selamat membaca
pembaca baik :)
.
.
.
Asya dan Asytar sedang duduk di sebuah kursi ayun di halaman mansion Bima. Asytar memeluk Bundanya, sebuah selimut hangat menutupi kaki hingga pinggang mereka. udaranya dingin meskipun saat itu matahari masih terlihat. Tapi dua orang Ibu dan Anak itu tetap senang berada di luar rumah sembari menikmati pemandangan di hadapannya dan saling bercerita. Asytar menceritakan tentang sekolah dan teman-teman barunya yang menyenangkan.
"benar kata Aunty Nala.. kalau As tidak akan kesusahan mencari teman" ucap Asytar mengingat apa yang dikatakan Nala padanya.
"ohya? Aunty Nala bilang begitu?"
"hm!" angguk Asytar. "karena As tampan. Jadi As pasti banyak teman, terutama anak perempuan. Tapi As tidak suka teman perempuan"
"hm? kenapa dengan teman perempuan?" tanya Asya penasaran.
"karena anak perempuan terus menempel pada As dan mereka sering mencubit pipi As. Sakit Bunda.. anak –anak perempuan selalu mengganggu As, jadi As tidak bisa bermain apa yang As mau" jelas As dengan wajah cemberut kesal.
"hahaha~ mereka seperti itu karena gemas sama kamu sayang.. Mereka tidak berniat jahat sama As. Lain kali kalau As tidak suka sama apa yang di lakukan mereka, lebih baik As bilang supaya mereka mengerti" Asya mencoba memberi pengertian.
Asya menunduk menatap wajah putranya yang masih terlihat kesal. "Hayoo As.. tidak boleh pilih-pilih teman ya Nak. Mau teman laki-laki atau perempuan mereka sama saja. yang penting kalau mereka baik sama Asytar, maka As juga harus baik ke mereka.. ya?"
As mendongak membalas tatapan Bundanya, "hm" As mengangguk. "As akan baik ke semua teman As- laki-laki dan perempuan"
Asya tersenyum lega saat mendengar ucapan As. Senang rasanya As sudah mulai besar dan mudah mengerti apa yang orangtuanya katakan.
Asya bergerak mencium puncak kepala Asytar sayang.
"Anak pintar.. Anak baiknya Bunda" Asya kembali memeluk As. "ohya Bunda hampir lupa. Ada kejutan, yang seharusnya sejak dulu Bunda dan Daddy Ken ingin beritahu ke As"
"kejutan?? Apa? Apa?? As suka kejutan!" tanya As tidak sabaran.
"emmm~ dulu kan Asytar pernah bilang ke Bunda kalau As ingin punya teman di rumah.. dan sekarang Tuhan sudah kabulkan permintaan As." Asya meraih tangan kanan putranya kemudian meletakkannya di perut Asya. "teman As.. atau lebih tepatnya adik As.. ada di sini!"
"adik? As akan punya adik?"
"iya sayang.. As akan punya adik, tapi adiknya masih di dalam perut Bunda. Tahun depan kalau Tuhan masih jaga adik di perut Bunda, As sudah bisa peluk adik"
mata As terbelalak setelah terlihat mencerna ucapan Bundanya "YEYY!! AS MAU PUNYA ADIK! AS HAPPY~" teriak As terlihat senang mengetahui kalau dia akan punya adik.
**
Pov Bima
Bima baru saja kembali ke mansion rahasianya setelah dua hari lamanya dia tidak kesana.
Ada pekerjaan penting yang harus dia tangani. Di sisi lain, Bima memang sedang dalam mode menghindar bertemu Asya supaya tidak mendengar dan melihat wanita yang dia cinta itu memaksa untuk dipulangkan. Tidak, untuk sekarang dan seterusnya di rumah Bima lah tempat untuk Asya pulang. Bagaimana pun Bima sudah melakukan sejauh ini, dan dia tidak akan berhenti di tengah jalan.
Entah sejak kapan tapi Asya sudah menjadi obsesinya. Mungkin, sejak pertama kali bertemu Asya di sebuah toko perhiasan, saat Bima menemani Ibunya.
Flashback Bima
"Bima, temani Ibu ambil cincin pernikahan ya." Ucap wanita paruh baya, duduk di kursi samping Bima yang sedang mengendarai mobilnya.
Bima menoleh sekilas kearah Ibunya "cincin pernikahan?"
"he'em.. Ibu minta di besarin di toko perhiasan soalnya udah nggak muat" jelas Ibunda Bima.
Reflex Bima tertawa. "ahahaha.. tangan Ibu bengkak sih. Makanya nggak muat" ejek Bima kembali tertawa setelah mengatakan hal itu yang secara otomatis mendapat jeweran dari Ibunya. "AW AWW AW"
"anak kurangasyem! Ibu jadi besar gini juga gara-gara kamu!" dengus Ibu Bima sebal.
"ih, kok Ibu jadi nyalahin Bima? Kan Bima lahir udah 30 tahunan yang lalu Bu"
"ya pokoknya gara-gara kamu sama Ayah kamu! Udah ah jangan ngomongin itu, Ibu jadi sebel!" omel Ibunya membuat Bima geleng-geleng kepala dan terkekeh gemas.
*
Di toko perhiasan, di sebuah mall ternama di Jakarta.
"Mas, saya mau ambil ini" beritahu Ibu Bima, menyerahkan selembar kertas yang adalah sebuah nota kepada salah satu penjaga toko.
"baik, silahkan duduk dulu Bu. Saya siapkan dulu, nanti saya panggil kembali" sang penjaga toko mempersilahkan Ibu dan Bima duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk para customer.
Bima pun mengikuti Ibunya duduk.
"aduh jangan Nak Asya. Ibu diajak jalan-jalan sama makan di luar aja udah seneng banget. Jangan repot-repot belikan Ibu barang mahal kayak gini.. Ibu beneran nggak enak" ucap seorang wanita paruh baya yang mungkin sedikit lebih tua di banding Ibu Bima.
Bima yang mendengar perkataan Ibu itu pun menoleh kearah 3 orang yang sedang duduk di meja tamu samping mejanya.
"iya Sya.. nggak usah beli-in barang mahal kayak gini. Nanti aku bakalan beli buat Ibuku kok, cuma sekarang Nala masih nabung sih hehe.. Kalau kamu beli-in gini aku malah jadi ngerasa kayak anak durhaka tauk.. tsk. Asya ah.." timpal seorang wanita muda berbicara pada wanita yang di panggil 'Sya', wanita itu duduk memunggungi Bima, sehingga Bima tidak bisa melihat wajahnya.
"ah, Ibu sama Nala jangan mikir gitu dong.. Asya kan emang udah niat mau belikan kalung buat Ibu. Makanya Asya ajak Ibu jalan-jalan" ucap wanita yang terdengar Bima bernama Asya.
"Ibu sama Nala selama ini udah baik banget sama Asya. Cuma hal-hal kecil kayak gini yang Asya bisa kasih buat nyenengin Ibu. Lagian Ibunya Nala, kan juga Ibu Asya sekarang.. semenjak Bunda Asya nggak ada ya Ibu yang udah Asya anggep Ibu Asya sendiri." Tangan Asya menggenggam tangan Ibu Nala.
Ibu Nala terlihat mulai menitikkan airmata. "Ibu juga udah anggep Nak Asya anak Ibu sendiri. Jadi jangan merasa harus berbalas budi ke Ibu. Karena Ibu ikhlas Asya"
"Asya bukan balas budi Bu.. Asya murni pengen nyenengin Ibu. Jadi Ibu harus mau ya?! Asya maksa!"
Wanita bernama Asya menarik pelan tangan Ibu itu. Membawanya untuk memilih perhiasan yang ada di etalase yang tidak jauh di hadapan Bima dan Ibunya duduk.
DEG.
Saat itulah Bima melihat wajah cantik Asya.
Hanya dengan polesan make up tipis, bahkan sepertinya hanya menggunakan lipstick saja. Memakai kaus polos lengan panjang dan rok span di bawah lutut yang pas dengan lekuk tubuhnya. Sederhana, tapi Asya di mata Bima saat itu adalah yang paling bersinar. Bahkan lebih bersinar daripada seluruh perhiasan di toko itu.
Bersambung..