Selamat Membaca :)
.
.
.
"Aku sama sekali tidak pernah menyentuh Amira.."
Deg?
"a-apa maksudmu?" tanya Asya tidak mengerti dengan pernyataan Athar.
"kamarku dan Amira terpisah. Kami tidak tidur dalam satu kamar. Semenjak kamu pergi meninggalkanku, aku sama sekali tidak mau menyentuhnya" jelas Athar.
"ja-jadi putra kandung kak Amira bukan putra kandungmu?"
"Abaraz putra kandungku. Dia darah dagingku.."
"bualan macam apa yang sedang kamu bicarakan sekarang Athar??" Asya merasa seperti sedang di permainkan oleh Athar dan dia semakin tidak suka dengan pembahasan ini.
"dengark-"
"bagaimana bisa kak Amira mengandung darah dagingmu kalau kamu tidak pernah menyentuhnya? Apa kamu pikir aku bodoh sampai kamu mengatakan hal gila seperti ini?? apa tujuanmu melakukan ini?" sela Asya dengan nada yang sangat kentara menahan emosi. Bahkan Asya sudah melupakan kesopanan bicaranya pada pria yang berstatus Raja ini.
"tapi itulah yang terjadi Sya. Dengar dulu penjelasanku!" pinta Athar dengan menatap tajam ke dalam manic mata Asya.
"aku mau pulang. Aku tidak peduli dengan kehidupanmu" Asya hendak berdiri dari tempat tidur dan ingin segera pergi dari sana. Tapi dengan sigap pula tangan kekar Athar menahan tangan Asya "Bayi tabung!!"
Mendengar hal itu Asya reflek menatap Athar dengan wajah terkejutnya "apaa??"
"hhuft.." Athar menghela nafasnya yang terasa berat itu.
"pihak Kerajaan dan keluarga Amira terus mendesak kami untuk mempunyai keturunan. Tapi aku bahkan tidak bisa menyentuh Amira.. aku sudah pernah mencobanya tapi benar benar tidak bisa. Hal yang terlintas di pikiranku saat itu adalah dimana aku membunuh putraku sendiri dan wajahmu. Dan ingatan itulah yang selama ini menghantui aku sampai hari ini Sya.." mendengar hal itu pun Asya teringat kembali kenangan paling buruk dalam hidupnya. Airmata Asya mengalir begitu saja.
"karena mereka semakin mendesak tidak hanya padaku tapi juga pada Amira. akhirnya Kevin menyarankan kami untuk mencoba metode bayi tabung. Dan baru berhasil 2 tahun kemudian.." jelas Athar sembari terus menatap Asya dengan wajah sendunya.
Asya tertegun mengetahui semua yang terjadi setelah dia pergi. Bukan seperti ini yang dia harapkan setelah pergi dari hidup Athar.
Asya terduduk kembali di ranjang dengan lemas. Kemudian menangis sejadi jadinya sembari menutup wajahnya. Entah bagaimana menjabarkan apa yang sedang di rasakannya saat ini.
"Sya.." Athar semakin bingung melihat Asya menangis seperti itu.
"bukan seperti ini.. bukan ini yang aku harapkan setelah aku pergi meninggalkan kalian.. seberapa banyak lagi kamu akan melukai hati kak Amira? harus bagaimana lagi supaya kamu bisa sadar Athar..?? hiks hiks.." Asya meremas dadanya seakan merasakan sakit membayangkan berada di posisi Amira dan teringat permintaan terakhir Amira padanya dulu.
"keluar.." dengan lemah Asya mendorong d**a Athar yang masih duduk di hadapannya.
"Asya.."
"keluar Athar.. aku tidak ingin melihat wajahmu"
"ASYA!" bentak Athar yang tidak terima dengan perkataan Asya.
"KELUARR!!" balas bentak Asya saking marahnya pada Athar. bahkan Asya sampai melotot dengan mata sembabnya itu.
"huft.." Athar mencoba mengontrol emosinya. Dia tahu saat ini wanita yang dia cintai ini sedang tidak bisa diajak bicara. Asya pasti terkejut. Maka dari itu Athar memilih untuk mengalah dulu.
"oke. Beristirahatlah sayang.. aku akan kembali lagi nanti"
Athar pun berdiri dan berjalan keluar dari kamar yang di tempati Asya itu.
**
"aku yakin ada orang hidden key yang membantu Raja Athar menemukan dan menyembunyikan Nyonya Bos. sampai saat ini kami masih menyelediki anggota yang kita tahu. Dan ada yang mengatakan kalau Tuan Bruno sudah menyerahkan jabatannya kepada orang lain. Tapi sulit mengetahui siapa orangnya karena mereka juga sangat ketat menjaga kerahasiaan itu." Jelas Greg yang duduk tegap di hadapan Kenzo.
"Bruno?" satu alis Kenzo terangkat sembari mengingat nama itu. "bukannya orang tua itu tidak punya keluarga setelah seluruh keluarganya mati karena kebakaran di rumah rahasianya?"
"benar Bos" jawab Greg membenarkan.
"tidak mungkin begitu saja Bruno mau menyerahkan jabatannya kepada orang luar.. HAH pasti orang tua itu menyembunyikan sesuatu tentang keluarganya. Cari tau se-detail mungkin tentang keluarga Bruno. Bahkan sampai saudara jauhnya kalau perlu." Perintah Kenzo pada Greg.
"baik Bos." Greg berdiri dan menundukkan kepalanya kemudian pergi dari ruangan Kenzo.
Sedangkan Kenzo tetap duduk di sofa dengan terus menghisap rokoknya sembari memikirkan tentang informasi terbaru dari Greg.
'perasaanku mengatakan ada hubungan antara orangtua itu dengan hilangnya istriku.. dan aku tidak akan tinggal diam kalau sampai aku menemukan buktinya'
Drrtt.. drrtt..
Ponsel bergetar. Kenzo segera mengambilnya di dalam kantong dan menerima panggilan itu.
-Click-
"ada apa sayang?" tanya Kenzo mengawali.
"kak.. apa Asya baik baik saja? apa dia masih bersama mu? Kamu harus menjaganya kak. Perasaanku tidak enak, karena beberapa hari ini Athar tidak ada di istana. Bahkan aku tidak bisa menghubunginya sama sekali" suara Amira terdengar sangat kalut dan khawatir.
"huuft.. sayangnya aku terlambat Ra.. Athar membawa Asya. dan sekarang aku sedang mencarinya" Kenzo bersandar di punggung sofa dengan tangan kanannya memijat pangkal hidungnya.
"APA?? Ya Tuhan maafkan aku karena tidak bisa mencegah Athar. bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyianmu? Bahkan ayah saja tidak pernah bisa menemukan tempatmu kak."
"aku rasa ada orang berkuasa yang membantu Athar. aku belum bisa menemukan siapa orangnya"
"orang berkuasa? Apa jangan jangan orang yang pernah menemui Raja di ruang pribadinya bersama banyak sekali pengawal dengan baju serba hitam itu?"
Kenzo segera menegakkan badannya mendengar hal itu.
"menemui Athar secara pribadi? Apa kamu tahu orangnya?"
"aku ingat wajah dan postur tubuhnya, karena dia lebih menonjol dari orang orang di sekitarnya. Wajahnya terlihat bersahabat, tapi entah kenapa aku punya perasaan buruk tentang orang itu. Dan lagi sepertinya aku pernah bertemu dengannya, tapi aku benar benar lupa dimana dan kapan.. kalau aku sudah ingat aku akan kabari kakak"
"oke. Jangan terlalu memaksakan diri sayang.. serahkan saja padaku. Jangan sampai stress karena itu bisa berpengaruh pada Abaraz.. ohya bagaimana kabar keponakanku?"
"Abaraz baik baik saja kak.. aku ingin sekali mengenalkanmu dan Asya padanya. Semoga Asya segera di temukan.. hhuftt"
"tentu.. setelah Asya kembali aku akan mempertemukan kalian semua. Nanti Abaraz akan bertemu dengan sepupu barunya" senyuman Kenzo itu muncul kembali saat mengingat bahwa Asya saat ini sedang mengandung buah hati mereka.
"hah?? Apa aku tidak salah dengar? Asya hamil kak??"
"hmm"
"Ya Tuhan terimakasih. Semoga dengan hadirnya Kenzo junior bisa membuat Asya melupakan kesedihannya kehilangan putra pertamanya.."
Deg.
"engg.. Amira sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti.. bye my little girl" Kenzo sedikit terkejut saat Amira mengingatkan tentang kematian palsu As dan segera menyudahi obrolan itu sebelum semakin jauh lagi.
"oh oke kak.. hati hati.. semoga Asya segera di temukan. Aku akan membantu kakak mencari informasi dari sini"
"thankyou honey.."
-Click-
bersambung..