Menemukanmu pada tatap mata yang membelenggu.
Menafsirkan tentang kita dengan segala kemungkinan yang menjadi satu.
Menginginkanmu pada tiap keinginan yang semakin menyatu.
***
Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Lea sudah berada disedan Altair yang sengaja lelaki itu tinggalkan pada parkiran Bandara.
Mereka sudah kembali ke Jakarta sesuai kesepakatan yang dibuat keduanya. Kini Altair telah menderu sedan itu dan mulai meninggalkan bandara.
Altair harus bertemu orang tuanya, meminta penjelasan tentang perjodohan itu secara menyeluruh dan mengatakan bahwa dia sudah memiliki wanita pilihannya sendiri.
Ada banyak sekali pembahasan yang telah Altair dan Lea bicarakan. Tentang pertemuan gila mereka, bagaimana perlakuan songong Altair, tingkah menyebalkan Lea dan juga sebentuk perasaan yang timbul, hingga mereka berakhir seperti saat ini.
"Altair? Kau tahu sejak awal kita bahkan tidak berkenalan dengan baik." kekeh Lea mengingat itu.
Altair menoleh sesaat. "Benarkah? A-ah iya, aku ingat bagaimana wajah masammu ketika aku memanggilmu Lele." tambah Altair kemudian.
"Kau sangat songong, Altair. Kau benar-benar tega pergi begitu saja." rutuk Lea kesal mengingat itu.
Lalu Altair meraih tangan wanita itu. Menyentuhnya dengan sebelah tangan, dan terkekeh. "Itu karena kau menyebalkan. Dan lagi, aku tidak ingin berurusan dengan wanita gila sepertimu." sahut Altair, membuat Lea menatapnya tajam.
"Altair Ataya Davendra Kennedy. Itu namamu kan??" tebak Lea disana. Ia ingat bagaimana teman satu fakultasnya sering membicarakan kekayaan keluarga Kennedy. Walaupun Lea hanya sekedar mendengar, karena ia bukan tipe wanita hobi bergosip.
Altair mengangguk kemudian. "Itu sudah bukan rahasia umum lagi."
"Apa ada artinya?" tanya Lea penasaran.
Altair mengerutkan dahi bingung. "Apa?"
"Namamu," potong Lea.
"Penguasa yang penuh anugrah." jelas Altair kemudian. Dia tersenyum geli. Tidak tahu karena ini pertama kalinya seseorang bertanya tentang arti dari namanya. Altair ingat karena Clarissa pernah mengatakannya dulu.
"Penguasa?" kening Lea mengkerut.
"Penguasa hati wanita," kekeh Altair selanjutnya. Membuat Lea spontan memukul lengan si songong itu lagi.
"Kenapa kau selalu memukulku?" rutuk Altair.
Membuat Lea menatapnya tajam. "Karena kau songong!"
Meninggalkan Altair yang sudah tertawa di sana.
"Aku suka mendengar arti nama seseorang. Itu seolah-olah membuat kita sangat berharga didunia ini," tutur Lea kembali.
Altair menggeleng geli, sebelum berujar. "Terus? Bagaimana dengan namamu?"
"Lea Gavera Zelina Ca--" Lea menghentikan perkataannya sesaat, ia terkekeh kemudian. "Katanya aku Dewi perahu yang lahir saat matahari terbit."
Altair mengerutkan dahinya bingung, sebelum tertawa lagi. "Dewi perahu? Hei! Omong kosong apa itu, kau saja tidak bisa berenang!" ledek Altair kemudian.
Membuat Lea menatapnya masam. "Huh! Aku tidak tahu Ayahku yang mengatakannya,"
"Ck! Itu unik juga. Selesaikan namamu, siapa tadi?" tanya Altair penasaran.
Lea mengedipkan sebelah mata, sebelum berujar. "Ayo tebaklah sendiri," godanya.
Membuat Altair mendengus, seiring sedannya yang sudah memasuki parkiran apartemen Lea.
Lea melepaskan seatbeltnya, mengambil beberapa barang yang sudah mereka beli sebagai cenderamata dari Belitong dan kembali menatap Altair.
"Kau tidak singgah lebih dulu?"
Altair menggeleng sebagai jawaban. "Aku harus pulang, ada yang ingin aku bicarakan dengan orang rumah." jelas Altair. Membuat Lea mengangguk dan mulai meraih gagang sedan Altair.
Namun niatnya terhenti karena Altair sudah menariknya, Lea menoleh dan mendapati Altair sudah menyeringai puas, bagaimana senyum menggoda itu masih terpancar di sana, Lea tahu apa yang akan si songong itu lakukan. Lalu, baru saja hendak protes Altair sudah menciumnya nakal.
Si songong ini! Selalu saja mencuri kesempatan!
Altair menyudahi itu, menyapu bibir Lea dengan tangannya sebelum tersenyum geli. "Setelah itu aku akan datang kemari dan menikmati ini lagi,"
Membuat Lea mendengus dan turun dari sedan Altair. Ia melambaikan tangan, masih terus menunggu hingga sedan Altair berlalu dan hilang dari pandangan.
Gila karena bibirnya terus mengukir senyum.
???
Altair sudah memarkirkan asal sedannya pada halaman besar rumah yang kali ini dimasukinya dengan ogah. Bagaimana kemarin orang tuanya memutuskan sesuatu yang gila tanpa memberitahunya membuat emosi Altair kembali memuncak.
Dia melangkah pelan ketika menemukan David dan Clarissa sudah menunggunya diruang tamu utama rumah besar itu.
Altair berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Memilih duduk di sofa terujung karena dia sedang malas saat ini. Wajahnya ditekuk habis-habisan, menandakan bahwa moodnya sedang buruk. Tidak seperti biasa karena Altair akan mencium pipi Clarissa setiap kali mereka bertemu.
"Altair, maafkan kami..." Clarissa berujar tulus. Dia menatap wajah anaknya yang sangat tidak bersahabat. Benar-benar geli karena Altair selalu seperti itu setiap kali marah.
"Papa hanya ingin membantu Haden..." David ikut menjelaskan.
"Dengan cara menjualku?" sahut Altair ketus.
"Altair! Kami tidak menjualmu. Astaga kenapa kau berfikir seperti itu??" ujar Clarissa sedih.
"Jaga bicaramu Altair!" tegas David kemudian.
Altair hanya mengedikkan bahu malas.
"Aku tidak suka Angel. Kalian seharusnya tahu itu!" sambung Altair menegaskan.
Clarissa mengangguk. "Kami tahu nak. Kami tahu!" sahutnya cepat. "Papamu hanya tidak berpikir lebih jauh jika kau akan semarah ini, maafkan kami. Maafkan kami..." sambung Clarissa bertubi-tubi. Dia menatap Altair sendu, matanya sudah berbinar disana.
Bagaimana melihat wajah Clarissa bersedih membuat Altair tidak tega. "Sudah kumaafkan." jelas Altair akhirnya. Sebelum melanjutkan, "Jangan mengulanginya. Aku sudah punya wanita pilihanku sendiri."
"Bawalah kepesta ulang tahun pernikahan kami. Kenalkan wanita itu pada Papa," David menyahut cepat. Nadanya jauh lebih bersahabat.
Altair hanya mengangguk. Membuat Clarissa lega dan tersenyum kemudian. Malas menanyakan kepergian anaknya itu karena mereka sudah sepakat untuk pura-pura tidak tahu.
"Altair sudah makan?" tanya Clarissa akhirnya.
Altair menggeleng cepat. Membuat Clarissa terkekeh. "Yasudah ayo kita makan," ajaknya.
Altair berdiri dan mulai mengambil alih kursi roda Clarissa dari tangan papanya. "Biar Altair saja." katanya dan mendorong kursi roda itu menuju ruang makan.
Dengan David yang sudah menggelengkan kepala, masih dengan senyum geli diwajahnya. Putranya itu benar-benar tidak bisa dibaca pikirannya!
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada mommy?" ledek Clarissa ketika Altair sudah mendorong kursi rodanya.
Altair mengerutkan dahi bingung. Lalu detik selanjutnya terkekeh. "Ku rasa Pak Darwis sudah melaporkan kedatanganku di sana."
Lalu Clarissa ikut tertawa. "Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tidak menyangka wanita seperti Lea yang berhasil membuatmu bertekuk..."
"Aku mencintai Lea, mom. Dia benar-benar berbeda."
"Mama tahu. Tapi membawanya ke Belitong sangat membosankan. Seharusnya kau pamerkan apa yang Kennedy miliki!" tutur Clarissa lagi.
"Siapa yang mengajarkanmu sesongong ini mom! Daddy?" rutuk Altair.
Membuat tawa Clarissa lepas detik itu juga.
???
Lea sudah merebahkan diri diranjangnya dengan perasaan bahagia bukan main. Bagaimana Altair memberikan kencan pertama mereka sesuatu yang paling berkesan seumur hidup Lea.
Lea tidak pernah berkencan sebelumnya, ada banyak sekali laki-laki yang ingin mendekatinya, tapi tidak tahu kenapa Lea terus menolak itu. Mungkin karena Lea takut mereka tidak akan menerima hidup Lea. Jadi, setiap kali pendekatan mereka maju selangkah, Lea langsung mundur jauh beberapa langkah. Lea tidak ingin atau mungkin memang belum menemukan seseorang yang belum tepat.
Hingga kehadiran Altair mengubah semua itu. Saat tatap mereka beradu pada detik pertama, segalanya jauh lebih rumit dari yang Lea hayalkan. Pada mata hazel yang menatapnya berang saat pertama bertemu, Lea dibuat langsung terpesona detik itu juga. Seakan tatap itu menikamnya untuk terus dinikmatinya.
Ukiran dibibir Lea terus terukir, bagaimana semua kegilaan ini Lea lalui tanpa henti. Ketika ingatan tentang Serena kembali mengalun. Wajahnya langsung berubah sendu. Perasaan bersalah menghantuinya, seharusnya ini tidak begini, berkali-kali Lea meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi kenapa? Kenapa Lea tidak bisa menolak kehadiran Altair? Kenapa Lea dibuat seolah-olah tak berdaya pada semua yang Altair lakukan? Kenapa Lea malah semakin gencar untuk terus melihat wajah si songong itu? Menerima kehadirannya? Merindukan pelukannya? Ciumannya? Dan semua hal konyol yang mereka berdua lewati. Lea benar-benar mati hanya untuk memikirkan itu sendiri.
Karena ternyata Lea sudah mulai menyerahkan seluruh hidupnya, pada Altair.
Ketika sebuah panggilan dari handphonenya mengejutkan Lea. Lea berlonjak untuk meraih benda pipih itu--disana sudah tertera nama Dryna.
Seharusnya Lea tidak menerima panggilan itu, mengabaikan panggilan yang Lea sudah tebak apa pertanyaan dari sepupunya itu. Namun, takut Dryna mendadak datang lagi seperti kemarin, Lea memutuskan untuk menjabawnya.
"Halo?" jawab Lea. Ia sudah menghela napas panjang.
"Hei? Dari mana saja kau? Aku kemarin kerumahmu, kau tidak ada disana." celetuk Dryna langsung.
Lea memutar bola matanya jengah, memikirkan alasan yang tepat untuk ia sampaikan pada Dryna. "Hum, aku ada tugas kelompok kemarin."
"Tugas kelompok?" tanya Dryna tidak percaya. "Hei, kita sudah semester akhir, tidak banyak lagi yang kita lakukan. Tugas kelompok macam apa yang sedang kau kerjakan?" cecarnya panjang.
Lea ingin merutuk dalam hati, begitu terusik oleh seluruh pertanyaan Dryna. Andai Lea bisa mengatakan sejujurnya, kemana ia pergi. Apa saja yang sudah dilakukannya. Lea ingin sekali menceritakan itu, membagi kebahagian yang ia lewati. Mengatakan bahwa ia sudah menemukan seseorang yang disukainya atau mungkin--sudah dicintainya. Tapi tidak bisa, semuanya hanya harus Lea kenang sendiri. Disimpan didalam hati semua kebahagiaan yang ia temui bersama Altair, si songong itu.
"Lea? Kau masih mendengarkanku?" tanya Dryna lagi.
"Eh, masih. Aku sedang merapikan tempat tidurku tadi. Maksudku, aku membantu mengerjakan tugas kelompok juniorku. Aku disuruh menjadi mentor, Dry." bohong Lea lagi.
Barulah terdengar kekehan geli dari sebrang sana. "Oh begitu, aku mengerti. Jadi bagaimana si b******n itu?"
Lea langsung tahu siapa yang dimaksud Dryna. Kembali berkutat dengan semua pemikirannya Lea mencari alasan lain. "Aku belum bertemu dengannya,"
"Huh, kenapa? Apa dia tidak bertanggung jawab pada kakimu lagi?" protes Dryna.
"Tidak. Bukan begitu, itu karena dia sedang sibuk balapan." jelas Lea asal.
"Bahkan dia belum mengakui itu??" tebak Dryna.
Lea mengangguk. Kemudian sadar karena Dryna pasti tidak akan sadar, ia berujar lagi. "Belum, sangat susah untuk membuatnya buka mulut."
"Keluarkan semua kemampuanmu Lea," pinta Dryna berat.
"Pasti, aku akan mencari tahu lebih dalam lagi," yakin Lea.
"Ya, demi Serena." ujar Dryna kemudian.
Lea menggigit bibirnya, sebelum menimpali. "Ya, de--mi Serena."
Sambungan terputus. Lea melempar handphonenya asal, kemudian menangis. Ketika ingatannya berputar pada kejadian waktu itu, pada rencana yang dibuatnya pertama kali bersama Dryna.
Waktu itu Lea sedang menginap diapartemen Dryna. Ini sudah dua minggu sejak kepergian Serena. Berusaha untuk menyemangati Dryna, Lea bahkan terus berada disamping sepupunya itu. Lea paham bagaimana semua rasa bersalah yang Dryna hadapi. Ia juga sangat dekat dengan Serena. Bahkan dibanding Dryna, Lea jauh lebih dekat dengan Serena.
Mereka berdua sama-sama terguncang atas kepergian Serena. Itu mendadak, benar-benar sangat mendadak karena sebelumnya, Serena bahkan tampak baik-baik saja.
Lalu menemukan wanita cantik itu bunuh diri, benar-benar menghentak semua orang. Namun, pihak keluarga memutuskan untuk menyembunyikan itu. Tidak ingin gempar, karena segalanya bakal jauh lebih runyam.
Malam itu, Lea terbangun setelah berkutat dengan banyaknya tugas akhir yang harus ia selesaikan. Lea menoleh dan tidak mendapati Dryna disampingnya, akhirnya berdiri dan mencari Dryna adalah pilihan Lea.
Lea berjalan pelan, dari jauh ia melihat pintu kamar Serena terbuka. Menebak bahwa Dryna ada disana, Lea berjalan mendekat.
Menemukan Dryna menangis, membuat Lea berlari menghampiri sepupunya itu.
"Hei, Dry? Kenapa kau menangis lagi??" tanya Lea panik.
Namun detik selanjutnya, Dryna bahkan menangis lebih keras. Hal tersebut membuat Lea bingung, berusaha untuk menenangkan Lea meraih Dryna dalam pelukannya.
