Bunda As 4

1247 Kata
Ratu Amira sedang duduk menatap langit malam di balkon kamarnya. dirinya butuh udara segar setelah lelah menangis sangat lama. Kkring krring~ Suara ponsel milik Amira yang di letakkan di atas meja samping kursi. Amira mengambil dan menerima panggilan itu. "haloo kak.." sapa Amira dengan suara yang masih berat karena menangis. "...." "tidak apa apa kak. Kabarku baik baik saja.. aku hanya sedang flu.. bagaimana kabar kakak? Aku merindukanmu kak" bohong Amira kemudian mengalihkan pembicaraannya. "...." "sebulan lagi aku melahirkan. Apa kakak tidak ingin melihat ponakanmu? Kakak bahkan sudah berbulan bulan tidak menemuiku bahkan tidak menghubungiku. Apa kakak marah padaku?" "....." "kamu selama ini bersamanya??" Amira seperti terkejut mendengar perkataan kakaknya. "Bagaimana kabar Asya? apa dia membenciku kak?" Amira kembali ingin menangis mengingat masa lalu mereka. "......" Deg! "BENARKAH??? Aa~ kenapa kakak baru memberitahuku?? Tentu saja aku sangat bahagia mendengar kabar kalau kalian sudah menikah.. aku tahu Asya wanita yang baik. kalian sangat cocok!" nada suara Amira seketika berubah bahagia saat mendengar kabar tentang pernikahan kakaknya dengan Asya. "...." "saat ini kalian sedang bulan madu? Astagaa.. semoga aku segera mendengar kabar ponakan dari kalian ya.. aku juga berdoa semoga setelah ini Asya terus mendapatkan kebahagiaan" "....." "yaa.. aku ingin bertemu dengannya kak. Aku ingin meminta maaf dengan benar pada Asya tentang yang lalu.. aku juga masih terpukul karena kepergian putranya. Semoga kakak bisa segera memberikan anak supaya Asya tidak lagi bersedih." "......" "benarkah? Kamu janji ya kak akan mempertemukan kami.. oke kalau begitu aku bersiap tidur dulu. Sehat terus ya kakakku tersayang.." Amira mengakhiri sambungan teleponnya dengan kakaknya Kenzo. Tanpa di ketahui Amira. Athar berdiri tertegun di dalam kamarnya. dia mendengar semua yang di ucapkan Amira, tentang Asya yang sudah menikah dengan Kenzo, bahkan saat ini mereka sedang bulan madu. Tangan Athar mengepal kuat, matanya memerah, rahangnya mengeras hingga membuat otot otot lehernya terlihat jelas. Raja Athar sangat marah dan tidak terima. Dalam diam dia segera pergi dari kamarnya, dan kembali ke ruang kerjanya. ** Di dalam ruang kerjanya tanpa takut semua orang tahu, Athar membanting semua benda yang dia lihat di sekitarnya. dia butuh melampiaskan amarahnya saat ini. Semua orang yang berada di dalam istana utama itu pun mendengar suara gaduh. semua orang termasuk Paman Jo dan Pengawal Duta pun berlari mendekati ruangan kerja sang Raja yang tidak begitu tertutup. Begitu pula dengan Amira yang baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah menyelesaikan obrolan dengan kakaknya Kenzo, dia segera berjalan cepat ke bawah saat mendengar suara gaduh di lantai bawah hingga lupa kalau dirinya saat ini sedang mengandung besar. Duta yang saat ini statusnya tidak hanya Sekertaris melainkan Pengawal kepercayaan Raja, mencoba mengetuk pintu itu berusaha tidak lancang masuk walaupun pintunya tidak tertutup rapat. Toktotktok.. "Yang Mulia?? Ada apa??" pertanyaan pertama tidak ada jawaban dari Athar dan masih terdengar suara teriakan marah sang Raja. "Yang Mulia bolehkah saya masuk?" Tanya Duta sekali lagi. "PERGI!!" "Yang Mulia, saya mohon anda jangan seperti ini.. anda bisa menceritakan pada saya Yang Mulia" Pengawal Duta mulai khawatir. Rasanya dia ingin lancang saja membuka pintu dan menghentikan amukan tuannya sekaligus sahabat kecilnya itu. Tiba tiba pintu di buka. Bukan Athar dan bukan pula Duta yang membuka pintu itu, tapi Ratu Amira. dia bergegas masuk dan memeluk Raja Athar dari belakang berniat menghentikan perbuatan Athar. membuat Raja Athar berhenti dengan tubuh yang masih sangat kaku dan nafas beratnya yang terengah engah. "ada apa Yang Mulia?.. kenapa kamu tiba tiba seperti ini?.." Tanya Amira lirih sembari menangis dan masih memeluk erat Raja Athar. Bukannya menjawab, Athar malah melepas pelukan Amira dan berbalik menatap Amira. sehingga Amira bisa melihat dengan jelas raut wajah Athar yang sangat marah, mata merah dan terlihat seperti menahan tangisannya. Hal itu membuat Amira semakin bingung dengan apa yang terjadi pada suaminya. "pergilah ke kamarmu dan jangan menemuiku dulu Amira. aku tidak mau sampai menyakitimu" ucap Athar kemudian berlalu pergi meninggalkan Amira yang masih terlihat sangat sangat bingung dan tidak mengerti mengapa suaminya sampai semarah itu. "Siapkan mobil. Ikut aku Duta!" Raja Athar melewati Pengawal Duta dan Paman Jo berjalan cepat keluar istana utama. "baik Yang Mulia" jawab Duta sigap mengikuti tuannya. ** Di sebuah villa pribadi milik Athar. Raja Athar berdiri di dekat jendela menatap keluar sembari memasukkan tangannya di saku celana. Wajahnya masih terlihat kusut walaupun tidak se-emosional tadi di istana. "Duta" panggil Raja Athar. "ya Yang Mulia?" "Asya sudah menikah.." ucap Athar akhirnya mulai menceritakan apa yang membuatnya marah sampai seperti itu. "APA?? Anda tahu darimana Yang Mulia?" Tanya Duta yang terkejut mendengar berita ini. bahkan Athar mengetahui hal itu bukan darinya. "aku mendengar Amira mengatakannya. Aku yakin Amira sedang berbicara dengan Kenzo" "Duta. Bagaimana pun caranya lacak dimana Asya maupun Ken!" perintah Athar. "tapi anda sendiri tahu kita sudah mencoba melacak Nyonya Asya berapa lama. Sampai saat ini pun tidak ada titik terang dimana keberadaannya." Pengawal Duta mengingatkan Raja Athar. ** Di sisi lain.. Di sebuah kapal speed boat. Kenzo dan Asya benar benar sedang menikmati waktu mereka hanya berdua saja di atas kapal itu. Asya sedang duduk di area atas depan speed boat. Memakai baju pantai dengan outer tipis berwarna putih tidak lupa kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Menikmati pemandangan di sekitarnya yang sangat alami dan indah. Sedangkan Daddy Kenzo sedang mengemudikan speed boat ke area yang pas untuknya berenang. Saat ini dia hanya memakai celana pendek putih tulang tanpa menggunakan baju atasan. Memperlihatkan badan atletis dan semua tattoo yang berada di tubuh kekar sampai di mata kaki kirinya itu. Kenzo menghentikan speed boatnya di tempat yang di rasa pas untuk melihat pemandangan dan juga untuknya berenang. Dia pun berjalan mendekati Asya yang asyik duduk di area depan speed boat. "bagaimana? Kamu suka sayang?" Tanya Kenzo kemudian mencium kepala Asya sebelum ikut duduk di sampingnya. "sangat suka. Sangat sangat indah. aku tidak keberatan tinggal di sini Zo.." Gurau Asya karena memang keindahan alam tempatnya berada saat ini tidak bisa di deskripsikan dengan kata kata. "rupanya istriku ini sudah sangat menyatu dengan alam.. tidak merindukan kota sayang?" "hahaha.. aku tidak begitu merindukan kota. Karena aku juga tidak begitu suka jalan jalan keluar rumah selain pergi ke kantor untuk bekerja. panas, macet, dan banyak orang.. aku tidak nyaman" jelas Asya mengingat tentang kota dimana dia tinggal dulu. Kenzo menatap lekat istrinya dan menyeringai nakal. "jadi.. istriku hanya nyaman berdua saja denganku seperti ini?" tangan Kenzo dengan cepat merangkul pinggang Asya dan mendekatkan tubuh Asya agar menempel pada tubuhnya. Membuat Asya menoleh pada Ken. "karena hanya aku yang kuat berdua saja dengan harimau hutan menakutkan sepertimu. Terpaksa aku bersedia berdua denganmu ahahaha.." ejek Asya kemudian tertawa lepas. Kenzo sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan istrinya. "aku tidak masalah dengan keterpaksaanmu sayang.. Karena memang hanya seorang Asya Putri Rania yang mampu menjinakkan harimau hutan ini" ucap Ken sembari tangannya yang merangkul pinggang Asya berpindah mencubit besar lemak yang ada di perut Asya, membuat wanita di sampingnya itu melotot dan reflex memukul tangan nakal Kenzo. "ZO!" "aku suka bermain lemak perutmu sayang.. apa yang salah?" goda Kenzo yang tahu kalau istrinya itu akan marah kalau menyangkut tentang berat badan apalagi lemak di tubuhnya. Padahal Kenzo sama sekali tidak mempermasalahkan itu, justru Ken gemas dibuatnya >whahhh hahh.. ZOOO!!! AWAS KAMU YAAA..." Mereka pun berenang dan bermain main di dekat kapal speed boat... bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN