Dafa dan Mira

1014 Kata
Sasya sedang berada di meja makan, menikmati coklat panas di Sabtu sore. Dari semalam dia sudah sampai di rumahnya, dia ingin menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya. Tapi apa daya, ternyata orangtuanya sedang berada di luar kota, menghadiri pesta pernikahan anak teman lama mereka. Sedangkan Jeni sedang pergi bersama Irene dan teman-teman sekolah mereka. Tinggalah Sasya sendiri bersama Juna yang entah sedang apa di dalam kamar, karena sejak siang belum keluar dari kamar. Ponsel Sasya berbunyi, ada nama Hana di layar ponselnya. Dia pun lalu menerima panggilan telepon sahabatnya itu. Via telepon. "Iya, Han." "Sya, tebak gue ada dimana sekarang?" Tanya Hana. "Lo pasti lagi pacaran sama Bagas kan, tapi gue nggak tahu lo dimana." "Gue lagi di acara pembukaan butik teman gue sama Bagas. Dan lo tahu gue ketemu siapa?" Tanya Hana lagi. "Han, sudah deh. Jangan suruh gue nebak terus. Emang lo ketemu siapa?" Sasya mulai kesal. "Gue ketemu Dafa sama Mira." Sasya terdiam sejenak. Dia teringat beberapa jam yang lalu menanyakan keberadaan Dafa melalui pesan singkat, dan Dafa menjawab sedang di Bogor mengantar bundanya ke rumah Neneknya. Padahal Sasya ingin sekali bertemu Dafa karena sudah beberapa minggu mereka tidak bertemu karena jadwal manggung Dafa dan juga kesibukan dia sendiri melayani Riki yang selalu minta ditemani. "Sya... Lo dengar gue kan?" "Iya gue dengar, Han. Lo yakin itu Dafa sama Mira?" Sasya mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Yakin. Tanya aja Bagas nih, dia ada di sebelah gue." Jawab Hana dengan yakin. "Lo kirim lokasi lo, gue kesana sekarang." Kata Sasya lalu memutuskan panggilan. Dia lalu beranjak dari meja makan dan keluar dari dapur. Sesaat langkah Sasya terhenti karena Abangnya menghadangnya keluar dari dapur. "Abang." Sasya terkejut melihat Abangnya yang memasang wajah geram. "Mau kemana kamu?" Tanya Juna. Sasya yakin Abangnya sedang marah dengan wajah seperti itu. "Mau... Sasya mau ke rumah..." "Jangan keluar. Abang tahu kamu mau ketemu sama Dafa kan?" Sasya terkejut lagi, Sasya yakin Abangnya pasti mendengar pembicaraannya dengan Hana di telepon tadi. "Bang, Sya mohon. Sya mau ketemu sebentar aja." Pinta Sasya pada Abangnya dengan mata berair. "Abang tidak mengijinkan!" Kata Juna dengan tegas. Sasya menangis, lalu berlari ke kamar. Juna terduduk lemas di kursi makan. Sebenarnya dia tidak tega melihat Sasya menangis. Tapi kali ini dia harus tegas. Demi kebaikan Sasya sendiri. Juna berjalan ke ruang tamu menemui Riki yang ternyata sudah sampai di rumahnya. Juna dan teman-temannya sudah membuat janji untuk berkumpul di rumah Juna untuk menghabiskan malam minggu mereka. "Lo dah sampai? Yang lain mana?" Tanya Juna pada Riki. "Nggak tahu. Gue dari rumah langsung kesini." Jawab Riki. "Ya sudah, bentar gue ambilin minum dulu." Kata Juna lalu kembali ke dapur. Riki berjalan keluar rumah, berdiri di teras samping, lalu menyalakan rokoknya. Saat sedang menikmati rokoknya, Riki mendengar suara dari semak-semak taman di sampingnya. Riki melihat ke arah taman itu. Tak lama dia melihat Sasya keluar dari semak-semak dengan mengendap-endap. Sasya tidak sadar bahwa Riki memperhatikannya dari teras. Dia berlari kecil ke arah gerbang. Riki tersenyum melihat tingkah Sasya. Riki lalu kembali ke ruang tamu, mengambil ponsel dan kunci mobilnya yang tadi dia letakkan di meja. "Mau kemana lo?" Tanya Juna yang melihat Riki terburu-buru pergi. "Gue ada urusan bentar. Nanti gue balik lagi." Jawab Riki sambil berlari keluar. "Rik, minum lo!" Teriak Juna. Tapi tidak didengar oleh Riki. Juna hanya bisa menggelengkan kepalanya. Riki mengendarai mobilnya ke tempat Sasya biasa menunggu bus. Dan benar, dia melihat Sasya yang sedang berdiri gelisah menunggu bus. Riki berhenti tepat di depan Sasya berdiri. Riki membunyikan klaskson mobilnya hingga membuat Sasya terkejut. Riki membuka kaca mobilnya. "Riki." "Naik!" Titah Riki. Tanpa pikir panjang Sasya langsung menaiki mobil Riki. "Mau kemana?" Tanya Riki sambil menyetir mobilnya. "Butik Felisha" Kata Sasya sambil menunjukkan ponselnya pada Riki. Riki melihat peta yang Sasya tunjukkan padanya. "Oh, ya. Aku tahu." Kata Riki. Lalu dia pun menancapkan gasnya. Butuh 20 menit untuk menuju butik yang Sasya sebutkan tadi. Riki melihat Sasya yang duduk gelisah dan terus-terusan melirik jam di tangannya. Riki sengaja tidak bertanya. Dia tidak ingin membuat Sasya tambah bingung. Riki berhenti di pinggir jalan depan butik yang sedang ramai pengunjung itu. "Kamu turun disini ya, di dalam penuh. Mobilku nggak bisa masuk." Kata Riki. "Iya, makasih, Kak." Sasya lalu melepas sabuk pengamannya. Sebelum turun, Riki menahan tangan Sasya. Sasya menoleh pada Riki dengan bingung. "Aku tunggu disini. Kamu selesaikan urusanmu, lalu pulang lagi sama aku." Kata Riki. Sasya mengangguk pelan, lalu dia turun dan masuk ke dalam, menjadi satu dengan kerumunan para pengunjung butik yang baru saja dibuka itu. Sasya mengedarkan pandangannya ke seluru penjuru halaman butik yang sedang dipadati orang itu. Lalu dia menemukan sosok Hana yang sedang berdiri di samping Bagas. "Sya, disini." Kata Hana saat melihat Hana mendekat ke arahnya. "Dafa dimana?" Tanya Sasya. "Barusan saja dia keluar, kayaknya ke arah parkiran basement." Jawab Hana. "Dia lihat kalian nggak?" Tanya Sasya lagi. "Gue sengaja ngajak Hana sembunyi, biar dia nggak lihat kita." Jawab Bagas. "Lo mau samperin dia? Mungkin aja belum jalan." Kata Hana. "Iya. Ya sudah gue ke parkiran." Kata Sasya. "Mau gue temenin nggak?" Tanya Hana. "Nggak usah, lo disini saja. Oya, makasih ya, Han. Lo juga, Gas." Kata Sasya lalu berlari mengejar Dafa. Hana dan Bagas menatap kepergian Sasya. "Kamu yakin Sasya bakalan baik-baik aja?" Tanya Bagas pada Hana. Hana menggelengkan kepalanya. Sasya sampai di parkiran. Dia melihat Dafa yang sedang membukakan pintu mobil untuk Mira. Sasya hendak menghampiri mereka, tapi langkahnya terhenti saat melihat Mira menempelkan bibirnya ke pipi Dafa. Sesaat Sasya terdiam, dia merasakan saat ini tubuhnya seperti membeku dan tak bisa digerakkan. Dia melihat Dafa yang tidak bereaksi apa-apa. Lalu beberapa detik kemudian, Mira melanjutkan aksinya lagi, kali ini dia meletakkan bibirnya di bibir Dafa. Sasya semakin syok. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Saat itu pula seseorang menarik tangan Sasya lalu memeluknya. Sasya menangis di pelukan orang yang sangat dia kenal dari aroma parfum yang dia hirup dari tubuh laki-laki itu. "Riki, bawa aku pergi dari sini." Bisik Sasya. Tanpa menunggu lama Riki langsung membawa Sasya menuju mobilnya yang baru saja dia parkirkan di parkiran itu. Riki berjalan memapah tubuh sasya yang sudah sangat lemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN