Saat itulah Bima melihat wajah cantik Asya.
Hanya dengan polesan make up tipis, bahkan sepertinya hanya menggunakan lipstick saja. Memakai kaus polos lengan panjang dan rok span di bawah lutut yang pas dengan lekuk tubuhnya. Sederhana, tapi Asya di mata Bima saat itu adalah yang paling bersinar. Bahkan lebih bersinar daripada seluruh perhiasan di toko itu.
Tanpa sadar senyum Bima terlihat jelas, dengan pandangan terang-terangan menatap kearah Asya.
"Ekhem!! Waduh kacang banget Ibu daritadi ya.." sindir Ibu Bima yang sadar kalau sejak tadi hanya mengoceh sendiri, sedangkan sang putra malah sedang asik melihat kearah seorang wanita cantik.
Bima masih tidak merespon ucapan Ibunya.
PLAK.
"aduh!" sebuah geplakkan di lengannya menyadarkan Bima.
"awas ada iler yang netes tuh! Daritadi senyum pepesdin terus." Sindir Ibu Bima.
"apasih Bu? Nggak bisa liat anaknya seneng dikit ah" gerutu Bima.
"astaga Bim.. Bim.. Dikit gimana? Kamu itu udah merhatiin cewek cantik tadi dari dia berdiri sampai dia bayar di kasir! Ibu sampai ngomong sendiri nggak ada yang nyautin"
"hehe maaf ya Bu. Bima lagi terpesona" Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"kalau gentle, ya mbok langsung di samperin, kenalan, minta nomornya.. bukan Cuma ngeliatin aja"
Deg?
'lah iya ya' batin Bima menepok jidatnya sendiri. Kemudian berdiri berniat mencari Asya.
"loh kok udah nggak ada?" ucap Bima saat tidak mendapati Asya di dalam toko.
"ya udah pergi Bim. Salah sendiri nggak ajak kenalan daritadi.." Ibu Bima terkekeh kemudian berdiri dan mengikuti pelayan toko untuk membayar cincinnya.
Bima mengekor di belakang Ibunya dengan lesu. "Ibu kenapa nggak ingetin Bima daritadi sih. Jadi ilang kan orangnya.. huftt.."
"yee malah nyalahin Ibu." Lirik Ibu Bima kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Bima. "nih, Ibu diem-diem udah fotoin cewek cantik tadi buat kamu. Ibu rasa kamu sendiri bisa cari tahu dia siapa Cuma pake foto ini" ucap Ibu Bima lalu meninggalkan putranya yang masih serius melihat foto-foto di ponsel Ibunya.
Bima tersenyum senang karena Ibunya sangat tanggap dengan situasi.
*
Sejak pertemuan pertamanya itu, Bima mulai mencari keberadaan Asya.
Mencari tahu siapa Asya dan apa yang di lakukannya. Tentu saja anak buah Bima yang melakukan semua itu.
Bima juga tahu kalau Asya sedang mencari pekerjaan di perusahaan. Saat itulah Bima yang belum lama di beri amanah menggantikan sang Ayah untuk memimpin JCorp malah bersikeras menyamar menjadi seorang Kepala Manager Operasional di perusahaannya sendiri hanya karena ingin lebih dekat dengan Asya, wanita cantik yang dia temui di toko perhiasan.
2 tahun adalah waktu yang lama bagi Bima menunggu.
Bima bersikeras tidak ingin langsung menembak Asya untuk menjadi kekasihnya karena Bima takut kalau Asya akan menolaknya. Karena itu Bima berusaha lebih dekat dengan Asya dan selalu memperhatikan wanita itu tanpa diketahui. Bima lebih tepat di beri julukan secret admirer.
Bima pikir moment kerja di Negara Bota (Negara Raja Athar) itu adalah waktu yang pas untuk menyatakan perasaannya. Tapi tanpa di sangka, di hari itu pula Asya ijin pulang lebih dulu. Nanti saat bertemu lagi, Bima pasti akan mengungkapkannya. Tidak apa-apa, Bima masih bisa menunggu lagi.
Sebulan lebih Asya menghilang. Bahkan orang suruhan Bima yang selama ini di tugaskan untuk membututi Asya pun kehilangan jejak. Bima mulai tidak tenang dan pikirannya kalut.
.
Malam itu Bima mulai frustasi.
Setelah memarahi anak buahnya yang tidak becus mencari keberadaan Asya, Bima pergi ke proyek untuk bekerja. Mungkin dengan bekerja bisa sedikit mengurangi pikirannya tentang Asya.
Seorang pekerja lapangan yang sedang lembur melakukan sebuah kesalahan yang membuat Bima tertimpa beberapa kayu. Dahi Bima tergores dan mengeluarkan darah. Malam itu pun Bima segera pergi ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Awalnya Bima sangat kesal dan marah. Tapi kemudian Bima justru sangat-sangat berterimakasih kepada pekerja itu karena sudah membuat Bima terluka sampai harus di jahit. Bagaimana tidak, tanpa di sangka, wanita yang menghilang lama itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
Tengah hari.
Di dalam lift Rumah Sakit.
Mengenakan baju pasien.
Terus menunduk dalam seperti orang yang sedang ketakutan, hingga Bima menegurnya. Terlihat Asya pun terkejut melihatnya kemudian menghambur ke dalam pelukannya sembari meminta pertolongannya.
Tentu saja dengan sigap Bima menolong Asya. Walaupun setelahnya Bima mengetahui kenyataan pahit yang menyakitkan. Bahwa Asya sudah menikah dan sedang mengandung anak dari pria lain.
Lebih marahnya lagi, pria yang dengan seenaknya mengambil Asya darinya itu adalah seorang Pangeran dari Negara itu, yaitu Pangeran Atharo Rashaad. Betapa menyesalnya Bima sudah membawa Asya kesana. Rasanya Bima ingin memutar waktu kembali sebelum team Jcorp pergi ke Bota.
Dengan besar hati Bima membawa Asya yang sedang mengandung kabur dari Pangeran Athar. menyembunyikan Asya supaya tidak bisa di temukan oleh orang-orang suruhan Athar.
Bima tahu Pangeran Athar sangat berkuasa, tapi dia masih bisa mengelabui itu.
Singkat cerita.
Bima ingin melamar Asya yang sudah berbulan-bulan lamanya bersembunyi di tempatnya. Menerima Asya dan juga calon bayi yang di kandung Asya. tapi di gagalkan lagi oleh Kenzo, salah satu orang terkuat di dunia hitam maupun putih. Kakak kandung calon putri kerajaan.
Bima sempat menyerah. Tapi saat dia tahu Asya kembali ke tangan Pangeran Athar, Bima bertekad untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dari Pangeran Athar. Hingga sebuah kenyataan bahwa dirinya bukan putra kandung dari Djiwantara melainkan putra dari salah satu orang terkuat di dunia juga, kedudukannya setara dengan Kenzo. orang itu adalah Dominic Bruno. Bima mulai di bimbing Bruno supaya bisa menggantikan posisinya karena Bruno sudah sangat tua.
Dan di sinilah Bima. Dengan status barunya dalam Hidden Key *5 orang terkuat di dunia, yang salah satunya adalah Kenzo suami Asya saat ini.
Kini Bima tidak hanya mudah mengalahkan Raja Athar. tapi juga bisa bersaing setara dengan Kenzo. dan tujuannya sejak awal akan Bima wujudkan, yaitu menjadikan Asya miliknya. Hanya miliknya.
flashback Off.
**
"Asya dan Asytar dimana?" tanya Bima pada seorang pelayan wanita yang sedang menyambutnya di dekat pintu masuk.
"Nyonya dan Tuan Muda di kursi ayun halaman mansion Tuan Besar" jawab pelayan wanita itu sembari menundukkan kepalanya hormat.
Bima melepas jasnya kemudian memberikannya kepada pelayan. kemudian dengan santai dan sedikit bersemangat berjalan kearah halaman mansion dimana ada Asya dan Asytar.
baru saja akan melangkah melewati pintu, terdengar sebuah percakapan yang sangat mengejutkan bagi Bima hingga membuat Bima menghentikan langkahnya dan tertegun di tempatnya.
"adik? As akan punya adik?"
"iya sayang.. As akan punya adik, tapi adiknya masih di dalam perut Bunda. Tahun depan kalau Tuhan masih jaga adik di perut Bunda, As sudah bisa peluk adik"
DEG!
'Asya hamil anak Kenzo?!' batin Bima. tangan kekar itu terkepal erat, sangat erat hingga buku buku tangannya terlihat putih dan otot otot tangannya menonjol. 's**t!!!'
Bima melepas kasar dasinya dan melempar benda itu ke lantai. melepas beberapa kancing baju atas dan di kedua lengannya. seakan akan kancing itu baru saja mencekiknya.
wajah Bima terlihat memerah padam dan nafasnya terlihat tak beraturan.
menatap sekilas kearah Asya dan Asytar yang sedang berpelukan bahagia di kursi ayun, kemudian dengan cepat Bima berbalik dan berjalan keluar mansion.
Bima ingin melampiaskan kekesalannya. dia butuh waktu untuk menerima kenyataan pahit untuk kesekian kalinya tentang wanita yang sangat dia cintai.
tanpa peduli tatapan tanda tanya dari pelayan pelayan mansion yang melihatnya, Bima terus berjalan cepat keluar mansion. hanya dengan gerakan tangan mengintruksi penjaga mansion untuk membuka gerbang besar di depannya.
"baik Bos" ucap penjaga segera membuka gerbang mansion. dua penjaga itu pun saling menatap, sama sama merasa aneh dengan raut marah dan juga bertanya tanya kenapa Bos mereka berlari keluar mansion, padahal biasanya naik mobil karena jarak bangunan rumah dan gerbang lumayan jauh juga. tapi tentu saja kedua penjaga itu tidak berani bertanya. mereka tahu kalau mereka bisa terkena amarah Bosnya kalau bersuara saat ini.
Bima berlari menyusuri sepanjang jalan yang beraspal dengan di kerumuni pohon pinus di kanan dan kirinya. kemudian berbelok di jalan setapak di dalam hutan pinus itu dan berhenti berlari di pinggir tebing besar dengan jurang tinggi di hadapannya.
nafas tak beraturan dan terasa berat itu masih menemani kesunyian Bima. tatapan Bima kosong lurus ke depan, memandang hamparan gunung berterbing dengan mata yang tak bisa membendung airmatanya.
"ASYAAAAAAAAA!!!!!!!" teriak Bima sekeras kerasnya. Bima ingin melampiaskan rasa sesak di dadanya.
"KENAPA SEJAK AWAL KAMU BUKAN MILIKKUUU????? AKU YANG MENCINTAIMU SEJAK LAMAAAA, JAUH SEBELUM MEREKA MENGENALMU SYAA!!!! HARUS KAMU BERSAMAKUU!! argh.." Bima meremas dadanya dan menangis "kenapa sejak awal bukan aku??.. hiks.."
"dulu saat aku tahu kamu hamil anak Athar, aku masih bisa menerima itu Sya.. tapi kali ini anak Kenzo? haha.. nggak! aku nggak bisa! aku hanya bisa menerima As. tidak dengan yang lain" Bima membenarkan posisinya. berdiri tegap menatap hamparan jurang gelap di hadapannya dengan tatapan seram.
"janin itu harus menghilang. ahahahahaa~ hahhahahaa~"
- bersambung -