Bunda As 12

1106 Kata
Selamat membaca :) . . . Setelah memuntahkan banyak cairan bening akibat mual hebatnya, Asya tidak sadarkan diri. Beruntung Athar terus menemaninya dan dengan sigap membawanya ke ranjang. Toktoktok~ "Masuk!" Ijin Athar. "Yang Mulia Raja, dokternya tiba." Ucap salah satu pelayan Athar. "Periksa sekarang," dokter wanita itu pun segera memeriksa keadaan Asya bersama dua perawat. Setelah semua selesai. Dokter wanita itu menoleh kearah Athar, yang duduk di sofa dalam kamar. "Yang Mulia. saya sudah selesai memeriksa Nyonya Asya." "Jelaskan!" titah Raja Athar. "Menurut saya, Nyonya Asya sedang mengandung, Yang Mulia. Dan kemungkinannya saat ini masih di tahap awal kehamilan, karena itu Nyonya mudah mual dan mudah lelah. Untuk mengetahui detail usia kandungan dan kesehatan janinnya, sebaiknya Nyonya Asya di bawa ke spesialis kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut," jelas dokter. Tangan Athar mengepal erat di atas pahanya. Wajahnya menunduk, tidak ingin orang-orang di sana melihat jelas raut wajahnya yang marah dan kecewa. "Kalian semua keluar!" perintah Athar dengan suara rendah, dan langsung di lakukan oleh ketiga orang tadi. 'SIAL! Asya mengandung anak Kenzo. Kenapa Asya tidak mengatakannya padaku? Apa Asya juga belum tahu? ARGHH b******k! Kenapa hatiku sesakit ini.' batin Athar. Dengan hati yang tidak menentu, Athar berjalan mendekat kearah ranjang. Membenarkan selimut Asya dan menatapnya lekat. "Beri aku waktu untuk menerima semua ini, Asya. Tapi satu hal yang pasti. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah melepaskanmu lagi, bagaimana pun caranya." Gumam Athar, walaupun tidak di dengar oleh Asya. Athar turun ke lantai dasar, diikuti Paman Jo. "Tolong panggilkan Sita kemari, Paman." "Baik, Yang Mulia." •• Cklek. Pelayan Sita di bantu Paman Jo, berjalan memasuki ruang kerja Athar. Setelah insiden p*********n di rumah rahasia Kenzo. Sita dan Jenny juga dirawat di mansion Athar, dengan pengawalan ekstra. Karena Jenny yang terus berusaha menerobos keluar dan memaki bodyguard Athar untuk segera melepaskan Nyonya Asyanya. "Yang Mulia Raja." Paman Jo memanggil Athar yang duduk di kursi kerjanya menghadap jendela. "Sita di sini." Sita tertunduk, tidak berani menatap Athar. Meskipun saat ini Raja Athar duduk membelakanginya. "Ma-maafkan saya, Yang Mulia Athar." Sita segera bersujud dan memohon ampun walaupun kakinya masih belum sembuh benar. Mendengar hal itu, Athar memutar kursinya menghadap Sita dan Paman Jo. "Maaf? Jelaskan permintaan maafmu ini!" Athar menatap lekat kearah Sita yang terus menunduk dan berlutut di hadapannya. "Maaf, karena tidak berpihak pada Anda Yang Mulia Athar. Mohon ampuni saya," "Huffh!" terdengar helaan nafas yang berat. Athar berdiri dari kursinya dan berjalan memutari meja. Berdiri tepat di depan Sita. "Aku yakin, kau tahu aku sangat tidak suka ada yang mengkhianatiku," ucap Athar menjeda kalimatnya. "Tapi, kali ini aku memaafkanmu, Sita." DEG? Sita yang terkejut dengan perkataan tuannya, refleks mengangkat wajahnya untuk melihat raut wajah tuannya. Sita tidak yakin dengan apa yang di ucapkan sang Raja padanya. "Huh. Aku tahu kau pasti bingung, Sita. Aku sudah tidak menyalahkanmu karena gagal menjadi orang kepercayaanku untuk mendampingi Asya. Bahkan, kau sama sekali tidak memberiku kabar keberadaan kalian dimana. Tapi aku tetap berterimakasih, karena kau masih menjaga Asyaku. Karena kau masih setia di sisi Asya dan terus mendukungnya. Aku harap tetap seperti itu sampai kapan pun." Airmata Sita jatuh begitu saja mendengar penjelasan dari tuannya. Memang benar, Sita sengaja di biarkan Athar untuk mengikuti Asya kemana pun Asya pergi. Athar ingin Sita selalu menjaga Asya dan supaya Asya tidak sendirian. Pikirnya. Athar sebenarnya juga ingin menghubungi Sita untuk mengetahui dimana lokasi mereka. Namun nihil. Begitu Asya menghilang, Sita pun ikut menghilang tanpa jejak. Athar sama sekali tidak bisa menghubungi Sita. "Terimakasih Yang Mulia. Saya berjanji, saya akan terus berada di sisi Nyonya Asya. Saya hanya berharap Nyonya bahagia, bukan terus tertekan seperti dulu lagi. Saya bahagia melihat Nyonya Asya bahagia. Tersenyum bebas tanpa beban. Tidak seperti saat dulu.." Sita kembali menundukkan wajahnya, memberanikan diri mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan kepada Yang Mulia Raja. Bahkan, Paman Jo pun terenyuh mendengar ucapan yang terlihat tulus dari Sita untuk Nyonyanya. "Aku tahu. Aku akan membuatnya bahagia bersamaku bagaimana pun caranya. Kau boleh kembali ke tugasmu menjaga Asya." "Terimakasih Yang Mulia Athar. Emm.. Ma-maaf Yang Mulia kalau saya lancang.. T-tapi, bagaimana keadaan Nyonya saat ini? Nyonya baik baik saja kan yang Mulia?" Sita memberanikan diri menanyakan tentang Asya karena sama sekali belum mendapat kabar selama di tempat Raja Athar. "Asya baik-baik saja. hanya saja.. hhufft.. Apa benar Asya sedang mengandung?" Athar pun menanyakan hal itu pada Sita, Walaupun Athar sudah mengutus pihak dokter kandungan untuk membawa peralatan cek lengkap untuk memeriksa Asya. Tapi, bertanya pada Sita tidak ada salahnya pikir Athar . "I-iya be-benar yang Mulia," Sita menjawab dengan tergagap saking takutnya salah memberi informasi. Banyak hal yang di khawatirkan Sita, apabila Raja Athar mengetahui bahwa Asya mengandung anak dari Kenzo. Mendengar jawaban itu, Athar menjatuhkan punggungnya sembari memejamkan mata. menahan rasa sakit dan kecewanya. Sita yang melihat respon diam dari Raja Athar pun segera bersujud memohon "y-yyang Mulia. A-ampuni Nyonya Asya. S-ssaya mohon, Jangan ssakiti Nyonya.." Paman Jo yang melihat itu pun terkejut. Sejujurnya dia pun ingin mengutarakan hal yang sama. tapi sudah terwakilkan oleh Sita. Paman Jo menatap khawatir ke arah Raja Athar yang masih memejamkan matanya. "Tenang saja Sita. Aku tidak akan menyakiti Asya lagi. Aku ingin selalu menjaganya walaupun itu artinya- Aku harus menerima anak yang di kandungnya saat ini." Ucap Athar tanpa membuka matanya. •• As di gandeng masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup luas, tapi tidak seluas mansion. Cukup luas dan bagus untuk ukuran rumah. Baru saja memasuki ruang tamu, As berhenti dan menahan tangan Bima "Uncle, dimana Bundaku? Aku ingin bertemu Bunda." As mulai agak takut semenjak menginjakkan kakinya di halaman rumah itu, karena banyaknya laki laki berbadan besar dengan wajah tertekuk kaku dan memakai kacamata hitam. Mereka semua sama sekali tidak tersenyum. Walaupun di rumah Daddy Kenzo juga banyak laki laki berbadan besar alias bodyguard tapi mereka tersenyum ramah dan baik terhadap As. Bahkan mereka sering mengajak As bermain. Dan kali ini, para bodyguard benar benar menyeramkan menurut As.. Bima menoleh kearah As kemudian berjongkok di hadapannya dan tersenyum manis. "As.. nanti kamu pasti akan bertemu Bunda di sini. setelah ini Uncle akan menjemput Bunda Asya lebih dulu.. kamu mau menunggu kan nak?" Bima mengusap rambut kepala Asytar. kepala As mengangguk mantap "hm.. aku- menunggu Bunda- di sini- Uncle" "oke kalau begitu As mandi dulu kemudian tidur.. oke?" Asytar mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam sebuah kamar di temani seorang pelayan wanita yang di tugaskan Bima untuk menjaga As. 'junior bersamaku Asya.. seharusnya sejak dulu kalian tetap menjadi milikku. aku harap kamu kembali kepadaku seperti dulu Asya. bagaimana pun caranya kamu hanyalah Asyaku! tidak peduli sehebat apa orang orang yang merebutmu dariku, aku akan merebutmu kembali' bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN