Bunda As 6

1490 Kata
Hari ini hari ke 2 setelah kepergian Kenzo ke London. Daddy As sedang mengurus cabang perusahaan yang ada di sana karena ada masalah yang membuat perusahaannya tidak stabil. Dan Kenzo langsung datang ke lokasi karena dia harus mencari tahu sendiri kenapa dan siapa yang berani membuat masalah dengannya. Di sisi lain Kenzo juga sekalian bertemu dengan beberapa klien besar yang akan bekerja sama dengan perusahaannya sembari berada di sana. Dan di sinilah Kenzo bersama tangan kanannya Greg beserta beberapa anak buahnya. Di sebuah restaurant mewah yang sangat private, memang sudah biasa di pakai para pebisnis besar atau orang orang besar melakukan pertemuan penting. "m-maafkan saya tuan.. ssaya mohon waktu anda sebentar karena beliau sedang dalam perjalanan kemari" ucap seseorang yang berdiri tepat di samping meja makan yang di duduki Kenzo. Pria bule berpakaian serba hitam dengan tattoo yang juga terlihat lebih banyak daripada milik Kenzo itu terlihat ketakutan bahkan tidak berani menatap kearah Kenzo yang dengan santainya duduk sembari merokok. "aku tidak pernah menunggu" ucap Kenzo tanpa menatap lawan bicaranya sembari asik menghembuskan asap rokoknya. Jawaban singkat itu membuat sang lawan bicara semakin panas dingin. Pria sangar itu adalah orang yang bertugas menghubungkan kedua pihak yang akan melakukan transaksi. Dia juga tahu tentang status Kenzo, karena itu dia tidak berani membuat orang di hadapannya ini sampai tidak suka apalagi marah. Karena bisa bisa nyawanya menjadi taruhan. "s-saya mengerti tuan Kenzo. A-aakan se-saya-" Ceklek Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria berbadan tinggi tegap dan sangat rapi berdiri di ambang pintu kemudian mulai berjalan masuk. "jangan membuatnya ketakutan seperti itu Kenzo" ucap santai pria itu kemudian duduk di hadapan Kenzo dengan santainya. "kau pergilah" perintahnya pada pria sangar yang tadi ketakutan karena Kenzo. Ken menatap kearah pria itu lalu secara spontan alis kanannya terangkat. "Bima" gumam Kenzo. "ya! Apa aku harus tersanjung karena kau tidak melupakanku?" Bima terlihat santai berhadapan dengan Ken. "aku tidak peduli denganmu. aku bahkan baru tahu kalau ternyata orang lemah sepertimu bisa masuk dalam dunia gelap seperti ini Bima" "oh ayolah Kenzo. jangan menyangkalnya.. bukankah kita akrab saat bersama Asya?!" "tsk! Lebih baik kita akhiri pertemuan ini kalau kau masih ingin membahas yang lain" Kenzo tidak suka berbasa basi. Sejak dulu sampai sekarang dia hanya mau menyelesaikan pertemuan ataupun transaksinya dengan cepat dan tepat tidak peduli siapa pun orang yang sedang bertransaksi dengannya. "wah. Kau memang tidak bisa di ajak bercanda Kenzo. sepertinya kau butuh wanita untuk mencairkan sikapmu yang dingin itu. Tapi tentu saja bukan Asya, karena aku yang akan mengambilnya dari si Pangeran itu" cerocos Bima seenaknya. Mendengar hal itu Ken terkejut tapi tidak merubah ekspresi wajahnya. Bahkan tidak lama setelah itu Kenzo sedikit tertawa bukannya marah karena ucapan kepedean Bima. "Asya ?" "ya. Asya istri Pangeran Athar. aku tahu kau juga menyukainya, tapi maaf sepertinya yang datang terakhir sudah tahu kalau pasti akan kalah" jawab Bima dengan yakin. Membuat Kenzo menampilkan seringaiannya. "kasihan.." ucap Ken singkat. "kasihan? Apa maksudmu?" "sekolah militer sangat ketat juga ya.. sampai sampai seorang Bima Saka Jiwantara tidak update tentang dunia luar. HAHAHAA" Memang Bima selama ini sedang mengikuti pelatihan militer dan pelatihan pelatihan yang lain karena ada satu tujuan yang ingin dia raih. Dan tujuannya itu bukan hal sepele. Bima berusaha mati matian untuk bisa mendapatkannya karena dia merasa dengan berada di titik itu dia bisa dengan mudah melawan orang orang yang sedang menahan Asya. Ya, hanya demi Asya orang yang di cintainya sejak dulu sekali sebelum Asya bertemu dengan Pangeran Athar. Karena terlalu focus dengan pelatihannya itu Bima tidak tahu perubahan apa yang sedang terjadi. Karena menurut Bima 3 tahun adalah waktu yang singkat. Yang di yakini Bima selama ini adalah Asya aman dan tidak akan pergi kemana mana selama dia masih menjadi istri simpanan Pangeran Athar. tapi sayangnya pemikiran Bima salah. Bima kembali mengatur dan menjalankan perusahaannya setelah menyelesaikan semuanya. Bahkan saat ini dia sudah mendapatkan posisi yang dia inginkan. sayangnya tidak ada yang tahu posisi apa yang sedang di pegang Bima Saka Jiwantara. "aku tidak peduli tentang dunia luar Ken. Mereka tidak berpengaruh untukku" "huh! walaupun itu tentang Asya Putri Rania?" Bima mengerutkan dahinya saat nama Asya di sebut oleh pria di hadapannya ini. "apa maksudmu Ken?" Kenzo berdiri dari duduknya. Dia sudah malas belama lama di sana. Hanya mendebat dengan orang tidak penting pikir Kenzo. Tujuannya datang kemari adalah untuk transaksi. Tapi karena tahu lawan bisnisnya ternyata adalah Bima Saka, Ken pun malas menanggapi dan ingin segera pergi dari sana. Kedua tangan Kenzo di masukkan ke dalam saku celana. matanya menatap datar kearah Bima Saka yang terlihat bingung. "aku tidak peduli dengan urusanmu. Sekarang aku masih bisa memaafkanmu Bima. Tapi jangan lagi kau menyebut nama istriku! Bahkan membayangkannya saja jangan! Karena aku sangat tidak suka" Kenzo memberi penekanan pada setiap kalimatnya, kemudian pergi berlalu dari ruangan itu tanpa memperdulikan Bima yang masih terlihat mencerna ucapan Kenzo. "apa? Istri?? Apa aku salah dengar?" Bima mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Kenzo, tapi dia seakan tidak ingin meyakini apa yang dia dengar itu benar. Lama tertegun karena ucapan Kenzo. Bima pun mulai terlihat serius dan marah tapi masih bisa mengontrol emosinya karena dia masih berpikir positif kalau Kenzo sedang mengerjainya. "ZIN!!" teriak Bima memanggil tangan kanan yang baru beberapa tahun ini mengabdi untuknya setelah dia di tetapkan menjadi pemimpin. Pria yang siaga menunggu tuannya di depan pintu itu pun segera masuk ke dalam ruangan yang hanya tertinggal Bima saja. "ya tuan? Ada apa?" "cari tahu tentang Kenzo akhir akhir ini.. danmulai cari dimana Asya berada! Aku ingin segera menjemputnya.." ** Amira meletakkan bayinya yang baru saja tidur setelah minum s**u. Bayi laki laki yang baru berusia sekitar sebulanan itu adalah putra ke dua Raja Athar. nama bayi laki laki itu adalah Abaraz Rashaad. "Safa.." panggil Amira pada ibu asuh Baraz dengan perlahan. "iya Yang Mulia Ratu.." "Abaraz sudah tidur. Tolong gantikan aku menjaga nya ya, aku akan menemui Raja" pinta Amira. "baik yang Mulia" - Amira berjalan menuju ruang kerja suaminya. baru saja akan turun dari tangga Amira melihat beberapa pria yang tidak dia kenal baru saja keluar dari ruangan suaminya membuat Amira mengerutkan dahinya. Langkahnya tidak berhenti sembari memikirkan sesuatu 'siapa mereka? sepertinya aku pernah melihat salah satu pria yang terlihat mendominasi daripada yang lain. Tapi siapa ya?' batin Amira saat sekelebat melihat pria yang berpenampilan lebih rapi dan memakai setelan yang terlihat lebih mahal daripada yang lain. Toktoktok "masuk" suara dari dalam ruangan terdengar membuat Amira membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja hingga terlihat suaminya yang duduk di sofa berhadapan dengan Duta. "Yang Mulia Raja.. apa anda sudah makan malam?" Tanya Amira yang duduk di samping Athar. "belum. Nanti saja. ada yang harus aku bicarakan dengan Duta terlebih dulu setelah itu baru makan. Dimana Abaraz? Kenapa kau meninggalkannya?" "Abaraz baru saja tidur setelah minum s**u. Aku hanya turun sebentar untuk memastikan suamiku sudah makan atau belum. Apa aku salah?" "tidak. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada putraku" "hufft.. aku ibunya Yang Mulia, aku tidak mungkin membiarkannya sendirian tanpa pengawasan siapapun. Sekarang putra kita sedang di jaga oleh Safa. Jadi jangan berfikiran yang berlebihan" "hm.." Athar menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan menatap tablet di pahanya. "kamu tidak ingin makan malam bersama denganku?" tanya Amira berniat mengajak Athar makan malam berdua karena mereka jarang sekali makan bersama akhir akhir ini. Raja Athar terlihat lebih sibuk daripada sebelumnya bahkan dia jarang berada di istana. "aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, kau makan dulu saja" jawab Athar tanpa menatap Amira membuat wanita yang baru saja melahirkan putra pertamanya itu murung dan mulai beranjak pergi dari ruangan itu tanpa pamit. Pengawal Duta menangkap semua moment itu karena dia sengaja menatap kedua tuannya itu. "eng.. Yang Mulia Raja.. apa anda masih tidak bisa memaafkan Ratu Amira?" tanya Duta dengan hati hati. Hatinya sedikit merasa iba melihat Amira yang selalu diabaikan oleh Raja Athar. bagaimana pun Duta sudah berteman dengan mereka berdua sejak kecil. "dia yang membuat Asya pergi meninggalkanku Duta" Athar beralih menatap tajam kearah Duta yang duduk di hadapannya. "itu sudah bertahun tahun yang lalu Yang Mulia.. sampai kapan anda mengabaikan Ratu Amira? maaf kalau saya lancang.. tapi saya juga mengenal Ratu Amira seperti saya mengenal anda, saya mohon beri kesempatan untuk Ratu Amira" pengawal Duta berusaha memberanikan diri mengungkapkan sedikit yang mengganjal di hatinya. Dia ingin kehidupan sahabat sahabatnya bahagia tidak seperti ini. "sudahlah Duta.. aku tidak ingin membahas hal ini. aku hanya ingin segera menemukan Asya dan menyelesaikan pekerjaanku" 'hufft.. Athar selalu keras kepala' batin Duta. Kringg kriingg.. Ponsel pengawal Duta berbunyi. Dengan segera Duta mengambil ponselnya yang berada di saku jas kemudian menerima panggilan itu. "halo" "....." "apa kau yakin?" Duta terlihat mengerutkan dahinya. "...." "akan ku beri tahu Yang Mulia Raja. Kumpulkan yang terbaik dan tunggu aba aba kami" perintah Duta kepada seseorang yang berada dalam sambungan telepon dengannya. Click. "Yang Mulia. Mereka menemukan Nyonya Asya di tempat persembunyian Kenzo.. dan saat ini Ken tidak bersamanya" lapor Duta. Deg! Raja Athar tertegun menatap Duta. Jantungnya tiba tiba berdetak kencang. "bawa aku kesana sekarang juga" bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN