Ku sebut mauku.
Tentang kita yang tak kau akui.
Lebih dari itu, sederhana inginku.
Kau terima apa yang sudah terjadi.
***
Altair menggelengkan kepala-- tersenyum geli pada pemandangan yang sedang di nikmatinya. Bagaimana Lea masih terlelap di balut selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajah kelelahan itu bahkan berhasil menghipnotis Altair beberapa detik.
Sudah sejak pagi tadi dia melaju dari rumahnya menuju apartemen Lea. Bahkan sejak bangun dari tidurnya, bagaimana semua hal yang ada pada kekasihnya itu mulai Altair rindukan. Jadi, memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap di sinilah Altair akhirnya.
Altair duduk pada sisi ranjang, mengecup pelan pangkal kepala kekasihnya itu, menyapu wajah Lea lembut ketika detik selanjutnya tangannya di tarik Lea.
Masih dengan mata terpejam Lea membawa tangan Altair dalam pelukannya, menahannya untuk tetap disana seperti bantalan yang menenangkan.
Altair terkekeh. Dia kembali menyapu wajah Lea, tidak pernah terpikirkan bahwa segalanya akan sampai sejauh ini. Bagaimana Altair mencintai wanita ini, bagaimana dia merasa lega dan juga tenang diwaktu bersamaan. Semuanya kini terasa semakin nyata.
Altair memang bodoh jika sudah mencintai seseorang. Dia mengakui itu. Dia tidak pernah main-main pada apa yang di rasakannya, ketika semua ketulusannya bahkan di khianati. Sejak saat itu Altair marah, dia gusar pada semua hal yang diterimanya. Ketika kehadiran Lea, mengacaukan semua itu. Pada hatinya yang beku, perlahan mulai mencair.
Lea kemudian membuka mata perlahan, merasakan seseorang mengelus wajahnya. Entah ia terlalu banyak bermimpi atau karena memang usapan itu terasa nyata.
Lea berlonjak karena sudah menemukan Altair disampingnya. Membelalakkan mata tidak percaya, Lea menggosok matanya lagi. "Ish, Altair? Apa yang kau lakukan disini?"
Altair terkekeh sebelum menarik Lea untuk duduk dan berhadapan dengannya. "Mengunjungi kekasihku. Ada masalah?"
Lea langsung menundukan kepalanya, menutup wajahnya pada d**a bidang Altair, ia menggosokkan kepalanya disana--sangat manja. "Aku malu bodoh!"
"Malu?" tanya Altair. "Kita bahkan sudah tidur bersama, apa yang membuatmu malu?" sambung Altair terkekeh.
"Biarkan aku mandi dan bersiap-siap," erang Lea kemudian.
"Oke. Baiklah, bersihkan wajahmu dulu." kekeh Altair seraya berlalu dari sana.
Memilih membuatkan sesuatu untuk sarapan mereka, Altair memutuskan beranjak kedapur. Mengingat sejak pergi dari rumahnya, dia memang belum menyentuh apapun.
???
Lea melihat tampilan dirinya pada kaca besar di kamarnya, dengan baju crop lengan panjang dan celana pendek seatas paha Lea keluar dari kamarnya.
Senyumnya merekah ketika ia menemukan Altair sudah duduk diatas meja makan dengan beberapa hidangan yang tersedia. Secepatnya Lea menghampiri lelaki itu.
"Wow, menyenangkan memiliki kekasih yang bisa melakukan segalanya." ledek Lea ketika ia sudah berada di hadapan Altair.
Altair menyodorkan sebuah piring berisi spageti carbonara yang dibuatnya sendiri. Bagaimana Lea mulai melahap itu membuat ukiran dibibirnya bergaris sempurna. "Kalau begitu, kau beruntung memiliki ku."
"Ini enak sekali, ajarkan aku membuatnya--" pinta Lea kemudian. Bagaimana semua yang Altair masak sangat pas di lidahnya.
"Baiklah, dengan satu syarat," tantangnya kemudian. Dia mengedipkan sebelah mata.
"Apa? Memberimu ciuman? Cih aku sudah menebaknya." timpal Lea ketus.
Altair terkekeh kemudian. "Kau selalu bisa menebaknya,"
"Dasar memang itu yang kau sukai." singgung Lea. "Tumben sekali datang sepagi ini. Ada apa?"
Altair terdiam sesaat. Dia ingat belum memberitahukan Lea perihal balapan yang akan di ikutinya hari ini. Altair mengimang itu semua. "Aku akan balapan hari ini."
See, Lea langsung menatapnya garang.
"Kenapa mendadak sekali?" ujar Lea penasaran.
Altair mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu."
"Apa hadiahnya lebih besar dari yang kemarin?" tanya Lea lagi. Altair mengangguk.
"Kau sudah sangat kaya, untuk apa lagi mengikuti balapan itu? Kau tahu, itu sangat bahaya Altair..."
"Itu ho--"
"Ya..ya..ya..hobi. Aku sudah tahu jawabannya," potong Lea cepat. Membuat Altair terkekeh kemudian.
"Berhati-hatilah kalau begitu. Jangan sampai terluka." sambung Lea lagi.
"Tidak akan." sahut Altair memastikan.
Lea tidak lagi menjawab, ia hanya telah melahap kembali spageti buatan Altair tersebut.
"Kau akan datang?" tanya Altair lagi. Teringat bagaimana terakhir kali wanita menyebalkan ini datang bersama musuhnya, Altair tidak akan membiarkan itu lagi.
Lea berpikir sejenak. "Sepertinya tidak. Aku takut melihatmu di sirkuit itu."
"Hei--" tegur Altair. Dia menarik tangan Lea, menggenggam jemari kekasihnya itu seolah memastikan segalanya baik-baik saja. "Percaya padaku."
"Um--okay." pasrah Lea kemudian.
"Aku akan mendatangimu setelah pertandingan selesai." jelas Altair pertama. "Tapi kumohon--jangan membuatku marah seperti kemarin." sambungnya kemudian. Matanya terus menatap Lea lekat.
Lea meneguk salivanya sebelum mengangguk. Ketika suara bel apartemen mengejutkan keduanya.
Altair mengerutkan dahi, Lea melepaskan tangannya dari genggaman Altair seraya berujar. "Aku akan melihatnya."
Altair tidak lagi banyak bicara. Masih terus menatap lekat punggung Lea, dia menunggu dengan sabar.
Lea mengintip lebih dulu seperti biasanya, tentu saja ia melakukan itu karena yang tahu sandi apartemennya hanya Dryna dan juga Altair.
Kembali mengerutkan dahi karena Lea sudah menemukan sahabatnya disana. Lea terdiam sejenak, kemudian kembali menghampiri Altair.
"Itu Pietro--" jelasnya pertama.
Altair menaikkan sebelah alisnya. "Terus? Kau meminta ku untuk bersembunyi lagi?" tuduhnya langsung.
Lea mematung cukup lama. Bagaimana perkataan Altair seolah-olah menyinggungnya.
"Tidak Lea. Sekarang aku kekasihmu, untuk apa aku bersembunyi?" todong Altair lagi.
Lea baru saja akan menjawab ketika Altair sudah melangkah menuju pintu utama. Membuat Lea membulatkan mata dan berlari menyusulnya. Sialan, karena Altair sudah membuka pintu apartemen itu.
Altair masih berdiri santai dengan kedua tangan tersimpan di saku celananya. Terus menatap sahabat kekasihnya itu tajam, yang dibalas oleh kening mengkerut oleh lelaki berkaca mata disana.
Lea langsung keluar dari punggung Altair karena sebelumnya ia berada di belakang sana. Beralih menatap lekat Pietro, Lea sudah berdiri ditengah keduanya.
"Pietro?" katanya pertama. "Ada apa?" sambung Lea kemudian.
"Aku ingin mengajakmu pergi." sahut Pietro langsung. "Apa yang lelaki itu lakukan diapartemenmu?" singgungnya pada Altair. Jika sebelumnya Pietro tidak ingin berurusan dengan sang most wanted Bima Sakti itu, kali ini tidak lagi. Mengingat kehadiran lelaki itu malah memperhambat hubungannya dengan Lea.
Altair hanya terkekeh mendengar itu. "Bukan urusanmu," katanya menyahut. "Wanita ini ke--"
"Aku tidak bisa Pietro!" potong Lea cepat. Ia menoleh pada Altair sesaat, mengisyaratkan bahwa Altair tidak perlu terpancing emosi. "Aku dan Altair harus kedokter untuk konsultasi kakiku," bohong Lea kemudian.
Pietro terkekeh. "Kau selalu menolak ajakanku sekarang," singgungnya. "Sudah menemukan sahabat baru, huh?" sambungnya gusar.
"Pietro--" kata Lea merasa bersalah. Tidak tahu kenapa, tapi Lea lebih senang bersama Altair. "Jangan seperti itu."
"Apa kemarin yang kau maksud ayahmu adalah lelaki ini?" tuduh Pietro lagi.
Lea berlonjak mendengar itu. Namun masih terus meyakinkan sahabatnya itu, Lea tidak ingin Pietro salah paham. "Tidak Pietro. Aku bersungguh-sungguh pergi dengan Ayahku."
"Kau terlalu banyak bicara. Pergilah, wanita ini harus pergi denganku." Altair menyahut gusar.
Membuat Pietro geram. "Aku tidak bicara denganmu!"
"Aku yang bicara denganmu," teriak Altair tidak mau kalah.
"Pietro--sudahlah." Lea menghentikan perdebatan itu.
"Kau berubah Lea." katanya sebelum melangkah pergi.
Lea hanya terdiam menatap sahabatnya yang perlahan mulai menjauh. 'Maafkan aku Pietro.' lirihnya dalam hati.
Altair juga sama, mendapati kesedihan di wajah kekasihnya ketika lelaki berkacamata itu pergi membuatnya malah gusar. Tidak tahu kenapa, Altair takut semuanya akan terulang kembali-- dengan alasan yang sama.
Jadi, mengambil kunci sedan dan jaket denimnya dia memilih untuk pergi detik itu juga.
"Kau mau kemana?" tegur Lea langsung. Wajah Altair terlihat sangat tidak bersahabat.
"Pergi." jawabnya singkat. Baru Altair akan membuka pintu apartemen itu Lea lebih dulu menahannya. Menghadang Altair dan menatap lekat si songong yang sudah menjadi kekasihnya tersebut.
"Bukankah balapannya jam 7 nanti malam? Kenapa pergi secepat itu?" tanya Lea murung.
"Kau pergi saja dengan sahabatmu. Kau terlihat begitu sedih ketika dia pergi." gerutu Altair tidak suka.
Lea meraih jemari Altair, lalu membawa tangan lelaki itu pada wajahnya. "Aku tidak sedih, aku hanya merasa bersalah Altair."
Altair menarik tangannya, "Merasa bersalah?" kekehnya kemudian. "Karena kau menjadi kekasihku? Kau malu mengakui itu didepan sahabatmu? Kau bersalah karena takut dia terluka?" tuduh Altair kemudian.
Lea menggeleng cepat. Bagaimana Altair terlihat gusar malah membuatnya ingin menangis. Altair salah paham. "Bukan seperti itu Altair--"
"Bukan seperti itu?" decak Altair lagi. "Kau membohonginya. Kau bilang kau jalan dengan Ayahmu? Kau pergi denganku. Kenapa? Karena kau pikir dia akan marah dan cemburu saat tahu kau memilihku dari padanya??" sambung Altair bertubi-tubi.
Ketika suara penuh amarah dari Altair, malah membuat sebulir air bening jatuh diwajahnya.
Melihat Lea yang tak kunjung menjawab, Altair semakin berang. Lalu, dia menggeser tubuh Lea. Membuka pintu apartemen itu dan berlalu dari sana.
Meninggalkan Lea yang sudah menangis menatap punggung kekasihnya itu. Ia tahu Altair sedang marah besar.
???
Altair sudah menghentikan sedannya di basecamp seperti biasa. Bagaimana kekesalannya masih terpancar begitu nyata.
"Wow, kenapa wajah tampan itu terlihat begitu kusut?" kekeh Rendra pertama.
"Tidak seperti biasanya," Deo menyambung geli.
"Sebaiknya kita latihan sekarang." titah Altair langsung. Bagaimana dia melewatkan seluruh latihannya hanya untuk bersama Lea, Altair harus mempersiapkan itu sekarang. Tidak punya banyak waktu karena nanti malam pertandingannya sudah dimulai.
"Kupikir sijagoan ini tidak perlu latihan lagi." singgung Rendra kemudian. Membuat Deo terkekeh, dengan Altair yang sudah menatap keduanya malas.
"Sedang bertengkar?" tanya Rendra disela-sela perjalanan mereka menuju sirkut.
Jika pertandingan belum dimulai, sirkuit memang tidak banyak yang mengunjungi. Kecuali salah satu dari mereka memang ingin latihan. Jadi, membiarkan Deo membawa ninjanya terlebih dahulu, Altair menuju sirkuit bersama Rendra.
Altair mengedikkan bahu malas. "Aku hanya sedang kesal."
"Kesal? Apa wanita itu melakukan sesuatu?" tanya Rendra penasaran.
"Sahabat lelakinya datang ke apartemen. Aku membenci itu." jelas Altair disana. Kentara sekali bahwa dia begitu tidak suka.
Rendra terkekeh. "Kau menjadi sangat possesif sekarang. Sebelumnya, bersama mantanmu yang sudah tiada itu kau bahkan tidak peduli."
"Karena itu aku kehilangannya." sahut Altair cepat. Dia memang paling mudah bicara bersama Rendra, menurut Altair sahabatnya yang satu itu sangat bisa diandalkan.
"Bicarakan baik-baik. Katakan saja kau cemburu." saran Rendra.
"Sudah kukatakan." sahut Altair cepat.
Rendra benar-benar sudah tertawa di sana. Bagaimana tingkah Altair sangat membuatnya geli. Kemudian, mereka sudah sampai disirkuit. Masih ada beberapa jam hingga pertandingan dimulai, Altair sudah bersiap diatas ninjanya.
"Jangan kehilangan fokusmu karena memikirkan wanita itu." Rendra berujar tajam.
Altair hanya berdeham sebelum mulai melatih dirinya.
Namun siapa sangka, bagaimana seluruh pikirannya hanya tertuju pada wanita itu? s**t! Lea benar-benar merusak akal sehatnya. Karena Altair begitu ingin mendekap wanita itu.
Rendra dan Deo masih memperhatikan, bagaimana Altair terlihat begitu oleng dan juga kacau. Berkali-kali lelaki itu hilang kendali dan keluar dari jalur. Membuat Rendra menggeleng.
"Altair akan kalah jika seperti itu terus." Deo berbisik pada sahabatnya.
"Aku tahu." sahut Rendra. "Gila, si songong itu kehilangan fokusnya." sambung Rendra lagi.
"Dia sedang ada masalah?" tanya Deo penasaran. "Siapa tahu Altair mengatakan sesuatu saat bersamamu tadi."
"Biasa, bertengkar dengan wanita itu." jelas Rendra santai.
Membuat Deo terkekeh kemudian. "Parah, dia benar-benar mencintai wanita menyebalkan itu."
"Yeah, kelihatan jelas." kekeh Rendra lagi. "Oh, kemana kedua sahabatmu?"
"Kevin dan Lucas? Hell, seperti tidak tahu saja. Dua orang player itu," singgung Deo.
Meninggalkan Rendra yang sudah terkekeh, mereka kembali fokus melihat Altair lagi.
Lea sudah berkutat dengan handphonenya, mengirimkan banyak sekali pesan kepada Altair. Tidak lagi memikirkan bagaimana tatapan gusar Pietro tadi. Karena kemarahan Altair, ada di daftar nomor satu.
Lea bukan tidak mengakui Altair sebagai kekasihnya, namun segalanya akan runyam jika Pietro tahu. Lea takut Pietro akan memberi tahu rencananya dulu, karena satu-satunya yang Lea beritahu memang hanya sahabatnya itu.
Namun bagaimana Altair berang dan meninggalkannya begitu saja, Lea tahu kekasihnya itu marah. Sebenarnya Lea sulit menanggapi keadaan ini. Bingung dan juga resah menjadi satu. Disisi lain Lea tahu, ia sudah jarang bersama Pietro semenjak dengan Altair. Tapi bagaimana menjelaskannya karena Lea lebih nyaman bersama Altair.
Egois memang meninggalkan sahabat demi kekasih, namun mendapati Altair mulai mengisi hari-harinya Lea bahkan ingin terus terlibat dengan lelaki itu.
Akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan kepada Altair, Lea membuat pesan singkat.
Lea Caesario
Maafkan aku? Berhati-hatilah. Setelah itu datanglah kemari. Kumohon.
???