Perlakuan Manis Riki

1231 Kata
"Kita mau kemana sih ini?" Tanya Sasya sambil menengok ke kanan dan ke kiri di perjalanan yang sedang mereka tempuh. "Ada deh pokoknya." Jawab Riki sambil mengulum senyum. "Kamu nggak mau culik aku kan?" Tanya Sasya yang tiba-tiba merasa takut karena jalanan yang mereka lewati berkelak kelok dengan penerangan yang remang-remang. "hahaha, kamu takut aku culik?" Tanya Riki. Sasya melotot pada Riki. "Jangan macam-macam ya kamu." Ancam Sasya sambil menunjuk wajah Riki dengan telunjuknya. "Sudah deh. Kamu diam saja. Kamu pasti suka." Jawab Riki sambil tetap melajukan mobilnya. Selama 30 menit perjalanan di jalan raya dan 30 menit perjalanan berkelak-kelok, total perjalanan mereka 1 jam, akhirnya mereka sampai di tempat yang Riki tuju. "Kak, ini tempat apa?" Tanya Sasya dengan wajah berbinar. "Kamu suka kan? Apa aku bilang?" "Sumpah ini bagus banget. Aku nggak tahu ada tempat kayak gini di Bandung." Kata Sasya sambil menatap takjub yang ada di depannya. Sebuah tempat seperti bukit, ada resto terbuka dengan pemandangan yang indah, sehingga yang makan disana bisa sambil melihat pemandangan bawah bukit yang dihiasi lampu jalanan. Riki berjalan masuk ke resto itu. Sasya mengikuti Riki dari belakang. Riki memilih meja yang berada di teras belakang, dimana bisa melihat langsung pemandangan yang ada. Dia menarik kursi untuk Sasya. Sasya melirik sekilas pada Riki, lalu dia duduk di kursi yang disiapkan Riki. Riki duduk di depn Sasya. Pelayan memberikan menu pada mereka. "Mau langsung pesan atau nanti, kak?" Tanya pelayan itu. "Nanti saja, biar kita lihat dulu." Jawab Riki. Lalu pelayan itu pun meninggalkan meja mereka. Sasya mengerutkan keningnya saat membaca menu. "Kenapa kamu?" Tanya Riki. "Makanan disini mahal." Jawab Sasya sambil berbisik. "Memang. Karena mereka menjual tempat dan juga pemandangan. Jadi wajarlah kalau harganya segitu." Jawab Riki. Sasya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya baguslah, biar hutangku ke kamu cepat lunas." Kata Sasya masih berbisik. Riki tertawa mendengar ocehan Sasya. Setelah beberapa saat mereka pun selesai memilih makanan, dan Riki memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka. "Baik, sudah saya catat pesanannya. Mohon ditunggu ya, Kak." Kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan meja Riki dan Sasya. Sasya mengusap-usap lengannya. "Kamu kedinginan? Mau pindah ke dalam?" Tanya Riki. "Nggak usah, aku mau menikmati pemandangannya juga." Jawab Sasya. Riki lalu berdiri, dia berjalan mendekati Sasya. Dia melepas jas yang dipakainya, lalu memakaikannya pada Sasya. "Eh, nggak usah." Kata Sasya sambil menghindar. "Sudah diam saja. Aku nggak mau kamu sakit." Kata Riki. Sasya pun menurut. Riki kembali duduk di kursinya. Untungnya dia memakai sweater, jadi dia tidak terlalu merasa kedinginan. Tak lama makanan mereka datang. Sasya tersenyum dengan mata berbinar melihat makanan yang ada di hadapannya. "Waah, udah lama banget aku nggak makan enak." Kata Sasya. Sasya mulai memotong steak yang ada dihadapannya. Belum selesai dia memotong, Riki mengambil steak milik Sasya dan menukarnya dengan miliknya yang sudah lebih dahulu dia potong-potong. Sasya terdiam. Dia terus menatap Riki yang sedang memotong steak yang diambil darinya. "Kenapa nggak dimakan?" Tanya Riki yang melihat sasya hanya mengamati dirinya. "Hmm, iya." Sasya lalu memakan steaknya. "Aku sudah lama nggak dapat perlakuan manis kayak gini." Kata sasya tanpa menatap Riki. "Apa Dafa nggak pernah manis sama kamu?" Tanya Riki lagi. "Kadang-kadang." Jawab Sasya. "Kalau kamu mau, aku bisa bersikap manis terus sama kamu." "Iya percaya. Dan aku pasti bukan satu-satunya yang kamu perlakukan kayak gini. Iya kan?" "Aku bersikap manis hanya pada wanita yang aku suka." Kata Riki. "Uhuk-uhuk." Sasya terkejut hingga tersedak. Dia lalu mengambil minumannya dan meminumnya. Riki tersenyum, manis sekali. Entah kenapa membuat jantung Sasya berdebar kencang. Riki dan Sasya dalam perjalanan pulang. Riki berkali-kali melirik Sasya di sampingnya yang hanya diam dan menatap ke depan. "Hubungan kamu sama Dafa baik-baik saja?" Tanya Riki sambil menyetir, berusaha memecah keheningan. "Hm." Jawab Sasya sambil mengangguk. "Hubungan kamu sama Sheila sendiri?" Tanya Sasya, dia menghadap ke Riki. "Hubungan apa? Aku sama Sheila nggak ada hubungan aa-apa." Jawab Riki. "Tapi dia bilang dia pacar kamu." "Itu kan menurut dia." "Kenapa dia bisa berpikir begitu? Pasti karena kamu memberi harapan ke dia, atau kamu terlalu sering memperlakukan dia dengan manis, sama seperti yang kamu lakukan ke aku tadi, jadi buat dia salah paham." "Kamu salah paham?" "Kok aku? Kita kan lagi ngomongin Sheila." "Ya aku tanya kamu, kamu salah paham nggak sama perlakuan aku tadi?" "Aku?" Sasya menghadap ke depan lagi. "Ya nggak lah. Mana mungkin aku salah paham. Aku tahu persis hubungan kita saat ini seperti apa." Jawab Sasya lalu tertawa. "Seperti apa?" "Ya seperti..." Sasya tiba-tiba saja bingung mau berkata apa. "Apapun yang kamu pikirkan, aku harap kamu salah paham, karena aku memperlakukan kamu dan Sheila berbeda." Kata Riki sambil menatap Sasya. Jantung Sasya berdegup kencang lagi. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Riki. Tapi yang jelas, sudah berhasil membuat wajah sasya merona. Suasana kembali hening, Sasya terus berusaha mengontrol debaran jantungnya, hingga dia tidak sanggup menatap Riki. Satu jam sudah perjalanan mereka. Saat ini mereka sudah sampai di kosan Sasya. Sasya turun dari mobil. Riki pun ikut turun. "Makasih ya sudah ajak aku ke tempat yang indah." Kata Sasya. Saat ini Sasya dan Riki sedang berdiri berhadapan di samping mobil Riki. "Aku yang terimakasih, kamu sudah mau temani aku." Jawab Riki. Sasya tersenyum. "O iya, jas kamu." Kata Sasya sambil melepas jas yang dia pakai. Riki menahan tangan Sasya. "Nggak usah, kamu pakai saja. Siapa tahu kamu kangen sama aku, kamu bisa peluk jas aku." Kata Riki dengan percaya diri. "Idih, siapa juga yang mau kangen sama kamu." Kata Sasya sinis. "Ya aku bilang kan siapa tahu, sekarang mungkin nggak, tapi besok-besok bisa saja kan?" Kata Riki sambil menaikan kedua alisnya. "Ish, pede amat sih." Cibir Sasya. "Ya sudah, aku pulang, kamu masuk gih." Kata Riki lalu mengusap kepala Sasya. Sasya pun terkejut. "Sasya!" Panggil seseorang dari belakang mobil Riki. Sasya menoleh pada orang yang memanggilnya. "Hana." "Kak Riki? Kalian habis keluar?" Tanya Hana yang sedang menggandeng tangan pacarnya, Bagas. "Iya, kita baru aja cari makan." Jawab Sasya. "Ooh, terus ini sudah mau pulang?" Tanya Hana lagi. "Iya." Jawab Riki. "Ini pacar kamu?" Tanya Riki pada Hana. "Eh, iya. Ini pacar aku, Kak. Kenalin." Jawab Hana. Bagas mengulurkan tangannya pada Riki. "Bagas." Kata Bagas memperkenalkan diri. "Riki." Riki menyalami Bagas. Setelah berkenalan dengan Bagas, Riki pun pamit pulang. "Aku duluan ya." Pamit Riki. Sasya mengangguk. "Hati-hati, Kak." Kata Hana. Riki pergi dengan mobilnya. Sasya, Hana dan Bagas masih terdiam disana. "Sya, dari mana kalian?" Tanya Hana mengoda Sasya. "Nggak dari mana-mana, cuma cari makan." Jawab Sasya panik. "Tenang aja, gue nggak akan bilang Dafa kok, ya kan, sayang?" Kata Hana sambil tertawa dan menyenggol lengan Bagas. "Emang dia siapa, Sya? Lo selingkuh?" Tanya Bagas penasaran. "Nggak! Dia itu temannya Abang gue." Jawab Sasya tegas. "Temen Abang lo kok bisa nyamperin lo? "Itu karena dia di Bandung nggak punya kenalan, dia kesepian, jadi dia ngajak gue makan tadi." Jawab Sasya. "Terus kenapa kamu bilang nggak akan bilang Dafa, kalau memang Sasya dan Riki nggak ada hubungan apa-apa kenapa harus dirahasiakan?" Kali ini Bagas bertanya pada Hana. "Ya kan takut Dafa salah paham." Jawab Hana. "Jangan-jangan kamu juga gini ya di belakang aku? Terus kamu suruh Sasya jangan bilang aku?" Tanya Bagas dengan menatap tajam pada Hana. "Lho kok jadi aku?" Hana merasa dipojokkan. "Iya, kalian pasti main rahasia-rahasiaan dari aku sama Dafa kan?" "Nggak gitu, sayang. Kamu jadi nuduh aku sih." Kata Hana kesal. "Gue nggak ikut-ikut, gue masuk duluan ya." Kata Sasya lalu pergi meninggalkan Hana dan Bagas yang masih berdebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN