Asya membuka matanya, "awh" rasa pening yang tak tertahan langsung menyergap hingga membuatnya mengernyit dengan kedua tangannya menekan pelipis.
selang beberapa menit, peningnya mulai berkurang. Asya perlahan kembali membuka matanya.
Deg?
'dimana ini?' batin Asya terkejut saat mengetahui dia terbangun di sebuah kamar yang berbeda dari kamarnya di rumah Athar.
Asya berusaha mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dia tertidur.
flashback ,
Asya baru saja tersadar dari pingsannya.
sebuah infus terpasang di tangan kirinya, tubuhnya masih lemas walaupun rasa mualnya sudah jauh berkurang.
tidak ada seorang pun di dalam kamar itu.
'apa aku tidur lama?' batin Asya saat melihat ke luar jendela yang sudah mulai gelap dan berkabut. 'pasti di luar dingin sekali, kabutnya sampai setebal itu..'
Asya mulai perlahan mendudukan tubuhnya dan bersandar di punggung ranjang. tangannya meraih gelas berisi air dan meneguknya hingga tandas. melegakan tenggorokannya yang sempat kering.
"ASAAP!! TOLONG.. ADA YANG PINGSAN!!"
tiba tiba terdengar teriakan teriakan para wanita. walaupun dari kamar Asya tidak terdengar sejelas itu, tapi Asya jelas mendengar ada yang berteriak "asap?"
Asya yang mengira ada kebakaran di rumah itu pun mulai turun dari ranjangnya walaupun tubuhnya masih lemas. Mengambil infus dari tempat gantungan infus, lalu berjalan menuju pintu kamar dengan membawa infusnya.
tangan Asya baru akan memegang handle pintu,
cklek.
tiba tiba handle itu terbuka dari luar diikuti pintu kamar yang terbuka.
Asya mengerutkan dahinya saat melihat seorang pria berpostur jangkung berdiri di depan pintu kamarnya. pakaiannya serba hitam, topi hitam dan menggunakan masker gas respirator.
"kamu siapa? ada apa di luar? apa ada kebakaran?" tanya Asya memberondong. tapi pria di hadapannya hanya diam dan terus menatap kearah Asya.
tidak ada jawaban membuat Asya semakin mengerutkan dahinya bingung. tiba tiba perasaannya tidak enak.
tanpa sadar kaki Asya refleks mundur selangkah.
"a-aaku bertanya. a-apaa kamu tidak dengar?" Asya mulai gugup, matanya mulai mencari keberadaan orang lain di belakang pria itu. tapi hanya bekas asap yang mulai menghilang yang terlihat.
Asya yang sudah sangat gugup, mulai melangkah hendak keluar kamar itu melewati si pria ber dresscode serba hitam itu. tapi baru saja akan melewatinya, tangannya di cekal pria jangkung itu hingga tidak bisa pergi.
"apa? lepaskan! kamu siapa?"
pria jangkung itu mulai melepas masker respiratornya dan menatap lekat kearah Asya.
"mas bima?" gumam Asya terkejut bahwa yang datang adalah orang yang sudah sangat lama tidak berjumpa dengannya. orang yang pernah membantu Asya di masa lalu.
"long time no see Asya.. sudah saatnya kembali" ucap Bima dengan raut wajah yang serius menatap mata Asya.
Asya tidak mengerti dengan ucapan Bima. "maksud mas Bima apa? mas, aku harus lihat orang orang di rumah ini dulu kalau memang ada kebakaran" Asya teringat keadaan rumah.
"tenang Sya, mereka baik baik saja. aku rasa mereka hanya tertidur" Bima tersenyum sedikit aneh menurut Asya.
"Apa sih mas?! ayo temani aku ke bawah dulu" tangan Asya yang tidak terpasang infus menarik pergelangan tangan Bima tanpa ada rasa curiga, karena saat ini Asya hanya khawatir dengan Athar dan para pekerja di rumah itu.
Bima dengan santai mengikuti kemana pun Asya menariknya. justru Bima senang berada di posisi seperti itu. senyumnya selalu mengembang tanpa Bima tutupi sama sekali.
langkah Asya terhenti di tengah tangga diikuti Bima juga. tangan Asya yang masih menggandeng lengan Bima terasa semakin erat, bahkan tubuh kecilnya itu terlihat menegang.
bagaimana tidak, Asya melihat banyak anak buah Athar tergeletak di lantai. jantungnya mulai berdetak kencang takut kalau kalau mereka mati. tapi Asya berusaha menyingkirkan pikiran itu.
"m-mereka kenapa mas Bim? a-ada apa ini sebenarnya?" Asya melepas pegangannya pada lengan Bima kemudian berjalan menuruni tangga ingin mendekat kearah maid yang tergeletak tidak jauh dari tangga.
sedangkan Bima sama sekali tidak menjawab, justru dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana berjalan santai mendekati Asya yang sudah berjongkok menepuk nepuk pipi seorang pelayan wanita, berusaha menyadarkan.
"mas Bim tolongin Asya ! kenapa malah diem aja gitu" paniknya sampai lupa kalau infus di tangannya masih terpasang dan membuat darah dari pembuluh darahnya keluar melalui selang dan tercampur dengan cairan infus.
"sudah Asya, ayo pergi dari sini" ajak Bima kalem, tapi Asya tidak mendengarkannya. bahkan Asya bangun dan berpindah ke arah maid yang lain masih dengan tangan yang tersambung dengan botol infus.
Bima yang melihat itu pun terkejut dan bergegas mendekati Asya. memungut botol infus dan juga menarik lengan Asya. "sudah cukup Asya! apa kamu ngga bisa dengerin aku??" sentak Bima membuat wanita hamil itu terkejut memandangnya.
"mas apasih? gimana bisa kamu santai gini waktu lihat banyak orang yang pingsan?! harusnya kita cepet nolongin mereka!" omel Asya.
"karena aku yang buat mereka begitu?!" ucap Bima dengan nada seperti bertanya dan menjawab.
Deg.
"hm? Apa maksudmu?" kening Asya mengkerut.
"aku selamatin kamu dari Athar. jadi ayo pergi sebelum Athar kembali" jawab Bima menatap Asya tegas.
Asya sedikit tertegun mencoba mencerna, yang dia tangkap saat ini adalah Bima berusaha menolongnya seperti dulu. Dan itu membuat Asya lega.
"te-tapi gimana dengan para maid ini? apa mereka tidak apa-apa?" Asya bertanya ragu sembari menatap kearah para maid yang masih tergeletak di lantai rumah mewah itu.
"tenang Sya.. aku hanya membius mereka dan pasti akan kembali sadar beberapa jam lagi. jadi ayo kita pergi dari sini sebelum mantan suamimu itu kembali kesini"
"oke kalau begitu aku cari Sita dan Jenni dulu kemudian kita pergi sama sama" ucap Asya kemudian hendak berjalan menuju tempat Sita dan Jenni.
"tsk!" decak Bima yang semakin gemas dengan tingkah wanita di hadapannya ini. tanpa basa basi Bima berjalan mendekat kearah Asya dan langsung menggendong tubuh Asya setelah memukulnya di bagian tengkuk supaya Asya pingsan.
Bima seakan menyesal tidak melakukan hal itu sejak tadi, supaya tidak perlu berdebat dengan Asya lebih dulu.
Flashback off.
**
Asya turun dari ranjang, berjalan kearah balkon dan melihat ke sekitar area mansion yang hampir sama seperti mansion hutan milik Kenzo tapi kali ini pepohonan di sekelilingnya hanya pohon pinus tinggi yang berjajar rapi. Suasana sejuk dan udara segar berbau pepohonan sangat familiar bagi Asya yang sempat lama tinggal di pegunungan, tepatnya di mansion rahasia Kenzo.
Tangan Asya berpegangan di pinggir pagar. Termenung memikirkan berbagai hal yang terjadi akhir-akhir ini dan dia merindukan putranya Asytar.
Tiba-tiba sebuah telapak tangan mengelus puncak kepala Asya hingga membuatnya tersadar dari lamunannya dan segera menoleh ke belakang. "Mas Bima?" gumam Asya melihat seorang pria yang sedang tersenyum manis menatapnya.
"hm. Kamu baik baik aja kan, Sya? Ada yang sakit?" tanya Bima memastikan.
Asya menggeleng.
"Mas, bisa ceritakan apa yang terjadi? Aku lupa apa yang terjadi sebelum ini. Apa Sita dan Jenni baik baik saja? mereka ikut dengan kita kan? Aku ingin bertemu mereka Mas. Aku takut mereka di sekap lagi karena aku menghilang dari sana-"
Bima tertawa geli setelah mendengar pertanyaan beruntun dari Asya. hal itu membuat Asya menatap Bima aneh. "kenapa malah ketawa? Aku bicara serius Mas Bima!"
Bima menghentikan tawanya. "iya iya Asya cantik.. aku juga tau kamu serius. Aku hanya gemas mendengar pertanyaanmu yang sekaligus panjang seperti kereta express itu" tangan Bima sedikit mencubit pipi Asya gemas.
"mmm.. sebelum aku menjawab semua pertanyaanmu tadi, ada satu hal penting yang sepertinya tidak bisa menunggu nanti untuk aku tunjukkan ke kamu Sya"
"apa?" tanya Asya dengan terus memperhatikan Bima berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Asya pun mengikuti Bima karena penasaran.
"Bundaaaa!!" teriak seorang anak kecil sembari berlari kearah Asya. hal itu benar benar mengejutkan Asya.
'As?' tanpa memikirkan apapun Asya segera merentangkan tangannya dan memeluk Asytar sang putra saking rindunya. "Anak Bunda.. Bunda kangen sekali.."
"As juga sangat rindu Bunda hhuuhu~ hikss~" As menangis di pelukan Bundanya, membuat Asya juga meneteskan airmatanya merasa bersalah.
Asya menggendong As kemudian mendudukannya di pinggir ranjang, sedangkan Asya berjongkok di depan As. Mengusap airmata putranya perlahan.
"Bunda jahat.. Bunda tidak menelpon As. Bunda tidak menepati janji Bunda ke As! As tidak mau sekolah lagi kalau As tidak bisa melihat Bunda.. hikss~ hiks" Asytar langsung meluapkan kekesalannya kepada Bundanya. Padahal Asya sendiri juga tersiksa karena tidak bisa menghubungi As bahkan tidak tau bagaimana kondisi putranya selama di culik Raja Athar, ayah kandung As yang masih tidak tahu keberadaan Asytar.
"maafin Bunda ya As.. lain kali Bunda tidak akan ulangi lagi. oke sayang?" coba Asya meyakinkan putranya.
As mengangguk kemudian kembali memeluk Bundanya. "As juga rindu Daddy Ken.." lirih As yang mungkin hanya di dengar Asya.
Seketika itu Asya ingat suaminya. melerai pelukannya dengan As kemudian menoleh kearah Bima yang masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar.
"Mas Bima.. kami harus kembali ke rumah. Pasti Kenzo mengkhawatirkan kami"
DEG.
's**t!' Bima sedikit terkejut. Bima kira tidak akan secepat ini Asya meminta untuk kembali pada suaminya. seketika itu amarah Bima mulai naik.
"tidak sekarang!" ucap Bima tanpa menatap Asya kemudian pergi dari kamar itu meninggalkan Asya dan Asytar. Hal itu membuat Asya bingung dan aneh dengan perubahan raut wajah Bima.
°
bersambung