Akhirnya, setelah tangisnya sedikit mereda. Dryna melepaskan dirinya dari Lea, dia menatap Lea dengan mata sendu, kemudian menunjukkan sesuatu yang berhasil membuat Lea tercengang.
Itu testpack.
Bergaris dua.
Astaga Tuhan, Lea bahkan membulatkan mata sempurna.
Lea menarik testpack itu, memastikan sekali lagi pengelihatannya. Tidak ada yang salah, itu benar.
"Aku menemukannya dilemari Serena--" jelas Dryna pertama. Dia berusaha untuk menepis air matanya. "Serena hamil, Lea. Mungkin itu alasan dia mengakhiri hidupnya." sambung Dryna. Dia telah kembali menangis.
Mata Lea berkaca-kaca. Tidak percaya pada apa yang baru saja mereka temukan. Inikah alasannya?
"Siapa yang tega melakukan ini pada Serena?" tanya Lea bodoh. Sebulir air mata sudah jatuh diwajahnya.
Dryna berdiri seketika. Emosinya memuncak hebat. "Aku tahu! Aku sangat tahu! Ini pasti ulah Altair!"
Lea menenangkan Dryna, berusaha meraih tangan sepupunya untuk tidak perlu langsung menyalahkan orang lain. "Duduklah Dryna, kita bisa membahasnya bersama-sama. Tenangkan dirimu,"
"Tidak Lea! Aku tahu, ini pasti ulah Altair! Dia kekasih Serena, kau tidak tahu? Dia anak teknik!" cerocos Dryna panjang.
Lea tahu, ia sangat tahu bahwa Serena memiliki kekasih. Namun, Serena berkata kekasihnya adalah Ataya, bukan Altair seperti yang dimaksud Dryna.
"Kenapa Serena mengatakan padaku bahwa kekasihnya adalah Ataya??" tanya Lea bingung.
"Itu karena namanya Altair Ataya, Lea! Benarkan? Lelaki itu pasti pelakunya! b******n itu!!" geram Dryna disana.
Lea terpaku sesaat. Ia mengenal Altair, tentu saja. Jika memang Altair itu yang dimaksud, Lea sangat mengenalnya. Satu Bima Sakti juga tahu. Dia anak donatur terbesar dikampus itu. Dia Kennedy. Young kennedy. Bersama teman-temannya Altair sering menggemparkan kampus. Apalagi fakultas Lea bersebelahan dengan fakultas lelaki itu. Dan juga, Lea bahkan tahu satu rahasia besar milik lelaki itu. Namun entah kenapa, Lea tidak percaya Altair yang melakukan semua ini.
"Lea? Kita harus melakukan sesuatu untuk mencari tahu kebenarannya!" titah Dryna.
"Oke, baiklah. Mari kita mencari tahu itu." ajak Lea kemudian.
Kemudian mereka mulai menyusun rencana. Segala hal gila yang direncanakan hanya untuk mencari tahu sebuah kebenaran.
"Tapi aku tidak bisa melakukannya," ujar Dryna sedih. "Sibajingan itu mengenalku, dia tahu aku siapa."
Lea meneguk salivanya. Memikirkan semua konsekuensi yang harus diterimanya, akhirnya Lea mengalah. Biarkan kini ia yang menyelesaikan semua itu, menemukan kebenaran atas tuduhan Dryna. "Biar aku yang melakukannya."
Keputusan Lea malam itu sudah bulat. Ia bertekad, karena Lea juga sangat penasaran pada sosok itu. Penuh teka-teki dan juga misterius.
Tapi, siapa sangka. Segalanya berakhir serumit ini. Pada awalan yang tidak disangka nya, Lea malah terjebak pada seluruh pesona lelaki itu.
Ralat.
Mungkin Lea sudah benar-benar mencintai Altair. Karena semua hal yang tidak pernah Lea dapatkan, diberikan oleh Altair sendiri.
Lea, kalah pada semua rencana yang telah dibuat nya. Ini benar-benar, gila.
???