Bunda As 9

1133 Kata
selamat membaca . . . Asya mengerjapkan matanya dan mulai terbangun dari pingsannya karena tidak nyaman pada area perutnya. Tak lama setelah itu Asya segera membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati dirinya di ruangan yang asing. "awh" lenguh Asya ketika tiba tiba kepalanya pusing dan terasa berat. Asya memegang dahinya dan kembali memejamkan matanya berharap rasa sakit itu segera menghilang. "sudah berakhir tidur panjangnya putri tidur?" Deg. Mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya membuat Asya segera menatap ka asal suara. Dan benar saja, mantan suami dan ayah kandung putranya As sedang berdiri di sisi jendela dengan membawa cangkir di tangan kanannya dan tangan lainnya di masukkan ke dalam saku celana. berdiri dengan elegan dan terlihat sangat tampan. Wait. Asya memang pasti berpikir seperti itu, tapi ketakutannya pada pria yang pernah menyakitinya itu masih sangat melekat. Seakan secara otomatis Asya ingin memblokir Athar di hidupnya. Tapi sekarang apa? Pria itu ada dalam satu ruangan bersamanya. Asya dengan tubuh yang masih lemah berusaha mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. "ini dimana? Bisakah anda membawaku kembali ke rumah suamiku?" Asya tidak ingin basa basi dan mendramatisir keadaan. Yang dia ingin hanya segera kembali bertemu Kenzo dan tidak bersama pria ini. Mendengar ucapan pertama yang keluar dari mulut wanita yang dia cintai ini, Athar marah dan sangat tidak suka. Tapi dia berusaha menahan amarahnya supaya Asya tidak takut dan terus meminta pergi darinya. Athar menarik nafas panjang dan dalam kemudian meletakkan cangkirnya di meja dan berjalan mendekat kearah Asya. "suami? Bukankah suamimu itu aku Asya? aku tidak pernah secara pribadi menalakmu. Dan itu bagiku tidak sah. Kamu masih istriku" ucap Athar mempertegas apa yang dia yakini. "JANGAN GILA YANG MULIA!! Seharusnya anda sadar dan mengerti apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah berlalu.. aku sudah bukan milikmu lagi. jadi biarkan aku dengan hidupku dan aku membiarkan anda dengan kehidupan anda bersama Putri Amira dan putra anda" "suamiku sahku sekarang adalah Ke-" "DIAM ASYAAA!!" Athar berteriak menyela perkatan Asya karena tidak ingin mendengar kelanjutan kalimatnya seakan tau apa yang akan di ucapkan Asya. Athar berjalan cepat menuju Asya dan memeluk tubuh Asya erat. Asya berusaha melepas pelukan itu walaupun susah dan tidak bisa hingga Asya hanya bisa menahan tangis. "lepaskan aku!" "tidak akan" jawab singkat Athar tidak mau melepas Asya. "aku mohon jangan seperti ini.. aku takut padamu.. Hiks hiks" akhirnya tumpah sudah airmata yang di tahan Asya. dia memang tidak lagi berusaha melepas pelukan Athar karena tubuhnya sangat lemas. "jangan Sya jangan takut padaku. Aku mohon jangan takut padaku.. Aku sangat mencintai kamu. Sungguh.. Maafkan aku Asya.. tolong maafkan perbuatanku yang dulu. Aku seperti itu karena aku sangat cemburu melihatmu berpelukan dengan Kenzo dan- dan bahkan kalian hanya mengenakan baju dalaman saja. suami mana yang tidak marah melihat istrinya sendiri seperti itu Sya.." Deg. Asya seperti tertampar dengan ucapan Athar. karena terlalu marah pada perbuatan Athar dia jadi lupa dengan kesalahannya sendiri. Asya tertegun mengingat apa yang terjadi sebelum Athar membawanya kembali. "hatiku sakit. sangat sakit saat itu. Maaf karena aku tidak bisa mengendalikan amarahku sayang.. aku tidak menyalahkanmu sudah membenciku. Aku tahu rasa sakitku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan karena kehilangan putra kita.. tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku benar benar tidak bisa tanpa kamu di sisiku Asya. bertahun tahun kamu meninggalkanku, aku seperti bukan diriku lag-" "cukup!" Asya menghentikkan ucapan Athar. "sudah cukup Yang Mulia Raja. Semuanya sudah berlalu. Semua sudah terjadi. Anda seharusnya tidak seperti ini.. tolong hargai aku dan juga hargai Yang Mulia Ratu. Dia pasti akan sangat sedih dan kecewa melihatmu melakukan ini" Athar melepas pelukannya perlahan dan menatap lekat kedua mata sembab Asya. "aku sadar kalau aku tidak mencintai Amira seperti mencintai kamu Asya. aku hanya terbiasa bertanggung jawab untuk menjaganya karena sejak kecil kami sudah di jodohkan. Tapi yang aku rasakan padamu berbeda. Dan aku baru memahami itu semua saat kamu sudah berada disisiku. Aku tetap menikahi Amira karena itu tuntutan statusku sebagai calon Raja" jelas Athar. "tsk! Aku rasa semua pria bisa dengan mudah mengatakan cinta pada satu wanita padahal nyatanya dirinya bisa mempunyai anak dengan dua wanita yang berbeda" gumam Asya yang masih terdengar di telinga Athar. entah kenapa tiba tiba kalimat itu yang terucap di bibir Asya. Athar tertegun mendengarnya dan mencoba mencerna perkataan Asya. "Yang Mulia Athar.. Ratu Amira akan sangat kecewa kalau dia mendengar ucapanmu ini. seharusnya anda sadar anda sudah memiliki putra dari Ratu Amira. seharusnya sekarang mereka lah duniamu. Jangan memaksakan sesuatu yang sudah salah sejak awal hanya karena keegoisanmu. Bukan cinta, aku rasa apa yang Raja Athar rasakan ini hanyalah obsesi. Jadi aku mohon sadarlah dan kembalilah pada Ratu Amira dan putra anda.. mereka sangat membutuhkan anda saat ini." cerca Asya berusaha menyadarkan Athar supaya kembali pada Amira. "AKU GILA ASYA! aku gila karena kamu pergi dariku di saat yang sama dengan kepergian putraku. Aku hanya berusaha terlihat kuat dari luar tapi aku sangat hancur di dalam Sya.. semua orang hanya bisa menuntutku tanpa mengerti apa yang aku rasakan. Andai saja bisa aku pasti akan meninggalkan gelar sialan itu dan lebih memilih tinggal seperti rakyat biasa bersamamu.." Athar mengungkapkan semua yang dia tahan selama ini. Athar menundukkan kepalanya dan menempelkan dahinya di paha Asya. pundaknya bergetar menandakan kalau saat ini pria yang pernah ada di hati Asya itu sedang menangis. Hati Asya terenyuh melihat itu. Tangannya dengan ragu terangkat dan mulai mengusap kepala dan juga pundak Athar. airmata Asya juga tanpa sadar terus mengalir membasahi pipinya. Merasakan elusan dari orang yang dia cintai membuat Athar semakin menangis sejadi jadinya. Ada rasa hangat, bahagia dan sakit yang mengalir di dadanya saat ini. Beberapa menit berlalu. Asya membiarkan Athar meluapkan kesedihannya, karena Asya tahu mungkin kali ini baru bisa mengeluarkan semua sesak yang di rasakan mantan suaminya yang sudah berstatus Raja itu. Setelah sudah mereda dan puas menangis, Athar mengangkat kepalanya dan menatap Asya dengan wajah kusut dan mata sembabnya. penampilan yang tidak pernah di lihat Asya sebelumnya. "terimakasih.." "untuk apa?" tanya Asya yang tidak mengerti dengan ucapan terimakasih itu. "terimakasih karena sudah memberi waktu untukku melampiaskan yang aku tahan dan pendam selama ini.. entahlah, tapi padamu aku baru bisa mengatakan yang sebenarnya aku rasakan selama ini Sya" Athar memberikan senyum tulusnya sembari menatap teduh wajah Asya. Asya tidak menjawab. Karena dia tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Athar. "Asya.. ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu. Hanya aku, Amira, dan orang orang kepercayaanku saja yang mengetahui hal besar ini. tapi aku ingin kamu juga mengetahuinya, karena kamu orang terpenting di hidupku" ke dua tangan Athar menangkup wajah Asya dan mengelus pipinya lembut. "aku rasa tidak per-" Asya berusaha menurunkan ke dua tangan Athar dan berniat menolak. Tapi sebelum Asya menyelesaikan kalimatnya Athar sudah menyela dengan perkataan yang membuat Asya terkejut bukan main. "Aku sama sekali tidak pernah menyentuh Amira.. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN