Ternyata bahagia itu tidak sulit ditemukan.
Bagaimana kedua manusia bisa bersama saja, segalanya jauh lebih membahagiakan.
Karena menemukan dan mendapatkan.
Merupakan paket lemgkap untuk menata sebuah bahagia.
***
Lea membuka mata perlahan. Terakhir kali yang di ingatnya, ia hanya terlelap diatas lengan kokoh Altair.
Jadi, mendapati pemandangan berwarna putih berlapis emas disekitarnya Lea berlonjak.
Menemukan tubuhnya diatas kasur besar dan empuk dalam sebuah kamar, membuatnya terduduk seketika.
Bukankah semalam mereka masih di Pulau itu? Kenapa pagi ini Lea malah berakhir disini?
Cepat Lea berjalan keluar kamar, memutari seluruh ruangan dan mencari-cari sosok Altair yang tidak juga ditemukannya.
"Altair?" teriak Lea pertama.
Tidak ada jawaban. Lalu Lea melakukannya terus menerus.
"Altair? Kau dimana?" pekiknya lagi.
Lalu menemukan seorang pelayan wanita yang terlihat akan menghampirinya, Lea menghentikan pencariannya.
"Maaf nona, Tuan muda sedang pergi berbelanja."
Lea mengerutkan dahi. "Kenapa dia tidak mengajakku??" rutuk Lea kesal.
"Tuan muda berkata, dia tidak tega membangunkan nona. Nona terlihat sangat lelah." jelas pelayan itu pertama. "Tuan muda sudah pergi sejak tadi pagi, mungkin sebentar lagi kembali." sambung pelayan itu sopan.
Lea hanya mengangguk, membiarkan pelayan itu berlalu. Ia kembali berjalan, menyusuri kolam renang yang tersedia di pojok Villa tempatnya menginap. Masih menatap pantai yang terpampang begitu indah dihadapannya, Lea tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya pada arah lain.
Lea terhipnotis pada keindahan yang sedang di lihatnya. Bagaimana keindahan itu begitu terpancar nyata, seperti tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Nona, ini minumannya." tegur seorang pelayan lagi.
Lea berlonjak, kembali menoleh pada sumber suara, karena tegurannya mengejutkannya.
Pelayan itu menyerahkan sebuah Es jeruk besar kepada Lea.
Lea menerimanya, mengucapkan terimakasih kemudian kembali fokus pada apa yang membuatnya kagum.
"Jika butuh sesuatu, panggil saja ya. Kami selalu siap di dapur." kata pelayan itu sopan, dia tersenyum sebelum berlalu meninggalkan Lea.
Sejuk, tenang dan nyaman. Hanya tiga itu yang dapat Lea gambarkan bagaimana perasaannya kali ini. Seakan semua kekalutannya runtuh hanya karena semua pemandangan di hadapannya.
Lea tidak memikirkan setumpuk tugas akhirnya. Perasaan takut yang terus bersarang didadanya seakan musnah begitu ia sampai disini.
Lea tahu ini salah sejak awal, namun bagaimana kini Altair menjadi sesuatu yang selalu ingin dilihatnya benar-benar membuat hidup Lea berubah total.
Ia membohongi Dryna.
Ia membohongi Pietro.
Ia bahkan membohongi Altair juga.
Lea meringis memikirkan bagaimana bisa semua ini malah berakhir seperti ini.
Kenapa Lea tidak mampu menahan rasa sukanya? Kenapa Lea tidak mampu menahan pesona Altair? Kenapa? Kenapa ia terjebak pada semua permainan bodoh yang dibuatnya ini?? Lea bahkan merutuk dirinya berkali-kali.
Ketika sebuah pelukan dari belakang berhasil membuat Lea menyadarkan dirinya.
Lea sedikit menengadah untuk menoleh lalu menemukan Altair sudah memeluk pinggangnya erat.
"Apa yang kau lakukan?" rutuk Lea pertama. "Bagaimana jika pelayan didapur melihat kita??!!" sambungnya kesal.
Altair hanya terkekeh sebelum berbisik pelan, "Mereka sudah tahu."
"Ish! Lupakan! Kau dari mana saja? Kenapa meninggalkanku disini?" cerocos Lea lagi.
Altair mengelus kepala wanita menyebalkan itu. Bagaimana Lea terus menyemprotnya dengan rentetan pertanyaan, membuat Altair gemas sendiri.
"Aku membelikan beberapa baju untuk kita. Kau terlelap dengan pulas, aku tidak ingin mengganggumu sayang." ucap Altair.
Lea membalikkan badannya. Membuat posisi mereka kini saling berhadapan. Tidak peduli lagi pada jantungnya yang sudah berpacu gila, karena semakin lama Altair memperlakukannya semanis ini, semakin tidak waras pula jantung Lea berdegup kencang.
"Bagaimana aku berakhir dikasur itu? Bukankah kita semalam berada di tengah Pulau sana?" tanya Lea penasaran.
Altair mengedikkan sebelah mata, sebelum berujar menggoda. "Aku yang membawamu pergi. Tidak tega melihat wanita menyebalkan ini tidur hanya beralaskan tikar," kekeh Altair. Dia membenarkan anak rambut Lea.
Membuat Lea meneguk ludahnya. Sialan! Altair memang gila karena telah membuatnya sejatuh cinta ini! Yatuhan!
"Apa kita akan pulang?" duga Lea kemudian.
"Kau mau pulang?" tanya Altair langsung.
Cepat Lea menggeleng. Membuat Altair terkekeh detik itu juga.
"Maka kita akan tetap disini." jawabnya, membuat Lea mengangguk senang.
Handphone Altair berbunyi, membuat Lea ikut menoleh pada sumber suara. Altair merogoh benda pipih itu dari sakunya, lalu menemukan panggilan dari Clarissa disana.
"Siapa?" tanya Lea penasaran.
"Mamaku." sahut Altair cepat. Altair mengedikkan bahu malas sebelum memasukkan handphonenya kembali.
"Hei? Angkatlah, itu Mamamu." tegur Lea. Bingung karena Altair belum juga menerima panggilan itu.
Akhirnya setelah seruan dari Lea, barulah Altair menerima panggilan itu.
"Altair? Kenapa tidak pulang? Kau masih marah?" tanya Clarissa hati-hati. Tidak ada basa-basi, karena panggilan itu diterima, dia sudah sangat bersyukur.
Altair mendengus, dia tidak pernah tega melawan Clarissa. Tapi bagaimana kemarin kedua orang tuanya melakukan perjodohan gila itu, membuat Altair marah.
Altair terpaksa beranjak dari tempatnya dan Lea berdiri tadi. Dia sengaja menjauhkan diri karena Altair tidak ingin Lea tahu masalahnya kemarin.
Altair hanya berdeham singkat sebagai jawaban. Terlanjur malas karena dia tidak ingin moodnya rusak karena panggilan itu.
"Maafkan mama. Maafkan papamu, dia tidak bermaksud seperti itu," ujar Clarissa merasa bersalah.
Altair terkekeh. "Tidak bermaksud? Dia bahkan terlihat sangat merestui itu!"
"Altair--mama sudah berbicara kepada papa. Kami sudah memberitahu Haden juga, jadi pulanglah. Tidak ada perjodohan itu, mama bersumpah..." ucap Clarissa lagi. Dia menghela napas panjang.
"Aku tidak suka. Sejak awal kalian tahu aku tidak tertarik pada Angel." jelas Altair pertama. "Aku sudah besar, biarkan aku memutuskan siapa yang berhak menjadi pendampingku."
"Iya, mama mengerti. Maafkan kami, maafkan kami tidak membicarakan ini pada Altair..." Clarissa masih berujar penuh salah.
"Sudahlah--jangan membahasnya lagi." timpal Altair kemudian.
"Baiklah. Pulang ya sayang?" rayu Clarissa.
Altair terdiam sesaat sebelum melanjutkan. "Tunggu saja." ucapnya seraya memutuskan sambungan.
Lalu dia kembali menghampiri Lea. Bagaimana kini wanita itu terus menatapnya lekat membuat Altair terkekeh. Dia tahu sorot ingin tahu dari mata dihadapannya ini.
"Aku mendengar nama Angel. Benarkan?" singgung Lea kemudian. Tidak tahu sejak kapan, mungkin saat pertama kali melihat Angel disirkuit balap dulu, Lea tidak menyukai wanita itu. Bagaimana gerak-gerik kembaran Sean tersebut seolah-olah menginginkan Altairnya. Huh! Lea tidak suka memikirkan itu.
Cepat Altair menggeleng, detik selanjutnya dia menangkup wajah yang kini sudah masam itu. "Kau salah dengar, kami membicarakan malaikat. Bukan kembaran Sean itu!" ujar Altair beralasan.
Lea mengerutkan dahi, masih tidak percaya pada perkataan Altair. Ketika detik selanjutnya, baru saja Lea akan protes lagi.
Tapi terlambat karena Altair sudah membungkam bibir Lea dengan cumbuannya.
Jadi, tidak lagi banyak berkomentar karena Lea selalu kalah oleh perlakuan si songong itu. Huh!
???
"Apa yang sinakal itu katakan?" tanya David kepada istrinya.
"Dia akan pulang." jelas Clarissa kemudian. David sudah mendorong kursi rodanya. Mereka sudah berjalan memutari halaman rumah, Menjadi sesuatu yang setiap hari mereka lakukan.
David meninggalkan semua kerjaannya demi membawa Clarissa memutari halaman mereka. Masih membahas masalah yang sama--tentang Putranya, David mendorong kursi roda Clarissa pelan.
"Dia tidak mengatakan apa-apa lagi?" tanya David penasaran. Clarissa menggeleng cepat.
"Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Apa kita sudah keterlaluan?" ujarnya sedih.
David menggeleng. "Tidak sayang. Jangan menyalahkan diri, kita hanya bertindak lebih kali ini," sahutnya pertama. Meyakinkan kepada istrinya bahwa tidak perlu ada yang disalahkan lagi.
"Tapi Altair sampai tidak pulang, kau tahu dia tidak pernah seperti itu..." decak Clarissa.
"Itu karena dia sedang jatuh cinta." kekeh David kemudian. "Dia tidak mengatakan apa-apa. Kau tahu sayang? Altair sekarang ada di Bangka Belitong bersama kekasihnya." sambungnya menjelaskan.
Membuat Clarissa menengadahkan kepalanya dan menoleh. "Benarkah? Altair ada disana? Astaga sinakal itu tidak mengatakan apa-apa!"
"Darwis yang mengabariku. Katanya Altair ada disana--" jelas David lagi.
Darwis merupakan manager yang bertugas mengurus villa mereka disana. Bagaimana lelaki paruh baya itu mengatakan kedatangan Altair disana membuat David tidak percaya karena sinakal itu benar-benar gila.
"Sayang--dia sudah besar." sahut Clarissa cepat. Mengacaukan semua kekalutan pada wajah suaminya itu. "Tapi bagaimana bisa sinakal itu pergi tanpa izin dari kita?" sambung Clarissa lagi. Tapi dia bahagia mendengar itu, mengingat bagaimana Altair kini menemukan wanita pilihannya.
"Benar-benar anak nakal!" decak David geram.
"Kita sudah lama tidak kesana, terakhir waktu Altair lulus SMA." kekeh Clarissa.
David mengangguk. "Aku jadi penasaran siapa wanita yang berhasil membuat sinakal itu melawan kita,"
"Aku akan memastikan Altair membawanya pada hari ulang tahun pernikahan kita," jawab Clarissa bersemangat.
David hanya mengangguk. "Itu kewajiban. Aku harus menilai bagaimana wanita itu untuk putra kita."
"Aku yakin kau akan setuju." bangga Clarissa lagi.
David hanya mengedikkan bahu sebelum kembali mendorong kursi roda istrinya.
"Dia sangat mirip denganmu. Ingat? Bagaimana kau kabur dari kedua orang tuamu hanya karena ingin mengajakku pergi," ledek Clarissa kemudian. Kembali teringat kenangan masa mudah mereka dulu. Bagaimana hari-hari muda itu, mereka lewati dengan penuh kegilaan.
"Benar, gen keturunan sangat terlihat jelas. Altair benar-benar mirip denganmu," ucap Clarissa lagi. Bagaimana semua yang anaknya itu lakukan, selalu mengingatkannya pada semua hal gila yang pernah David berikan padanya.
"Itu karena dia putraku!" sahut David cepat. Membuat keduanya terkekeh disana.
???
Masih dengan pemandangan sama--lautan yang asri, Altair tidak sedikitpun melepaskan rengkuhannya pada pinggang Lea.
Mereka menyusuri semua pulau dengan kapal yang sama seperti semalam.
Altair membawa Lea mengunjungi pulau-pulau yang ada. Bagaimana tawa wanita itu, wajah kekagumannya dan semua bentuk keterkejutan yang Lea tampilkan, membuat Altair lebih menikmati wajah itu daripada pemandangan yang ada.
"Kau sudah sering kemari?" tanya Lea ketika mereka telah sampai di Pulau Batu Berlayar.

Hanya ada beberapa undakan pasir dan juga beberapa batu granit berukuran besar disana. Pulau itu tidak besar,namun berhasil membuat Lea terpesona oleh keindahannya.
Lea menyusuri pulau itu, di-ikuti Altair yang terus menyatukan jemari mereka. Lea mengulum senyum, kemudian menoleh pada Altair--menunggu jawaban. Dan mendapati Altair mengangguk sebagai jawaban, Lea terkekeh.
"Ini pulau yang indah, Altair. Jika aku diberi kesempatan lagi, mungkin aku akan datang kemari," ujar Lea penuh kekaguman.
"Kau ingin tinggal disini??" tanya Altair kemudian. Mereka memutari bebatuan di sana.
Lea menggeleng, "Aku hanya ingin menjadikan ini sebagai tempat liburan,"
"Kita bisa pergi kapan saja jika kau mau," sahut Altair cepat.
"Begitulah yang orang kaya katakan--"singgung Lea. Membuat Altair mengacak rambutnya geram.
Lea berlalu lebih dulu, meninggalkan Altair di belakang karena kini ia sudah larut merendam kakinya di atas pasir. Menikmati itu sebagai hal sederhana yang mengagumkan. Lea tertawa puas, apalagi ketika air laut menghantam sebagian tubuhnya.
Melihat itu Altair merogoh handphonenya. Mengambil foto wanita menyebalkan itu tanpa Lea ketahui. Detik selanjutnya Altair malah terkekeh geli. Bagaimana Lea terus merutuk karena hempasan angin terus mengusik rambutnya.

Altair menyukai bagaimana wanita itu terus menggerutukan segala hal kepadanya. Hingga akhirnya, Altair teringat dia harus segera kembali.
"Sepertinya kita harus pulang hari ini." ucap Altair akhirnya. Bagaimana kekhawatiran Clarissa tadi malah membuatnya kalut.
Lea menoleh, menekuk wajahnya sedih, "Kenapa?"
"Mama ku--"
"Sakit? Astaga, ayo. Kenapa tidak bilang sejak awal, ayo kita pulang!" ajak Lea langsung. Ia panik seketika, mengingat Tante Clarissa memiliki penyakit yang cukup serius.
"Hei, mamaku tidak apa-apa. Dia hanya memintaku pulang," kekeh Altair kemudian.
Membuat Lea menghela napas lega. "Ku pikir sesuatu yang buruk terjadi,"
Altair menggeleng, dia menyematkan jaketnya ketubuh Lea. Merengkuh wajah wanita itu dengan penuh kelembutan, menatap matanya dalam dan lekat, seolah sedetik saja berpaling semua hal gila ini hanya mimpi.
"Aku menyukaimu Lea. Aku mencintaimu." kata Altair tulus.
Lea tertegun, bagaimana mata Altair terus mengunci semua pergerakannya, membuat ukiran dikedua ujung bibirnya terkulai sempurna. "Kau sudah mengatakannya berkali-kali," ledek Lea kemudian.
Altair mengedikkan bahu tidak peduli. "Tidak masalah, aku mampu mengatakannya setiap hari."
Lea hanya tersenyum geli sebelum meraih wajah Altair, menatapnya genit seraya mengedikkan sebelah mata. Lalu mengecup bibir tebal si songong itu pelan, ia menyapu wajah Altair juga.
"Aneh mendapati si songong ini jadi begitu perhatian," kekeh Lea. Ia mengusap wajah Altair lembut.
Altair sudah menggigit bibirnya, menatap tajam wanita menyebalkan itu, karena Lea selalu menyudahi ciuman mereka disaat Altair belum--puas melakukannya.
Baru Altair akan membalas ciuman itu, Lea sudah menguraikan diri dan berlari--menjauh.
"Awas kau!" ancam Altair seraya ikut berlari.
Bahkan, dalam satu tangkapanpun Altair sudah kembali merengkuh wanita itu.
"Altair!! Lepaskan aku!!" teriak Lea. Berusaha melepaskan diri dalam pelukan Altair. Bagaimana si songong itu mengejarnya, mendekapnya, menatapnya tanpa jeda, benar-benar menguras habis pikiran Lea.
"Tidak Lea. Tidak akan!" ancam Altair. Dia sudah memenjarakan wanita itu dalam pelukannya.
"Kau curang!" pekik Lea, ketika Altair kini sudah menciumnya nakal.
Bajingan itu!
???