Riki dan Papanya

1009 Kata
Minggu malam, Riki sampai di rumah. Dia pun langsung menuju kamarnya. "Riki." Riki berhenti melangkah mendengar suara Papanya. Dia tidak melihat Papanya yang sedang duduk di ruang tengah. Riki lalu menghampiri Papanya. "Kamu kemana kemarin? Sheila datang sendirian. Katanya kamu ninggalin dia sendirian di Mall." "Aku kan sudah bilang, Pa. Aku mau ke Bandung." Jawab Riki malas. "Papa kan juga sudah bilang kamu tidak perlu ke Bandung." "Aku ke Bandung bukan untuk kerja, Pa. Aku mau ketemu seseorang." "Seseorang siapa? Sampai kamu meninggalkan Sheila sendirian di Mall?" Riki duduk di samping Papanya. Dia memasang wajah serius. "Pa, aku tahu maksud Sheila. Setelah tahu Papanya dan Papa adalah teman dekat, dia pasti memanfaatkan keadaan ini." Kata Riki. "Memanfaatkan gimana maksud kamu?" Papa Riki mengerutkan dahinya. "Pa, aku sudah kenal Sheila lama. Dia sudah berkali-kali bilang suka sama aku, minta aku jadi pacarnya. Tapi berkali-kali itu pula aku menolak. Makanya dia pasti mau memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Papa dan Papanya menjodohkan dia sama aku." "Papa nggak ngerti? Kenapa kamu menolak dia?" "Ya karena aku nggak suka sama dia, Pa." "Kenapa? Sheila cantik, anaknya baik, sopan menurut Papa." "Pa, aku nggak suka, aku nggak cinta. Aku nggak mau menjalankan cinta karena terpaksa, seperti Papa dan almarhum Mama dulu." Apa Riki langsung terdiam mendengar perkataan Riki. Riki melihat wajah Papanya yang langsung berubah. Dia lalu memegang tangan Papanya. "Pa, Papa pernah merasaka kan? Gimana rasanya menjalani hubungan dengan orang yang tidak kita cintai? Papa mau aku melakukan kesalahan yang dulu pernah Papa lakukan?" Papa Riki memandang Riki. Matanya mulai berair. "Aku nggak mau Sheila merasakan sakit seperti yang Mama rasakan dulu, Pa." Kata Riki. Kali ini Papa Riki tidak bisa membendung air matanya. "Kamu benar, Nak? Papa tidak mau kamu mengulangi kesalahan yang pernah Papa lakukan." Kata Papa Riki. Riki memeluk Papanya. Pagi hari sebelum berangkat kerja, Papa Riki sudah duduk di meja makan menikmati sarapannya. "Ini tehnya, Pak." Kata Bik Sari, asisten rumah tangga Riki. "Terimakasih, Bik. Oya, Riki belum bangun?" Tanya Papa Riki. "Sudah sepertinya, Pak." "Pagi, Pa." Sapa Riki. "Itu dia Den Riki, pak." Kata Bik Sari. "Kenapa, Bik?" Tanya Riki yang penasaran namanya disebut. "Bapak nanyain Den Riki, dikira belum bangun." Jawab Bik Sari. "Den Riki mau minum apa? Kopi atau teh" "Teh aja, Bik." "Siap, Den." Bik Sari lalu berjalan ke dapur. "Riki, Papa minta maaf ya soal semalam." Kata papa Riki setelah meletakkan gàrpu dan pisau di atas piring kosongnya. "Iya, Pa. Papa nggak usah minta maaf." Kata Riki sambil mengoles selai di rotinya. "Papa janji tidak akan memaksakan kamu dan Sheila. Kalau sampai ada kata perjodohan dari Om Ridwan, Papa akan bilang kalau keputusan sepenuhnya ada di tangan kamu. Papa tidak mau ikut campur." Kata Papa Riki lagi. "Makasih ya, Pa." Papa Riki mengangguk. "Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar?" Tanya Papa Riki sebelum meminum tehnya. "Belum, Pa." Jawab Riki sambil tersenyum. "Oo, Papa kira kamu menolak Sheila karena sudah pacar." "Doakan saja ya, Pa. Aku lagi berusaha mendapatkan cintaku." Kata Riki lagi. "Yang di Bandung itu?" "Uhuk-uhuk!" Riki tersedak mendengar pertanyaan Papanya. "Kok Papa tahu?" "Hahaha..." Papa Riki hanya tertawa. Sore hari di kosan Sasya dan Hana, dua wanita sedang tiduran di kasur dengan wajah dipenuhi masker strawberry. "Sya, kabar Kak Riki gimana?" Tanya Sasya yang tiduran di sebelah Sasya. "Kenapa lo tiba-tiba tanya Kak Riki?" " Ya nggak papa, udah dua minggu ini nggak lihat, biasanya kan suka tiba-tiba datang kesini jemput lo." "Entah. Baik-baik aja mungkin. Soalnya juga nggak pernah kasih kabar." "Lo nggak pernah tanya kabarnya?" "Ngapain juga?" "Terus kalau lo sama Dafa gimana?" Sasya melepas maskernya, lalu bangun dan menghadap Hana. "Maksud pertanyaan lo apa sih, Han? Lo beneran ngira gue pacaran sama Riki dan Dafa sekaligus?" Hana juga melepas maskernya, lalu ikut bangun dan duduk menghadap Sasya. "Emang nggak ya?" Satu pukulan mendarat di lengan Hana. "Auw! Sakit, Sya." Teriak Hana. "Lagian, emang lo pikir gue cewek apaan coba?" Kata Sasya kesal. "Tapi kalau gue lihat nih ya, Kak Riki tuh suka sama lo deh. "Kata Hana dengan serius. "Sok tahu!" "Ih, kok sok tahu sih. Bisa dilihat dari cara dia mandang lo, memperhatikan lo, tatapannya tuh beda." "Dia cuma menganggap gue adiknya. Sama kayak Bang Juna." Kata Sasya sambil membersihkan wajahnya. Kali ini dia sudah duduk di depan cermin. "Masak lo nggak ngerasa sih? Biasanya nih ya, kalau ada cowok yang suka sama cewek, si cewek ini pasti bisa ngerasain." Kata Hana lagi masih dengan wajah serius. "Gue nggak ngerasa. Jadi pasti dia nggak suka sama gue." Jawab Sasya. "Lo kalau dibilangin nggak percaya." " Terus, kalau dia beneran suk sama gue, lo mau apa?" Tanya Sasya sewot. "Kok nanya gue?" Hana lebih sewot. "Ya, elo yang ribut." "Hahaha." Hana tertawa. "Kalau memang Kak Riki beneran suka sama elo, ya elo tanya sama hati lo sendiri lah." Kata Hana. "Gue sayang sama Dafa. Gue nggak akan pernah tinggalin dia." Kata Sasya dengan pandangan menerawang. "Gue tahu, kalau lo nggak beneran sayang sama dia, lo nggak akan bertahan sama dia selama ini. Gue aja salut sama hubungan kalian. Gue salut sama semua pengorbanan lo selama ini." Kata Hana. "Itu lo tahu, jadi stop bahas Kak Riki lagi ya." Kata sasya sambil menunjuk wajah Hana. "Iya...iyaa..." Kata Hana sambil menurunkan telunjuk Sasya dari depan wajahnya. "Ya sudah, gue mau mandi dulu."Kata Hana lalu berjalan keluar dari kamar Sasya. Sasya juga lalu berdiri mengambil handuk, dan bersiap untuk mandi. Saat Sasya hendak masuk ke kamar mandí, Hana kembali masuk ke kamar Sasya. "Sya, ada Kak Riki di depan." Kata Hana. "Hah? serius lo?" Tanya Sasya panik. "Panik kan lo? Hahaha..." Hana lalu keluar dari kamar Sasya. "HANAAA...!" Teriak Sasya dari dalam kamar. Hana pun langsung lari ke kamarnya. Sasya terdiam. Dia kembali duduk di depan cermin. "Kenapa gue panik waktu Hana bilang Riki datang? Apa gue memang nungguin dia? Gue nggak mungkin kan nungguin dia?" Sasya berbicara sendiri di depan cermin. "Sadar, Sya. Lo sudah menkhianati Dafa dengan menyerahkan tubuh lo pada Riki, jadi lo nggak boleh mengkhianati dia lagi dengan suka sama Riki. Sadar Sya." Kata sasya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN