Sinar matahari menerobos ke dalam ruang kamar yang di dalamnya ada dua orang manusia yang sedang tertidur pulas diatas ranjang besar bernuansa putih itu.
Tubuh mereka sama sama polos hanya tertutup oleh selimut putih.
Asya mulai mengerjapkan matanya karena silauan matahari dari luar. Membuka matanya yang langsung di suguhi wajah tampan Kenzo yang masih tertidur dengan pulasnya setelah permainan panas mereka semalaman. Entah berapa ronde sudah semalam pria yang dulu di sebut sebut pria impoten ini menggempurnya.
Asya tersenyum mengingat apa yang sudah terjadi. Tapi seperti biasanya setelah melakukan hal itu Asya selalu teringat apa yang di lakukan Athar padanya. Karena itu dia pasti akan menangis. padahal Asya sudah sebisa mungkin melupakan kejadian buruk 3 tahun yang lalu itu. Tapi tetap saja nihil, hal itu selalu teringat dan membuat d**a Asya sakit.
"jangan menangis sayang.." ucap Kenzo tiba tiba meskipun mata pria itu belum terbuka, membuat Asya terkejut dari lamunannya.
Ken pun membuka matanya perlahan dan menatap intens kedua mata Asya yang sudah basah karena menangis.
"maaf Sya.." Asya mengerutkan dahinya mendengar permintaan maaf Kenzo.
"kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun Zo" jawab Asya dengan kebingungannya.
"jangan kira aku tidak tahu kalau kamu selalu menangis setelah kita melakukannya Asya.."
Deg.
'dia tahu?' batin Asya.
Asya tertegun tidak tahu harus mengatakan apa, karena dirinya sendiri pun tidak tahu kenapa dengan dirinya yang seperti ini.
"i-ini.. inii bukan salahmu Zo.. t-tapi salahku sendir-" Asya tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tidak bisa menahan tangisnya.
Melihat itu Kenzo menjadi panic dan segera menarik Asya ke dalam pelukannya. Mengelus rambut dan punggung istrinya.
"hei hei.. sayang.. jangan menangis seperti ini aku mohon.. salahku atau bukan kalau kamu menangis di hadapanku seperti ini aku pasti merasa bersalah" ucap Kenzo masih mendekap tubuh bergetar istrinya.
"aku hanya merasa tidak enak padamu Zo.. dengan sikapku yang seperti ini hiks hiks.." ucap Asya di sela sela tangisnya.
"aku tidak menyalahkanmu Sya.. aku hanya tidak ingin kamu terus menerus menangis" Kenzo melepas pelukannya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Asya. tangan kanannya bergerak mengelus pipi Asya.
"aku tahu apa yang kamu rasakan.. Itu juga bukan salahmu Asya, itu adalah trauma mu. Tidak perlu menjelaskan apa yang kamu rasakan kalau itu berat.. cukup ingat ada aku dan bersandarlah padaku supaya kamu kuat. Aku akan menemanimu menyembuhkan rasa sakit itu" jelas Kenzo kemudian mencium kening Asya dan tersenyum tulus menatap wanita yang di cintainya itu.
'aku berjanji akan melindungi kamu dari orang orang yang berusaha menyakitimu Asya. baik itu Athar, Ayahku maupun adikku Amira.. mereka akan tahu akibatnya jika menyentuhmu barang seujung kuku saja' batin Kenzo.
**
Sudah 2 bulan setelah Asya dan Kenzo kembali ke mansion Ken di dalam hutan. Asya kembali kesana karena permintaan Asya sendiri yang sudah nyaman di salah satu tempat rahasia Ken itu bersama semua pelayan dan pengawal Kenzo.
Kring kring kring..
Ponsel Asya berdering.
Asya yang sedang menata alat makan di meja makan pun menerima ponsel yang baru saja di ambilkan oleh Sita.
"terimakasih Ta.."ucap Asya.
"sama sama Nyonya"
Click.
"BUNDAAA..." terdengar suara panggilan yang sangat bersemangat di seberang sana.
"hai anak Bunda yang paling tampan.." Ya, itu adalah Asytar, putra Asya.
"Bundaa As happy sekali- karena- As punya teman buanyaaak sekali"
"benarkah sayang? Waaahh pasti sangat seru ya nak.. Bunda bahagia kalau As juga bahagia"
"iya Bunda- tapi- As juga- rindu Bunda.."
"maaf Bunda tidak ada disana bersama As.. tapi Bunda janji akan sering sering kesana menemani As. Makanya As harus jadi anak baik dan menurut dengan Ola (Onti Nala) dan juga kakek nenek yaa nak.."
"oke- siap Bunda.. Daddy kemana?"
"Daddy mu sedang bekerja sayang.. nanti kalau Daddy selesai bekerja pasti akan menelponmu"
"oke Bunda- As mau- bermain dengan teman"
"iya As sayang.. have fun ya nak.."
Click.
Sambungan telepon pun terputus. Kemudian Asya duduk di kursi meja makan dengan lemas.
"ada apa Nyonya Asya?" Tanya Sita khawatir melihat Nyonya nya tiba tiba lesu.
"ahh.. tidak apa apa Sita.. aku hanya merindukan putraku" jelas Asya sembari memanyunkan bibirnya.
"oohh.. apa Tuan Muda As baik baik saja di sana?"
"ya.. katanya dia punya banyak teman dan As menutup telepon tadi juga karena ingin bermain dengan teman temannya. Hufft.. kenapa As cepat sekali besarnya" keluh Asya kemudian menatap suaminya yang mendekat kearahnya dengan tampang melasnya.
"ada apa dengan wajah lesumu itu Sya?" Tanya Ken sembari duduk di samping Asya, tidak lupa sebelum duduk Ken menyempatkan mencium puncak kepala Asya seperti kebiasaannya setelah menikah.
"baru saja As menelponku" jawab Asya singkat.
"lalu kenapa kamu cemberut bukannya senang?"
Asya berdiri kemudian membalikkan piring di depan Kenzo dan mulai mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya sembari mengomel tentang As yang tidak lama menelponnya dan mengatakan kerinduannya pada As.
"sabar Asya. semua ini untuk kebaikan As dan kamu.. ohya, besok aku harus pergi ke luar negeri dalam beberapa har-" Ken menghentikan ucapannya sebelum selesai karena tiba tiba mendapat pelototan dari Asya.
"emm... maaf sayang tapi kali ini tidak bisa di wakilkan. Karena itu aku dan Greg harus kesana sendiri untuk menemui mereka" jelas Ken yang tidak enak pada Asya.
"kenapa mendadak sekali sih.. aku boleh ikut?" harap Asya.
"tidak bisa sayang.. karena ini masalah yang sangat penting"
"apa ini pekerjaan kotormu? (maksud Asya kotor itu yang berhubungan dengan dunia hitam atau mafia)" ketus Asya.
"sayang.. di dalam bisnis mana pun itu pasti ada melakukan pekerjaan kotornya. Hanya kamu saja yang masih polos.."
"tsk! Padahal aku ingin memberimu hadiah" gumam Asya pelan tapi masih tertangkap jelas di telinga Kenzo. Membuat Ken yang sedang minum pun menghentikan acara minumnya.
"apa?? Hadiah apa sayang?" segera Kenzo menanyakannya.
"sudahlah pergi saja, aku batal memberimu hadiah!" ketus Asya.
"HEI.. mana bisa begitu. Oohh.. aku tahu ini pasti hadiah tentang gaya yang lain kaaan??" tebak Kenzo menaik turunkan alisnya.
Plak!
"AW!" keluh Ken setelah Asya terang terangan menepok dahinya.
"dasar otak m***m! Bukan itu hadiahnya.."
"lalu apa?" Tanya Ken lagi sembari mengelus dahinya sendiri.
Asya tampak berpikir kemudian beranjak dari kursinya.
"ikut aku.." ajak Asya berjalan terlebih dulu masuk ke dalam kamar tidur mereka. kenzo pun mengekor di belakang Asya penasaran.
**
Di dalam kamar yang luas itu Asya mengambil sebuah kotak dari sebuah laci di samping ranjang.
"ini buat kamu.. buka deh" Asya menyodorkan kotak itu pada Ken. Dan pria bertattoo itu menerimanya bingung.
"apa ini? dasi?" Ken memastikan pada Asya sebelum membuka kotak itu. Asya hanya menggeleng tanpa ingin memberi jawaban lebih.
Kenzo pun membuka kotak itu dan tertegun melihat isinya. Di ambilnya benda yang seperti alat temperature suhu badan itu.
"apa ini? kamu demam?" Kenzo tiba tiba menempelkan telapak tangannya di dahi Asya untuk memastikan suhu badan Asya panas atau tidak.
Plak!
Asya menggeplak lagi tangan Kenzo yang menyentuh dahinya.
"sepertinya kamu memang asli orang hutan yaa Zo.. sampai sampai tidak tahu kalau benda itu alat tes kehamilan" sungut Asya sebal dengan reaksi suaminya.
"ya aku kan hanya tidak pernah tahu kalau bentuk alat tes kehamilan seperti ini Sya.." gumam Ken yang masih belum paham inti permasalahannya. ( Wkwkwk Kenzo lagi lemot )
"TUNGGU! Tes kehamilan????" seketika itu Kenzo yang sudah paham langsung melotot terkejut menatap istrinya kemudian kembali melihat alat tes kehamilan di tangannya, memutar mutar alat itu hingga melihat tulisan 'pregnant' di layar kecil pada alat tespek itu.
Seketika itu juga Kenzo memeluk tubuh Asya erat dan berteriak girang "YEYYYY HWUHUUU KENZO JUNIOR IS COMIIINGG!!!!"
bersambung...