Bunda As 11

1143 Kata
Selamat membaca :) . . . Sudah lebih dari seminggu Asya belum di temukan. Selama itu pula Asytar selalu menanyakan tentang Bundanya pada sang Daddy. "Sorry, Boy. Tapi Bunda sedang ada keperluan. Dan masih tidak bisa menghubungi As.. As anak baik, pasti mau menunggu, kan?!" ucap Kenzo, menenangkan putranya melalui video call. "As mau Bunda sekarang! As rindu Bunda, Daddy.. As ingin pulang bertemu Bunda! HWAAA~" Asytar memang terlihat lebih gelisah dan rewel daripada sebelumnya karena dia sama sekali tidak bisa melihat Bundanya melalui video call lebih dari seminggu ini. "hhufft," helaan nafas berat Kenzo, memperlihatkan kalau dia juga frustasi. Seminggu adalah waktu yang sangat lama menurutnya. Dan ini adalah pertama kalinya Kenzo tidak mudah menemukan apa yang dia cari. "Besok, Daddy akan mengusahakan agar As bisa melihat wajah Bunda. Oke?" "Jan-ji?" tanya As memastikan, walaupun tangisnya tidak bisa berhenti. "Iya, my boy. Bisa minta tolong berikan ponselnya pada Aunty Nala?" mendengar hal itu Nala pun mengambil alih ponsel di tangan As dan menitipkan As pada ibunya. Nala berjalan ke halaman rumah untuk menjauh dari Asytar. "Aku sudah menjauh dari As," ucap Nala. "Bagaimana kondisi As beberapa hari ini?" "Semakin hari semakin tidak baik menurutku. Sangat rindu Bundanya dan rewel tidak mau sekolah. Kadang juga tidak mau makan sebelum bisa video call Asya. Jadi, kami harus membujuknya supaya mau makan," jelas Nala. "Hhuft.. Apa belum ada perkembangan tentang Asya, Ken?" Kenzo menggelengkan kepalanya tanda belum ada. "Tolong jaga Asytar untukku, Nala. Maaf, karena aku dan Asya terus merepotkanmu." "Kalian sama sekali tidak merepotkanku. Sudah tugasku menjaga keponakanku sendiri. Tolong jangan menyerah mencari Asya, Kenzo. Aku sangat menghawatirkannya. Aku juga tidak tega melihat As seperti ini." "Pasti. Aku harus menemukan istriku!" jawaban penuh tekat itu menjadi penutup sambungan video mereka. "Hhuft," helaan nafas berat keluar dari bibir Nala. Setelah itu dia berniat masuk ke dalam rumah. "Lama tidak bertemu, Nala." Suara barithon seorang pria, membuat langkah Nala terhenti dan segera menoleh ke asal suara. "Pak Bima??" Nala terkejut, karena kehadiran tiba-tiba seseorang yang sudah sangat lama tidak bertemu. Orang yang pernah menolong Asya itu terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Badannya lebih berisi. Wajahnya lebih maskulin dengan kumis tipis di dagu dan atas bibirnya. Cara berpakaiannya juga lebih terlihat sexy, karena sedikit memperlihatkan otot otot di lengan tangannya. 'Astaga! mikir apa aku ini?' batin Nala yang sadar dari mode terpesonanya. Bima tersenyum melihat kekonyolan sahabat Asya ini. "Bagaimana kabarmu?" "Ha? Sa-Saya?" Nala tergagap, sembari menunjuk dirinya sendiri. "Hm of course, kamu. Hanya kamu yang ada di depanku sekarang." Tangan Bima menunjuk kearah Nala. "O-oh ha-haa. Saya sangat baik, Pak. Mm, a-ada keperluan apa ya, Pak? Kenapa tiba-tiba datang ke tempat saya?" tanya Nala yang bingung seorang atasan seperti Bima, datang menemuinya secara langsung. Bukan melalui anak buahnya seperti dulu saat Asya sedang bersembunyi dengannnya. "saya ingin menjemput putra Asya" DEG? "M-maksud Bapak, apa ya?" tanya Nala tidak mengerti. "Kamu pasti tahu maksud saya. Ck! Maaf Nala, tapi saya tidak bisa basa-basi dulu sekarang. Banyak sekali yang harus saya urus." "Putra Asya sudah meninggal, Pak Bima! Bapak mungkin salah paham. Yang sering bersama saya itu adalah anak saya, Pak!" Nala berusaha menutupi.Karena Nala sudah berjanji pada Asya. "Maaf Nala, tapi usahamu menyembunyikan putra Asya padaku, tidak berhasil." ucap Bima, dengan senyum smirknya yang terlihat seperti seorang psicho, BUG. Anak buah Bima memukul tengkuk Nala, hingga wanita itu pingsan. Dan dengan segera memasukkan Nala ke dalam mobil. Kemudian anak buah Bima mulai masuk ke dalam rumah Nala, untuk mencari Asytar. Tidak butuh waktu lama, mereka pun bisa membawa Asytar dan juga Nala. Sedangkan orangtua Nala, juga tak sadarkan diri. Dan sekarang mereka di jaga oleh anak buah Bima yang lain. "Uncle, kita mau kemana? Kenapa Aunty Nala tidur di sini?" tanya As dengan polosnya. "Uncle akan antarkan kamu pada Bunda Asya" jawab Bima yang duduk di samping As. "Really? Uncle, tidak bohong? karena Aunty Nala and Daddy Ken berbohong," As memastikan kembali ucapan Bima. "Benar, Nak. Tapi, janji pada Uncle Bima kalau Asytar akan menurut, supaya bisa cepat bertemu Bunda." "Yaa! As janji akan menurut, supaya bisa bertemu Bunda," semangat As, yang sangat rindu pada Bundanya. "Good Boy," tangan kanan Bima mengelus rambut Asytar. •• Cklek. Pintu kamar yang di tempati Asya terbuka. Athar masuk, dan pemandangan pertama yang di lihatnya adalah Asya yang duduk menekuk kakinya di sofa dekat jendela menatap kosong kearah luar rumah. "Aku pulang, Sayang." Ucap Athar, kemudian mengecup puncak kepala Asya. Walaupun tidak pernah mendapat respon balasan dari Asya, tapi Athar tetap selalu melakukan hal itu setiap kembali ke sana. "Aku sangat lelah, Asya. Bisakah sekali saja kamu meresponku?" Pinta Athar, sembari melepas seragam militernya di hadapan Asya yang terus memandang keluar jendela. Beberapa hari ini, Athar sedang mengatasi pemberontakan di perbatasan Negaranya dan Negara tetangga. Walaupun statusnya adalah Raja, tapi dia selalu turun tangan jika mengatasi hal-hal besar yang menyangkut kesejahteraan rakyatnya. 3 hari tidak melihat wanita yang dia cintai, membuat Athar memutuskan kembali untuk bertemu Asya. Sedangkan masalah yang belum selesai di perbatasan sedang di pantau oleh sahabat sekaligus tangan kanannya, Duta. "Respon?" Asya menatap tajam kearah Athar, yang saat ini hanya mengenakan celana training hitam tanpa atasan alias setengah naked. "Jangan gila, Raja Athar! Kembalikan aku pada Suamiku!" Pinta Asya kesal. Athar berjalan mendekat kearah Asya. Kedua tangannya memegang kedua sisi sofa single yang di duduki Asya. "Aku masih suamimu. Asya!" Bisik Athar tepat di telinga Asya. Dengan segera, Asya berusaha mendorong d**a Athar namun sia-sia. Tubuh berotot itu tidak bergeser sama sekali. "Menjauh! Jangan dekat-dekat. Aku tidak suka!" "Hah! Tapi aku sangat suka dekat denganmu, Sayang." Athar mengecup leher Asya, kemudian turun ke pundak. Asya segera mendorong wajah Athar hingga wajah mereka berhadapan. "Jangan!" "Aku merindukan tubuh, Istri kecilku." DEG! "NO! Jangan!" Tolak Asya, berusaha melepaskan kungkungan Athar. Athar yang sudah sangat b*******h itu pun, segera mengangkat tubuh Asya dan meletakkannya di atas ranjang. "Please, jangan! Aku tidak bisa! Aku mohon," kedua tangan Asya saling menggosok di depan wajahnya. Asya menangis ketakutan. Athar menahan kedua tangan Asya ke atas, agar dia lebih leluasa menciumi tubuh Asya. "Kenapa? Aku yakin milikku lebih nikmat daripada milik Kenzo." "TUTUP MULUTMU ATHAR!" Teriak Asya, membuat Athar menghentikan kegiatannya dan menatap Asya marah. "Berani sekali kamu membentakku?!" Dengan menahan amarah, Athar semakin mencengkeram kuat pergelangan tangan Asya, Membuat Asya semakin menangis. "Akh sakiitt." "Hiks. Bukankah kamu yang lebih dulu memperlakukanku seperti seorang jalang?!" Ucapan Asya seperti menyadarkannya. Athar segera melepas cengkeramannya dan menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Asya. "Maaf. Aku-" "Hmpp," tiba-tiba, Asya menutup mulutnya dan terduduk. "Hemph," Asya segera turun dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi. "ASYA??" Athar yang terkejut segera menyusul Asya ke kamar mandi. "huekk.. huekk.." Melihat Asya berusaha memuntahkan isi perutnya, reflek tangan Athar memijat tengkuknya. Tiba-tiba saja, Athar teringat moment saat Asya hamil putranya dulu. DEG. 'Apa Asya sedang hamil?' . . . - Bersambung -.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN