Bunda As 7

1383 Kata
Malam hari di tempat lain di rumah mansion hutan milik Kenzo. "Nyonya katakan padaku apa yang ingin anda makan, wajah anda terlihat lemas. Sebaiknya nyonya coba untuk makan sesuatu supaya lebih bertenaga dan ada nutrisi yang masuk ke janinnya" ucap Sita yang saat ini sedang memijat tangan Asya. Beberapa hari ini Asya sedang mengalami morning sickness yang lumayan mengganggu. Sejak Kenzo meninggalkannya untuk urusan bisnis 3 hari yang lalu, Asya mendadak sering mual dan muntah saat bangun tidur sampai siang hari. Makanan yang masuk pun terpaksa keluar lagi. "ya kamu benar Ta. Kalau begitu katakan pada pelayan untuk membuatkanku sup saja. sepertinya makanan hangat bisa sedikit menghangatkan lambungku" pinta Asya dengan lemas. Masih berbaring di ranjang dengan bantal yang lebih tinggi supaya sedikit mengurangi mual dan pusingnya. "oke. Akan aku sampaikan pada pelayan di bawah nyonya" Sita berdiri dari duduknya hendak pergi untuk menyampaikan keinginan nyonyanya pada pelayan yang bertugas memasak di mansion itu. "tunggu Sita!" Sita urung melangkahkan kakinya dan kembali menatap Asya yang memanggilnya. "ada apa nyonya?" "bisa minta tolong carikan handphone ku dulu? aku lupa dimana meletakkannya karena tiba tiba mual.. padahal aku tadi berniat menghubungi suamiku" "baik nyonya. Sebaiknya anda istirahat saja biar aku yang mencarikannya.." "oke terimakasih banyak Sita. maaf aku merepotkan kamu" "jangan sungkan nyonya ini sudah tugasku. Kalau begitu aku permisi dulu.." pamit Sita kemudian benar benar pergi dari kamar utama itu. "huftt.. Bunda sangat merindukan Daddy dan kakak As.." gumam Asya sembari mengelus perutnya yang masih rata karena baru mau menuju usia 2 bulan. Tanpa terasa Asya pun tertidur karena menunggu Sita dan pelayan yang lain belum kembali. * Tak lama setelah Asya tertidur.. "nyonya Asya! nyonya bangun nyonyaa!!" Sita menggoyang goyangkan tubuh Asya dengan suara yang berbisik dan terburu buru. Asya pun terbangun dan terkejut saat melihat wajah Sita sangat panic dan mengode Asya agar tidak bersuara keras dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "ada apa?" bisik Asya kemudian turun dari ranjangnya. "aku rasa Raja Athar dan anak buahnya menyerang mansion" DEG! Asya terkejut mendengar nama yang sudah lama tidak terdengar di telinganya itu. Jantungnya tiba tiba berdetak sangat kencang, lidahnya seakan tercekat, dan tubuhnya serasa kaku. 'bagaimana bisa? Bagaimana mungkin?' hanya itu yang ada di pikiran Asya saat ini. "nyonya tenanglah. Aku akan membawa anda pergi dari sini sebelum mereka menemukan anda" Sita berusaha meyakinkan Asya supaya lebih tenang karena nyonya nya terlihat sangat pucat saat ini. Sita dan Jenny (salah satu anak buah Ken yang di tugaskan menjaga Asya selain Sita) berniat membawa Asya keluar dari mansion melalui pintu samping, yaitu pintu rahasia menuju ruang bawah tanah darurat milik Kenzo. Mereka bertiga sampai di dalam ruang darurat. Jenny dengan segera menutup pintu kecil itu. "anda baik baik saja nyonya?" tanya Jenny memastikan keadaan nyonya nya. Asya mengangguk pelan sembari memandangi seluruh ruangan yang remang remang dan tedapat banyak monitor di dalamnya dengan dua orang yang mengendalikan setiap monitor. "Jenny kenapa hanya ada kita di sini? Bagaimana dengan pelayan pelayan yang lain. Kenapa mereka tidak di ungsikan kemari?" tanya Asya yang khawatir pada para pelayannya di dalam mansion karena saat mereka menuju ruang rahasia itu Asya mendengar suara suara tembakan dan suara pelayan pelayan berteriak. "nyonya Asya yang terpenting saat ini adalah keselamatan anda. anda akan aman berada di sini" jawab Jenny tegas karena memang tugas utamanya adalah menjaga Asya. "jangan begitu! Kalian juga harus menyelamatkan yang lain!!" teriak Asya marah dengan jawaban Jenny. "tapi nyonya-" Sita hendak menentang permintaan Asya. "aku tidak mau tahu. Kalau kalian tidak mau menolong yang lain. Biar aku sendiri yang membawa mereka ke sini!" tegas Asya sembari melotot menatap dua orang pengawalnya itu. "JANGAN!!" sontak Sita dan Jenny sedikit berteriak menolak ucapan Asya. "jangan nyonya di luar benar benar berbahaya-" "oke. Aku akan membawa yang lain kemari, Sita kamu jaga nyonya di sini" perintah Jenny yang di angguki oleh Sita. itu pun Jenny terpaksa karena dia tahu nyonya nya ini akan keras kepala kalau tidak ada yang menuruti kemauannya. "hei! Mana bisa kalau Jenny sendiri? Pelayan di dalam ada banyak. Sebaiknya Sita ikut supaya bisa saling membantu membawa mereka kemari. "ta-" "SSTT!! Jangan membantah. Cepat lakukan atau aku sendiri yang keluar menolong mereka" Asya memotong ucapan Sita. membuat dua pengawal wanita itu kebingungan karena mereka seharusnya menjaga Asya disini. Tapi nyonyanya saat ini sangat keras kepala dan mereka tidak mungkin membiarkan nyonya nya keluar karena sangat berbahaya dan mereka bisa menangkap nyonya Asya. "hhufft.. oke oke baiklah nyonya. Aku dan Jenny akan keluar, jadi anda harus tetap berada di sini. Dan jangan keluar sampai kami kembali! Oke?" ucap Sita memastikan supaya nyonya nya tidak nekat untuk keluar. "deal! Cepatlah!! Tadi aku lihat ada yang terluka kalau kalian tidak cepat cepat mereka akan mati di sini" perintah Asya. "Tomas! Tolong jaga nyonya sampai aku kembali. Jangan biarkan nyonya keluar dan tetap awasi semua cctv mansion!" perintah Jenny pada anak buah Kenzo yang bertugas memantau kondisi mansion melalui monitor di sana. "baik!" Jenny dan Sita pun pergi meninggalkan ruang rahasia untuk menolong pelayan pelayan yang lain. ** Asya berdiri di belakang orang orang yang sedang memantau monitor di hadapan mereka. asya pun ikut memantau semua layar di sana. Di lihatnya Jenny dan Sita yang mengendap endap masuk ke dalam mansion. Dan sesekali mereka harus bertarung dengan lawan mereka yaitu anak buah Duta dan Raja Athar kemudian mengarahkan beberapa pelayan yang selamat untuk segera keluar dari dalam mansion. Di layar monitor yang satu lagi terlihat orang yang selama ini sangat Asya hindari sedang duduk di salah satu sofa dengan angkuhnya. Melihat itu Asya menangis, dia sangat takut dan ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan yang terasa menyakitkan di dadanya. Entah mengapa Asya merasa bersyukur karena As sedang tidak bersamanya sekarang, sehingga Asya yakin kalau Athar tidak akan tahu kalau putranya masih hidup. "ohya, apa Kenzo tahu kalau mansion di serang?" tanya Asya pada 2 orang pria di depannya. "saya rasa boss pasti tahu nyonya. Karena alarm tanda darurat di rumah ini tersambung dengan ponsel bos Kenzo dan ketua Greg. Sebaiknya kita tunggu perintah dari boss baru bertindak" jawab salah satu pria itu. "oke baiklah.." Asya tampak sangat gugup dan tidak bisa tenang. Kedua tangannya terus saling meremas sembari mengamati cctv. Tidak lama setelah itu ada sambungan masuk melalui ponsel satelit yang tidak bisa di sadap milik anak buah Kenzo. "bos" "Tomas, istriku bersamamu?" "iya bos. Nyonya aman bersama kami. seluruh area mansion sudah di masuki oleh mereka" "b******k Athar!. bagaimana bisa dia menemukan tempatku? Cari tahu itu dan berikan sambungannya pada istriku!" "baik bos" Tomas memberikan ponsel yang terlihat jadul itu pada nyonya nya. "ini bos Ken nyonya.." Asya menerima ponsel itu dan segera meletakkan di telinga nya. "halo Zo.. aku harus bagaimana? Mereka melukai banyak orang orang mansion. Kamu harus segera kembali dan menyelamatkan mereka Zo.. aku tidak mau sampai ada yang terluka parah. hiks hiks" Asya langsung mengadu pada Kenzo tanpa menjeda kalimatnya sembari menangis. "sayang.. jangan menangis. kamu harus tenang oke!? Aku dalam perjalanan, kamu tidak perlu khawatir. Yang harus kamu lakukan adalah jangan sampai keluar dari ruang rahasia! karena hanya di sana tempat teraman untuk kamu. Aku akan segera menjemputmu sayang" ucap Ken berusaha menenangkan istrinya walaupun dibalik itu Ken sendiri sedang menahan emosinya yang sudah di ubun ubun. Bagaimana tidak emosi kalau Athar mantan suami istrinya bisa menemukan tempat persembunyian mereka. padahal tidak mungkin Athar bisa melacak mereka kalau tidak karena dua alasan. Yaitu ada pengkhianat di dalam sana dan kemungkinan lain adalah ada salah satu anggota Hidden Key yang menolong Athar. tapi siapa dan apa alasan orang itu sampai mau membantu Raja Athar yang harus di ketahui Kenzo. karena yang pasti anggota ini juga memiliki dendam padanya, kalau tidak mereka tidak akan melakukan hal sampai sejauh ini. "baiklah aku tunggu. Aku mohon jangan lama lama Zo" "iya sayang. I love you.." "love you too Zozo" Click. Ponsel pun mati . bersamaan dengan itu terdengar suara sapaan dari speaker yang berada di dalam sana. "bahkan kamu tidak pernah mengatakan kalimat itu kepadaku Asya" DEG!! Asya terkejut bukan main saat tiba tiba suara yang di kenalnya terdengar sangat jelas di seluruh ruang rahasia milik Kenzo. bahkan Tomas pun ikut terkejut dan berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. "semua panel sudah di kendalikan oleh mereka Nyonya!" Tomas juga panic saat dia sama sekali tidak bisa mengendalikan semua panel yang ada di sana. bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN