Bunda As 3

1278 Kata
Sudah kurang lebih sebulan pernikahan Asya dan Kenzo.. Setelah menitipkan putranya As pada Nala dan kedua orangtuanya, Saat ini Asya dan Kenzo sedang berlibur di sebuah pulau indah yang masih dalam satu Negara dengan putranya itu. Asya lah yang menentukan tempat bulan madu mereka ini. Karena sejak lahir di tanah airnya, Asya sama sekali belum pernah jalan-jalan traveling menikmati keindahan Negaranya yang mempunyai banyak sekali tempat wisata dan pulau pulau yang indah. Kenzo pun menuruti kemauan istrinya dengan senang hati. Asalkan Asya bersamanya Ken tidak pernah keberatan. Bulan madu kali ini hanya ada mereka berdua di dalam sebuah Villa di pinggir pantai itu. Pengawalan? tentu saja ada. Hanya saja tempat mereka berjarak dari villa Kenzo dan Asya supaya tidak mengganggu acara honeymoon. Transportasi ke pulau itu hanya bisa menggunakan helicopter dan juga perahu boat. Karena itu setelah Greg dan anak buah yang lain memastikan pulau yang akan Tuan dan Nyonya mereka tempati aman, barulah Kenzo dan Asya terbang kesana. ** Sepasang lengan berotot tiba-tiba melingkar di perut Asya dari belakang. "kamu suka sayang?" Tanya Ken berbisik di telinga kanan Asya membuat wanita itu kegelian. "hei.. geli Zo!" "kamu belum menjawab pertanyaanku" "pergi kesini itu kemauanku Zo.. jawaban apalagi yang kamu harapkan? Tentu saja aku bahagia kamu benar benar membawaku berlibur kesini. Terimakasih yaa.." tangan Asya memeluk tangan Kenzo yang melingkar di perutnya. Mendengar jawaban itu, Ken perlahan memutar tubuh Asya agar menghadap kearahnya. Menatap lekat wanita cantik yang kini sudah menjadi istri sahnya itu, kemudian mencium keningnya lama. "Sya.. ini sudah sebulan setelah kita menikah. Apa kamu tidak ingin memberikan hakku yang tertunda?" kode Kenzo pada Asya. "hak apa?" Tanya Asya dengan polosnya membuat Ken mengerutkan dahinya kesal. "kamu pura pura tidak tau atau memang kelewat lamban berfikir? Aku ingin memberikan adik untuk As" ketus Kenzo. Memang, walaupun sudah sebulan yang lalu Kenzo dan Asya sah menjadi suami istri. Tapi Kenzo belum sama sekali mendapatkan hak istimewanya. Sejak malam pernikahan mereka, sampai pada saat akan berangkat ke Indonesia, putra mereka As selalu meminta untuk tidur bersama. Bisa saja Ken membangunkan Asya setelah As tertidur pulas untuk meminta haknya itu. Tapi setelah melihat wajah terlelap Asya, membuat Kenzo mengurungkan niatnya itu dan hanya mencium kening Asya kemudian memeluk istrinya itu dari belakang dan ikut tertidur. Sekarang hanya ada mereka berdua saja. walaupun hari masih sore, tapi Kenzo sudah tidak sabar meminta haknya itu pada Asya. "Haha.. iya, iya aku paham Zo.. maaf ya karena As tidur bersama kita kamu jadi harus menunggu.." ucap Asya merasa bersalah. Ken tersenyum manis. Tangan kanannya menyelipkan rambut Asya ke belakang telinga. "sejak kecil sampai sekarang belum ada yang pernah membuatku menunggu Sya. Hanya kamu dan As yang bisa membuat seorang Kenzo menunggu tanpa membangunkan devil di dalamnya" "kalau begitu aku dan As akan menjadi penangkal supaya iblis yang ada di tubuhmu tidak muncul lagi hehe.." gurau Asya. "ohya Zo.. apa kamu sudah memberitahu keluargamu tentang pernikahan kita?" "belum.. mungkin nanti aku akan memberitahu mereka" jawab Kenzo. "apa tidak apa apa?" Asya memastikan lagi pada Kenzo. "kamu sudah menanyakan hal yang sama berulang ulang kali Sya. Tenanglah sayang.. semua akan baik baik saja" Ken membawa tubuh Asya ke dalam pelukannya. "hm, aku percaya padamu Zo.." ... "kalau begitu.. apa sudah boleh mulai membuat adik As?" Pertanyaan Kenzo mendapat anggukan dari Asya yang masih dalam pelukan Kenzo. Memang ini bukan pertama kali untuk Asya. tapi kali ini rasanya sangat berbeda dengan perasaannya saat bersama mantan suaminya Athar. seperti ada kupu kupu berterbangan di dalam perutnya, karena seorang Kenzo yang kaku dan kejam sedang meminta izin padanya. Setelah mendapat anggukan dari Asya. dengan sigap Kenzo mengangkat tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar bulan madu mereka. - Di dalam kamar. Kenzo meletakkan tubuh Asya di atas ranjang dan menguncinya dengan kedua tangannya berada di samping kanan dan kiri Asya, matanya menatap lekat kedua mata Asya. "sejak awal aku bisa saja dengan mudah menggagahimu Sya. Tapi aku tidak bisa dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk menahan gairahku padamu. Aku memang pria gila yang biasa saja saat membunuh dan melukai orang lain bahkan pada perempuan. Tapi aku tidak mau menjadi b******k padamu, karena aku menghormatimu sebagai seseorang yang aku sayang dan cintai. Maaf, kalau aku pernah melukaimu Sya.. tapi aku berjanji setelah ini aku tidak akan pernah menyakiti atau menyia nyiakan kamu Asya Putri Rania" ucap Kenzo panjang lebar kemudian mendaratkan ciumannya di dahi Asya. Hati Asya menghangat karena ucapan Kenzo, tanpa sadar setetes air bening jatuh dari ujung matanya. Kali ini Asya benar benar merasa di hargai. Kenzo mulai mencium bibir Asya lembut. Asya pun membalas ciuman itu. Tidak lama kemudian ciuman Kenzo mulai turun ke leher Asya. tangannya pun mulai meraba ke seluruh bagian sensitive Asya. "emph.." suara lenguhan terdengar dari mulut Asya. mendengar hal itupun Ken semakin gencar melakukan aksinya dengan membuka dress yang di pakai Asya hingga menyisakan bra dan celana dalam saja. Kenzo pun membuka t-shirtnya dan melempar asal. Ken mencium lagi bibir Asya sembari berusaha membuka balutan terakhir yang menutupi bagian sensitive Asya hingga Asya benar benar naked alias tanpa selehai kain pun. Kenzo menatap dua b*******a Asya yang masih padat walaupun sudah beranak satu. Dan mulai melumatnya.. "Kenzoo.." Asya mulai benar benar hilang kendali, gairahnya juga ikut memuncak karena rangsangan rangsangan dari Kenzo. Tak lama setelahnya, Ken mulai turun dan mencium bekas jahitan di perut Asya akibat melahirkan As, lalu merabanya. "apa ini masih sakit?" Asya menggeleng menatap suaminya. "sudah tidak sama sekali" "oke. Katakan padaku kalau aku menyakitimu sayang" ucap Ken sembari melepas celananya dan memulai penyatuannya dengan Asya. >w(aaa.. kok perutku ikut banyak kupu kupunya guys sambil bayangin mereka) ** Di sisi lain, di kediaman Pangeran Athar (ayah kandung As) yang sekarang sudah menjadi Raja di Kerajaan Sagara. "selamat datang Yang Mulia Raja" sapa Ratu Amira yang berdiri di dekat pintu masuk menyambut kepulangan suaminya kemudian membawakan jas suaminya itu dan mengikuti langkah Raja masuk ke dalam mansion. "aku sudah menyiapkan makan malam kita. Yang Mulia ingin mandi dulu atau mau langsung makan?" Tanya Amira. "aku mandi dulu. Kamu tunggu di sini saja jangan naik turun" ucap Raja Athar yang langsung menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar utama. Amira menatap nanar punggung suaminya. setiap kali Raja Athar pulang dari kesibukannya dengan urusan Negara yang dia harapkan adalah senyum indah dan pelukan rindu yang di berikan untuknya. Tapi sayang sekali, itu sangat jarang terjadi. Saat ini Ratu Amira sedang mengandung anak Raja Athar. Kandungannya sudah memasuki usia 8 bulan. Tinggal menghitung minggu dan hari Amira akan melahirkan anak Raja Athar. - Raja dan Ratu duduk di kursi makan. Ratu Amira mengambilkan lauk pauk untuk Raja dan melayaninya seperti biasa. "Yang Mulia Raja, bagaimana pertemuanmu dengan Petinggi Negara di Indonesia?" Tanya Amira mencairkan suasana. "baik. Ada beberapa program dan juga proyek bersama yang akan dilakukan dalam beberapa bulan kedepan. Bahkan aku kembali bertemu Bima Saka Jiwantara di sana" Jawab Athar di sela makannya. "wah bagus sekali.. apa sangat melelahkan? Aku bisa memijatmu setelah ini" "tidak perlu. jangan terlalu banyak aktifitas saat usia kandunganmu sudah besar seperti ini. jangan sampai putraku kenapa napa Amira" perintah Athar dengan wajah datarnya. "itu hanya pekerjaan sederhana sayang. Sudah kewajibanku untuk melayanimu.. aku mohon jangan selalu menolakku seperti ini. aku ini istrimu Yang Mulia.." keluh Amira secara spontan. Mungkin karena sedang mengandung karena itu Ratu Amira menjadi lebih sensitive. Athar tiba tiba meletakkan sendok garpu yang dia pegang setelah mendengar ucapan Amira itu. "jangan memaksaku Amira. aku harap kamu mengerti" Tegas Raja Athar tanpa menatap kearah Ratu Amira, kemudian berdiri dan meninggalkan Amira di meja makan sendirian. Untuk kesekian kalinya Amira menangis karena sikap dingin suami yang sangat di cintainya itu... Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN