanya Lea dengan wajah sedih. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Altair menggeleng. "Cium dulu--"
Lea langsung mengecup bibir Altair, cepat, tanpa berpikir. Lalu ia mengejek Altair.
Membuat Altair memicingkan kepala. "Suatu saat aku akan membawamu kesana."
Lea langsung meraih lelaki itu dalam pelukannya. Bagaimana kini bersama Altair semua nyamannya bersarang.
Kemudian teguran dari bapak pembawa kapal mengejutkan keduanya. Dia memberitahukan mereka sudah sampai.
Altair turun lebih dulu, dia meraih jemari Lea untuk membawa wanita itu pada pinggiran. Bagaimana perasaannya lega dan juga ukiran senyum diwajahnya tak berhenti memudar, mendapati wajah berseri Lea, Altair bahagia melihat wanita itu.
"Saya pamit lebih dulu tuan muda," ucap bapak pembawa kapal itu sopan.
Altair mengangguk. Masih terus memperhatikan bagaimana kekaguman Lea terus berporos pada pulau yang telah mereka singgahi ini.
"Sudah kukatakan, kau akan terkejut setelah sampai." kekeh Altair.
Lea mengangguk mantap. Matanya terus menelusuri semua pemandangan nyata di hadapannya.
Pulau ini tidak besar, ada banyak bebatuan dikanannya, mercusuar yang berdiri kokoh ditengahnya, pohon-pohon kelapa yang berjuntai dan berkelok oleh desiran angin, juga Komodo yang terlihat berjalan bebas memutari pulau itu.
Lea meneguk ludahnya, menoleh pada Altair yang sudah menatapnya--lekat.
"Komodo itu tidak dikurung??" tanya Lea penasaran. Altair mengedikkan bahu sebagai jawaban.
"Kenapa tidak ada orang disini?? Apa jika malam memang se-sepi ini?"cetus Lea lagi.
"Itu karena aku telah menyewa pulau ini," sahut Altair cepat. Membuat Lea membelalakkan mata tidak percaya.
Altair menarik tangannya, membawa mereka menuju tikar yang sudah tergeletak lengkap dengan beberapa makanan dan juga minuman.
Altair membawa Lea untuk duduk disampingnya. Matanya tidak berpindah kearah lain, menelusuri semua hal yang sudah terjadi sampai hari ini.
"Maaf aku hanya bisa membawamu kencan seperti ini." ujar Altair.
Lea menggeleng pelan. "Gila! Kau gila! Ini sudah sangat luar biasa!" sahut Lea penuh semangat.
"Kau suka?" tanya Altair lagi.
Lea mengangguk cepat. "Aku suka, Altair. Terimakasih, ini sangat indah. Pulau ini benar-benar menakjubkan."
"Aku senang jika kau suka." tukas Altair. Dia merebahkan dirinya diatas paha Lea. Membuat Altair dapat menikmati wajah wanita itu dan juga hamparan bintang dilangit malam.
"Apa semua yang pernah kencan denganmu kau perlakukan seperti ini??" ledek Lea kemudian.
"Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, kau yang pertama." jawab Altair tulus.
Lea mencabik. "Benarkah? Dengan mantanmu pun kau tidak pernah??"
"Tidak pernah. Dia terlalu mengekangku."
Lea tertegun mendengar itu, benarkah? Serena mengekang lelaki ini? Bagaimana mungkin??
"Kenapa?" tanya Lea akhirnya.
Buru-buru Altair menjawab. Tidak penting, tidak perlu mengatakannya. Dia sudah memiliki Lea. Untuk apa lagi memikirkan wanita yang sudah tiada itu?
"Entahlah. Jangan membahasnya lagi, aku hanya ingin mengetahui tentangmu." ujar Altair kemudian.
"Ten-tang-ku?? Apa yang ingin kau ketahui??" tanya Lea gelagapan.
"Everything--"
Lea ingin saja membagi semua bebannya kepada Altair. Namun seolah-olah tertahan, tidak tahu kenapa, Lea belum siap memberitahukan semuanya.
Pada hidupnya, semua kekacauan yang dimulainya, Ayahnya, Ibunya dan semua hal gila ini. Lea tidak siap. Tidak tahu hingga kapan, Lea hanya berharap segalanya akan berakhir indah seperti semua mimpi-mimpinya.
Lea menggeleng sebelum kembali mengecup pelan bibir lelaki itu. "Aku tidak tahu harus menceritakan apa, aku hanya lelah."
Altair langsung kembali menegapkan tubuhnya, lalu menarik Lea dalam pelukannya. Membawa kepala gadis itu terbaring dilengannya, seraya berujar. "Tidak masalah. Istirahatlah kalau begitu." bisiknya pelan.
"Apa kita akan tidur disini?" tanya Lea polos.
Altair mengangguk. "Jika kau mau."
"Aku mau, kau lihat itu Altair! Bagaimana bintang disana begitu terlihat sempurna??" kekehnya riang.
Altair sudah larut dalam dekapan wanita itu. Hanya beralaskan tikar mereka terbaring disana.
Tidak ada siapapun, hanya mereka berdua ditemani pekatnya malam itu. Berulang kali Altair mengecup pangkal kepala wanita dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Lea. Kau harus tahu itu." jelasnya sekali lagi.
Lea merasakan bagaimana perkataan Altair membuat hatinya menggila, bagaimana rengkuhan lelaki itu mendekap tubuhnya dengan kuat.
"Altair?" tegur Lea pelan. Altair berdehem singkat.
"Jika sesuatu yang buruk terjadi kedepannya, berjanjilah pada ku satu hal?" pinta Lea lagi.
Altair mengerutkan dahi bingung. Tidak mengerti atas maksud Lea yang tiba-tiba itu.
Namun masih tetap menunggu wanita itu menyelesaikan perkataannya, Altair mengangguk pelan.
"Jangan pernah meninggalkan ku." ucap Lea. Ia menyerahkan jari kelingkingnya, menunggu Altair untuk menyambut dan meraih itu.
Altair mencolek pelan hidung Lea, dengan posisi mereka yang sudah berbaring itu jauh lebih mudah.alu menautkan kelingkingnya pada kelingking Lea, Altair berujar. "Aku berjanji."
Malam itu, dibawah langit malam dengan beribu-ribu bintang menjadi saksi. Sapuan ombak yang menghantam pekarangan, serpihan angin yang menghantam tubuh mereka, juga Mercusuar yang berdiri kokoh menjadi bukti, bagaimana kedua insan itu, tengah menata perasaan bahagia mereka.
???