"bahkan kamu tidak pernah mengatakan kalimat itu kepadaku Asya"
DEG!!
Asya terkejut bukan main saat tiba tiba suara yang di kenalnya terdengar sangat jelas di seluruh ruang rahasia milik Kenzo. bahkan Tomas pun ikut terkejut dan berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"semua panel sudah di kendalikan oleh mereka Nyonya" Tomas juga panic saat dia sama sekali tidak bisa mengendalikan semua panel yang ada di sana.
"APA?? Ba-bbagaimana mungkin.." Asya segera mencari di layar monitor mana yang sedang menampilkan cctv di ruangan yang di tempati Athar. setelah menemukannya, Asya meminta pada Tomas untuk memperbesar cctv di ruang itu.
"SITA! JENNY!" teriak Asya yang melihat Sita dan Jenny begitu juga beberapa anak buah yang bekerja di mansion itu sedang berlutut menghadap ke arah mereka dengan wajah penuh luka dan berdarah. Mereka kalah. Dan saat ini dua pengawal yang sudah seperti saudara bagi Asya itu berada di tangan Duta.
"tsk! jangan menangis Asya. mereka masih belum mati.."
Mendengar ucapan mantan suaminya itu membuat Asya menangis sejadi jadinya. Dia takut karena dirinya dua orang pengawalnya itu mati.
"APA MAU MU ATHAR?!!" Asya berteriak marah. "aku mohon, jangan sakiti mereka.. aku mohon.."
"hehh.. aku rasa kamu sangat tahu apa yang aku mau Asya. kemarilah sayang.. aku yakin kamu tidak akan bisa membiarkan dua pengawalmu ini mati kan?" ucap Athar dengan senyum yang terlihat jahat di mata Asya saat ini.
Asya mengusap wajahnya kasar. dia tahu kalau itu adalah jebakan supaya Asya muncul di hadapan Athar. tapi di sisi lain Asya juga tahu kalau Athar apalagi Duta bisa membunuh Sita dan Jenny saat itu juga. Tubuh Asya bergetar hebat hingga terduduk di lantai.
"nyonya, sebaiknya anda mendengarkan bos Kenzo untuk tetap di sini. Jangan terpancing nyonya.. itu pasti jebakan agar nyonya masuk di perangkap mereka. sebaiknya nyonya Asya menunggu sampai bos Kenzo dat-"
DOR!
Belum selesai Tomas menyelesaikan ucapannya, sebuah tembakan menembus tepat di kepalanya hingga Tomas mati detik itu juga di hadapan Asya yang sangat terkejut melihatnya.
"AAAAA" teriak Asya histeris setelah melihat di depan matanya anak buah lain yang berada di sana menembak kepala Tomas. Ternyata orang itu adalah anak buah Duta yang menyamar di mansion Kenzo.
"sebaiknya kamu segera kemari sayang sebelum ada korban korban lain la-"
"JANGAN NYONYA!! SELAMATKAN DIRI ANDA!!" dalam keadaan sekarat Jenny menyempatkan berteriak agar di dengar Asya. Jenny berusaha agar nyonya nya tidak tertangkap. Tapi sayangnya hal itu membuat Duta marah dan reflek menamparnya sangat keras.
PLAK!
Tidak hanya tamparan, Duta mengeluarkan pistol yang berada di sabuk belakangnya dan menodongkannya tepat di kepala Jenny. Melihat hal itu Asya segera menghentikannya
"STOP!!! JANGAN! AKU MOHON SEKERTARIS DUTA JANGAN! KALIAN MENGINGINKANKU KAN??" teriak Asya yang semakin histeris.
"OKE! Aku akan kesana sekarang. Tapi letakkan dulu pistolmu dan jauhkan dari kepala Jenny!" pinta Asya.
"janji kamu tidak akan kabur sayang?"
"no. a-aku benar benar akan kesana.."
"oke. Aku tunggu Asya.. sebaiknya jangan lama lama atau dua gadis di belakangku ini mati begitu saja"
Susah payah Asya menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa sangat kering, di tambah airmatanya yang terus mengalir tanpa henti. Dengan tubuh yang masih bergetar, perlahan Asya berjalan keluar dari ruang rahasia itu dan kembali masuk ke dalam mansion besar milik suaminya, Kenzo.
'ya Tuhan lindungi aku dan bayiku' batin Asya sembari membuka pintu ruang tengah dimana ada mantan suaminya Athar dan orang orang yang di sandera oleh Duta dan anak buahnya.
"akhirnya aku menemukanmu Asyaku.." gumam Athar menatap lekat kearah Asya yang baru saja melewati pintu di hadapannya.
"apa maumu?" Asya memberanikan diri di hadapan Athar padahal tubuhnya bergetar karena takut.
"yang aku mau hanya kamu!" Athar berdiri dari sofa berniat mendekat ke Asya.
"BERHENTI DI SANA!! JANGAN MENDEKAT!" teriakan Asya membuat Athar mengurungkan niatannya dan menatap Asya tajam.
"aku tidak ingin dekat dekat denganmu lagi Pangeran.. oh tidak tidak, maksudku Yang Mulia Raja Atharo Rashaad" suara yang bergetar itu terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di sana.
"tidak ingin dekat? Huhh.. jangan munafik Asya.. bahkan desahanmu saat melakukannya denganku masih teringat jelas di ingatanku!" wajah Athar menampilkan senyum mengejeknya.
"tutup mulutmu Athar! aku sudah tidak punya hubungan sama sekali denganmu. Detik dimana kamu membuat putraku pergi, saat itulah aku sangat sangat membencimu! Jadi lepaskan aku Athar.. lepaskan kami.. biarkan kita berjalan sendiri sendiri dengan semestinya-"
PLAK!
Tamparan itu mendarat begitu saja di pipi basah Asya hingga wanita itu terjatuh dan tidak sadarkan diri. Bahkan Athar sendiri terkejut dengan apa yang dia lakukan..
**
Kenzo baru saja tiba di mansionnya. Perjalanan jauh yang tidak bisa dia pangkas begitu saja membuatnya sangat frustasi dan marah
Jangan tanya bagaimana dengan Greg yang mendampingi Ken. Dia sebisa mungkin harus bisa membuat dirinya seperti patung dan samsak di saat bersamaan ketika bosnya ini sedang uring uringan tidak karuan. Greg harus diam dan menahan emosinya sendiri seperti patung, dan harus kuat dan rela terkena pukulan seperti samsak saat Ken sedang ingin melampiaskan amarahnya.
Tapi Greg sudah terbiasa dan mengerti kenapa bosnya seperti itu. Dia harus berpikir lebih dingin di situasi situasi seperti ini walaupun sangat sangat jarang. Karena Kenzo jarang terlihat begitu emosional.
Mereka terbang dari London sampai bandara kemudian tanpa jeda segera menaiki helicopter ke mansion Kenzo. tidak peduli anak buahnya yang lain masih tertinggal karena helicopter tidak bisa di naiki semua orang. Yang terpenting bagi Ken saat ini dia segera sampai di mansionnya dan menjemput istri tercintanya di tempat persembunyian.
"Bos! Sebaiknya anda juga harus berhati hati" Greg memperingatkan Ken yang langsung berlari masuk ke dalam mansion seperti tanpa peduli akan ada banyak musuh di dalam sana.
"peduli setan dengan mereka. aku hanya ingin melihat istriku" gumam Kenzo sembari berjalan cepat ke dalam dalam mansion. Ken dan Greg mencari ke semua ruangan di dalam mansion itu setelah pertama mencari Asya di ruang rahasia yang ternyata nihil. Asya tidak ada disana dan tidak ada dimana pun di dalam mansion itu.
"ASYA!!.. ASYA!" teriak Kenzo memanggil nama istrinya, siapa tahu Asya sedang bersembunyi di suatu tempat pikir Ken.
"BOS!" Greg memanggil Ken sembari berlari mendekati bosnya itu.
"tidak ada tanda tanda nyonya Asya ada di dalam mansion, bahkan Sita dan Jenny pun tidak ada. Sedangkan yang lainnya sekarat Bos"
"B-Bbos k-Ken-zo.." panggil salah satu anak buah yang sudah sekarat tapi masih berusaha sadar saat melihat bosnya datang. Kedua pria itu menoleh pada pria sekarat itu dan mendekat.
"Jimi, syukurlah kau masih selamat. Dimana mereka?"
"me- mrekka – mem- bbawa nyo-nyaa –sya" lapor Jimi dengan terbata bata sembari menahan rasa sakit dan panas di lengannya.
"b******n ATHAAAARR!! ARGH!" Ken berteriak melampiaskan amarahnya kemudian mengambil pot di sampingnya dan membantingnya.
"Greg, utus yang lain segera membawa anak anak berobat. Aku akan mencari Asya" perintah Kenzo.
"baik Bos, aku akan segera menyusul anda"
Mereka pun berpencar. Ken masuk kembali ke ruang panel untuk mengecek cctv dan kejadian kejadian sebelumnya, supaya tahu kemana kira kira Athar membawa Asya.
*
Kenzo tidak habis pikir, bagaimana bisa Athar menggunakan God Eye sebagai alat untuk mencari lokasinya dan menyadap semua keamanannya. Sedangkan hanya lima anggota Hidden Key yang bisa mengakses itu. 'siapa yang membantu Athar?' batin Kenzo.
Kenzo dan Greg biasanya akan cepat mendapatkan lokasi pencarian dengan menyadap seluruh koneksi internet. Tapi kali ini agak sulit. Seakan Athar tahu bagaimana mengahadapi senjata Kenzo.
"bagaimana sekarang Bos?" tanya Greg khawatir.
"bukan Kenzo kalau tidak melakukan segalanya untuk Asya. kita lihat saja Greg, aku pasti bisa menemukan dimana istriku walaupun sangat sulit.."
bersambung