Riki membawa Sasya ke hotelnya. Dia mendudukan sasya di sofa kantornya. Dia sengaja tidak membawa Sasya ke kamar hotel karena tidak mau banyak orang meilhat Sasya. Dia membawanya ke kantornya karena dia tahu kantor kosong saat akhir pekan.
Sasya masih terlihat syok. Pandangannya menerawang.
"Aku ambilkan minuman dari restoran, kamu tunggu disini dulu ya." Kata Riki.
Sasya mengangguk. Riki lalu keluar dari ruangan kantornya.
Sasya merebahkan tubuhnya di sofa. Dia menutup matanya dengan kedua tangannya, lalu saat itu pula tangis yang dia tahan sedari tadi tumpah, dia menangis dengan kencang.
Beberapa menit kemudian, Sasya merasa sudah tenang, tangisnya sudah berhenti, namun dadanya masih terasa sesak. Dia memiringkan tubuhnya, meringkuk seperti bayi, lalu perlahan matanya terpejam.
Riki masuk ke ruangannya dengan membawa satu nampan berisi makanan dan minuman. Saat itu Riki melihat sasya sudah terlelap. Dia lalu meletakkan nampan di meja. Riki mengambil selimut yang sengaja dia simpan di ruangannya untuk dia pakai saat tidur siang di kantor. Riki menutupi tubuh Sasya dengan selimut miliknya.
Riki memandangi wajah Sasya, matanya terlihat sembab. Babkan dia mendengar Sasya masih terisak. Riki mengusap kepala Sasya, merapikan anak rambut yang menutupi wajah Sasya, lalu mengusap pipi Sasya. Riki melihat bibir sasya. Sepintas dia teringat ciumannya bersama Sasya waktu itu.
Riki mendekatkan wajahnya pada wajah Sasya. Sasya masih terpejam. Bibir merekapun sudah hampir menempel, tapi Riki langsung tersadar, lalu dengan cepat dia langsung menjauhkan wajahnya dari Sasya.
"Ini tidak benar." Batin Riki.
Riki duduk di sofa yang berada di seberang Sasya sambil memainkan ponselnya. Sudah satu jam Sasya tertidur. Dan Riki masih dengan setia menemaninya.
Sasya menggeliat. Merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Lalu dia membuka matanya, dan menyadari tubuhnya telah tertutup selimut. Sasya menoleh ke samping, dia melihat Riki yang sedang duduk dan menatapnya.
"Morning, Princess." Sapa Riki.
Sasya terkejut dan langsung duduk.
"Ini sudah pagi?" Tanya Sasya.
"Hahaha, wajah kamu kacau sekali, ini baru jam 9 malam." Jawab Riki.
"Apa?" Sasya semakin panik. Dia pun langsung berdiri.
"Tenang, aku udah bilang Juna kalau kamu sama aku. Dan aku juga bilang kalau aku akan bawa kamu pulang terlambat." Kata Riki.
Sasya perlahan duduk kembali. Riki mendekati Sasya dan duduk disebelahnya.
Riki merapikan rambut Sasya yang berantakan, dengan cepat Sasya menjauhkan kepalanya dari tangan Riki. Riki menurunkan tangannya sambil tersenyum.
"Rambut kamu berantakan." Kata Riki.
Sasya lalu merapikan rambutnya sendiri.
"Aku bawakan kamu makanan, tapi sepertinya sudah dingin. Aku ambilkan lagi yang baru." Kata Riki lalu mengambil nampan berisi makanan tersebut dari meja.
"Nggak usah." Sasya menahan tangan Riki.
"Aku tahu kamu lagi sedih, tapi kamu tetap harus makan." Kata Riki.
"Maksud aku nggak usah ambil yang baru, aku makan yang ini aja." Kata Sasya lalu mengambil nampan dari tangan Riki.
"Tapi ini dingin."
"Nggak papa, aku lapar, kalau nunggu kamu ambil yang baru, aku keburu pingsan." Jawab Sasya.
Dengan terpaksa Riki menyerahkan nampan itu pada Sasya. Sasya lalu memakannya dengan cepat.
"Astaga, kamu beneran lapar?" Tanya Riki yang melihat Sasya terus melahap tanpa berhenti, dan sesekali dia menyeruput minumannya, lalu melanjutkan makan lagi.
Dalam hitungan menit, makanan dan minuman Sasya habis tidak bersisa. Riki menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu masih lapar? Mau aku ambilkan lagi?" Tanya Riki.
"Nggak usah, makasih. Aku sudah kenyang." Jawab Sasya.
"Kalau gitu sekarang kita pulang." Ajak Riki.
"Apa? Kenapa?" Tanya Sasya.
"Kenapa? Kamu nggak mau pulang? Mau tidur disini? Atau kamu mau aku minta seseorang siapkan satu kamar buat kita, agar kita bisa mengulang malam itu?" Tanya Riki sambil menyeringai.
"Riki!"
"Hahaha, aku cuma bercanda. Ayo pulang. Aku bisa dibunuh Juna kalau nggak bawa kamu pulang malam ini." Kata Riki lalu berjalan keluar. Sasya pun mengikuti Riki dari belakang.
Riki membukakan pintu mobil untuk Sasya, Sasya melirik pada Riki. Riki menyuruh Sasya masuk dengan isyarat tangannya.
Sasya lalu masuk ke dalam mobil.
Saat Riki sudah duduk di kursi kemudi, dia melihat Sasya yang masih terdiam dan belum memasang sabuk pengamannya.
Riki mendekati Sasya. Tangannya meraih sabuk pengaman di samping kiri Sasya. Sasya terkejut. Riki memasangkan sabuk pengaman di tubuh Sasya. Tanpa sadar Sasya menggigit bibirnya, karena wajah Riki yang berada tepat di depan wajahnya.
"Nggak usah baper." Kata Riki yang membuat Sasya semakin terkejut.
"Kamu lagian ngapain? Aku bisa pasang sendiri." Kata Sasya yang saat ini sedang mengatur detak jantungnya yang sedang tidak beraturan.
"Oya, aku kira kamu sengaja nunggu aku yang pakaikan?" Kata Riki sambil menyunggingkan senyumnya. Lalu dia pun melajukan mobilnya.
"Bisa-bisanya dia senyum-senyum gitu. Nggak tau apa gue deg-degan setengah mati." Batin Sasya.
"Kak, makasih ya." Kata Sasya pelan.
"Untuk apa?" Tanya Riki tanpa menoleh pada Sasya.
"Untuk semuanya. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu tadi..."
"Sama-sama." Jawab Riki.
Riki memasuki gerbang rumah Sasya, lalu memarkirkan mobilnya di depan pintu. Sasya dan Riki turun dan berjalan memasuki rumah. Saat sampai di dalam, Juna yang sudah menunggu mereka dari tadi menghampiri mereka berdua.
Sasya menatap Abangnya yang sedang berdiri di depannya. Dia tidak bisa membendung air matanya. Dia lalu memeluk Juna dengan erat dan menangis di d**a Abangnya. Juna mengusap kepala Sasya.
"Sssst, nggak papa. Abang disini." Juna mencoba menenangkan Sasya.
Riki hanya terdiam melihat kakak beradik itu.
Riki lalu mengangkat tubuh Sasya, membawa Sasya ke kamar dengan menggendongnya. Sasya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Juna.
Entah kenapa Riki merasakan sesak di dadanya melihat Sasya menangis dipelukan Juna. Dia merasa kesal karena melihat Sasya begitu sedih atau cemburu karena melihat Juna menggendong Sasya di depan matanya.
"Sasya adiknya Juna. Lo mikir apa sih, Rik." Batin Riki.
Juna menghampiri Riki yang sedang duduk di teras samping rumah.
"Thanks ya, bro. Lo sudah jagain Sasya." Kata Juna yang sudah duduk di samping Riki, lalu menyalakan rokoknya.
"Sama-sama, bro." Jawab Riki.
"Lo masih hutang penjelasan ke gue, kenapa adik gue bisa sama elo." Kata Juna sambil menghisap rokoknya.
Riki tersenyum.
"Gue jelasin kalau sudah waktunya." Batin Riki.
Juna melihat Riki yang sedang tersenyum sendiri, tapi dia memilih mengabaikannya.
"Oya, Gery sama Brian nggak jadi datang?" Tanya Riki.
"Mereka ke Bar. Gery barusan kirim pesan kalau mereka nunggu kAita disana." Jawab Juna.
"Tunggu apa lagi? Ayo susul mereka." Ajak Riki.
Juna masih terdiam.
" Nggak usah khawatirin Sasya. Dia sudah kenyang, tadi sudah gue kasih makan. Jadi sekarang dia pasti udah tidur nyenyak." Kata Riki.
Juna menatap Riki sejenak. Lalu dia berdiri dan pergi bersama Riki.